Menemukan dirinya terbangun dengan selimut tipis menutupi badan, bersandar pada sebuah pohon, kehangatan membuatnya mengerjap. Ternyata itu berasal dari api unggun kecil tak jauh di hadapannya.
"Mau jagung bakar?" celetuk seseorang yang sudah gadis itu hafal betul. Dia menoleh seraya mengangguk, meski belum terkumpul benar kesadarannya.
Berjalan menghampiri lelaki yang sedang membakar beberapa jagung di samping api unggun. Bau manis itu memenuhi indra penciuman, ternyata tidur juga membutuhkan energi selain men-charger-nya. Terbukti dari bunyi berisik dari perutnya yang mengundang tawa lelaki di sampingnya. "Jangan tertawa!" Mala mengerucutkan bibir kesal, suara perutnya membuat Mala malu sendiri.
Sekarang gadis itu hanya menatap ke arah lain, dengan bola mata yang bergulir acak, asalkan tidak ke orang di sampingnya. Sena menggulum senyum, sebelum menodongkan satu jagung bakar tepat pada wajah Mala yang menoleh ke arah lain. Gadis itu tampak terkejut, memundurkan wajah. "Ayo makan! Jagungnya sudah matang," ajaknya enteng padahal kelakuan Sena membuat dia bertambah kesal.
Meski begitu dia tidak ingin sok jual mahal segala, perutnya lapar sudah berbunyi tadi. Dia tidak ingin suara itu muncul lagi dan semakin merasa terledek dengan wajah tengil Sena yang menatapnya jahil. Maka gadis itu mengambil jagung bakar yang disodorkan Sena, memakannya dalam diam.
Rasanya manis, dan masih panas dia harus berhati-hati atau lidah akan terbakar. Sementara kusir mereka sendiri terlihat mengambil beberapa barang dari kereta sebelum datang menghampiri. Sama seperti tadi, Sena juga menawari pak kusir untuk sama-sama memakan jagung bakar.
Keheningan mengisi ketiga orang di sana, sibuk mengisi perut. Jagung yang terjejer di samping api unggun itu perlahan raib satu-satu, masuk ke berlainan perut. Mala sendiri menghabiskan dua jagung, sementara Sena lelaki itu malah dua kali lipat darinya. Pak Kusir terlihat paling santai memakan satu jagung, tetapi Sena menyisakan satu lagi yang terakhir untuknya.
Setelah itu yang gadis itu dengar bagaimana Sena membuka pembicaraan dengan Pak Kusir. Bagaimana perjalanan yang pernah dilaluinya ataupun kisah para pelanggan yang pernah diantar sang kusir tersebut. Jujur saja sang kusir juga mengaku bukan pertama kali menghadapi bandit, beberapa kali dia dan penumpang pernah dirampok. Namun, untungnya tidak ada yang terluka selain kehilangan uang dan barang-barang perbekalan.
Jadinya mereka harus bertahan selama satu hari penuh perjalanan tanpa adanya makanan dan uang. Beruntung sang penumpang bertemu kenalannya dan bisa membayar sisa upah Pak Kusir. Mendengar perjalanan seru orang lain Mala ikut senang dan berdebar sendiri. Dia jadi tidak sadar menantikan bagaimana nanti kisah perjalanan mereka di kota berikutnya.
Dari yang dia dengar kota itu bernama Drabolis. Mala tidak mendengar pasti kota seperti apa yang akan dikunjunginya, toh nanti dia akan tahu sendiri seperti apa bentuk kotanya. Setelah puas bercerita banyak, walaupun dia hanya mendengarkan Mala tidak tahu sejak kapan dia tertidur. Rasanya kepalanya bertumpu pada sesuatu sebelum semua kembali gelap.
Malam itu, baik di dunia nyata ataupun mimpi kedua tubuh dan jiwa yang sama-sama tertidur. Semoga saja bangunnya masih dalam mimpi, karena Mala tidak ingin cepat-cepat mengakhirinya.
. . .
Seperti menjadi sebuah kebiasaan saat terbangun, gadis itu akan mengecek sekitar memastikan bahwa di mana dia saat ini. Ya, kadang sampai tidak teraturnya waktu tidur membuat Mala tidak tahu jam berapa, apakah dia bangun di pagi hari atau malam sekalipun.
Setelah termenung beberapa saat, barulah dia sadar hal lain. Selimut menutupi tubuhnya sampai d**a, ditambah satu selimut lain yang digulung dijadikan bantalan. Itu, 'kan, selimut Sena. Lelaki itu tidak memakai selimut semalaman? Yang benar saja, malam kemarin cuaca sedang dingin.
Apalagi angin malam bisa-bisa membuat masuk angin. Matanya menelisik ke sekitar, menemukan bara kayu api yang tinggal potongan-potongan kecil, menyisakan sedikit asal. Kereta kuda terparkir di depan sana, dengan hewan tersebut yang ditali di salah satu pohon. Meski sudah memandangi sekitar, tetapi dia tidak menemukan di mana Sena ataupun Pak Kusir.
"Sena? Sena?" Panggilan Mala tanpa ada balasan. Dia menunggu, memilih untuk melipat selimut dan memasukan sisa barang mereka ke dalam kereta. Tak lupa membereskan sisa makanan dan berbagai sampah lainnya.
Mungkin sembari menunggu gadis itu berpikir untuk menyiapkan sarapan. Maka diambilnya panci dan beberapa bahan makanan, juga kayu bakar. Berkat bantuan sedikit minyak tanah dan pematik, api cepat menjalar membakar kayu dengan lahap. Tungku dadakan pun jadi.
Mala menggunakan batang kayu yang membentuk huruf y pada cabangnya di sisi kanan dan kiri, lalu pada pegangan panci yang setengah melingkar itu diberi kayu lainnya. Disangga di kedua batang kayu kiri dan kanan. Di bawah api mulai mendidihkan air yang dia masak, tangan gadis itu lincah memotong beberapa sayuran. Berniat membuat sup sederhana yang dia ingat.
Memasukkan potongan wortel dan kentang, Mala juga memasukkan potongan kol yang diiris kecil-kecil, kaldunya berwarna kekuningan karena bumbu yang dia masukkan. Begitu diicip sudah pas rasanya, gadis itu mencoba mengangkat sisi batang kayu yang menyangga panci dengan sapu tangan, menyiapkan peralatan makan juga.
Tak berselang lama dari kejauhan datang dua orang mendekat. Begitu semakin dekat Mala menebak memang Sena dan Pak Kusir yang datang. Pas sekali. "Sarapan," sahut gadis itu menyodorkan mangkuk-mangkuk berisi sup.
Mala tidak bertanya ke mana dua lelaki itu pergi tanpa membangunkan atau memberitahunya. Cukup kesal, tetapi mungkin nanti saja dia tanyakan. Dia tidak ingin merusak mood-nya yang sedang bagus bisa memasak dan memakan sup yang enak.
Segera setelahnya mereka bergegas untuk mengejar ketertinggalan waktu, menuju kota terdekat yang telah menjadi incaran Sena dalam rutenya. Mungkin malam hari baru mereka sampai.
. . .
"Lain kali beritahu aku apa pun itu. Ke mana kau akan pergi, jangan main tinggal sendiri," celetuk Mala dengan nada tidak senang. Ya, karena memang begitulah perasaan yang dia rasakan sedari tadi.
Kesal, marah, takut, dan cemas menjadi satu. Terbiasa ke mana pun bersama membuat Mala cemas dan takut ditinggal sendiri. Takut jika Sena pergi meninggalkannya tanpa kembali, cemas lelaki itu kenapa-kenapa.
"Aku hanya mencari tambahan air minum untuk perbekalan. Karena bandit itu kita cukup membuang waktu, seharusnya kita bisa sampai malam ini, tetapi mungkin besok baru mencapai kota tersebut," jelas Sena lelaki itu berbicara tanpa menatap Mala.
"Kurasa kau bisa membangunkanku untuk sekadar memberitahu ke mana akan pergi. Aku jadi tidak perlu cemas untuk hal seperti ini," keluhnya. Mendengar kata "seperti ini" menarik perhatian lelaki tersebut untuk menatap sang lawan bicaranya.
"Seharusnya kau tidak perlu cemas untuk hal 'seperti ini', 'kan?" ucapnya serasa menyindir di telinga gadis itu.
"Apa maksudnya?" Mala bertanya, tetapi tak kunjung mendapat jawaban. Wajahnya merah menahan marah dan kesal yang semakin membuncak, sementara Sena terlihat enggan menatap gadis itu.
Keheningan menyelimuti mereka berikutnya, dengan hawa tak enak. Bagi Sena, dia hanya tidak ingin menggangu tidur gadis itu yang terlihat begitu lelah. Dia juga tidak ingin membuat Mala khawatir untuk hal-hal kecil, Sena juga tidak akan pergi jauh, pasti kembali.
Namun, Mala juga pemikirannya sendiri. Dia tidak suka ditinggal begitu saja tanpa pemberitahuan atau penjelasan. Dia takut sendirian, terlalu tidak ingin kalau sampai lelaki itu tidak kembali lagi.
Mereka dengan pemikirannya masing-masing. Saling diam, saling tidak paham apa maksud sebenarnya. Baru kali ini mereka bertengkar untuk pertama kalinya.
. . .