2. Forced Marriage

1184 Kata
"Lucas... lepas!" Valerie kesulitan bicara dan suaranya terbata. Alih-alih lepas, cengkeraman tangan Lucas justru pindah ke leher Valerie. Meski tahu apa yang dia perbuat sangatlah menyakiti gadis yang dulu pernah membuatnya jatuh hati, Lucas tampak masa bodoh dan gilanya dia justru merasa puas. Hazel Lucas memindai wajah Valerie lekat-lekat. Menelusuri matanya yang sayu karena kesulitan bernapas, menikmati ekspresi rasa sakit yang ditunjukkan oleh Valerie, menyukai bagaimana dia bisa mengintimidasi Valerie sambil menanamkan rasa takut ke hati gadis yang berhasil dia jadikan sandera. "Lucas... tolong... lepas! Sakit!" "Apa? Lepas katamu?" Lucas berdecih. Mencemooh Valerie yang seperti sedang meminta hal paling mustahil padanya melalui seringai di bibir. "Kalau aku tidak mau bagaimana?" "Ak-aku... tidak bisa... ber-napas!" "Kalau bicara yang jelas. Jangan terbata-bata seperti itu. Aku 'kan jadi tidak dengar. Coba katakan sekali lagi. Yang keras!" Tubuh Valerie sedikit terangkat saat Lucas menarik tubuh gadis itu mendekat padanya. Bermain-main dengan sang mangsa dengan berpura-pura tidak mendengar apa yang Valerie ucapkan. "Tolong..." Valerie berusaha keras menyusun kata-kata yang tersendat di tenggorokan ketika pandangannya mulai kabur dan kepalanya pusing luar biasa. "Tolong lepas. Aku... bisa mati—" "Baiklah." Kedua tangan Lucas terangkat sejajar telinga setelah dia melepaskan Valerie dalam satu entakan kuat hingga tubuh tak berdaya Valerie terhempas kembali ke atas kasur. Valerie yang sudah seperti ikan yang menggelepar di darat tidak kuasa menahan laju air matanya. Sikap Lucas yang begitu kasar membuat perasaannya campur aduk. Jika dulu Lucas adalah sosok yang baik dan lembut, maka kini kebaikan serta kelembutan yang dimiliki Lucas seperti lenyap tanpa bekas. Tidak ada setitik pun kehangatan yang tertinggal di dalam hazelnya yang indah, tidak ada secuil pun senyum tulus yang dulu biasa menghiasi wajahnya yang tampan. Lucas yang dulu dengan Lucas yang sekarang seperti dua orang berbeda yang memiliki wajah sama. Kenyataan pahit tersebut tentu saja membuat Valerie bertanya-tanya, ke mana perginya sosok Lucas yang dingin tapi sebenarnya sangat perhatian itu? Dan di mana sosok laki-laki yang dua belas tahun lalu pernah berkata kalau dia akan mencintai Valerie sampai kapan pun? Mungkinkah kalau pria yang berada di dekatnya sekarang sebenarnya bukanlah Lucas melainkan orang lain yang wajahnya hanya sekedar mirip? Seakan mampu membaca apa yang sedang Valerie pikirkan, Lucas pun menjawab pertanyaan Valerie dengan cengkeraman kuat di rahang untuk yang kedua kali. "Jika kau berharap kalau aku bukanlah orang yang pernah kau kenal, kau patut kecewa karena aku..." Lucas menjeda sejenak kalimatnya hanya untuk menikam Valerie dengan belati dendam yang tersimpan di mata, "memang Lucas yang dahulu pernah kau permainkan." "Tidak mungkin!" Lucas menyeringai. "Kenapa? Kau masih tidak percaya kalau aku benar-benar Lucas?" Valerie tertegun, membeku tak percaya sementara air matanya yang tak kunjung kering terus membahasakan lara yang melebar di hati selagi lidahnya terasa kelu. Lucas pun menjawab pertanyaan Valerie dengan tekanan kuat di jari-jarinya yang kembali melingkar di sekeliling leher jenjang gadis itu. "Lihat aku, Val!" Lucas lalu berdiri menghadap Valerie, kedua matanya seolah-olah menyuruh gadis itu memperhatikan perubahan yang ada di dalam dirinya secara saksama. "Seperti yang kau lihat, sekarang aku bukan lagi pria miskin yang bisa kau injak-injak seperti serangga menjijikkan." "Lucas... tolong jangan salah paham. Aku bukannya sengaja ingin menyakitimu!" Secepat kilat tangan kekar Lucas kembali menjegal udara yang Valerie hirup dengan cengkeraman kuatnya di leher. "Jangan bicara apa pun dan jangan beralasan karena kau hanya semakin membuatku marah!" Dua detik setelah kalimat yang dilontarkan Lucas mencapai titik, Valerie baru bisa menarik napas dalam-dalam meski oksigen yang dia hirup seperti dilapisi serbuk kaca. Sakit! Hanya itu yang bisa dirasakan Valerie atas keadaannya sekarang. Dalam ingatannya yang samar, Valerie tahu kalau dia pernah menyakiti hati Lucas. Namun Valerie tidak pernah mengira kalau luka yang dia torehkan dahulu, akan menyebabkan kerusakan yang begitu fatal bagi jiwa Lucas. "Aku tidak pernah sengaja ingin menyakitimu. Sungguh..." "Aku bilang diam!" bentak Lucas, suaranya yang menggelegar memantul di sudut-sudut kamar yang hanya diisi satu tempat tidur, satu meja kecil yang di atasnya terdapat sebotol wine, dua buah gelas, dan satu pisau kecil. Valerie tidak tahu sejak kapan pisau lipat yang tadi sempat menyita fokusnya ada di tangan Lucas. Yang jelas tak lama kemudian, punggung pisau itu mulai menempel di kulit Valerie lalu turun menelusuri pipi dengan penuh tekanan. "Kau tahu tidak? Sudah lama aku ingin mengoyak wajah cantik yang kau miliki supaya kau tidak pernah lagi mempermainkan hati laki-laki. Tapi setelah aku pikir-pikir, rasanya sayang juga kalau wajahmu yang berharga ini rusak dengan cara yang mudah. Sepertinya akan lebih bagus kalau kulit mulusmu diberi jejak kebiruan terlebih dahulu, atau luka sayatan yang bisa membuatmu selalu mengingatku. Bagaimana? Ideku bagus, bukan? Lagi pula, aku punya banyak uang untuk memperbaiki apa yang sudah aku rusak," ucap Lucas dengan penuh rasa bangga serta arogansi yang kental. Tak tahan dengan ancaman mengerikan yang dia terima, Valerie pun berteriak di depan wajah Lucas sambil menahan perih. "DASAR TIDAK WARAS! KAU... PSIKOPAT!" Alih-alih tersinggung, Lucas justru terbahak mendengar makian yang Valerie lemparkan kepadanya. "Terima kasih pujiannya, Cantik. Untuk ke depannya, aku janji akan berbuat lebih gila lagi dari ini supaya kau merasa bangga kepadaku." "Apa?" Valerie tercengang. "Kau benar-benar sudah tidak waras, Lucas! Aku bersumpah akan membuatmu mendekam di penjara begitu aku keluar dari tempat sialan ini!" "Itu bukan kata-kata yang tepat untuk kau ucapkan di situasi seperti ini, Sayang. Jangan lupa, kaulah orang yang membuatku berubah seperti ini," jawab Lucas santai seraya mengedikkan bahu. Tak lama berselang, Lucas tiba-tiba berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan entah untuk apa. Valerie tidak mau tahu alasan kenapa Lucas pergi dan ke mana Lucas melangkahkan kaki. Malah Valerie bersyukur melihat pria itu menghilang di balik pintu, karena dia butuh waktu untuk meluapkan perasaan kecewa yang datang kepadanya secara bertubi-tubi. Seolah tak mau berlama-lama memberikan perasaan lega kepada Valerie, Lucas pun mematahkan harapan Valerie dengan kembali ke dalam ruangan sebelum genap satu menit. "Aku tidak membuatmu kesepian, bukan?" Lucas tersenyum lebar, menatap Valerie yang kembali tegang sembari mendudukkan diri di tepi ranjang. "Lucas... tolong lepaskan aku. Bukankah kita bisa bicara baik-baik tanpa perlu mengikatku seperti ini?" Lucas yang saat itu sedang fokus membaca isi dokumen yang dia pegang, langsung mengangkat wajah dan balas menatap Valerie. "Hm? Kau ingin aku melepaskanmu dan bicara baik-baik?" Valerie menganggukkan kepala beberapa kali dengan cepat. Berharap Lucas mau mengabulkan permintaannya untuk tidak diikat, karena demi apa pun, linonophobia yang sudah lama dia derita dan sekarang masih dalam tahap pengobatan membuatnya dua kali lebih tersiksa. Gadis itu dilanda kecemasan ekstrem yang membuatnya merasa tercekik meski Lucas tidak sedang melakukan apa-apa. Sialnya napas yang memburu, detak jantung yang tidak teratur, keringat yang mengucur deras serta tremor yang tak kunjung mereda, rupanya masih belum mampu menarik simpati Lucas untuk sedikit berbelas kasih kepada Valerie. Lucas justru senang melihat Valerie sudah seperti orang yang sekarat. Baginya, semua penyiksaan yang sedang dia lakukan kepada Valerie masih jauh dari kata setimpal jika dibandingkan dengan sakitnya penghinaan yang pernah gadis itu lemparkan ke wajahnya. "Biar aku jelaskan, Val." Lucas sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Valerie. "Kau... tidak sedang berada dalam posisi berhak meminta apa pun dariku. Tapi tenang saja, jika kau mau menurut kepadaku, aku akan sedikit bersikap lembut." Lucas lantas mengeluarkan bantalan stempel dari dalam laci kemudian menempelkan ibu jari Valerie ke dokumen di tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN