Pesawat pribadi Matthew mendarat mulus di bandara internasional Berlin. Begitu pintu kabin terbuka, udara dingin khas Eropa langsung menyambutnya. Di bawah sana, barisan mobil hitam berkilau sudah berjejer rapi. Sejumlah pengusaha besar yang menunggu sejak tadi langsung menghampiri begitu Matthew melangkah turun dengan jas hitamnya yang berpotongan sempurna. “Welcome, Sir,” ucap salah satu pria berperawakan tegap, mengulurkan tangan dengan senyum penuh hormat. Ucapan itu segera diikuti sapaan hangat lain. “It’s an honor to finally meet you in person, Mr. Emmanuel? .” Matthew menjabat tangan mereka satu per satu dengan sikap tenang namun berwibawa. Senyum tipis menghiasi wajahnya, sekilas cukup ramah tapi tetap menyiratkan jarak. Kehadirannya memang selalu membawa aura otoritas—orang-ora

