4. ?

737 Kata
Valerie tersentak. Pintu rumahnya baru terbuka sedikit ketika suara ribut-ribut membuat langkahnya membeku. Helaan napas berat keluar dari bibirnya tak lama setelah gadis itu mulai memahami apa yang sedang terjadi. Lagi-lagi kedua orang tuanya bertengkar. Saling berteriak satu sama lain dengan nada tinggi. Sebenarnya pemandangan seperti ini sama sekali tidak asing bagi Valerie. Meski begitu, Valerie tetap saja terkejut setiap kali dia mendengar perseteruan mereka yang seakan tak pernah habis. Kali ini masalah apalagi yang mereka perdebatkan? Sesulit itukah bertemu tanpa adanya tatapan sinis dan sumpah serapah? Kapan kita bisa duduk tenang bersama sambil mengobrol ringan layaknya keluarga pada umumnya? Beberapa detik setelah pikiran itu terlintas, Valerie buru-buru menggelengkan kepala. Dia lupa kalau hidupnya memang penuh dengan drama. Keinginan barusan hanyalah angan kosong yang tak mungkin bisa terwujud. Jadi daripada sakit hati oleh harapan semu, lebih baik bersikap masa bodoh daripada harus memenuhi otaknya dengan hal-hal yang membuatnya semakin stress. "Kau masih mau menyangkal, hah?! Buktinya sudah ada!" "Bukti apa? Aku 'kan sudah bilang kalau dia hanya keponakan temanku!" "Oh... jadi karena dia keponakan temanmu, kau bebas memeluk dan mencium bibirnya, hah?!" Selagi Valerie menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua, dia menyaksikan bagaimana sang ibu mengkonfrontasi ayahnya dengan begitu menggebu-gebu sambil berurai air mata. Lembaran-lembaran foto yang diambil secara candid jatuh berserak di lantai setelah mengenai bahu sang ayah dengan keras. Seolah-olah dengan foto itu, ibu ingin membungkam mulut ayah supaya dia tidak bisa mengelak. "Bisa-bisanya kau berhubungan dengan perempuan yang usianya sama dengan anakmu! Kau ini manusia atau binatang?" Sekilas pandangan Jeff jatuh ke lantai sebelum kembali mengunci mata Bella dengan tatapan tajam. Di raut wajahnya sama sekali tidak ada rasa penyesalan. Dan dari cara dia tersenyum kepada Bella yang berdiri di hadapannya dengan napas berat, pria itu seakan berkata kalau selingkuh merupakan suatu hal yang wajar persetan dengan siapa dia berselingkuh. "Lalu kenapa?" Jeff balik bertanya sambil melipat kedua tangannya di depan tubuh dengan angkuh. "Dia memang seusia Val. Tapi bukan darah dagingku." "Jadi sekarang kau sudah mengaku kalau kau selingkuh?" "Aku mengaku karena kau tidak bisa menutup mata," jawabnya santai. "Aku sudah terlalu lama menutup mata, Jeff! Tapi kau tidak pernah berubah!" "Lalu kau mau apa, hah? Bercerai?" Bella terdiam cukup lama. Dari matanya, Valerie atau Jeff tahu apa arti diamnya Bella. Cintanya terlalu buta. Sekeras apa pun fakta menamparnya, Bella akan kembali menjadi pengemis yang selalu membuka kedua tangannya menunggu Jeff kembali. Dan Valerie sangat membenci itu. Sangat benci sampai-sampai dia tidak sanggup lagi menyaksikan kebodohan ibunya yang tak pernah sanggup melepaskan pria sialan seperti ayah. "Jika kau ingin bercerai denganku, silakan ajukan gugatan ke pengadilan secepatnya." Setelah berkata demikian, hanya senyuman mengejek yang Jeff tinggalkan bersama Bella sementara dia bergegas pergi meninggalkan rumah untuk kembali ke pangkuan wanita lain. Tangis pilu Bella pun dalam sekejap memenuhi ruangan. Dari ekor matanya sebelum kaki Valerie menapak di anak tangga terakhir, gadis itu melihat Bella terduduk lemas di lantai sambil menutupi wajah. Jauh di lubuk hatinya, Valerie ingin sekali memeluk ibunya erat-erat sambil berkata kalau ayahnya sama sekali tidak pantas ditangisi. Tapi sayang, hubungan mereka tidak sedekat itu sampai akhirnya Valerie memilih berlalu. Mengedikkan bahu acuh tak acuh lalu masuk ke dalam kamarnya alih-alih turun dan menghampiri Bella. ... Keesokan paginya, Bella sengaja menunggu Valerie keluar kamar sambil menyiapkan sarapan. Segera dia letakkan roti yang baru saja diolesi selai ke atas piring begitu melihat putrinya menuruni tangga dengan agak tergesa. "Val, ayo sarapan." Valerie memperlambat langkahnya lalu menoleh sebentar. "Nanti saja di sekolah. Aku sudah terlambat." "Jangan beralasan. Ini masih pagi. Ayo, ke sini!" kata Bella dengan nada yang lebih tegas. Bella tahu kalau Valerie sengaja menghindarinya. Karena menurut laporan dari asisten rumah tangga mereka, Valerie selalu menyempatkan diri untuk sarapan asalkan di meja makan dia tidak melihat ibu atau ayahnya. Lagi pula ini masih jam delapan kurang. Sekolah dimulai jam sembilan dan jarak antara rumah mereka dengan tempat di mana Valerie menimba ilmu bisa ditempuh dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Jadi Bella rasa mereka punya waktu lebih dari cukup untuk bicara. "Kau akan benar-benar terlambat jika kau terus diam seperti itu." Valerie mencebikkan bibir lalu berjalan malas-malasan ke meja makan. Setelah duduk di bangkunya, dia berkata, "Tumben sekali. Biasanya jam segini Ibu sudah tidak ada di rumah." "Ada yang ingin Ibu bicarakan." Bibir Valerie membulat membentuk huruf o tanpa suara. Bukannya itu sudah pasti? Tentu saja Bella memanggilnya karena ada urusan. Kalau ibunya memanggilnya karena rindu baru itu yang aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN