Pagi hari di divisi pemasaran sudah ramai. Mereka belum mulai bekerja, tapi sedang berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Berbeda dengan lantai lima yang hanya ada pantry saja, lantai enam ada ruang makan sendiri.
"Selamat pagi bro-bro dan sista-sista~ Wah kayaknya sarapannya pada beda nih hari ini."
Fahmi menyapa semua orang dengan semangat. Dia bergabung dengan rekan kerjanya yang duduk sambil bergosip pagi. Cukup aneh melihat mereka sarapan makanan yang tidak biasa hari ini. Sereal dengan s**u, tidak biasa. Biasanya juga nasi uduk atau bubur ayam.
"Pagi Pak, iya nih ada yang beliin kita sarapan." ujar seorang perempuan.
"Dari sekretaris barunya Mister Chandra Pak, semuanya dapat. Punya Bapak tadi saya pisahkan. Ada di meja bapak. Kalau bapak mau, pakai yang ini saja pak yang sudah dibuka." jelas Mba Monik.
"Wah ada apa nih tahu-tahu ngasih sarapan?"
"Gak tahu Pak."
Fahmi pun mengambil mangkuk untuk sarapannya. Saat dia sedang menuang isi sereal ke mangkuknya, orang-orang di belakangnya mulai bergosip.
"Psst, dengar-dengar kemarin finance transfer uang ke sekretaris baru itu. Katanya sih uang kas buat operasional Mister Chandra. Jangan-jangan... uang buat beli ini pakai uang kantor lagi."
"Wah bisa jadi."
"Mungkin sebenarnya bukan dari mba itu, tapi dari Mister Chandra kali."
"Parah sih kalau ngaku-ngaku"
"Heh! Congornya ya congornya dijaga" Fahmi menarik bibir wanita yang memulai gosip dengan gemas. "Kalau Mister Chandra dengar mampus kalian."
"Tapi aneh Pak. Ga ada angin ga ada hujan tahu-tahu ngirim makanan."
"Siapa tahu dia lagi ada rezeki lebih kan." sahut Fahmi. "Ya, tapi memang aneh sih."
"Tuh kan Bapak juga mikir gitu."
"Sudah ah sudah. Saya lagi ga mau kebablasan." Ujarnya sambil mengibaskan tangan. "Ntar saya yang kena omel lagi."
*
Asteria dengan wajah pucat berlari naik ke tangga lantai atas. Katakanlah kondisi perutnya sedang tidak baik hari ini. Sialnya toilet lantai lima sedang terkunci. Sepertinya OB lupa membuka kunci toilet wanita pagi ini. Dia segera masuk toilet dekat tangga di lantai enam. Hampir membanting pintu saking tidak tahannya. Dia bernapas lega begitu sampai di bilik.
Bunyi suara pintu masuk toilet dibuka bersamaan dengan bincang-bincang dan cekikikan khas wanita. Dua orang wanita masuk. Mereka membawa pouch make up dan langsung menuju cermin sambil berbincang.
"Si sekretaris baru itu sok-sokan sekali sih. Lagaknya bagi-bagi makanan. Paling duitnya hasil nilep."
"Heh, pikiranmu negatif saja."
"Kamu gak dengar memangnya. Kemarin dia baru ditransfer uang puluhan juta dari finance. Bisa jadi kan dia pakai uang kantor. Terus sok beli makanan atas nama dirinya. Jadi biar orang sini pada senang sama dia."
"Kalau ternyata dia memang orang kaya gimana? Siapa tahu kan emang uangnya banyak."
"Kalau dia orang kaya gak bakalan kerja jadi bawahannya Mister Chandra. Eh, jangan-jangan dia malah kerja di sini buat deketin bos kita lagi. Kayak sekretaris bos yang dulu tuh."
"Ih tapi ngeri sih kalau sama kayak sekretaris yang dulu. Di kira kita orang baik, ternyata ih..."
"Sudah ah, ayo balik ke meja."
Kedua orang itu keluar dari toilet. Asteria yang sudah selesai juga pelan-pelan keluar dari biliknya. Dia mencuci tangan di westafel dan memperbaiki pakaiannya.
"Jangan terlalu dipikirkan." Ucapnya sambil memandang pantulan dirinya di cermin.
Tapi tetap saja dia kepikiran kata-kata kedua orang itu. Mungkin seharusnya dia tidak membagikan sereal itu di kantor. Orang-orang malah berpikir yang tidak-tidak. Seharusnya dia bawa saja ke kosan dan membagikannya pada tetangganya. Walau pasti masih banyak sisa.
"Sedang apa di sini?"
Asteria terlonjak kaget saat mendengar seseorang bertanya. Mister Chandra berada di depannya tiba-tiba. Posisinya menutupi tangga turun.
"Ah...Mister... saya habis dari toilet." Rasanya malu sekali mengatakannya.
Ekspresi wajah Mister Chandra juga terlihat tidak yakin. Matanya terlihat curiga.
"Toilet wanita di lantai lima terkunci. Jadi saya pakai toilet di sini."
"Kenapa tidak turun ke lantai bawah? Kenapa naik ke lantai atas?"
"Saya tahunya yang dekat tangga toilet di lantai ini."
Mister Chandra masih menutupi tangga dan membuat canggung.
"Apa Mister butuh sesuatu?"
Belum sempat dijawab, seseorang datang mendekati mereka.
"Pagi Mister, pagi Mba Aster. Terima kasih serealnya, itu kesukaan istri saya."
"Ah, iya." Asteria terkejut. Dia pikir Pak Fahmi belum menikah.
"Fahmi, saya mau ke Jakarta seharian hari ini sama Pak End ketemu klien." Mister Chandra mengganti topik.
"Eh saya juga mau ke Jakarta Mister, kayaknya seharian keluar. Tumben berdua sama Pak End."
"Itu, kliennya yang minta. Itu loh, ibu-ibu yang bilang Pak End mirip Leonardo Dicaprio."
"Oh tahu saya." balasnya sambil tertawa.
"Kamu kemana?"
"Saya ngurus representatif masalah visa. Sudah dapat balasan dari sana. Jadi sekalian bawa orangnya."
"Oh, oke." matanya beralih ke sekretarisnya. "Karena saya, Pak End dan Pak Fahmi pergi, kamu buat surat pelaksana harian. Nanti kamu broadcast via email. Ada list manajerial kantor. Nanti CC saya, Pak End sama Pak Fahmi. Contohnya ada di arsip lemari saya dalam bantex."
"Oke Mister. Pelaksana hariannya siapa ya Mister?" sambil mencatat perintah dari bosnya.
Mister Chandra dan Pak Fahmi saling berpandangan.
"Mba Monik ada." ujar Fahmi.
"Oke, Mba Monik saja kalau begitu. Nanti kalau ada sesuatu dia yang tangani. Kalau jam enam saya gak kasih kabar, kamu langsung pulang saja."
"Baik Mister."
*
Asteria kembali ke ruangan, mencari contoh surat di dalam lemari Mister Chandra dan segera mengetiknya. Lima menit berlalu dia merasa suhu ruangan lebih dingin. Tubuhnya sedikit menggigil.
"Mba Aster."
"Aarhh!"
Asteria terlonjak dari kursi. Mister Chandra berdiri di depan mejanya sambil menunduk ke arahnya. Dia tidak mendengar ada suara orang masuk. Mister Chandra tersenyum tipis melihat reaksinya. Tapi matanya terlihat begitu senang.
"Saya lupa tadi. Nanti kalau ada utusan dari GelKo ke sini, tolong kasih ini." meletakkan sebuah bingkisan dengan logo perusahaan. "Jangan lupa tanda terimanya."
"I..ya Pak uh maksud saya Mister." Asteria merasa was-was karena bosnya tidak langsung pergi. "Apa ada lagi Mister?"
"Baju kamu..."matanya menatap ke baju Asteria, sebelum perlahan naik menatap matanya. "... kancingnya terbuka." sambil tersenyum tanpa dosa.
"!" Asteria langsung menutupi dadanya dengan kedua tangan.
"Hati-hati terlihat orang lain."
"I..iya."
Setelah Mister Chandra keluar, Asteria buru-buru mengecek kemejanya. Benar saja kancing baju tepat di bagian belahan dadanya terbuka. Wajahnya terasa sangat panas karena malu. Sial, bosnya lagi yang melihatnya.
*
Mister Chandra berada di mobil dalam perjalanan ke Jakarta. Matanya memandang keluar jendela sambil pikirannya berkeliaran. Masalah pekerjaan, proyek, rapat, klien, pesawat jetnya, sereal tadi pagi, kancing baju terbuka dengan belahan d**a yang terlihat rapat saat menunduk dan kulit putih yang sekal dan empuk...
'Astaga pikiranku'
Mister Chandra menggelengkan kepalanya cepat. Sedikit melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. Dia mengambil botol minumnya dan menenggaknya.
'Fokus Chandra, jangan pikirkan itu lagi.'
....dan bagaimana bra hitam itu terlihat sesak sekali untuk menahan dua gunungan...
"Chandra fokus!" katanya sambil memukul kepalanya.
"Um Mister. Anda baik-baik saja?" tanya Pak Kul dari kursi kemudi.
"Ah, saya baik-baik. Hanya memikirkan sesuatu." memalukan sekali dia sedikit berteriak tadi.
*
"Senang bekerja sama dengan Anda."
"Oh jangan seperti itu, justru saya yang senang sekali bekerja sama dengan perusahaan Tuan-tuan." ujar seorang ibu-ibu dengan berbagai perhiasan mewah di tangannya. "Apalagi dengan Mas ganteng Leonardo Dicaprio." katanya dengan mata tidak lepas dari Endymion.
"Haha, Nyonya bisa saja. Saya tidak setampan itu." balas End dengan senyum tampan.
Mereka hampir dua jam lebih membahas kerjasama dengan ibu sosialita ini. Ibu ini punya proyek arisan sosialita yang akan menyewa beberapa pesawat jet pribadi dan kapal pesiar mereka selama sedikitnya tiga bulan. Kalau dia puas, dia akan memperpanjang masa sewanya.
Awalnya kerjasama ini dipegang divisi marketing, tapi bawahan Pak Fahmi kewalahan dengan permintaan aneh ibu ini. Jadi Fahmi minta izin untuk dialihkan ke Mister Chandra. Saat pertemuan pertama mereka, Endymion tidak sengaja ikut dan ibu itu kepincut dengan wajah tampan Endymion. Lupa sudah kalau seharusnya dia berbicara dengan Mister Chandra.
"Kalau bisa pilotnya juga yang ganteng. Kayak Chris Evan atau Robert Downey Jr juga gak apa-apa."
"Buat Nyonya kita sediakan yang ganteng-ganteng deh. Pramugaranya juga kita pilih yang keren-keren." jawab Endymion.
"Aduh, kalau nggak Mas Endymion saja yang nyupirin pesawatnya."
"Kalau saya bisa sih saya sanggupi. Sayang saya bukan pilot." Endymion tertawa hambar. "Kita akan berusaha berikan yang terbaik untuk Nyonya. Jadi dalam perjalanan Nyonya aman dan nyaman." sambil senyum ganteng.
Si Ibu sosialita langsung silau oleh senyum secerah mataharinya Endymion. Hidungnya panas seperti mau mimisan. Jangan sampai itu terjadi, akan memalukan mimisan di depan orang tampan.
"Aduh" sambil memegangi pipinya. "Kalau nanti acara saya sukses, saya akan promosikan Diamond Corp ini ke teman-teman sosialita saya lainnya." dia menggenggam tangan Endymion. "Tapi izinkan saya foto berdua sama mas ya. Saya mau pamer sama teman-teman saya."
"Tentu."
*
Mister Chandra dan Endymion kini sudah pindah ke tempat lain. Mereka tadinya ingin nongkrong di Starbucks, tapi tempat itu terlalu terbuka dan ramai. Jadi mencari Coffee shop lain yang lebih nyaman.
"Coba katakan padaku bagian mana dari diriku yang mirip Leonardo Dicaprio?"
Mister Chandra mendengus. "Entah, aku tidak kenal Leonardo Dicaprio."
Endymion berdecak.
"Kau juga diam saja sepanjang pembicaraan."
"Hei, aku ngomong ya. Tapi gak dianggap sama ibu itu. Sekalinya kamu yang bicara, matanya langsung berbinar."
Tentu saja Mister Chandra kesal. Sudah dua kali pertemuan si ibu tadi tidak sedikitpun menanggapinya. Hanya menatap Endymion dengan genit. Dua jam lebih dia jadi pajangan di pertemuan itu. Tahu begini dia di kantor saja mengurus yang lain.
"Kau tahu aku tidak tahan! Apalagi bajunya ya ampun, belahan dadanya itu rendah banget. Aduh mataku aduh kasihan sekali kamu harus lihat yang seperti itu." gerutu End sambil mengusap matanya.
Mendengar kata belahan d**a mengingatkan dia dengan pakaian si ibu yang terlalu seksi. Otaknya secara otomatis membandingkan dengan belahan d**a putih kenyal lainnya yang dia lihat pagi ini.
"Iya dadanya tidak selembut wanita itu." gumamnya.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya End. Suara Chandra terlalu kecil tadi untuk didengar.
"Eh, sudahlah kita jangan gosipin klien lagi." jawabnya cepat sambil berusaha menutupi kepanikan.
"Fahmi kok lama ya tidak sampai-sampai."
"Iya sih, sudah sepuluh menit dari dia bilang sebentar lagi."
Fahmi datang dengan tergesa. Dia meletakkan setumpuk dokumen dalam tas hitam di atas meja hingga membuat gelas bosnya bergetar.
"Sebentar, aku mau cerita. Tapi aku beli minum dulu." kemudian berlari menuju meja order.
"Apa tadi dia bicara informal dengan kita?"
"Oh dia pasti mau gosip nih." Kekeh Endymion.
Fahmi kembali dengan segelas Milkshake coklat dengan toping whipcream dan sprinkle di atasnya. Duduk di kursi, menyeruput minumannya. Mengambil napas, lalu menepuk meja agak kasar.
"Aku punya cerita!"
"Silakan silakan."
"Tahu gak, tadi aku ketemu teman aku waktu kuliah. Dia ternyata kerja di tempat visa itu, dan dia kenal sama Mba Asteria."
"Oke terus."
"Jadi Mba Asteria itu dulu angkatan pertama di batch dia, salah satu karyawan serba bisa dan dia kayak paling dipercaya gitu sama teman-temannya. Kalau ada masalah atau apa pasti nanya ke dia. Karena apa?" Fahmi menjeda sambil menunggu kedua orang itu merespon.
"Karena dia pintar?" jawab End.
"Ya itu juga. Tapi jawaban yang paling tepat itu karena Deputy Manager mereka itu gak ngerti, bahasa kasarnya bodohlah. Si DM-nya kerja di situ tapi gak bisa ngerti kasus dan gak bisa ngasih solusi yang benar. Makanya pada minta tolongnya ke Mba Asteria. Meskipun Mba Aster masih junior, dia tuh belajarnya cepat. Jadi kalau ada satu kasus dia tahu cara penyelesaiannya, dia gak nanya-nanya mulu ke kedutaan gitu. Jadi intinya Mba Aster tuh termasuk bisa mengambil keputusan."
"Bagus dong."
"Sampai kemudian si DM yang bodoh ini resign, digantikan sama orang yang... pokoknya kalau temenku deskripsikan itu nyebelin banget. Dia bossy, tukang adu domba, galak, ngerendahin orang, tapi di depan atasan tuh sok manis banget. Sampai dikasih julukan uler sama karyawan di situ."
Fahmi menyeruput minumannya.
"Si uler ini tuh tipe orang yang gak suka sama perempuan yang lebih cantik dan lebih asik dari dia. Jadi satu persatu karyawan di situ dijatuhkan gitu sama dia. Dikamuflase error reportnya, padahal gak begitu masalah. Tapi sama dia dikomporin. Dilaporin ke atasan seakan-akan itu bencana sampai orang yang jadi target dia dikasih SP. Nah karena sudah kena SP satu biasanya sudah mulai pada pengen resign."
"Mba Asteria juga gitu?"
"Dengerin dulu. Mba Asteria nih susah dijebaknya. Karena dia tuh orangnya teliti, kalem, gak nyari ribut lah. Selama di kantor juga gak terlihat 'mengancam' posisi si uler ini. Cuma memang anak baru lebih sering nanya ke Mba Asteria daripada si uler ini. Mungkin si uler cemburu dari situ. Sampai suatu ketika ada satu anak baru masuk ke divisinya Mba Aster. Belum punya ID login, jadi pakai login temannya. Pas scan paspor, ada yang salah scan. Harusnya paspor itu belum keluar tapi sudah di scan keluar. Jadi di data fisik sama data di komputer beda. Nah si uler ini ngomporin, dikira paspor hilang. Kalau hilang kan mesti ganti rugi perusahaan mereka. Jadi harusnya kesalahan satu orang yang scan itu, yang kena SP satu divisi. Si Mba Asteria juga kena suruh tandatangan SP. Padahal ID yang dipakai si anak baru itu juga bukan ID dia. Bukan kesalahan Mba Asteria juga."
"Wah parah sih buat jatuhin orang sampai kayak gitu." timpal Chandra.
"Cuma Mba Asteria bertahan di sana sampai masa kontraknya selesai. Nah sebelum selesai, ada satu orang di kedutaan mau resign karena dapat pekerjaan di tempat lain. Posisi dia di kedutaan mau dia kasih ke Mba Asteria karena sudah kenal dan sering logistik ke sana. Intinya orang kedutaan sudah pada kenal sama Mba Asteria. Kan susah yah orang luar masuk ke kedutaan. Harus ada rekomendasi dulu dari orang dalam. Ternyata apa... posisi itu, diambil sama si uler. Gara-gara ada satu temennya si uler baru pindah ke bagian visa. Padahal si orang yang mau resign ini udah ngajuin nama. Kesaliplah Mba Asteria."
"Wah parah sih sampai berpengaruh ke kesempatan kerja lain."
"Terus gimana?"
"Tadinya Mba Asteria ditawari jadi DM di kantor itu. Tapi dia gak mau. Soalnya dia tahu gimana tertindasnya karyawan di situ dengan manager yang bermasalah disana. Dia gak mau malah jadi terpaksa ikut menindas teman-temannya disana."
"Bukannya kalau dia jadi DM malah bisa lebih baik."
"Tidak semudah itu, karena atasannya toksik. Nanti yang ada lelah batin." Fahmi kembali menyeruput minumannya. "Kenapa melihat ku seperti itu? Sudah selesai ceritanya."
"Oh kirain belum." balas End. "Jadi bagaimana tanggapan Anda bos besar?"
"Hm, informasi yang menarik. Terima kasih saudara Fahmi sudah menyampaikan gosip yang sangat menggugah sekali." balas Chandra dengan wajah yang dibuat antusias.
"Bukan gosip, ini fakta!"
Endymion tertawa melihat wajah kesal junior mereka. Anak boyband ini paling lucu kalau digoda. Sambil bersungut-sungut Fahmi melihat jam tangannya.
"Saya duluan. Ada pertemuan lain tiga puluh menit lagi." sambil berdiri dan membereskan barang yang dibawanya.
"Jadi kamu minta kita ketemu di sini cuma untuk... menceritakan hal itu?"
"Iya, sudah ya saya duluan."
Endymion menggelengkan kepalanya melihat Fahmi yang berlalu pergi. Dia melipat tangan di d**a sambil terkekeh.
"Anak itu tidak berubah. Setelah menikah pun masih juga begitu. Lucu sekali bahasanya langsung formal kembali setelah bercerita. Seperti ada tombol switch off nya."
Mister Chandra tidak menanggapi. Malah kembali sibuk dengan minumannya. Endymion menatapnya sambil berpangku tangan.
"Jadi bagaimana menurutmu tentang Mba Asteria?"
"Dia memang cepat tanggap. Kalem, tidak menyusahkan, fine."
"Itu saja?"
"Memangnya apalagi"
"Sudah pikirkan mau mutasi dia?"
Mister Chandra menunduk.
"Jika dia... tidak berbuat salah, tidak ada alasan untuk memutasinya."
"Mau jebak dia untuk berbuat kesalahan?"
"Astaga Endymion, aku tidak sepicik itu!" sergahnya sambil memukul tangan End. "Aku bukan si uler yang diceritakan Fahmi tadi."
Endymion terkekeh sambil mengelus tangannya yang dipukul.
"Good, pertahankan." Endymion mengecek arlojinya. "Aku duluan." berdiri kemudian menepuk bahu Chandra.
"Eh!"
"Aku ada rapat di kantor kita yang satu lagi. Biasa rapat bulanan."
"Oh iya."
"Semoga tidak ada belahan d**a lagi. Aku lebih berminat dengan d**a ayam."
Mister Chandra tersedak saat minum. Sungguh Endymion ini random sekali mengatakan hal itu saat dia minum. Si pelaku terlihat senang melihat respon temannya.
"Kamu juga cepat berangkat ke next meeting, sebelum macet. Bye."
Ponselnya berdering, nama OB di kantornya tertera di layar.
"Halo Pak Dungdung, ada apa?"
[[Mister, aduh Mister, mba Aster pingsan!]] suara diujung sana terdengar sangat panik.
"Pingsan kenapa?"
[[Gak tau Mister. Tadi saya habis ngantar paket dari lobby ke Mba Aster. Terus saya tinggal sebentar ke pantry. Pas saya balik ke ruangan, Mba Aster sudah tergeletak di bawah. Wajahnya sudah pucat sekali kayak orang meninggal. Ini kita bawa ke rumah sakit.]]
"Tapi masih bernapas?"
[[Alhamdulillah masih Mister. Ini buru-buru kita bawa ke rumah sakit takut kenapa-napa.]]
"Oke, tolong kirim alamat rumah sakitnya. Nanti saya kesana."
'paket lagi?' batin Mister Chandra.
Mister Chandra buru-buru memanggil supirnya.
"Pak Kul, kita ke rumah sakit, Mba Asteria sakit."
"Eh, terus meeting Mister gimana?"
"Astaga saya lupa."
Mister Chandra menggigit bibir. Apa yang harus dia lakukan? Dia khawatir kalau masalah ini sama seperti paket yang sebelumnya. Meeting ini cukup penting. Bisakah dia mengeceknya setelah meeting? Bagaimana kalau wanita itu meninggal?
Dia menscroll layar kontaknya sambil berpikir siapa yang bisa dihubungi saat genting seperti ini. Endymion tidak bisa, kantor yang ditujunya berbeda arah. Fahmi tidak mungkin, dia pasti sudah mulai meeting sekarang. Mba Monik, kalau sesuai jadwal wanita itu juga sedang bersama klien saat ini. Sampai di satu nama membuat dia berhenti.
"Halo Padmi, lagi di mana?"
[[Di kampus, baru selesai kelas sih Kak. Habis ini mau pulang.]]
"Padmi, Kakak boleh minta tolong gak?"
Mister Chandra berhasil mempersingkat waktu rapat menjadi kurang dari satu jam. Dia juga meminta supirnya untuk mencari jalan tercepat ke rumah sakit swasta di Tangerang. Akhirnya sampai setelah terkena macet di sana-sini. Pak Dungdung masih berjaga di luar ruangan memakai jaket.
"Gimana Pak kondisinya?"
"Tadi kata dokter mereka bingung. Gak ada masalah jantung atau paru-paru. Tapi belum sadar sampai sekarang. Masih pucat mukanya." jelas Pak Dungdung.
"Bapak ingat gak tadi ngasih paket apa?"
"Dokumen semuanya Pak. Tipis kok amplopnya. Kayak amplop-amplop kiriman kontrak kok Pak."
"Bukan makanan?"
"Bukan."
"Oke, terima kasih. Bapak pulang saja. Nanti saya yang urus mba-nya."
"Kalau begitu saya pamit duluan Mister."
Mister Chandra masuk ke ruang rawat sekretarisnya. Hal pertama yang dia rasakan saat membuka pintu adalah betapa pengap ruangan itu. Bau bangkai menusuk hidung membuat dia refleks menutup mulut. Ruang rawat yang kecil membuatnya lebih buruk. Rasanya sedikit sekali oksigen di sini.
Lurus dari pintu masuk, seorang perempuan duduk tegap menatap sosok yang berbaring dari jauh. Matanya menatap hampir tidak berkedip ke arah depan. Beberapa bulir keringat menghiasi kening dan lehernya seperti orang kepanasan.
"Padmi." Chandra berujar lirih.
Perempuan yang dipanggil Padmi itu tidak langsung merespon. Dia mengikuti arah pandang anak perempuan itu. Seketika bulu kuduknya meremang.
"Padmi itu..."