Pagi itu, Matthew melangkah masuk ke sebuah restoran ternama di pusat Berlin. Restoran itu buka 24 jam, menyajikan menu berbeda setiap waktu—sarapan bergaya Eropa, makan siang klasik, hingga dinner mewah—dan pagi ini, aroma kopi hitam pekat bercampur dengan wangi croissant yang baru keluar dari oven. Begitu matanya menyapu ruangan, ia langsung menemukan sosok kakaknya, Clara, yang duduk bersama sang suami. Clara melambaikan tangan antusias, senyum lebarnya menguar seakan seluruh ruangan hanya milik mereka. “Matthew!” panggilnya riang. Matthew melangkah tenang ke meja, jas hitamnya tetap rapi meski baru saja turun dari mobil. Ia menyalami Axton, kakak iparnya, lalu duduk di kursi kosong. “Kau tidak membawa Aurora?” tanya Clara sambil meneguk teh hangat. Matthew menoleh cepat, alisnya t

