Aurora menoleh ke belakang, menatap Earth yang duduk di kursi belakang dengan kedua tangan bersedekap di d**a mungilnya. Wajahnya masam, bibirnya manyun, jelas sekali ia masih menyimpan kekesalan. “Kau masih marah, hm?” tanya Aurora lembut, berusaha mencairkan suasana. Namun Earth sama sekali tidak bergerak. Ia sengaja membuang pandangannya ke arah jendela mobil, menatap pepohonan yang berlarian mundur seiring roda mobil melaju. Keheningan singkat itu membuat Aurora hanya bisa menghela napas. “Earth,” panggil Aurora lagi dengan nada memohon. Masih tidak ada jawaban. “Maafkan aku, okay?” Matthew, yang fokus mengendalikan mobil, sempat melirik ke kaca spion. Tatapannya jatuh pada keponakannya yang memasang wajah sedingin es. Senyum samar muncul di sudut bibir Matthew; ia tahu benar bocah

