Back to Reality

1034 Kata
Hening menyelimuti keduanya, tidak ada yang berbicara banyak. Mungkin beberapa kalimat berbalas yang terputus lama setelahnya. Kejadian tadi membuat mereka terasa canggung, tidak ada Sena yang selalu mengajaknya mengobrol, karena baik Mala sendiri tidak akan menggubris banyak. Dia sudah mengatakan kepada lelaki itu untuk beristirahat, tidur dalam kereta. Sena terluka tentu saja, menghadapi tujuh orang sekaligus, meski sebuah fakta yang baru Mala ketahui jika lelaki itu pandai berkelahi. Namun, tetap saja kalah jumlah dan senjata berpengaruh. Daripada seorang kesatria dengan pedangnya, Sena lebih mengarahkan kepalan tangan menghajar lawan, tanpa senjata. Dia kuat, tetapi juga bukan yang terkuat. Mungkin salah satu dari alasan kenapa Sena menjadi seorang pengembara. Itu hanya sugesti Mala semata, tidak ada yang tahu persis. Sama seperti alasannya ikut pengembaraan ini. Mereka tidak saling bertanya kenapa, tetapi lebih bagaimana. "Bagaimana dengan perjalanan bersamaku? Kau senang?" Ya, pertanyaan yang sempat ditanyakan Sena sebelum mereka menaiki kereta kuda ini pagi tadi. Dia senang, bersama lelaki itu dengan segala petualangannya. "Bagaimana jika aku temani?" Gadis itu balik bertanya. Jawabannya sama: ya. Untuk pertama kali dan berkali-kali lain jawaban itu mungkin tetap dalam satu opsi. Sena tidak pernah menyesal ditemani Mala. Begitu juga sebaliknya. . . . Yang terluka bukan hanya fisik yang berdarah. Kata yang terucap menjadi luka untuk keduanya, bagi Gadis Perindu dan Sang Pengembara. Kembali, Mala terbangun pada kenyataan. Hari sudah siang, untungnya hari ini libur. Mungkin nanti jika rumah sudah sepi dia akan keluar dari kamar dan mengambil makanan. Karena sekarang kehadirannya masih tidak diinginkan orang rumah, mereka akan sibuk di luar saat weekend. Meninggalkan Mala sendirian dengan pintu rumah yang terkunci rapat. Dia tidak marah meskipun diperlakukan demikian. Kunci rumah ada beberapa, tetapi dia tidak termasuk pemegangnya. Terkunci sekalipun di rumah bukan masalah berarti, karena tidak ada dunia luar yang benar-benar ingin dia lihat sekarang. Gadis itu memeluk lututnya masih meringkuk di kasur, rambut panjang itu kusut menutupi sebagian wajah. Sebelum menghembuskan napas lamat, lebih memilih untuk membersihkan diri kemudian. Berpakaian santai, hanya dengan kaos panjang dan celana olahraga, gabungan terbaik untuk di rumah. Dibukanya jendela kamar yang langsung memberikan cahaya silau. Gadis itu menutup matanya sesaat, mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk, setelah itu berbalik merapikan kamar. Sesuatu terinjak oleh kakinya saat sedang menyapu. Dia sedikit membungkuk mengambil benda yang terinjak tersebut agak masuk ke dalam lantai ranjang kasur. "Cat warna kuning?" Suaranya menggantung agak heran juga bagaimana bisa cat yang tersusun rapi itu tersempil di tempat seperti ini. Mala itu termasuk golongan orang yang teliti. Menyimpan barang pada tempatnya setelah dipakai adalah harus, juga gadis itu sebisa mungkin menghemat ruang, yang sudah terpakai akan dibuang daripada dibiarkan menumpuk. Minggu pagi diisi dengan beres-beres kamar, Mala menemukan banyak sampah—barang lama yang sudah tidak terpakai—tak lama dari sana, dia sudah mengemasi semua barang yang hendak dibuang. Berjalan keluar kamar dengan menenteng kantung hitam berukuran sedang. Ekor matanya melirik sekilas ke arah dapur, terkejut saat kedua bola cokelat itu bertemu dengan mata lain. Si Cantiknya Kersuma, begitulah orang menjulukinya. Adiknya, meski dibilang begitu mereka tidak saling peduli dan terlalu tepat. Gadis berparas cantik tadi hanya melenggang tanpa mengeluarkan suara apa pun. Salahkan matanya yang malah melirik dapur jam segini, beres-beres kamar membuat lapar cepat datang. Orang di rumah pasti risih ketika melihatnya. Makanya itu salah satu alasan dia lebih suka mendekap di dalam kamar, agar tak ada pihak yang merasa tidak nyaman hanya karena kehadirannya. Hanya dengan melihat dia. Sesuatu terlintas dalam benak Mala, bagaimana jika Sena juga tak nyaman dengan dirinya? Rasanya meskipun mau berkata dan diperlakukan seperti apa pun oleh yang namanya keluarga itu Mala tidak masalah. Asalkan bukan Sena, orang yang telah berlaku baik di hidupnya yang buruk. Selesai dengan membawa sampah-sampah itu menumpuk di belakang rumah, yang nanti dibawa pelayan untuk dibuang ke tempat sampah warga sekitar yang tak berjarak jauh dari rumahnya. Menjalani hari yang biasa dan membosankan, dia beranjak dari tidurnya yang terlentang tidak karuan. Mengambil easel, membuat benda itu berdiri dengan utuh, sambil memilih salah satu kanvas yang cocok. Dia terbiasa menyisihkan uang jajan demi membeli cat dan berbagai macam kebutuhannya melukis. Merogoh saku celana dia menemukan salah satu cat warna tadi. Kuning, ya? Mimpinya membuat Mala mendapatkan ide untuk lukisan. Terhitung 5 jam lebih sejak siang hingga kini menjelang malam dia masih sibuk dengan gambar. Tak lagi sadar dengan suara langkah kaki dan pintu yang terbuka sebelumnya menjauh. Goresan kuas itu membentuk sebuah coretan tidak biasa. Perpaduan warna kuning yang semakin menggelap dengan jingga sebagai background mereka. Dia tanpa sadar telah menggambar bagaimana bentukan dunia mimpi, tempat terakhir yang mereka kunjungi. Sentuhan terakhir bagaimana Mala menggambarkan seorang lelaki yang melempar senyum kepada perempuannya. Bagaimana desiran angin gurun tidak membuat keduanya menghentikan romansa, begitulah lukisan Mala kali ini. Dia tidak menyukai siapa pun, tepatnya belum. Tidak ada partner yang menjadi pasangan begitulah yang dia percaya. Gadis itu hanya tidak sadar, karena perjalanan baru akan dimulai. Kisah mereka baru dimulai beberapa halaman, masih banyak kertas kosong lainnya yang akan mengisi tempat tersebut. Lukisan itu tidak selesai, hanya sapertiga dari apa yang seharusnya, dia baru membuat sketsa dan memberi warna dasar. Lapar semakin menggerogoti, dia belum berani keluar setelah kejadian sebelumnya. Mala menahan diri lebih lama dari waktu makannya yang biasa. Semoga-semoga sekarang rumah benar-benar sepi. Langkah pelan itu menuruni tangan, menuju tempat penuh dengan persediaan makanan. Kepalanya melirik ke kiri dan kanan memastikan, setelah merasa aman. Segera Mala mengambil apa saja yang bisa dimakan, tudung makanan yang dia buka berisi banyak sekali bermacam-macam makanan. Gadis itu mengambil piring, menyendok lauk dan nasi, segera membawanya ke kamar. Menikmati makan sendirian dengan khidmat. Makanannya memang enak, selalu begitu racikan koki di rumah ini sedari Mala kecil. Namun, sesuatu yang awalnya tidak pernah dia terlalu pikirkan kini terasa berbeda. Ada sesuatu yang asing ketika dia makan sendirian, padahal biasanya begitu. Tidak, Mala salah sesuatu memang sudah berubah. Makannya tidak lagi sendirian, di dunia sana seseorang menemani gadis itu sarapan, makan siang, sampai malam. Seseorang yang menemaninya berkeliling kota, tidak terkurung di kamar saja. Orang yang akan bercerita banyak dan mengajaknya mengobrol, tidak hanya sunyi dan sepi. Bagian dari buku yang dia baca terakhir kali, karena Mala memilih segera berlari menemui orang tersebut. Berlari membawa kesadarannya menuju tempat lain. Dia ingin bertemu Sena. . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN