3. Trapped

1017 Kata
Valerie mencium gelagat tak beres yang tersemat di senyum tipis Lucas tepat setelah dia mengeluarkan sebuah stempel berikut bantalannya dari dalam laci. Apa pun yang tertulis di dalam dokumen itu, Valerie yakin sekali kalau isinya pasti bukanlah sesuatu yang baik. "Mau apa kau!" bentak Valerie ketika Lucas kembali mencondongkan tubuhnya. Hanya dengan sebuah usaha kecil, Lucas berhasil membuat wanita itu membubuhkan cap ibu jarinya ke dokumen yang sengaja dia buat untuk menyiksa Valerie. Bukan! Lucas tidak berniat melemparkan Valerie ke rumah bordil mana pun. Menjual organ dalam Valerie juga tidak pernah terlintas di dalam benaknya. Lucas hanya ingin mengikat Valerie. Mengekangnya sampai gadis itu paham bahwa dia tidak memiliki tempat di mana pun selain di sisi Lucas. "Menikah denganmu," jawab Lucas tanpa beban tak lama kemudian. Senyum polos menawan layaknya seorang anak kecil yang kegirangan setelah dibelikan mainan, muncul menggantikan seringai sinis yang sedari tadi tergambar di wajah Lucas tatkala kedua netranya sibuk memandangi dokumen pernikahan yang dia buat tanpa persetujuan sang mempelai wanita. Tapi Valerie mana sempat memperhatikan fenomena indah yang kontras dengan suasana mencekam di sana. Pikirannya mendadak buram setelah mendengar jawaban dari Lucas yang sangat di luar dugaan. "Me-menikah?" "Iya. Menikah. Kau paham arti menikah, kan? Aku jadi suamimu dan kau jadi istriku. Sebagai suamimu, aku punya hak penuh atas dirimu. Kau milikku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapi sebagai istriku, kau tidak memiliki hak apa-apa atas diriku. Yah... begitulah kira-kira pernikahan ini akan berjalan." Valerie terbelalak. "Lucas, please... don't! Aku tidak mau menikah!" "Kenapa? Bukankah dulu kau pernah bilang padaku kalau kau sangat menyayangiku?" "Tidak! Aku tidak mau menikah dengan orang gila sepertimu!" "Kau yang membuatku gila. Jadi sudah sepantasnya kau bertanggungjawab atas perbuatanmu. Tidak perlu protes karena itu sia-sia. Lagi pula sekarang kita sudah sah menjadi suami istri." "Lucas... kau tidak bisa melakukan ini kepadaku!" "Kenapa tidak bisa?" Lucas menaikkan sebelah alisnya, berdiri beberapa senti dari ranjang sementara tatapannya yang tajam terhunus tanpa jeda ke arah Valerie. "Jelas tidak bisa! Pernikahan tidak boleh terjadi atas dasar pemaksaan!" "Ah, itu 'kan katamu. Kalau uang sudah bicara, semuanya akan menjadi mudah." Valerie yang sudah kehilangan kendali meronta sekuat tenaga sambil terus-menerus berkata bahwa pernikahan mereka sama sekali tidak sah karena adanya pemaksaan dan manipulasi. Sedangkan Lucas yang masih saja bergeming, sama sekali tidak terpengaruh oleh penolakan bercampur sumpah serapah dari Valerie. "Dengarkan aku Valerie, Sayang. Tidak ada yang peduli pernikahan ini terjadi atas dasar pemaksaan atau bukan. Bahkan ayahmu saja sudah memberikan persetujuannya kepadaku. Jadi pendapatmu sama sekali tidak penting." "A-ayahku? Valerie nyaris tidak mempercayai telinganya sendiri. "Apa maksudmu?" Perlahan Lucas merendahkan kepala. Berniat memberikan kecupan singkat di bibir Valerie, tetapi Valerie keburu memalingkan wajah hingga bibir Lucas jatuh ke pipinya yang basah oleh air mata. "Jangan menyentuhku!" desis Valerie jijik. Raut panik di wajah Valerie memicu terbitnya senyum malaikat di wajah Lucas: tampan tak terbantahkan, sekaligus keji seperti iblis. Lucas lantas memindahkan bibirnya ke telinga Valerie. Mengembuskan napas di sana kemudian berbisik, "Aku sudah memberikan banyak uang kepada Ayahmu supaya dia merestui hubungan kita. Bahasa kasarnya, aku sudah membelimu darinya dengan harga yang tinggi. Jadi, sebagai barang dagangan yang belum lama aku beli, kau harus menganggapku tuanmu dan melayaniku dengan baik." Apa yang Lucas katakan kepada Valerie barusan seratus persen bohong. Lucas merasa kalau dia tidak membutuhkan restu dari siapa pun untuk mendapatkan apa yang dia mau. Termasuk keinginannya memenjarakan Valerie dan mempermainkannya sekehendak hati. Lagi pula Lucas tidak sudi memberikan uang sepeser pun kepada pria tua yang tega membuang anak gadisnya sendiri. Tidak sebelum si tua bangka itu yang datang merangkak menghampirinya sembari mengemis minta dikasihani. Sekarang mungkin belum. Tapi jika sudah waktunya, Lucas akan memastikan kalau Jeff-lah yang akan mencarinya demi uang alih-alih mencari putrinya yang hilang karena sayang. Di sisi lain, pernyataan Lucas membuat isi otak Valerie berhamburan. Gadis itu tidak bisa memikirkan apa pun. Dia juga tidak bisa merasakan apa pun selain sesak dan sakit. Lagi-lagi Valerie dikhianati oleh ayah kandungnya di saat mereka berdua sudah sepakat untuk tidak saling mengganggu kehidupan masing-masing. Segila itukah ayahnya terhadap uang sampai putrinya sendiri dijual? Jeff, ayahnya Valerie, sudah mendapatkan warisan milik Valerie yang diberikan oleh mendiang sang kakek sebelum usianya mencapai usia legal. Setelah dewasa, ayahnya yang kabur bersama wanita lain selama bertahun-tahun kembali menemuinya karena kehabisan uang. Valerie sudah memberikan apa yang ayahnya mau sehingga Jeff bisa membangun kembali usahanya yang sempat terancam bangkrut dengan syarat dia tidak boleh menemui Valerie lagi dengan alasan apa pun. Tapi ternyata pembohong tetaplah pembohong! Belum hilang keterkejutan Valerie, Lucas kembali menakuti gadis itu dengan membuka jas hitam yang membalut tubuh liatnya dengan gerakan sensual. Menarik lepas dasi yang terpasang di leher, kemudian membuka kancing kemejanya dengan gerakan lamban yang sengaja dia lakukan untuk meneror. Lewat tatapannya yang intens, Lucas berhasil membuat Valerie merasa kerdil, seolah-olah dirinya hanyalah seekor tikus kecil yang tak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa saat akan dimangsa oleh predator buas. Tangis Valerie pecah saat d**a bidang nan atletis itu terpampang tanpa penghalang. Ekspresi takut yang terpatri di wajah cantik Valerie membuat seringai di wajah Lucas kian bengis. Inilah hari yang selalu Lucas nantikan di sepanjang embus napasnya. Hari ketika dirinya mampu menginjak keangkuhan hati Valerie, hari ketika dia bisa membuat gadis itu bertekuk lutut di bawah kendalinya seorang. "Tidak Lucas! Jangan mendekat! Kau tidak boleh menyentuhku!" "Kita 'kan sudah jadi suami istri. Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?" "Tidak! Jangan! Aku mohon Lucas..." Valerie mulai sesenggukan. Suaranya yang penuh keberanian dipaksakan kini melemah, mengiba di dalam keputusasaan. "Berapa uang yang kau berikan pada ayahku? Ak—aku... aku akan menggantinya. Aku bersumpah!" "Tutup mulutmu, Val. Kau hanya perlu menerimaku dan menikmatinya saja." Lucas segera menarik lepas ikat pinggangnya. Melepas kancing pengait celana hitam panjang yang ia kenakan, menurunkan retsleting seraya tersenyum mengejek pada makhluk kecil yang rontaannya semakin menggila di atas ranjang. "Kau semakin membuatku panas, Sayang." "Kau memang b******n! Kalau kau berani menyentuhku, sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkanmu! Cepat lepaskan aku!" "Jangan takut. Aku akan melakukannya selembut mungkin." Tak lama kemudian, bunyi kain yang disobek paksa serta jerit penolakan yang terus keluar dari bibir Valerie, menjadi alunan pembuka dari hal gila yang Lucas lakukan selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN