bc

SILVI (Jangan Bully Aku!)

book_age16+
detail_authorizedDIIZINKAN
112
IKUTI
1K
BACA
family
drama
tragedy
like
intro-logo
Uraian

SILVI (Jangan Bully Aku!) menceritakan tentang seorang anak bernama Silvi, ia masih duduk di bangku kelas enam SD. Ia tak seberuntung anak-anak lainnya, yang hidup bersama orang tua yang lengkap atau bahkan berada dalam keluarga yang kaya. Silvi tinggal bersama ibunya dengan perekonomian yang sungguh menyedihkan.

Ia terpaksa memakai sepatu butut, tas buluk, dan seragam sekolah yang kusam karena beberapa tahu tidak pernah diganti. Ia memiliki tubuh yang kurus dengan ketinggian di atas teman-temannya yang lain, sehingga ia kerap kali dipanggil tiang listrik. Tak hanya itu, ia juga seringkali dibully oleh teman-temannya, terutama Uta Sofia dan geng yang merupakan anak dari keluarga kaya.

Diam-diam di kelas itu, ada anak yang perhatian dengan Silvi, dia Araska Pratama. Bocah lelaki itu kasihan melihat Silvi yang sering dibully, hingga ia melindungi dengan caranya sendiri. Ia juga sering memberikan jajan pada Silvi dengan cara dimasukkan ke dalam laci milik Silvi.

Silvi bingung menebak siapa yang selama ini menaruh makanan di lacinya, hingga suatu hari ia datang lebih awal, dan melihat Araska meletakkannya di sana. Dari situ, muncullah perasaan aneh dalam diri Silvi, perasaan tertarik pada Araska.

Melihat itu, Uta semakin marah pada Silvi, hingga ia menindas anak itu lebih berat daripada sebelumnya. Uta juga diam-diam menyukai Araska.

Suatu hari, ibu Silvi pergi entah ke mana. Berhari-hari ia tak pulang ke rumah, meninggalkan Silvi seorang diri. Hera tidak pamit pada Silvi, membuat gadis itu kebingungan setengah mati. Ia putus asa dengan segala usaha pencariannya. Tak ada yang tahu Hera ke mana. Sementara di sekolah, ia masih dirundung, ia merasa tak kuat hidup seorang diri.

Bagaimana kehidupan Silvi selanjutnya? Ke mana pergi ibunya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Bab 1Gadis yang Membenci Hari Senin * Senin. Bagi sebagian orang, pembuka hari itu menjadi semangat baru untuk mereka yang bekerja atau anak-anak bersekolah, setelah kemarin menghabiskan waktu liburan bersama keluarga atau teman. Namun, tidak bagi Silvi, seorang gadis yang baru saja duduk di bangku kelasenamsekolah dasar. Gadis itu sama sekali tak menyukai hari Senih. Ah, bahkan ia terlalu membencinya. Karena hari yang dianggap penuh semangat oleh orang lain, baginya lebih menyedihkan dari hari lainnya. Rasanya setiap hari memang tak memberinya sedikit pun bahagia layaknya yang dirasa oleh anak-anak lain. Dan ... Senin lebih memberinya tekanan ketimbang kenyamanan atau kebahagian yang layak dinikmati. “Silvi mana?” “Silvi aja!” Sahut-sahutan beberapa teman sekelas Silvi menanyainya. Mereka sibuk melongok ke sana kemari, tapi tak menemukan sosok yang dipanggil. Lapangan masih belum penuh terisi oleh semua siswa. Sebagian murid telah berbaris dengan rapi, pun kelas enam sudah menempati posisi di mana bisanya mereka berdiri. Uta. Uta Sofia nama lengkapnya. Ia dijuluki ratu geng di kelas Silvi. Ada dua anak perempuan yang selalu mengekorinya, Siska dan Chrisa. Anak-anak di kelas itu terlalu takut menatap mata Uta. Mata itu selalu menatap dengan orang lain dengan tajam dan tersirat perintah. Seperti saat ini,Uta melirik ke kanan dan kiri, tapi tak ditemukan sosok Silvi. Lalu ia melihat ke belakang, di sanalah gadis itu muncul. Upacara. Itulah yang membuat Silvi sangat membenci hari Senin. Silvi berjalan dengan pandangan menunduk, ia menyibak barisan teman-temannya untuk berdiri di posisi pada tempat yang telah ditentukan, tempat istimewa atas perintah Uta. “Lelett amat sih, Tiang Listrik!” bentak Uta sambil mendorong bahunya, ketika Silvi mendekat ke barisan. Gadis itu sedikit terlambat hari ini. Gelar si Tiang Listrik sudah menyemat di diri Silvi sejak beberapa tahun lalu. Silvi tak ingat pasti kapan mulai dirinya disematkan gelar menyedihkan itu, yang ia tahu anak-anak sekolah selalu memanggilnya seperti itu. Silvi heran kenapa dirinya dipanggil seperti itu, padahal Reva dari kelas yang sama bahkan mempunyai tubuh lebih tinggi dari Silvi. Pernah sekali waktu, Silvi benar-benar berdiri di samping Reva hanya untuk melihat siapayabg lebih tinggi. Namun, jelas saja Reva lebih berisi, hingga ketinggiannya tak mendominasi. Sementara Silvi tubuhnya kurus dan gelar itu hanya diberikan untuknya seorang diri. Karena ketinggiannya, Silvi selalu menjadi bahan olok-olok teman-teman sekelas. Lucunya, ia tak melawan sama sekali. Entah karena terlalu lelah, takut, atau memang pikirannya membenarkan apa yang mereka katakan. Kepercayaan dirinya telah terenggut. Kadang ketika berjalan di lapangan, Silvi disoraki teman-teman lelaki, katanya sebelas duabelas sama tiang bendera. Atau ketika Silvi pulang sekolah, mereka sengaja bergaya mengukur bayangan Silvi dan menyamakannya dengan tiang listrik di jalanan. Seperti yang kini dilakukan Uta, menyuruh Silvi untuk berdiri di barisan depan, agar ketinggiannya bisa menutupi wajah mereka dari sinar matahari. Agar yang belum mengenali, bisa mengenal Silvi dengan tubuh yang begitu kurus dan penampilan yang kacau. Sepatu mangap, kaus kaki longgar yang sudah diikat dengan karet gelang. Bahkan ketika Silvi mengedarkan pandangan ke seluruh lapangan, tak ia temukan pakaian yang lebih kusam darinya, juga rok merah yang sudah sangat pudar warnanya. Belum lagi tas buluknya yang kini ia letakkan di kelas. Dia, Silvi. Silvi Andriani nama panjangnya. Tiang listrik nama tengahnya, padahal ibunya tak pernah memberi nama itu. * Setelah upacara, pelajaran berlangsung. Saat itu guru sedang mengajarkan materi pecahan. Silvi tak terlalu memperhatikan pelajaran. Pikirannya melayang ke mana-mana. Tentang jajan nanti siang. Tentang aneka makanan yang dijual di kantin, tiba-tiba ia merasa air liurnya mengalir, gadis itu jarang terlihat di kantin, bahkan hampir tak pernah. Ia mencoba mengalihkan pikirannya sendiri, lalu teringat sesuatu. Silvi menepuk jidat saat tersadar ia lupa menjemur buku-buku pelajaran yang semalam basah karena hujan. Rumah Silvi terbuat dari geribik yang seandainya tak ada bangunan rumah orang-orang kaya, mungkin akan roboh saat ada angin sedikit kencang. Tak jarang, gadis itu harus menjemur pakaian juga buku yang basah akibat sisa genangan hujan semalaman. Sebab itu Uta dan teman-teman menjuluki rumah Silvi sebagai tong setan. Mungkin karena rumah itu terlihat gelap, atau mereka merasa rimah itu seperti tong setan di pameran-pameran. Sang guru melihat gelagat Silvi. Bu Darma, Guru Matematika yang terkenal killer itu menurunkan kacamata, lalu bertanya pada salah satu siswanya yang tertangkap basah tak menyimak pelajaran. “Sedang apa kamu, Silvi?” Silvi menunjuk diri sednriy, seolah sedang mempertanyakan apakah baru saja sang guru menyebut namanya. Atau ia hanyaberhalusinasi. “Ya, kamu. Siapa lagi?” Bu Darma memperjelas. Silvi diam. Gadis itu menunduk tak berani menatap wajah sang guru. Dalam hati ia berdoa semoga tak disuruh maju ke depan dan menyelesaikan soal-soal, pasalnya ia tak menyukai Matematika. Bahkan ketika sang guru mencontohkan metode pembagian dengan cara membagi apel untuk Budi, gadis itu bingung, karena jangankan untuk membagi apel, tapi untuk makan sendiri saja, gadis itu jarang sekali. Namun, sayang doa Silvi sepertinya tak dikabulkan. Bu Darma menyuruhnya untuk ke depan kelas. Langkah Silvi ragu, ia berjalan lambat seperti setengah diseret. Tapi jarak deretan bangku belakang ke papan tulis tentu tak memakan waktu berjam-jam, hingga membuat doa kedua Silvi akan terkabul, doa agar bel segera berbunyi. Tidak! Silvi menatap sekilas sang guru, sebelum akhirnya benar-benar menghadap papan tulis putih. Ia mengambil spidol yang diulurkan Bu Darma. Harus isi apa? Pikiran Silvi kembali bergelut, ia sama sekali tak mengerti apa yang barusan dijelaskan. Satu-satunya yang membuat Silvi senang bersekolah adalah pelajaran Bahasa Indonesia, karena ia bisa membaca dongeng-dongeng di buku pelajaran, dan berharap suatu saat bisa menjadi seperti putri dalam salah satu cerita itu. “Apa kamu gakngerti sama sekali?” Sedikit kesal Bu Darma bertanya. Silvi menggeleng. Gadis itu menunduk menatap sepatu buluknya. “Duduklah!” Sang guru menghela napas berat. Ia dan semua guru tahu betul bagaimana Silvi, selain penampilan, nilai-nilainya juga tak ada yang menonjol meskipun setiap tahun ia naik kelas, karena mencapai ketuntasan minimun. Silvi kembali duduk. Sebelum bel pulang berbunyi, Bu Darma telah berpesan untuk membagikan kelompok untuk minggu depan. Satu kelompok terdiri dari tiga orang. “Tos dulu!” Uta dan gengnya membuat gerakan tos. Mereka telah membuat kelompok yang terdiri dari anggota geng. Silvi melihat ke kiri dan kanan, teman-temannya saling mencari anggota kelompok, dan tak ada yang menanyai dirinya. Sebab itu ia mengajukan diri. “Mel, aku masuk ke kelompok kamu ya?” Silvi menoleh ke bangku belakang, menawarkan diri pada Amel. “Penuh, maaf ya, Yang Tiang.”Amel meledek dengan julukan itu sambil menunjuk dua teman lagi yang bergabung dengannya. Silvi tak ingin tak mempunyai kelompok, meskipun ia tak terlalu suka Matematika, tapi minimal ia harus menuntaskan nilainya. Sebab itu, ia bangun dari bangku duduknya, berjalan ke pojok di mana Rangga duduk. “Aku boleh gabung sini?” Sekelompok dengan anak cowok pun tidak masalah bagi Silvi, Karen ia melihat anak cewek hanya tinggal ia seorang diri. “Penuh, Vi.” Rangga menjawab, tapi dengan menutup hidungnya dengan dua jari, sehingga menimbulkan suara sengau darinya. Rangga tak sedang mencandai Silvi, tapi ia sedang mengetakan lewat ekspresi bahwa Silvi dekil dan bau. Silvi kembali ke tempat duduk. Ada rasa kecewa yang menyelinap dalam hatinya. Bahkan untuk masuk anggota kelompok saja terlalu susah baginya diterima. “Yaudah gabung sini aja,” Sahut seorang anak di meja paling depan. Anak lelakiyang berstatus sebagai ketua kelas. “Ntar, aku juga yang repot kalau kamu gak punya kelompok.” Bukan perhatian, tapi tanggung jawab sebagai seorang ketua kelas. Ia itu tak mau disalahkan oleh Bu Darma karena Silvi yang tak dapat kelompok. Karena sang guru mengamanahkan pembagian kelompok pada ketua kelas, entah dipilih atau memilih sendiri, intinya ada dan mereka dituntut mandiri. Silvi tersenyum ke arah teman lelaki sekelasnya. Senyum yang entahlah, ia merasa dihargai, dan ia merasa mendapat energi positif dari hal itu. Namun, senyum itu mendapat tatapan tajam dari Uta. Sementara anak lelaki itu kembali mengemas buku pelajaran dan melangkah keluar. Dia, Araska Pratama.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Tunangan Pengganti CEO

read
1K
bc

TAKDIR KEDUA

read
34.1K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook