Rencananya setelah ini mereka berdua akan melanjutkan perjalanan untuk ke kota berikutnya. Sena, partnernya kini tengah sibuk bernegosiasi dengan salah satu kusir untuk mengantarkan mereka.
Dia hanya diam menunggu, karena begitulah yang dikatakan Sena padanya. "Tunggu saja di situ, aku akan mendapatkan harga murah!"
Tak lama setelah berdiskusi lumayan singkat, tetapi panjang. Maksudnya mereka terlihat berbicara panjang lebar dalam waktu singkat. Sena berbalik badan dan mengacungkan jempolnya, bertanda transaksi sukses. Dia tersenyum begitu pula dengan lelaki yang menghampirinya.
"Kita akan berangkat besok pagi. Perjalanannya, sih, memakan waktu sampai dua hari. Mungkin sekarang siapkan perbekalan untuk di jalan terlebih dahulu," papar Sena mendapat anggukan dari Mala.
Mereka sudah berkeliling kota sebelumnya, jadi tergambar jelas denah tempat ini dalam kepala. Baik Mala dan Sena juga sama-sama orang yang cepat mengingat tempat. Jangan ragukan kemampuannya membaca map, karena gadis itu dengan senang hati akan menjabarkan setiap garis dalam peta, bagaimana garis putus-putus, setiap lambang dan warna memiliki arti khusus seolah di luar kepalanya.
Kembali lagi masuk ke dalam pasar. Seharian ini kalau dipikir-pikir mereka menghabiskan hampir seluruh waktunya di satu tempat ini. Mereka memasuki salah satu toko perlengkapan untuk pengembara. Isinya lengkap mulai dari tas, kantung tidur, peralatan memasak dan alat memicu api. "Kurasa ini bagus bukan?" tanya Sena memegang salah satu tas berwarna cokelat kusam di tangannya.
Modelnya tidak terlalu besar, tetapi terlihat dapat menampung banyak. "Itu bagus," jawabnya segera mendapat balasan lain berupa kepala Sena yang mengangguk-angguk seolah menyetujui.
"Baiklah kita beli ini untukmu," putusnya mendapat pelototan dari sang lawan bicara. Dia tidak salah dengar? Maksudnya Sena membelikannya sebuah tas? Itu terlalu berlebihan dan Mala sangat gatal untuk mengucapkannya.
"Sena ... tidak perlu. Itu terlalu berlebihan sampai membeli tas baru segala," sahutnya sambil menunduk. Tidak enak hati antara terus merepotkan lelaki itu dan tak tenang karena penolakannya belum mendapat respons apa pun dari sang lawan bicara.
"Aku membelinya bukan hanya ingin, kok. Namun, karena butuh. Kita perlu satu tas lagi untuk menampung barang bawaan yang banyak. Makanya aku membelikannya untukmu, apakah sikapku ada yang terdengar memberatkan?"
Mala menggeleng cepat-cepat bukan maksudnya seperti ini. Merasa tidak enak sana jika segala sesuatu dibelikan oleh lelaki itu. Selesai dengan pilihan tas berlanjut pada kantung tidur, mereka membeli dua tak lupa juga dengan selimut dan pematik api. Keluar dari sana barulah membeli makanan entah itu bahan mentah, tetapi tahan lama ataupun makanan sudah jadi.
Kebanyakan seperti roti, beras, bumbu-bumbu, dan beberapa lauk lain. "Mala, mau sate?" Baru saja menoleh dia sudah tidak menemukan sosok yang tadi mengajaknya berbicara.
Tahu-tahu Sena sudah melambaikan tangannya di salah satu stand, menyuruh dia untuk mendekat. Gadis itu menurut, disuguhi sate berisi daging ayam dan beberapa potongan sosis beserta sayuran yang dibakar bersamaan. Dari bau harumnya saja Mala tahu kalau sate itu pasti enak.
Satu tusuknya itu panjang dan isinya sangat penuh. Bukan hanya tusuk sate yang berisi daging suwir kecil-kecil. Akhirnya tiga tusuk besar mengisi perutnya, mereka memang belum makan lagi. Hitung-hitung sebagai menu makan malamnya.
Semua persiapan telah selesai dibeli, tak lupa merapikannya begitu sampai di penginapan. Mereka berbagi barang bawaan, meskipun segala barang yang berat dibawa Sena tanpa penolakan, alias paksaan. Mala sudah mengaturnya seadil mungkin agar tidak ada dari mereka yang membawa barang lebih berat dari yang lainnya. Namun, lain cerita lagi saat Sena mengubrak-ngabrik hasil pembagiannya.
"Kau bawa saja bahan makanan serta selimut dan pakaian ganti, sisanya biar aku saja," kata Sena menunjuk benda-benda yang tadi dia sebut.
"Itu tidak adil. Barang bawaanmu jadi lebih berat kalau begitu," sanggahnya tidak terima.
"Tidak apa-apa, aku tidak merasa kerepotan membawa lebih banyak barang. Kau tahu Mala perjalanan kita itu jauh, dan membawa barang berat, apalagi untukmu itu hanya akan membuat lebih cepat lelah dan repot." Sena lagi-lagi berargumen belum mau mengalah untuk menyetujui usulannya.
Mereka masih berdebat hingga waktunya tidur tiba. Tidak ingin terlambat karena besok berangkat pagi, Mala yang mengalah mengikuti kemauan lelaki itu. Untuk kali ini saja, karena sebenarnya dia sudah mengantuk. Selesai memasukkan barang-barang ke dalam tas sesuai hasil pembagian tadi, dia merebahkan tubuhnya di kasur, beristirahat sebentar lagi.
. . .
"Tidak ada perjalanan tanpa hambatan. Kali ini apa yang sebelumnya belum tuntas harus dituntaskan, sebelum memasuki tanah lainnya."
Satu baris lainnya, ketika sang pemegang buku masih anteng tertidur. Sementara buku itu tanpa diminta membuka halaman baru, lengkap dengan satu paragraf pendek lainnya.
Mala tidak tahu bahkan tak sempat dia baca. Gadis itu masih terlelap, tetapi perjalanan masih terus bergerak. Besok, baik di dunia nyata ataupun mimpi, ada sebuah hambatan dalam menempuh sebuah perjalanan. Dia tidak tahu apa. Namun, segera akan tahu maksudnya.
Digendongnya tas tersebut yang langsung memenuhi punggung. Mereka berjalan menuju tempat para kereta kuda berpangkal. Di daerah sebelum pasar.
"Yosh, ayo berangkat!" seru Sena mengulurkan tangannya, membantu dia menaiki kereta kuda tersebut.
Hanya kereta kuda biasa, bukan paling kokoh dengan warna dan ukuran indah. Tampaknya antik, dari full berbahan kayu dan ditarik oleh dua kuda sekaligus. Perlahan langkah kaki sang kuda membawa mereka melewati perbatasan kota Wilgeas, gurun pasir yang tidak akan Mala lupakan dengan mudah.
Dia memang pernah ke pantai saat kecil, untuk melihat lautan. Namun, gurun suatu hal yang berbeda juga sulit untuk dicapai di dunia nyata. Di sini dia menghabiskan waktu dua hari untuk beristirahat dan berkeliling. Meskipun tidak semua yang terjadi di kota ini adalah hal baik, tetapi pelajaran menarik.
Kepalanya tertoleh pada kaca di samping. Sena dan Mala duduk berhadap-hadapan, meski lelaki itu juga sama-sama memandang ke arah jendela yang berbeda. Memperhatikan dunia luar. Yang terlihat mungkin hanya gurun pasir yang membentang, satu dua pohon kaktus, bebatuan, tulang belulang—mungkin tulang hewan—sejauh ini dia belum melihat mata air yang sering disebut-sebut orang sebagai fatamorgana.
Semoga saja mereka tidak bertemu dengan hal palsu seperti itu. Angin bergelombang ikut menyapu pasir di sekitarnya, membuatnya berhamburan di udara bebas. Tret! Tarikan kuat sang kusir memberhentikan kereta. Mala bertanya-tanya ada apa? Mereka belum setengah perjalanan bahkan, kenapa berhenti?
Segera Sena turun dari kereta. Dia ingin ikut, tetapi lelaki tersebut melarangnya. Sena terkadang terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu, dia bisa menjaga dirinya dengan baik. Tangannya menempel di kaca, mencoba mencuri pandang ke depan sana.
Kondisi yang kurang bagus. Sekitar lebih dari tujuh orang, lelaki berbadan besar dan memakai penutup wajah menghadang mereka. Bandit?
. . .