Pintu aula tertutup rapat. Lampu kristal megah di langit-langit memantulkan cahaya ke meja bundar panjang tempat para investor kelas dunia duduk. Di ujung meja, Axel Matthew Emmanuel berdiri dengan tenang, wajahnya tanpa ekspresi. Seorang pria tua yang bertugas sebagai moderator memulai, “Baiklah, kita akan membahas alokasi saham untuk proyek teknologi energi terbarukan ini. Kami sudah menghitung potensi pasar... dan yang paling penting: siapa yang akan menjadi pengendali utama dalam investasi multi-miliar dolar ini.” Ruangan mendadak hening. Semua mata terarah ke layar besar yang menampilkan grafik kepemilikan saham. “Total kebutuhan modal: 10 miliar dolar,” lanjut moderator. “Tuan Emmanuel telah menyuntikkan 5,3 miliar dolar tunai. Itu artinya beliau memegang 53% saham kendali.” Sere

