Mister Chandra merasa ingin memuntahkan makanan yang dia makan sebelumnya. Di depannya, lebih tepatnya di atas tubuh sekretarisnya terdapat sesosok makhluk menjijikkan. Kepala makhluk itu besar dengan banyak bisul bernanah di wajah. Tangannya kecil dan cungkring. Tulang-tulang di punggung dan d**a makhluk buruk itu menciut seperti orang yang tidak pernah makan. Yang paling buruk adalah aromanya sangat berbau busuk.
"Ugh...."
Mister Chandra menutup hidungnya dengan tangan. Dia langsung berpegangan pada pundak gadis yang masih menatap diam ke arah sana.
"Kakak... aku tidak tahu apa yang kakak lihat. Tapi apapun itu warnanya gelap sekali."
Padmi berkata sambil mencengkram celana jeans dengan erat. Keringat di keningnya semakin banyak.
"Apa kakak bisa melakukan sesuatu?" dia kembali berkata dengan mencicit.
Padmi adalah adik sepupu Chandra. Sejak tiba di ruang ini dia refleks langsung menahan pergerakan makhluk hitam yang dilihat matanya. Kemampuan penglihatannya berbeda dengan Chandra. Dia melihat warna, bukan wujud makhluk itu.
Dia berusaha keras menahan makhluk hitam itu agar tidak mencapai leher. Sebelumnya makhluk itu seperti berniat menarik sesuatu dari wanita di sana. Tapi sempat gagal dan terlontar ke belakang. Makhluk itu naik lagi, jadi Padmi menahan sekuat yang dia bisa. Makanya dia terus melihatnya agar tidak kehilangan fokus.
Mister Chandra melepas jasnya. Dia menggulung lengan kiri bajunya. Pikirannya berkonsentrasi untuk melakukan sesuatu. Suara auman harimau terdengar dari samping. Mister Chandra terlonjak kaget.
"Perasaan Padmi saja atau memang ada suara macan di sini?"
Mister Chandra belum sempat menjawab. Harimau putih besar yang muncul tiba-tiba kembali mengaum. Binatang itu menerjang makhluk buruk rupa yang ada di atas Asteria. Dia menggigit dan mengoyak dengan buas.
Suara lengkingan menyakitkan di keluarkan makhluk hitam itu. Mister Chandra dan Padmi segera menutup telinga. Suaranya membuat ngilu.
Makhluk hitam itu dikoyak hingga habis tidak bersisa. Suara kunyahan kucing besar itu membuat meninggalkan perasaan tidak nyaman. Mister Chandra memalingkan wajah tidak ingin melihat.
Saat semua habis ditelan, aura ruangan itu berubah. Bau busuk dan udara pengap kembali normal dengan aroma rumah sakit dan AC. Suasana gelap yang tadi menaungi juga sudah tidak ada. Padmi bernapas lega di kursinya.
"Akhirnya."ujarnya sambil mengipasi dirinya. "Sejak kapan kakak punya macan?"
"Bukan milikku." jawabnya sambil mengawasi harimau putih itu.
"Oh, berarti punya kakak yang di sana?"
Mister Chandra mengangguk.
"Tunggu di sini. Kakak akan panggil dokter sebentar."
*
Tiba-tiba tubuh Asteria panas setelah ditinggal sebentar oleh Mister Chandra. Dokter yang memeriksa mengizinkan wanita itu dibawa pulang karena demamnya bukan di taraf yang mengkhawatirkan.
"Tolong jangan kasih tahu paman dan bibi soal ini. Apalagi kakak kamu ya." pinta Chandra.
Padmi yang sedang makan kue yang dibawa kakak sepupunya itu mengelus dagunya seakan berpikir.
"Kenapa tidak boleh?"
"Kakak tidak mau mereka khawatir."
"Terus kakak yang di sana itu siapa?"
"Dia karyawan baru di kantor."
Padmi menyipitkan mata sambil tersenyum jahil.
"Beneran cuma karyawan baru? Jangan-jangan." sambil berjinjit dan mendekatkan wajahnya pada kakak sepupunya. " pacar kakak ya" nadanya dengan sing a song.
"Ih apaan sih kamu. Dia cuma karyawan doang." balas Chandra cepat.
"Masa sih, aku gak percaya."
"Sudah, sudah pulang sana."
Usir Chandra dengan mendorong pundak Padmi. Anak perempuan itu tertawa dengan senang.
"Aku kasih tahu Kak Indra ah."
"Heh kamu!"
Padmi menengadahkan tangannya. Chandra mengerjap bingung tidak mengerti. Padmi malah berdecak lalu menggelengkan kepalanya.
"Mau dirahasiain kan? Tiket pulang-pergi ke Korea ya tiga." ujar Padmi sambil mengacungkan tiga jarinya.
Mister Chandra menghela napas pasrah.
"Iya, iya nanti Kakak pesankan."
*
Hal pertama yang dirasakan Asteria saat bangun adalah kepalanya yang terasa sakit hingga berdenging. Matanya berat untuk dibuka. Tapi saat melihat langit ruangan dengan samar, dia yakin ini bukan kosannya. Asteria mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Dia menoleh ke kanan saat mendengar suara berisik tombol smartphone yang sedang digunakan mengetik. Asteria buru-buru bangun dari posisinya saat mengenali orang di samping tempat dia tidur.
"Oh kau sudah bangun."
Asteria ingin berkata sesuatu, tapi saat dia berbicara suaranya serak. Mister Chandra menyodorkan minuman. Dengan malu Asteria menerimanya. Dia tidak berani melihat wajah bosnya.
"Makan itu dan minum obatmu. Nanti saya antar kamu pulang."
Asteria menatap sebuah roti di meja samping tempat tidur. Dia tidak berani bicara dan hanya melakukan apa yang disuruh bosnya dalam diam. Suasana tempat itu terasa canggung dan tidak nyaman. Mister Chandra memperhatikannya makan sambil melipat tangan di d**a. Tatapannya dingin sekali. Rasa roti yang dikunyahnya jadi sepahit obat tablet yang digerus dan diminum tanpa madu.
Setelah selesai melakukan apa yang diminta, Mister Chandra kembali bicara.
"Apa yang saya katakan kemarin mengenai paket?"
Asteria menelan ludah.
"Tidak boleh menerima paket jika tidak dalam list nama yang Mister berikan. Buang jika itu makanan atau minuman. Jika dokumen, berikan ke Pak End." ulang Asteria dengan lancar.
"Lalu apa yang kamu lakukan?"
Asteria terdiam dengan rasa pahit di mulutnya. Dia menekan kukunya ke kelingking dengan keras.
"Tapi... tapi semua nama pengirimnya ada dalam list." cicitnya.
"Apa? Saya tidak mendengarmu."
"Saya... saya minta maaf. Saya salah. Saya tidak akan mengulanginya." ujarnya lebih keras.
Asteria segera meralat ucapannya. Dia menunduk dan memainkan tangan. Mister Chandra berjalan mendekat. Dia menundukkan badan, menarik dagu Asteria agar menatapnya. Asteria merasakan deja vu. Jantungnya berdebar keras membuat dadanya sesak. Asteria berusaha mundur, tapi Mister Chandra tidak melepaskannya dengan mudah.
"Saya yakin bukan itu yang kamu katakan sebelumnya. Coba katakan sekali lagi."
Mister Chandra mengatakannya sambil tersenyum. Tapi bagi Asteria senyum itu terlihat sangat mengintimidasi. Apalagi dengan dagunya dicengkeram seperti ini.
"Saya.. saya... itu paketnya... semua nama pengirimnya ada da-dalam list Mister."
Mister Chandra menatap matanya lama mencoba memastikan. Dia melepaskan tangannya yang menahan dagu Asteria. Kemudian menepuk-nepuk kepala wanita itu sambil tersenyum.
"Ayo, saya antar kamu pulang."
*
Beberapa hari setelahnya tidak ada lagi hal aneh terjadi. Asteria bekerja seperti biasa. Orang-orang di divisi lain juga mulai terbiasa meminta ini itu padanya. Mungkin sedikit lebih baik dari pada saat di kantor lama karena mereka akan bertanya dengan sopan dan tidak seenaknya menyuruh. Keuntungan menjadi sekretaris CEO.
Tapi ada satu hal yang mengganggunya. Tingkah Mister Chandra yang aneh. Dia bisa muncul tiba-tiba di mana saja. Kadang saat dia mengetik jawaban singkat "ya", tahu-tahu orang itu sudah berdiri di sebelah. Saat dia berdiri di depan cermin dan menoleh sedikit, orang itu muncul sambil tersenyum entah dari mana. Saat berada di lorong panjang yang tidak ada persimpangan, melihat handphone sebentar, lalu saat melihat ke depan, bosnya sudah ada di depannya dengan jarak sangat dekat dan tersenyum padanya.
Bosnya seperti hantu. Tapi kalau hantu dia bisa mendeteksinya jika mendekat. Orang ini tidak bisa dia rasakan sama sekali. Seperti muncul begitu saja dari udara.
"Halo Mbak."
Seorang wanita cantik menyapanya. Asteria ingat wanita itu yang mengobrol dengannya di hari pertama. Bagaimana mungkin Asteria melupakan perempuan secantik ini di kantornya.
"Siang Mba Venus."
"Lagi istirahat?"
"Iya Mba."
Basa-basi yang canggung. Tapi wanita itu akhirnya duduk juga menemaninya di sofa. Rok span Venus tertarik ke atas saat duduk menampilkan paha dan betisnya yang putih dan cantik. Mata hitam Asteria langsung buru-buru ke layar handphone saat dia menyadari terlalu lama menatap bagian itu.
"Bagaimana di sini? Betah?"
Mba Venus memulai percakapan. Asteria memainkan tangannya dengan gelisah. Pertanyaan yang suka ingin dia hindari.
"Ah...ya begitulah."
"Terakhir kita ngobrol tidak selesai. Kamu buru-buru saat itu."
Asteria menjawab singkat. Memang pembicaraan terakhir terputus karena telepon dari bos. Kalau tidak salah membahas sekretaris lamanya Mister Chandra.
"Kamu kelihatan sangat gelisah, apa terjadi sesuatu?" tanya Venus.
Asteria tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa, cerita saja sama saya. Kita kan teman."
'Teman?' Asteria mengerjapkan mata.
Kata itu selalu terasa asing di telinganya. Mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Hanya sempat menyapa dan mengobrol satu kali. Apa itu bisa masuk hitungan. Daripada teman, Asteria mungkin akan memilih kata seperti rekan kantor. Mereka hanya berinteraksi di kantor saja.
"Kamu tidak mau berteman dengan saya?" ujar Venus dengan suara kecil.
Venus mengerucutkan bibirnya dengan sedih. Namun dengan wajah secantik itu malah membuatnya terlihat menggemaskan. Bahkan alis dan bahunya dibuat turun. Benar-benar seperti anak kucing yang sedih.
"i.. iya ..te-tentu saja teman..iya haha."
Wajah Venus langsung berubah gembira. Dia bahkan menarik tangan Asteria dan menepuknya beberapa kali. Asteria hampir terjungkal ke depan jika dia tidak bisa menjaga keseimbangan.
"Karena kita teman, jadi sekarang ceritakan apa yang membuatmu gelisah hm?"
Asteria menyerah untuk bercerita daripada di teror macam-macam. Venus mendengarkan dengan baik. Dia mengangguk sambil memberi beberapa respon.
"Oh tentu saja kamu akan kaget. CEO kita memang seperti itu dari dulu. Dia bisa muncul tiba-tiba di mana saja. Bahkan masuk melalui pintu yang berderit tanpa menimbulkan suara." Venus merendahkan suaranya. "Sampai orang di sini memberinya julukan CEO ninja."
"Ninja?"
Apa yang ada di pikiran Asteria malah anime jepang dengan karakter berlarian dengan tangan di belakang.
"Iya, haha lucu sekali. Perhatikan saja kalau dia berjalan. Dengan sepatu pantofel setebal itu, dia bisa membuatnya tidak bersuara. Sungguh, aku juga bingung bagaimana cara dia melakukannya. Luar biasa sekali dia."
Asteria jadi berpikir keras. Benarkah bosnya bisa berjalan tanpa menimbulkan suara? Kalau di dalam ruangannya sih mungkin karena memakai karpet, jadi suaranya teredam. Ah mungkin Mba Venus berlebihan.
"Karena kemampuan aneh itu karyawan di sini suka berhati-hati dengannya. Dibanding Pak End yang baik dan toleransi, Mister Chandra sangat ketat orangnya. Kalau kamu ketahuan main game saat jam kerja, gajimu bisa dipotong. Bersyukurlah sekarang Pak End yang bagian mengurus karyawan, jadi hal seperti itu tidak sering terjadi lagi. Ah tidak-tidak, kau harus bersyukur tidak mengalami masa mengerikan. Dulu sebelum Pak End dan Pak Fahmi masuk, tempat ini seperti neraka. Mister Chandra mengontrol hampir semua divisi dengan senyumnya yang mengerikan itu. Kau tahu senyum itu!" ujarnya dengan bersemangat.
Asteria hanya bisa membayangkan seberapa kejam bosnya. Tiba-tiba muncul di suatu ruangan dengan wajah tersenyumnya yang membuat orang menggigil. Hanya melihat senyumnya kau akan merasa sudah melakukan kesalahan.
"Ah maaf, tidak seharusnya aku menakutimu jika kamu ingin bekerja lama di sini." kali ini raut wajah Venus berubah serius. "Tapi apa hanya itu hal aneh yang dia lakukan? Maksudku dia tidak menjahatimu kan? atau dia terlalu bossy? atau dia melecehkanmu? katakan apa dia menerormu?"
Ugh, bolehkan Asteria mengatakan sejujurnya. Kurang lebih ada beberapa saat di mana bosnya cukup mengintimidasinya hingga dia merasa tersudutkan. Apa itu termasuk?
"Ah.. ti-tidak. Bos sangat baik, sangat baik pada saya."
Venus menangkup kedua pipi Asteria. Wanita cantik itu bahkan mendekatkan wajah mereka berdua hingga kening mereka hampir bersentuhan.
"Raut wajahmu tidak meyakinkan. Ayo jujur. Pasti ada hal lain yang belum kamu ceritakan bukan?"
Asteria membuka dan menutup mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Dia merasakan keningnya basah dengan keringat dingin. Tapi, suara dering ponsel menyelamatkannya. Buru-buru dia mundur untuk mengangkatnya.
"Halo. Iya Mister, saya di lantai lima.... saya akan segera ke sana."
Asteria menutup telponnya dan segera pamit pergi pada Mba Venus. Dia buru-buru kembali ke ruang Mister Chandra. Ada tujuh berkas yang diminta bosnya untuk di pak. Untungnya berkas-berkas itu berada di tempat yang terlihat. Asteria mendekap berkas-berkas itu untuk kembali ke mejanya dan mengambil totebag untuk tempatnya.
"!"
Hampir saja dia berteriak. Mister Chandra berada di belakangnya. Seperti yang sudah dibicarakan, dia masuk tanpa suara.
"Mister."
"Oh, sudah ketemu. Nanti kamu kasih Pak Fahmi. Dia yang mau bawa berkas itu."
Mister Chandra memutar ke mejanya dan menarik laci. Dia mengambil buku note kecil dari sana dan memasukkannya ke kantong.
"Saya mau meeting dengan klien di kota. Kalau ada yang cari saya, kamu panggil Pak End saja. Saya sibuk sampai malam."
"Baik Mister."
Asteria menunduk sambil masih memeluk berkas. Dia melihat sepatu Mister Chandra yang kotor dan kusam. Mister Chandra seperti habis lewat becekan. Bosnya tidak menyadari karena sibuk memasang jam tangan
"Sudah ya saya tinggal."
"Mister tunggu!"
"Ada apa?"
"Sepatunya..."
"Kenapa sepatu?" ujarnya sambil menunduk. "Oh. Saya kurang berhati-hati tadi. Sudahlah tidak akan kelihatan."
"Saya bersihkan, dua menit!"
Belum sempat Mister Chandra merespon, Asteria sudah berlari keluar. Wanita itu menaruh berkas yang dipeluknya ke atas meja. Lalu membuka lemari untuk mengambil semir sepatu, lap dan sekotak tisu. Dia kembali ke ruang Mister Chandra dengan cepat.
"Kamu tidak perlu.."
"Mister tolong duduk."
Mister Chandra menghembuskan napas. Dia akhirnya duduk di salah satu sofa ruangannya. Dia bermaksud untuk melepas sepatunya, tapi sekretarisnya bergerak lebih cepat. Wanita itu sudah berlutut dihadapannya, mengambil satu kakinya dan meletakkannya di pahanya. Tangan bergerak dengan telaten membersihkan noda di sepatu dengan lap. Kemudian menggosok semir pada permukaannya dengan hati-hati.
Mister Chandra bisa melihat rambut wanita itu yang sedang menunduk. Kepalanya maju mundur karena gerakannya saat menggosok sepatu.
'Jika saja posisi kepalanya lebih dekat lagi di antara kedua kaki ku, itu akan terlihat seperti...' pikiran kotor melayang-layang di kepalanya. 'astaga apa yang ku pikirkan.'
Mister Chandra menggigit bibir demi membuang pikiran kotor itu. Asteria menunduk agak lebih dekat ke kakinya. Pakaian yang dia kenakan memiliki kerah yang agak besar. Dengan rambut yang diikat rapi, Mister Chandra bisa melihat bagian leher dan sedikit bahu sekretarisnya yang terekspos.
'Oh dia punya leher yang dan perpotongan bahu yang bagus' batinnya. 'Chandra, berhenti berpikir yang tidak-tidak!' jeritnya dalam hati.
"Sudah selesai."
Asteria menurunkan kaki Mister Chandra dengan lembut. Mister Chandra agak kaget malah langsung berdiri dan mau melangkah pergi. Tangannya menyenggol kepala sekretarisnya. Kesalahan gerakannya membuat rambut Asteria nyangkut di salah satu kancing lengan jas Mister Chandra. Asteria meringis saat merasakan rambutnya tertarik. Dia jadi jatuh ke depan di antara dua kaki Mister Chandra.
"Ah, maaf. Saya akan lepaskan. Tunggu sebentar."
Mister Chandra cukup panik saat mencoba menarik lengannya. Dia sangat kasar hingga membuat Asteria reflek berpegangan pada hal yang terlihat di depannya, paha Mister Chandra. Satu tangan Asteria menggapai tangan bosnya yang tersangkut agar dia berhenti menariknya dengan kasar.
"Permisi saya mau...."
Fahmi membuka pintu tiba-tiba dan membeku. Sekretaris bosnya sedang bersimpuh dengan rambut acak-acakan, memegang celana bosnya dengan wajah memerah. Bosnya juga sama, wajahnya merah. Fahmi langsung menutup lagi pintu itu dengan keras.
Insiden itu bisa ditangani akhirnya. Walau sakit karena rambutnya tercabut. Asteria menelungkupkan wajahnya di meja. Dia sedang malu sekali. Dia baru sadar apa yang mungkin dilihat oleh Pak Fahmi dalam posisi seperti itu. Siapapun akan salah paham.
"Mba Aster, saya diminta Pak Fahmi untuk ambil berkas." seorang OB masuk.
"Oh iya Pak ini."
Setidaknya dia tidak perlu bertemu Pak Fahmi dulu sementara.
***
Fahmi mengaduk caffee latte dingin yang dipesannya. Setelah selesai dengan urusan berkas itu. Dia mengusap wajahnya berkali-kali.
"Itu bj.." gumamnya.
"Apa? Kau ingin beli baju?" tanya Endymion.
Dia baru saja memesan Americano dan mengambil duduk di sebelah Fahmi. Adik kelasnya itu menggeleng dengan tegas.
"Bukan, maksudku blowjob."
Endymion menyemburkan americanonya. "Hei ini masih terang. Bahasamu ya. Siapa yang bj? Kamu?"
"Mister Chandra."
"Uhuk..uhuk!"
Endymion baru saja menyedot es americano miliknya malah dibuat terkejut seperti ini. Dia menepuk-nepuk dadanya. Sejak kapan Chandra tertarik bj?
"Uhuk.. jangan bercanda."
"Aku lihat dengan mataku sendiri! Posisi itu kalau bukan bj apalagi!"
Endymion langsung membekap mulut Fahmi yang tiba-tiba berteriak. Semua pelanggan di cafe itu jadi menatap mereka. Endymion tersenyum canggung.
"Maaf semuanya. Jangan pedulikan dia. Dia sedang stres." ujarnya sambil membekap mulut Kepala pemasaran kantornya. "Nanti kita bahas ditempat lain saja ya." bisik Endymion.