5. Bad Dream

1145 Kata
Perbincangan singkat yang jauh dari kata hangat itu pun berakhir. Valerie langsung melempar semua paper bag yang ia bawa ke atas tempat tidur sebelum ikut menjatuhkan diri di sana. Dalam diam, seribu nuansa kesedihan yang tidak pernah bisa dia tunjukkan selain kepada Tuhan dan langit-langit kamar merebak di sepasang manik karamel milik Valerie. Tak mau berlarut-larut meratapi luka yang serupa meski hasrat ingin mengeluh terus membesar seperti balon udara, Valerie buru-buru menutup kejujuran yang terlukis di dalam sorot matanya dengan punggung tangan, sementara tarikan napasnya yang panjang dan berat menyiratkan lelah yang tersimpan di dalam satu senyum tipis penuh ironi. Apa tadi yang aku bilang? Menikahi pria kaya? Kenapa aku terdengar seperti perempuan yang hanya mempedulikan uang? Valerie mendengus, mengambil waktu untuk menata hati dan pikiran yang kacau balau oleh fakta bahwa belenggu yang mengikat dirinya, tak akan semudah itu untuk diurai kecuali dengan dua hal: kematian atau kegilaan. Selang beberapa menit kemudian, Valerie yang teringat akan sesuatu langsung melirik ke arah perban yang membalut jari manisnya guna menutupi cincin yang keberadaannya cukup membuat Valerie merasa ketar-ketir. "Kalau dipikir-pikir," kata Valerie sembari mengangkat tangannya sejajar mata, "orang lain justru akan merasa curiga kalau aku menutupinya seperti ini. Ya ampuuun... kenapa aku bodoh sekali, sih? Untung saja tidak ketahuan. Coba kalau iya? Bisa jadi masalah pastinya." Valerie menepuk pelan keningnya sebelum bergumam lagi. "Semoga besok dan seterusnya cincin ini tetap tidak ketahuan." Sementara Valerie membuka perban di tangannya, kakinya sibuk menendang semua barang pemberian sang ibu hingga terjatuh ke lantai. Kali ini Valerie tidak membutuhkan banyak usaha untuk tidur karena begitu dia merebahkan kepalanya di atas bantal, Valerie sudah sepenuhnya pergi mengarungi dunia mimpi yang saat itu masih berupa tirai hitam di segala sisi. Selagi Valerie terbuai semakin jauh ke dalam tidur yang lelap, cincin di jari manisnya sempat memancarkan cahaya putih yang sangat terang meski hanya bertahan selama beberapa detik saja. Cahaya itu meninggalkan asap tipis yang perlahan-lahan menjalari tangan Valerie bagaikan tumbuhan rambat, berkumpul di atas kepala lalu hilang seakan terserap ke dalam sana. Lalu... ketika dini hari mulai menjelang, Valerie pun bermimpi buruk. ... "Ana cepat! Cepat lari!" Seru seorang pria di tengah riuh jerit histeris yang saling bersahutan. Degup jantung semua orang yang berlari berhamburan ke sana ke mari, meronta secara menyakitkan setelah dipicu secara brutal oleh rasa takut yang membanjiri seluruh sel di tubuh mereka hingga napas seakan berada di ujung tanduk. Suasananya begitu mencekam. Pagi hari tidak lagi berupa sinar cerah sang mentari melainkan wajah muram mendung kelabu. Pasalnya, bumi yang biasanya tenang tiba-tiba saja kehilangan kendali dengan menghantarkan getaran dahsyat yang mampu merobohkan, meruntuhkan apa saja yang dibangun di atas tanah dan menyulapnya menjadi puing-puing tak berarti. Tak berbeda jauh dengan bumi, laut beserta ombak yang dulunya bersahabat pun kini berubah garang: bergemuruh, mengejar, dan tanpa kenal ampun menghempas segala sesuatu yang ada di sana baik itu makhluk hidup ataupun benda mati. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, air pasang mematikan yang berasal dari patahan di dasar laut itu semakin mendekat. Kehadirannya yang begitu siap untuk menyapu bersih segala sesuatu demi menyempurnakan tugas sang bumi yang sudah lebih dulu berguncang dengan begitu hebat, menimbulkan teror yang tak pernah terbayangkan bagi setiap individu yang lari tunggang langgang mencari tempat perlindungan. Pegangan tangan pria itu semakin kuat di tangan sang istri yang napasnya hampir putus—terengah-engah lelah sambil menggendong buah hatinya yang menangis keras, merasa putus asa dan pasrah sekaligus. "Ana, teruslah berusaha! Kita harus naik ke tempat yang lebih tinggi!" serunya lantang, gigih mencari tempat yang potensial untuk menyelamatkan anak dan istrinya di antara reruntuhan bangunan yang sebagian besar nyaris tak berbentuk. Wanita itu menangis. Tahu kalau seruan untuk menyelamatkan diri yang terus menerus diucapkan oleh sang suami kemungkinan besar akan sia-sia. Suara gemuruh terdengar semakin keras. Ana pun mengeratkan kain gendongan yang ia pakai agar anaknya yang masih balita semakin merapat ke tubuhnya. Sambil berlari, Ana mengecup kening sang putra dengan penuh rasa sayang yang beradu bersama kesedihan. Air matanya jatuh, mengalir ke kelopak mata putranya yang sama ketakutan seperti dirinya. Andaikan bisa, Ana ingin melakukan hal yang sama pada laki-laki yang rela mempertaruhkan apa pun demi dirinya dan juga putra semata wayang mereka. Sayangnya, siapa pun tahu kalau mereka dan semua orang yang ikut berlari bersamanya tidak lagi memiliki banyak waktu karena maut sudah berada di depan mata. Di tengah usaha letih untuk kabur dari bencana yang sangat mengerikan itu, Ana sempat mengintip ke belakang melalui bahu. Menyaksikan secara langsung bagaimana hebatnya gelombang pasang yang menerjang apa pun tanpa pandang bulu. Di detik-detik terakhir sebelum Ana, anaknya, dan suaminya ikut terseret gulungan ganas sang ombak, Ana berteriak sekeras mungkin. Berharap jika pria yang berlari di depannya tanpa sedikit pun melepas genggaman tangannya yang begitu erat, bisa mendengar isi hatinya yang mungkin akan ia ucapkan untuk terakhir kali sebelum maut merenggut. "Sam! Aku mencintaimu!" ... Valerie tersentak dari tidurnya diiringi teriakan pilu yang memekakkan telinga. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh tokoh wanita yang ada di dalam mimpinya, Valerie pun ikut merasakan serbuan perasaan takut yang berhasil membuat sekujur tubuhnya menggigil kendatipun suhu dini hari kala itu tidak terlalu rendah. Napasnya masih saja diikat sesak tak peduli seberapa banyak oksigen yang dia hirup. Rasa takut yang mencekam, kesedihan yang begitu berat dan nyaris tak mampu dia tanggung terus menderanya hingga jiwanya terasa lebur tak bersisa. Jelas sekali kalau seseorang yang dia lihat di dalam mimpinya adalah sosok asing yang tidak pernah dia kenal. Valerie tidak pernah melihat wanita itu di kehidupan nyata dan wanita itu sama sekali bukan dirinya. Tapi mengapa yang Valerie rasakan justru sebaliknya? Luka itu, sedih itu, ketakutan itu, kehampaan itu... terasa begitu jelas sampai-sampai Valerie mengira kalau dia masih tersesat di alam mimpi alih-alih sudah kembali ke dunia fana. Disela tangis yang semakin pilu seiring bertambahnya durasi waktu, Valerie memandangi telapak tangannya yang terbuka. Kosong. Tidak ada yang melengkapi sela-sela jarinya dengan genggaman hangat, pun tidak ada seseorang yang ia peluk dengan limpahan kasih sayang seperti yang dia lihat pada wanita di mimpinya. Pasca bunga tidur yang sangat membekas itu, Valerie bertanya-tanya, kekosongan apa yang sebenarnya sedang dia rasakan? Selama dia hidup, baru kali ini Valerie memimpikan sesuatu yang begitu menerornya bahkan setelah dirinya terbangun dan membuka kedua kelopak mata secara sempurna. Tenang Valerie, tenang.... Itu hanya mimpi. Wanita itu bukan aku. Bukan aku yang mengalami peristiwa yang ada di dalam mimpi. Tenang. Valerie lantas menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangan. Setelah lama terisak menumpahkan sedikit perasaan sesak yang menjerat, Valerie mendongak ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Gelap masih akan menaungi bumi beberapa jam lagi sebelum fajar menyingsing. Tapi Valerie sudah kehilangan minatnya untuk kembali tidur karena takut mimpi buruk seperti tadi datang lagi lalu memaksanya ikut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh pemeran utama di mimpinya untuk kedua kali. Tidak! Valerie tidak mau. Dia tidak cukup kuat merasakan kehilangan semacam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN