bc

Absolutely Mine

book_age18+
49
IKUTI
1K
BACA
dark
reincarnation/transmigration
drama
tragedy
bxg
poor to rich
punishment
addiction
like
intro-logo
Uraian

Lucas membenci Valerie sebanyak dia mencintai gadis itu. Hidup ditemani cinta, luka, dendam, dan obsesi bertahun-tahun lamanya, berhasil membuat Lucas lepas dari jerat kemiskinan kendatipun dalam prosesnya, pria bermata hazel itu harus banyak menahan diri bahkan sampai menjatuhkan harga diri. Sekarang setelah semua impiannya terwujud, satu-satunya hal yang ingin Lucas dapatkan lalu dia hancurkan menjadi kepingan adalah gadis yang mampu menorehkan luka begitu dalam kepadanya, di saat laki-laki itu percaya bahwa tidak ada orang lain yang peduli kepadanya dengan tulus selain Valerie—gadis yang pertama kali membuatnya jatuh cinta lalu membuangnya seperti sampah tak berguna.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Prolog
Valerie mengerjapkan mata usai mendapatkan kembali kesadarannya yang terenggut paksa entah berapa lama. Kepalanya terasa berat, berdenyut nyeri saat pendar cahaya putih dari lampu menerobos masuk menembus kornea. Menatap langit-langit kamar bernuansa krem dengan pandangan menerawang, dahi Valerie berkerut dalam tepat di detik saat dia mulai menyadari bahwa dirinya sedang berada di tempat yang asing. “Di mana aku?” gumamnya serak, menatap bingung ke sekeliling ruangan. Setelah meyakini bahwa dia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi, gadis dengan manik cokelat karamel itu mencoba bangkit dari tempat tidur. Namun sial, gerak tubuhnya terhalang oleh simpul mati dari dasi yang mengikat kedua pergelangan tangannya dan terhubung ke kepala ranjang. Wajah Valerie seketika berubah pucat. Seluruh saraf yang ada di tubuhnya menegang diikuti dengan lonjakan degup jantung kala rasa takut tak tertahankan menyekat aliran udara yang menuju paru-paru. “Apa-apaan! Siapa yang mengikatku?” Valerie luar biasa panik dan dia meronta sekuat tenaga dalam upaya melepaskan diri dari jeratan tali yang kian menyiksa, sebelum orang gila yang melakukan perbuatan sialan semacam ini kepadanya datang. Dan benar saja, apa yang Valerie takutkan pun terjadi tidak lama kemudian. Derap langkah kaki yang terdengar santai namun penuh teror dari luar ruangan membuat jantung Valerie serasa mencelos. Peluh sebesar biji jagung bercucuran di dahi Valerie. Pandangan matanya sibuk mengawasi pintu karena begitu objek yang menjadi titik fokusnya terbuka, Valerie yakin sekali kalau nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Valerie sama sekali tidak mempedulikan perih yang tercipta akibat gesekan antara kulit dan kain ketika dia memuntir dan menarik tangannya secara agresif kendatipun dirinya tahu kalau apa yang dia lakukan kecil kemungkinannya untuk berhasil. Cklek! Kedua mata Valerie terbelalak dan tubuhnya membeku seketika begitu knop pintu bergerak turun sementara suara derit pintu yang dibuka perlahan menjelma menjadi alunan musik paling horor yang pernah Valerie dengar sejak saat ini. Sebelum pintu terbuka sempurna, Valerie yang tidak mampu menahan sensasi ngeri pun lekas berpaling ke arah berlawanan sambil memejamkan mata alih-alih mengarahkan tatapan tajam menghunus yang terkesan menantang. Langkah kaki yang Valerie yakini sebagai si penculik semakin mendekat ke arah ranjang. Lalu, tatkala Valerie merasakan kasur di sampingnya melesak ke bawah, tremor yang melanda tubuhnya menjadi kian tak terkendali dan dia gagal dalam upayanya pura-pura tidur. “Kau sudah bangun, Sayang?” Tak ada respon dari Valerie selain otot-otot yang menegang. “Ayolah, jangan pura-pura tidur. Aku tahu kalau kau sudah bangun sejak…” pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu melirik ke arah jam tangan di tangan kirinya, “dua puluh menit yang lalu.” Pria tersebut memberi waktu bagi Valerie untuk menyudahi kepura-puraannya yang tidak berguna secara sukarela. Berhubung gadis cantik yang dia culik masih saja bungkam, dia pun mulai mendekatkan bibirnya ke telinga Valerie seraya berbisik, “Masih tidak mau bangun? Apa kau tidak merindukanku, hm?” Kecupan tak terduga yang bertahan cukup lama di pelipis Valerie, nyatanya mampu memenjarakan fungsi otak gadis itu hingga dia tidak bisa memikirkan hal apa pun termasuk ide yang sekiranya jitu digunakan sebagai upaya pelarian. Meskipun demikian, embusan napas hangat yang diperkuat dengan aroma musk dari tubuh pria yang berada tepat di sampingnya, menjadi impuls yang menggelitik keberanian Valerie untuk segera menoleh menatap wajah orang yang dengan kurang ajar memperlakukannya seperti ini. Namun sebelum kehendak hati Valerie tercapai, pria asing itu terlebih dahulu membuka mulut. “Sayang sekali,” suaranya terdengar kecewa dan dia sedikit menjauhkan diri dari Valerie seraya mendecakkan lidah beberapa kali, “padahal tidak pernah sehari pun aku tidak merindukanmu. Akan sangat menyenangkan kalau kau merasakan hal yang sama denganku, Sayang.” Tunggu! Bukankah suara ini… Valerie tersentak, membuka mata lebar-lebar begitu dia menyadari bahwa suara bariton yang kini sedang mengajaknya bicara, adalah suara milik seseorang yang diam-diam selalu dia rindukan. Demi memastikan kebenaran dugaannya, Valerie buru-buru memutar kepalanya ke samping, ke arah laki-laki yang masih duduk di pinggir ranjang dan kini tengah menatapnya intens sambil tersenyum. “Halo, Honey. Long time no see.” Bariton pria itu kembali merasuk ke gendang telinga Valerie. Turun seperti tetes air yang menyirami tanah tandus, hadir seperti tunas baru yang bermukim di ladang kosong. Tepat setelah mata mereka saling bersirobok, Valerie tahu kalau ruang hampa yang tersembunyi di hatinya telah terisi. Tanpa sadar, lidah Valerie mulai mengeja nama yang tidak pernah lagi dia sebut sekian tahun lamanya dalam bisikan tanpa suara, sementara sorot mata yang tadinya dipenuhi rasa takut perlahan digantikan oleh binar-binar kerinduan. “Lucas? Kau… benar-benar Lucas, kan?” Wajah Valerie terlihat jauh lebih sumringah, sejenak lupa akan bahaya yang tengah mengintai. Seringai muncul menghiasi bibir Lucas selagi dia memiringkan kepala. “Kau masih ingat padaku? Waaah, luar biasa,” ujar Lucas dengan nada tak percaya yang dibuat-buat. “Yah, kau memang harus mengingatku, Sayang. Karena kalau tidak, kau membuatku merasa sedih.” Kalimat lanjutan dari Lucas masih diwarnai lengkung senyum yang menawan. Sayangnya keindahan yang memanjakan mata itu tidak berlangsung lama, karena perlahan tapi pasti tatapan lembut Lucas berubah diliputi kelam yang tak pernah sekali pun Valerie lihat. Gadis itu mengernyit. Merasa terancam sekaligus terintimidasi walau rangkaian kata yang keluar dari bibir Lucas masih selembut beledu. Valerie mencoba denial dengan menampik semua dugaan buruk yang lalu lalang di kepala meski hatinya terus berkata dengan suara lantang bahwa ada yang salah dengan Lucas. Ada yang tidak beres dengan cara Ditrian menatapnya, ada yang tersembunyi dibalik tarikan di kedua sudut bibir pria itu, lalu yang lebih penting dari itu semua adalah, Lucas ada bersamanya di kamar tertutup ini dan terlihat tidak memiliki keinginan sama sekali untuk melepaskannya dari semua jerat yang membuatnya merasa frustasi. Tidak tidak! Itu hanya perasaanku saja. Lucas ada di sini pasti untuk menolongku, bukan sebaliknya. Ya, pasti begitu! Senyum canggung terbit di bibir Valerie yang bergetar sebelum dia berkata, “Bagaimana mungkin aku melupakanmu? Selama ini aku terus—” gadis itu tiba-tiba berhenti bicara, firasat buruk terhadap Lucas yang sulit sekali dienyahkan seakan memaksanya berbuat demikian. “Lucas, ba-bagaimana kabarmu? Kau… baik-baik saja, bukan?” Diamnya Lucas sesaat setelah Valerie memutar arah pembicaraannya terasa begitu mengintimidasi hingga gadis itu kesulitan menelan salivanya sendiri. Bahkan Valerie merasa kalau dia sedang dihakimi, sedang dikuliti sampai ke tulang kendatipun Lucas tidak melakukan hal lain selain memandanginya dengan tatapan tak terbaca. Valerie tidak dapat menebak apa yang sedang Lucas pikirkan dalam dingin yang bertahan dalam kebisuan, hal yang membuat suasana mencekam di sana semakin bertambah pekat seiring berjalannya waktu. “Aku—aku minta maaf padamu karena dulu… aku pernah menyakitimu, Lucas. Eum… sekarang, bisakah kau membantuku melepas—” Sebenarnya, Valerie ingin menanyakan hal lain seperti: kenapa aku bisa berada di sini, dan kenapa aku terikat seperti ini, kepada Lucas. Namun belum lagi keinginannya terealisasikan, sorot mata tajam Lucas yang dipenuhi angkara membunuh aksara hingga mati di bibir Valerie sampai-sampai dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya yang terpotong. Dengan gerakan kasar dan tak terprediksi, Lucas mencengkeram rahang Valerie kuat-kuat seolah-olah dia sudah lama menahan diri untuk tidak meremukkan tengkorak gadis itu hingga hancur. “How dare you! Beraninya kau menanyakan bagaimana kabarku setelah apa yang kau perbuat!”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.5K
bc

Kali kedua

read
223.0K
bc

TERNODA

read
204.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.1K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook