Bab 2

1008 Kata
Bab 2Debar aneh * Pagi. Silvi bangun dengan perasaan bahagia, karena tak ada jemuran yang menjadi pekerjaan tambahannya hati ini. Semalam ia dan ibu tidur dengan nyaman di bawah cahaya bulan purnama yang menyesak melalu celah genteng yang sudah berlubang. Langkah kaki Silvi menujukamar mandi yang terletak di belakang rumah. Kamar mandi khas pedesaan yang hanya tertutupi dengan plastik-plastik bekas. Namun, beruntungnya ada sumur yang airnya putih dan bersih. Usai mandi, Silvi kembali ke kamar. Kamar yang ditempati oleh dia dan ibu. Ada banyak barang-barang di sana, meja tempat Silvi menyusun buku-buku pelajaran dan buku tulis yang ia dapat dari belakang rumah, tempat penampungan sampah orang-orang kaya. Lumayan, halamannya masih sangat banyak atau bahkan hanya ditulis beberapa lembar saja. Silvi mengambilnya, ia bahagia karena satu beban ibu terbantu dengan buku itu. “Ibu pamit ya, Vi. Jangan bolos sekolah.” Suara Hera berpamitan, sambil mengeluarkan sepeda tua peninggalan sang suami. Silvi melongok sedikit ke luar pintu. “Ya, Bu. Hati-hati.” Perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu mulai mendayung sepedanya dari rumah ke rumah. Pekerjaannya sebagai buruh cuci gosok hanya cukup untuk makan sehari-hari, itu pun digaji bulanan yang membuat Hera harus ekstra irit dalam segala hal. Untuk memenuhi kebutuhan Silvi, untuk makan dan kebutuhan lainnya. Untung saja ia punya rumah meskipun sudah tak layak disebut rumah. Hera bersyukur, setidaknya suaminya meninggalkan sesuatu yang sangat berharga. “Bu, ayah ke mana?” Silvi bertanya pada suatu hari. Ia malu diejek teman-temannya karena tak punya ayah. Silvi iri pada teman-teman yang selalu diantar jemput ayah saat sekolah. Sebagai seorang anak yang baru tumbuh remaja, ia merasa sangat merindukan kasih sayang seorang ayah. Ia cemburu ketika saat pulang sekolah Uta merentangkan tangan, dan ayahnya siap memeluk, lalu menanyakan bagaimana harinya hari ini. Atau ketika Rangga dan ayahnya saling bercerita di atas motor, dengan tawa yang tak henti dari bibir mereka. Atau ketika Bu guru menyuruh mereka menceritakan cerita pahlawan hidup, hanya Silvi seorang diri yang menceritana tentang ibu. Hera bingung akan menjawab apa. Ia tahu semakin hari Silvi makin tumbuh dewasa, dan pertanyaan seperti itu pasti akan ada seiring ia yang sedang mencari jati diri. Perempuan bermata teduh itu mencoba menjawab dengan jawaban yang dipastikan Silvi tak lagi bertanya tentang ayahnya, karena Hera sendiri tak tahu di mana suaminya sekarang. “Ayah sudah meninggal pas kamu masih bayi.” Saat menjawab itu, Hera terus meyakinkan diri bahwa suamninya memang sudah meninggal. Mencoba percaya meskipun ia tak pernah melihat jasadnya. Pernikahan dua anak manusia atas nama cinta, tak peduli pada fisik dan harta. Mereka berjanji akan selalu saling menjaga, cinta dan perasaan. Setelah Silvi lahir, kebutuhan semakin bertambah, dan Hermawan tak punya pekerjaan yang gajinya cukup untuk membiayai keluarganya. Beberapa bulan usia Silvi, Hermawan pergi merantau ke Malaysia, berharap nasibnya bisa berubah di perantauan. Tahun-tahun awal, Hera selalu mendapat kiriman dari suamninya. Perempuan itu hidup tenang karena suaminya mendapat pekerjaan di sana. Namun, setelah itu kabar Hermawan mulai menghilang. Bahkan nomor ponselnya tak aktif lagi secara tiba-tiba. “Waktu itu aku pernah ketemu suamimu, Ra. Dia udah sukses di sana, jadi mandor. Gajinya lebih gede.” “Orang kalau udah sukses, lupa anak bini. Apalagi kalian LDR-7an, Ra. Mana mungkin ia sanggup hidup tanpa seorang perempuan.” Begitu kata salah satu tetangga yang baru saja pulang dari negeri jiran. Hermawan bekerja sebagai mandor dari pembuatan bangunan-bangunan bertingkat. Karena kejujurannya, ia dipercayakan bos untuk mengelola anak buahnya. Sakit. Hera seolah dicampakkan begitu saja. Pikiran buruk begitu menguasainya, bisa saja Hermawan telah sukses di sana dan menikah lagi tanpa sadar diri bahwa di sudut bumi lain ada anak dan istri yang menderita karenanya. Berulang kali Hera mencoba menghubungi, tapi ponsel itu tetap tidak ada sambungan. Hera menyerah pada Hermawan, tapi tidak pada bayi merah yang pernag dilahirkannya. Perempuan berkulit putih itu berjanji akan melakukan apa pun untuk melanjutkan hidup. Ia harus membuktikan bahwa perempuan biru tak lemah meski ditinggal sendirian. Daripada menceritakan yang sesungguhnya pada Silvi, Hera lebih memilih berbohong meskipun ia tak pernah mengajarkan hal itu pada Silvi. Sebab itu, kini ibu Silvi berjuang dari rumah ke rumah menjadi buruh cuci gosok, demi kehidupan yang terlalu kejam untuk mereka. * “Tiang Listrik!” Silvi tak menoleh meskipun ia kenal suara itu, dan tahu bahwa dirinyalah yang dipanggil. Namun, kali ini ia mencoba untuk melawan, melawan hal-hal yang tak seharusnya disematkan padanya. “Kamu budeg ya?” Uta membalikkan tubuh Silvi, lalu tatapan tajam itu seolah menusuk batin gadis dekil itu. “Namaku Silvi,” Silvi mencoba membela diri meskipun dia bola mata itu menatap seolah meminta pertolongan. “Oh, iya. Silvi Tiang Listrik,” sahut Chrisamemperolok-olokkan nama Silvi. Gadis dengan tubuh kurus itu hanya diam, percuma melawan karena mereka ada bertiga dan Silvi seorang diri, dan pastinya jika berkelahi pun tak akan ada yang membelanya, bahkan jika itu semut. “Bawain tas kita dong! Ya yaya,” pinta Uta sok imut. Bukan meminta, tapi itu serupa perintah di telinga Silvi. Silvi tak bergerak ketika Uta menyandangkan tasnya di bahu sebelah kanan Silvi. Tas Chrisa di bahu kiri, dan tas ... Di tangan Silvi. Gadis berpenampilan kacau itu semakin sempurna kekacauan ya denga empat tas yang dibawanya. Ia berjalan dari lapangan ke koridor untuk menuju ke kelas. Anak-anak banyak menertawakannya sepanjang koridor. Silvi tak heran, karena ia tahu saat ini dirinya tengah dibuat seperti orang gila oleh Uta dan gengknya. Gadis itu menunduk dan terus berjalan saat tawa itu tak henti. Silvi memeprcepat langkah hingga sampai di kelas. Ia kembali disambut dengan tawa oleh teman sekelasnya, lalu agar tawa itu usai, ia mengakhiri permainan Uta yang terlihat semakin membodohinya. Ia meletakkan tas Uta dan dua temannya di tempat masing-masing agar teman-teman berhenti menertawakannya. Namun, Silvi salah. Rupanya mereka tak berhenti tertawa, bahkan kini menyoraki gadis malang itu seolah ada yang memang lucu. Silvi mencoba mengalihkan perhatian, ia mengambil buku pelajaran dan membukanya. Gadis itu terkejut saat tiba-tiba seorang lelaki menyentuh punggungnya, lalu menyodorkan sebuah kertas yang membuat Silvi mata terasa panas. Malu ‘Tiang Listrik Bau.’ Satu kalimat yang tertulis di kertas itu, ditempelkan di punggung Silvi. Mungkin oleh Uta, atau salah satu dari temannya saat tadi mereka bertemu. Dia lagi. Araska Pratama yang menjadi pahlawan Silvi. Silvi yang pendiam dan tertutup gak terlalu mengenalnya, karena Araskaadalah siswa pindahan. Baru beberapa bulan ia di sini, dan sengaja dijadikan ketua kelas agar lebih banyak berinteraksi dengan teman, juga karena anak itu pintar. Selain itu, Silvi mulai mengagumi seni di wajah Araska. Ada debar aneh di hati gadis itu. *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN