Bab 3

1028 Kata
Bab 3Permainan * Di sebuah lingkungan tempat tinggal selalu ada permainan yang dimainkan anak-anak. Begitupun dengan lingkungan gang tempat tinggal Silvi. Anak-anak akan bermain sesuai musiman, kadang main catur, kadang lompat karet, atau main gambar kartu.Gadis-gadis kecil itu biasanya bermain di rumah Uta, rumah paling besar di gang itu. Selain besar, rumah Uta juga mempunyai taman dan rumput yang hijau, membuat anak-anak senang bermain di rumahnya. Namun, hanya anak-anak yang terpilih yang bisa bermain di rumahnya, seolah ada barcode pengaman dari pagar untuk masuk ke rumah.Barcode yang hanya menyeleksi anak-anak orang kaya. Untuk anak seperti Silvi, tentu saja tak menjadi pilihan. Sebab itu, gadis dekil itu hanya mengintip di balik tembok tinggi rumah Uta. Tak berani masuk dan tak ada yang menyuruhnya masuk, tahu diri bahwa dia akan diabaikan di sana. Kadang Silvi merasa bosan di rumah, tak ada yang bisa ia lakukan untuk sekadar mengisi waktu luang menunggu ibunya pulang. Gadis itu hanya melihat-lihat saja apa yang dimainkan teman-temannya, kadang juga ikut tertawa saat melihat di teras sana mereka bermain dengan seru. Andai ini punya banyak waktu, pasti Silvi tak merasa kesepian. Andai ayahnya masih ada mungkin Silvi bisa memainkan salah satu boneka seperti teman-teman lainnya. Gadis itu sering berpikiran seperti itu, tapi ia sadar bahwa ibunya juga bukan membuang waktu di luar sana, bukan mengabaikannya, atau bahkan tak ingin menemaninya bermain. Tapi Silvi sudah mengerti bagaimana kondisi ibunya, wajah lelah yang selalu ia lihat saat sang ibu pulang, hingga gadis kecil itu tak tega menganggu waktu istirahatnya. Bukankan lebih baik ibunya menyetok tenaga untuk bekerja esok hari. Ya, Silvi sedewasa itu terkadang. “Silvi, sini!” teriak Uta yang melihat Silvi kembali ke belakang tembok, setelah tertangkap basah mengintip mereka bermain. Silvi melongok, kepalang tanggung jika ingin kabur karena setelah berteriak memanggil namanya, Uta sudah berdiri di dekat pagar berhadapan dengan gadis dekil dengan rambut diikat karet gelang. Dua anak yang memilik usia yang sama, tapi keadaan sangat berbeda. Kulit Uta begitu bersih khas anak orang kaya, juga didukung bajunya yang entah dibeli berapa rupiah. Sedangkan Silvi hanya menggunakan kaus longgar, yang bahunya sudah turun. “Aku hanya melihat-lihat saja.” Silvi memperjelas, tapi ia tak menatap mata itu saat berbicara.Gadis miskin itu takut jika Uta dan teman-temannya menuduhnya ingin mencuri atau apa pun seperti yang pernah ia tonton di TV milik penjaga warung sebelah. “Kalian mainsajalah, aku pulang dulu.” Kembali bibir tebal itu berkata. Silvi hendak membalikkan badan, tapi tangannya dicegah Uta. Uta menarik tangan Silvi mengikuti langkanya. Gadis berkulit putih halus itu ingin mengajak Silvi bermain bersama. Sampai di teras,Silvi disambut dengan senyum oleh empat teman sekelasnya, Siska,Chrisa, Adira, dan Ela. Mereka sedang memegang pulpen dan beberapa kertas yang sudah dipotong kecil-kecil. Ada tulisan di setiap kertas yang Silvi tak sempat membacanya. Tapi, Silvi tahu nama permainan itu, ia pernah memainkannya saat masih kelas tiga dulu. Ah, sudah lama sekali. Mereka sedang bermain permainan algojo. Silvi menyebutnya permainan algojo. Di mana harus ada enam orang pemainyang akan memerankan sebagai ibu RT, pak polisi, pencuri, hakim, pembela dan algojo. Kertas yang dipotong-potong kecil itu akan digulung sehingga tulisannya tak terlihat. Saat bermain, salah satu dari mereka akan mengocok semua kertas seperti arisan, dan pemain akan mengambil salah satu. Permainan dimulai. Uta mulai mengocok gulungan-gulungan kecil itu dan semua pemain berebut mengambilnya. Mereka akan berakting. Berakting sesuai dengan peran masing-masing yang tertulis di kertas. “Tolong ... tolong, di rumah saya ada pencuri!” Uta bergaya menangis sedih layaknya ibu RT yang baru saja kecurian barang. “Siapa?” tanya Siska yang mendapat peran sebagai pak polisi.Gadis itu bahkan pandai membuat suara tegas seorang polisi. Ya, akting yang bagus seusianya. “Dia!” Sambil menghapus air mata bohongan, Uta menunjuk wajah Silvi. Menebak bahwa dalam permainan itu Silvi mendapat peran sebagai pencuri. “Apa bener?” tanya Siska lagi, masih dengan gayanya sebagai polisi. Silvi mengangguk. Ia kembali melihat tulisan di kertas kecil yang barusan ia buka, dan memperlihatkan ke teman-teman lainnya. Sial sekali tangannya kenapa harus mengambil peran itu, karena gadis lusuh itu tahu apa yang akan terjadi pada peran pencurinya. Namun, Silvi menikmati permainannya. Jarang-jarang sekali ia bisa bermain dengan Uta dan teman-teman lain. Setidaknya hari ini sedikit berkesan baginya. “Yes, bener!” Seru Uta karena berhasil menebak pencurinya. Pasalnya jika ia salah menebak, maka dalam permainan itu ia yang akan dikenai hukuman. “Karena telah mencuri, maka hakim memutuskan hukuman pukulan dua puluh kali.” Chrisa sebagai hakim angkat bicara. Anak itu mengetukkan tangan di lantai, seolah hakim sesungguhnya yang sedang mengetik palu di meja hijau. “Pembela tak setuju, yang setuju adalah lima belas kali.” Ela menyanggah, ia mendapat peran sebagai pembela. Selanjutnya, yang berperan sebagai algojo akan memberi hukuman kepada pencuri. Adira memukul Silvi sebanyak yang diperintahkan pembela, lima belas kali. Tangan Adira agak besar dari tangan teman lainnya, mungkin itu yang membuat ia cocok mendapat peran algojo. Sambil cengengesan, Silvi sedikit menggosok-gosok pahanya yang agak merah, bekas tangan Adira masih ada di sana, dan rasanyasedikit perih. Namun, lagi-lagi Silvi tampak sangat menikmati permainan itu. Ia bahkan mengangguk saat teman lainnya mengajak melanjutkan permainan. Permainan terus berlanjut. Mereka tertawa bersama, hanya mereka. Bukan Silvi, karena Lagi-lagi gadis mendapat gulungan kertas yang bertuliskan pencuri. Sementara kelima temannya mendapat peran bergantian. Kadang Chrisa sebagai ibu RT, Uta sebagai polisi, Ela sebagai algojo, Adira sebagai pembela dan Siska sebagai hakim. Hanya Silvi yang mendapat peran sama. Sebenarnya ia bingung, kenapa selalu mendapat peran itu. Atau memang tangannya yang sedang sial hingga ia bersiap untuk diberikan hukuman lagi sesuai dengan aturan permainan. Silvi kembali mengelus pahanya yang memerah. Sekarang paha kiri dan kanan sudah mendapat hukuman. Namun, paha kanannya lebih pedih karena dipukuli lebih banyak, dua kali hukuman.Kali ini bukan lima belas kali, tapi setiap memulai permainan baru, pukulannya akan ditambah. Gadis berkulit sawo matang itu ingin membalas mereka sebenarnya, saat semua temannya meninggalkan ia seorang diri di teras itu. Tapi, lagi-lagi Silvi sadar berada di rumah siapa. Jadi ia hanya menangis saja saat semua gulungan kertas itu berserakan di lantai dengan kondisi terbuka. Bahkan ia mengejar semua kertas yang telah ditiup angin sepoi. Silvi dapat mengeja satu persatu kertas itu, semuanya tertulis pencuri. Sudah pasti Silvi selalu mendapatkan kertas pencuri, dan mereka bersekongkol dengan pintar. Gadis-gadis kecil itu merasa bosan, lalu beranjak ke taman rumah Uta yang di satu sudutnya ada kolam ikan besar. Mereka meninggalkan Silvi layaknya sebuah mainan yang sudah membosankan untuk dimainkan. Silvi sayang, Silvi yang malang. Gadis itu keluar dari rumah besar dengan paha yang semerah tomat. Menyadari ia hanya dibodoh-bodohi Uta dan teman-temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN