Sudah Mala duga pasti karena aksi pencopet kemarin. Dia sudah ingin keluar dari kereta kuda jika tidak melihat satu tangan Sena di belakang punggung memberikan kode agar dirinya tidak ikut campur.
Namun, dia malah dibuat semakin khawatir, seksama memperhatikan orang di depan mereka. Orang-orang dengan penutup muka, seperti di film-film memakai penutup kain yang hanya memperlihatkan bibir dan kedua bola mata. Dia ingin tertawa melihat modelnya yang jelek, tetapi urung melihat betapa tegangnya suasana.
Tujuh dari mereka kebanyakan bersenjata, ada yang membawa sabit, golok, cangkul, juga pisau tajam yang Mala intip di balik celananya. Semakin berbahaya, mereka bersenjata dan keroyokan. Ingin saja Mala hantam semua bandit itu, tetapi dia tahu tidak akan menang dengan mudah.
Malah yang ada kondisinya makin sulit kalau dia ikut campur. "Hei, Nona yang di dalam kereta! Jangan bersembunyi kami tahu kau yang kemarin menjebloskan teman kami ke penjara. Mana mungkin kami tinggal diam!" seru salah seorang dari mereka, langkahnya paling depan, mungkin pimpinan para bandit itu.
Benar, 'kan? Ini bukan penyergapan biasa. Rasa sesal dan khawatir bercampur jadi satu, setelah nama gadis itu disebut, tangan Sena mengepal kuat sampai memutih. Menahan kesal mendengar Mala yang berada di kereta sekalipun terbawa-bawa. Benar-benar tidak aman.
Lelaki itu meminta pak kusir untuk berdiri diam di dekat kereta kuda. Dia juga mengisyaratkan jika keadaannya memungkinkan untuk lari saja dari sini, membawa serta Mala. Tentu saja rencana itu tanpa pengetahuan Mala, sudah pasti dia akan memberontak dan ikut turut mengajar orang-orang yang menghalangi perjalanan mereka.
Namun, Sena lebih memikirkan keselamatan gadis itu. Sebagai orang yang mengajak Mala mengembara dia tidak ingin partnernya terluka. Sebagai seorang lelaki jiwanya juga mendorong dia untuk melindungi sang partner perjalanan.
"Kami tidak akan mengganggu asalkan berikan gadis itu kepada kami, bagaimana?" tawar lelaki yang berada di samping sang pemimpin sebelumnya, memakai baju panjang dengan model kanan kiri di bagian kakinya terbuka, cukup umum seperti pakaian biasanya. Namun, yang tidak biasa adalah penampilan mereka yang lebih lusuh, membawa senjata kotor entah sudah dipakai untuk apa, dan topeng yang mereka pasang.
"Benar-benar, Nona itu harus tahu akibatnya berurusan dengan para perampok!" tambah yang lainnya semakin memanas keadaan.
"Jadi gadis yang manis sini! Cukup turuti kami dan jangan melawan, Sayang." Mendengar kata terakhirnya membuat Mala bergidik ngeri dia tidak salah dengar?
Rasa kesalnya sampai ke ubun-ubun, apa maksud perkataan bandit itu? Selain mereka merendahkannya, juga pelecehan secara verbal, bahkan tatapan mereka yang melihatnya seolah menelanjangi. Semakin membuat gadis itu bergidik, mengeratkan diri di dalam kereta, tak lagi mengintip di balik jendela.
Tidak, bukan begini harusnya. Dia takut, dunia ini juga sama buruknya dengan kenyataan yang selama ini Mala jalani. Tidak ingin merasakan hal serupa di dua tempat yang berbeda. Rasanya melelahkan.
"Berani kalian menyentuh Mala maka tidak ada kata esok!" desis Sena. Lelaki itu sedang sekuat tenaga untuk tidak mengamuk di tempat.
Dirinya sudah gondok dari tadi mendengarkan bagaimana mereka semua menunjuk Mala terang-terangan. Dia juga melihat Mala yang sepertinya cukup ketakutan, makin ingin Sena segera hajar saja orang-orang itu.
Maka tanpa menunggu lama pukulannya mendarat kencang pada orang terdekat yang ada di situ. Semua atmosfer tegang sebelumnya berganti dengan panas, segera lawan pun tak tinggal diam melancarkan berbagai serangannya.
Pukulan menyamping bisa Sena hindari dengan mudah, orang itu maju ke depan melancarkan pukulan kiri dan keras secara terus menerus. Mata tajamnya mengikuti setiap gerakan, sampai ada di sebuah titik di mana jeda antar pukulan makin lebar. Kesempatan!
Sena merangsek maju terlebih dahulu, membuat sang lawan terkejut tidak menyangka. Namun, masih bisa mempertahankan dirinya dari serangan mendadak. Senyum lebar menghiasi wajah Sena. "Jacpot!"
Tangan kanannya ditarik membuat sang badan tanpa persiapan condong ke depan, lalu tanpa aba-aba melakukan hal serupa ke arah yang berbeda. Tangan kiri yang ditarik ke belakang, tepat saat membuat lawannya sedikit berjongkok Sena memukul punggungnya dengan lipatan lutut. Satu lawan ambruk dalam sekejap.
"Kalian ini mainnya keroyokan ya," gumam Sena. Melihat lawannya langsung maju bertiga, lelaki itu sama sekali tidak merasa takut ataupun apa-apa.
Ekor matanya melirik ke samping, benar kereta kuda itu berhasil menjauh saat dia memancing orang-orang bodoh ini. Merasa partnernya sudah berada dalam jarak aman maka Sena tidak menahan diri lagi.
"Maju kalian para cecuguk!" tantangnya merangsek maju ke depan.
Tangannya melancarkan pukulan cepat dan kuat pada orang yang mencoba untuk menghajarnya paling depan, sampai sang lawan terjungkal. Tidak hanya itu Sena melayani seseorang yang mengajaknya berduel, pukulan yang ditangkis, tendangan yang tidak mengenai sasaran, lelaki itu mundur memberi jarak saat lawannya berlari dengan cepat ke arah dia. Begitu sudah dekat, Sena bergeser ke samping, membuat lawannya oleng karena tadi ingin memukul, tetapi titik orang yang dia lawan berpindah.
Tidak diam di situ, Sena menarik kedua tangan lawan dan menendang dadanya berkali-kali, hingga tubuh tersebut ambruk di tanah. Bola matanya yang berwarna biru cerah kini menggelap, untung saja Mala tidak melihat dirinya yang seperti ini. Semua senjata yang dipakai oleh lawannya dapat dia hindari dengan baik, tetapi tidak sebaik itu karena meninggalkan beberapa bekas tanpa sadar.
Dia tidak ingin gadis itu berpikiran macam-macam dan meninggalkan Sena. Dia tidak ingin lagi bepergian sendirian, Mala menyenangkan. Perjalanannya jauh lebih menyenangkan jika bersama gadis itu, dan sebagai seorang partner tugasnya untuk menjaga keselamatan mereka.
Pukulan dan tendangan masih mendominasi. Sena sudah tidak tahu lagi gerakan apa yang dia lakukan. Dia hanya menghajar, menghindar, hingga saat sadar semua yang tadi melawannya terkapar di tanah dengan keadaan mengenaskan. "Sena! Sena! ... apa kau baik-baik saja?!" tanya Mala, gadis itu berlari dari kereta kuda yang penampakannya saja sudah tak terlihat di sini.
Wajah lelaki tersebut mungkin lebih baik dari orang-orang yang dia lawan. Namun, bekas memar dan goresan yang mengeluarkan darah menghiasi wajah dan tangan. Mala segera menyeret Sena untuk ikut kembali ke dalam kereta, mereka punya obat di sana.
"Mala ... kau marah?" Sena memberanikan diri bersuara setelah Mala mengobati lukanya, tetapi gadis berambut panjang itu sama sekali tidak bersuara sedari tadi. Wajahnya mendung, Sena tidak menyukainya.
Keheningan menyelimuti mereka, tidak ada jawaban dari pertanyaan tersebut. Tepatnya belum, nyatanya Mala tidak bisa mendiamkan Sena lebih lama lagi. "Jangan, jangan melakukan hal bodoh seperti tadi! Jangan berlagak sok jagoan dengan menghajar orang-orang tersebut sendirian ... aku khawatir kau kenapa-kenapa. Itu benar, Sena juga terluka."
Terdengar getir dan bergetar suaranya, Mala mencoba menahan tangis. Nyatanya saat dia marah dan mencoba berbicara malah ingin menangis saja. Mendengar hal itu Sena juga merasa bersalah karena membuat Mala begitu cemas padanya. Sebuah tarikan dan mereka berpelukan.
. . .