Mala berlari mengejar pencuri yang sudah jauh di depan sana. Namun, gadis itu tidak begitu saja menyerah mempercepat pacu langkahnya seolah sedang mengikuti lomba estafet. Orang-orang memperhatikan mereka, tidak lebihnya dia yang berusaha mengejar seseorang di depan sana.
"Permisi! Maaf ... tolong minggir!!" teriaknya saat mencoba menyusul orang di depan sana, melewati orang-orang yang sedang bertransaksi di pasar.
Ramai, Mala harus ekstra jeli memperhatikan sekitar. Keadaan yang banyak orang seperti ini malah menguntungkan untuk sang pencuri karena bisa bersembunyi di dalam kerumunan. Namun, dia ingat benar kantung kecil yang dipegang erat oleh sang pencuri, bertali merah cerah. Juga baju panjang selutut yang sampingnya terbelah, serta kupluk yang menutupi rambut dan wajahnya tidak terlalu kentara.
Bau minyak, tidak terlalu menyengat, tetapi bisa dia cium dengan jelas membuatnya semakin mengejar orang tersebut dengan mudah. Lagi-lagi kerumunan orang yang berbelanja, entah toko apa hingga banyak sekali yang mengantre. Di tengah air pancur, lingkaran manusia mengerubungi tempat tersebut, seseorang berbicara di depan sana entah apa. Yang jelas terakhir Mala lihat lelaki dengan kupluk itu menyelinap di antara antrean sana.
Tubuhnya mungkin biasa saja, tidak terlalu kecil juga. Dengan begitu Mala tetap nekad untuk ikut masuk dalam gelombang manusia itu, tubuhnya berdesakan, kakinya terinjak-injak. Bayangkan saja jika Mala masih tak berbalut apa pun, kulitnya akan berubah kemerahan dengan cepat. Mungkin beberapa jejaknya tidak akan hilang dalam waktu cepat.
Kakinya kesemutan, terlalu jauh berlari juga tidak henti terinjak-injak meski begitu Mala tetap berusaha menggapai orang di depannya. Lelaki itu tinggal sejengkal lagi, tangan dia menggapai mencoba menarik ujung kupluk di kepala itu. "Tidak semudah itu, Nona," bisik sang pencuri kepalanya berbalik sedikit sebelum terbebas dari kumpulan manusia yang sengaja dia masuki tadi.
Ah, sial sekali. Sekarang Mala mau keluar dari kumpulan orang-orang ini malah dia sendiri yang terjebak. Tangannya susah sekali mencari celah untuk keluar, badannya terdorong depan belakang. "Tu-tunggu aku pencuri!" serunya tergagap.
Berusaha keras untuk keluar dari lautan manusia. Begitu fokusnya terkumpul, mengedar pada sekitar orang yang berdiri di atas pembatas air pancur itu sedang mempromosikan sebuah ramuan. Mungkin ramuan penambah kuat atau awet muda, dia tidak menyimak betul, tetapi dari laki-laki sampai perempuan semua seolah tumpah ingin melihat botol bening dengan isian cairan berwarna di depannya.
Setelah terjebak beberapa menit, akhirnya tubuh Mala berhasil keluar dari kerumunan. Dia mencoba menarik napasnya yang putus-putus untuk kembali normal, mata bulat itu mengedar seperti elang. Sementara dalam kepala gadis itu mencoba mengingat-ingat ke mana perginya sosok menyebalkan tersebut. Beriringan dengan kakinya yang melangkah lebih jauh memasuki pasar, sedikit berlari-lari kecil sambil terus memperhatikan sekitar.
Tidak ada yang namanya menyerah dalam kamus Mala. Dia sudah cukup berputar-putar di tempat terakhir gadis itu kehilangan jejak. Tempat yang asing tanpa ada satu pun orang yang dia kenal ataupun hafal daerahnya, tidak menjadi bahan pikiran sekarang. Sret! Gerakan liar kedua bola mata tajam itu seolah membeku di satu titik.
Di depan sana, pada penjual berbagai kerajinan dan keramik, seseorang tampak melihat ke kiri dan kanan. Yang menjadi perhatian lebih Mala adalah tali merah! Pandangannya jatuh pada apa yang digenggam lelaki tersebut.
Kantung Sena, segera saja dia berlari menghampiri. Seolah merasakan bahaya, orang itu melihat ke belakang, mereka bersitatap. Sebelum kembali lagi si pencuri segera berlari terbirit. Tidak ingin kehilangan lagi, Mala memutar arah memasuki sela-sela stand penjual, kakinya menerobos terpal-terpal yang menghalangi pandangan.
Tak hanya itu dia juga bergerak lincah saat ada orang di depannya, jalan mereka yang hanya muat satu orang. Mala paksakan memiringkan badan sembari tidak mengurangi kecepatan, tidak hanya itu kendi berisi air pun dia lompati, saat di depan sana beberapa stand telah terlewati.
Cahaya di depannya tinggal sejengkal, Mala memutar dirinya dengan tangan kanan berpegang kuat pada tiang, begitu tikungan yang tajam antara larinya dan dia yang harus berbelok ke samping kanan. Tubuhnya hampir saja roboh jika tidak berpegangan, tetapi dia berhasil menjaga keseimbangan.
Seseorang yang terus-menerus melihat ke belakang berlari mendekatinya. Senyum bangga terukir di bibir merah muda gadis itu, begitu tinggal beberapa langkah lagi dia berjalan mendekat segera menarik kerah baju orang yang tepat saat membalikkan kepala menghadapnya.
Tampak terkejut menghiasi wajahnya. Segera memberontak dengan kuat, kalau-kalau Mala tidak segera menangkap kedua tangan sang pencuri memutarkannya ke belakang sehingga pergerakan orang tersebut terkunci.
Mala memaksanya terduduk, sementara kantung itu jatuh. "Lepas! Lepas perempuan sialan!" maki orang tersebut berontak.
Dia cukup kesulitan mempertahankan cekalannya, karena tetap saja kekuatan lelaki itu besar. Sampai Mala yang mati-matian berusaha untuk memeganginya sedikit tergores oleh kuku panjang orang tersebut, sehingga samping telapak tangannya berdarah.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh sang pencuri. Menyentakkan cekalan gadis itu dengan kuat sampai terlepas, segera berdiri hendak berlari lagi. Bug!! Suara tendangan yang begitu ngilu, tepat di tengah d**a hingga orang yang ditendang itu langsung tersungkur ke tanah. Berusaha menahan sakit dan mencoba bernapas dengan benar, saat Mala mendongak hampir saja dia lupa dengan keberadaan Sena.
Lelaki itu entah kenapa selalu saja datang di waktu yang tepat. Segera melancarkan beberapa pukulan lainnya hingga sang lawan tak berkutik, babak belur. Orang-orang menyaksikan bergidik takut, segera pergi dari sana yang asalnya mengerubungi.
Agak sedikit kesal, bukannya tadi saat dia kesulitan untuk menangkap penjahat tersebut orang-orang yang melihat tanpa niatan membantu. Namun, kini saat Sena datang kerubunan tersebut malah segera membubarkan diri.
Dia menghela napas panjang, mencoba menguatkan diri dengan sisa tenaga yang ada. "Jacpot!" Lemparan barang secara refleks Mala tangkap secepatnya.
Untungnya gadis itu segera menyondongkan badan dan mengulurkan tangan ke depan. Agak dibuat bingung juga, kenapa Sena melemparkan kantung berpita merah tersebut kepadanya? Bukankah barang itu milik lelaki tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan Mala tidak cepat terjawab. Mereka kini meringkus sang pencuri tersebut, membawanya ke kantor keamanan setempat. Mungkin di dunia nyata bisa dibilang polisi. Kantornya tidak luas, begitu masuk mereka disuguhi meja resepsionis yang panjang, kursi tunggu di samping kiri dan sebuah pintu di dekat sana.
Seseorang segera menghampiri memanggil beberapa nama. Lalu keluarlah dua lelaki berbadan tegap dan berkulit cokelat, mereka mengambil alih pencuri yang sedari tadi Sena pegangi. Membawanya ke belakang, di samping kanan meja resepsionis ada sebuah lorong yang entah apa ke sananya, yang jelas pencuri tadi dibawa ke sana.
"Awas saja kau perempuan sialan! Mereka pasti tidak akan membiarkan kalian pergi dengan mudah dari sini. Bersiaplah!" ancam sang pencuri saat dibawa paksa oleh kedua orang bagian keamanan.
"Dia pasti berkomplotan, tidak bekerja sendiri. Aku memang pernah mendengar soal kelompok pencopet di Wilgertis ini, tidak kusangka akan langsung berhadapan dengan mereka," sahut Sena mendudukkan diri di kursi tunggu. Mereka masih harus ditanyain dan mengisi formulir laporan.
Gadis itu duduk di sebelahnya, merasa bersalah kalau saja dia tidak ngotot mengejar sang pencuri. Sekarang mereka terancam akan bertemu dengan komplotan pencuri, Mala malah mengiring dia dan Sena ke dalam bahaya. "Maaf, seharusnya tadi aku tidak–"
"Untuk seorang perempuan larimu cepat juga ya," ujar Sena memotong permintaan maafnya. Lelaki itu meliriknya dengan senyum. "Tidak perlu meminta maaf, aku senang kau berusaha dengan keras untuk mengejar pencuri tersebut. Itu keren," pujinya.
Bagaimana kedua pipinya tidak merona begini? Baru saja seseorang memuji apa yang dia telah lakukan, kata-kata sederhana itu sangat menyentuh bagi Mala. Rasanya tiba-tiba saja tumpukan air hendak roboh dengan sekali kedip di matanya.
Namun, Mala masih bisa menahan hal tersebut. Ikut tersenyum penuh haru, mengangguk-angguk kepala karena tidak tahu harus membalas apalagi. Keduanya mengikuti setiap prosedur yang ada, bahkan pihak keamanan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Mengaku bahwa orang yang baru saja mereka tangkap itu adalah pencuri yang sudah sering melakukan aksinya, tetapi sulit ditangkap karena begitu gesit.
Mala akui itu benar, dia saja kesusahan saat mencoba menangkap lelaki tersebut. Beruntung Sena datang di waktu yang tepat. Segera setelah semua selesai mereka keluar dari kantor keamanan. "Sena, ini punyamu," panggil Mala memberikan kantung berpita merah tersebut kepada pemiliknya.
Namun, resposnya malah tidak terduga. Sena terlihat kebingungan sebelum menjawab, "Aku sudah memberikannya bukan? Kenapa dikembalikan?"
"Eh, ini, 'kan, punyamu. Bukankah kau tadi menitipkannya padaku?" Mala balik bertanya segera dibalas oleh gelengan.
"Kantung itu memang sengaja aku mau berikan padamu. Tidak tahu ternyata malah mau dicuri dulu, tetapi memang itu punyamu. Isinya beberapa koin perak untukmu membeli sesuatu, tidak mungkin bepergian tanpa memegang uang, 'kan?" Penjelasan panjang lebar itu membuat kedua bola mata Mala melebar. Dia tidak tahu kalau sekarang setelah menerima begitu banyak bantuan dari Sena, lelaki itu juga memberikan dia uang.
Itu berlebihan. "Tapi–"
"Tidak ada tapi-tapi, tidak baik menolak pemberian orang. Terima saja, sekarang saatnya kita makan! Setelah berlarian seharian bukankah saatnya mengisi perut?" Sena merangkul bahu gadis itu, mengajaknya beranjak dari kantor keamanan mencari tempat makan.
Mungkin lama-lama Mala akan menjuluki Sena dengan julukan "Lelaki Pemotong Pembicaraan", dia hobi sekali memotong ucapannya yang belum selesai diutarakan. Namun, Mala juga tidak bisa memprotes banyak, kata-kata Sena selalu ada benarnya.
Terlepas dari itu, lelaki tersebut sekarang makin menyebalkan. Dia menceritakan kembali bagaimana aksi Mala tadi, berlari sangat kencang hingga lelaki itu ketinggalan jejak. Sena berkata dia tidak percaya ternyata Mala yang pendiam begitu berani. Tidak segan untuk meringkus penjahat sekalian.
Mendengar cerita tersebut yang dilebih-lebihkan, Mala tidak sehebat itu. Dia hanya tidak akan tinggal diam jika seseorang melakukan kejahatan pada orang yang dia kenal. Apalagi itu Sena, tubuhnya refleks untuk mengejar sang pencuri. Cerita hiperbola itu masih terus berlanjut di antara acara makan-makan mereka.
. . .