Sunyi, derap langkah kuda beriringan dengan suara roda yang berputar. Terdengar jelas dan mengisi kekosongan di antara mereka. Setelah perbincangan panas sebelumnya, tidak ada lagi kata yang terlontar.
Mala tidak tahu harus bagaimana menanggapi orang marah sejujurnya. Dia hanya akan mencoba tidak menampakkan diri di hadapan orang tersebut, agar tidak menggangu. Namun, nyatanya itu seperti mustahil karena Sena jelas-jelas teman seperjalanannya.
Mereka akan selalu bersama ke mana-mana, dia mungkin bisa saja menghilang, melakukan perjalanan seorang diri. Namun, ada sesuatu yang lain yang membuat itu mustahil keduanya tahu, tetapi hanya untuk dirinya sendiri.
Matanya melirik orang di hadapannya, tatapan mata yang mengarah kepada jendela. Tatapannya tampak kosong, tidak fokus arah, mungkin terlalu banyak memikirkan hal-hal lain. Ingin sekali Mala datang menghampiri, menghapus jarak dan bertanya, "Bagaimana?"
Lalu cerita akan mengalir deras seperti sebelumnya. Hal yang mereka selalu lakukan, saling mendukung, mendengarkan, dengan pertengkaran ini sekalipun dia tidak bisa tak peduli pada orang di hadapannya. Kepalanya mencari kenyamanan di sofa kereta kuda. Daripada semakin dipikirkan dan membuat bingung lebih baik gadis itu mengistirahatkan diri dengan memejam sebentar.
Tak lama gadis itu memang benar-benar tertidur, dengan tangan yang berkacak pinggang. Sena meliriknya, menatap lamat-lamat orang yang sedari tadi diam. Mala itu memang orang yang pendiam, tetapi coba pancing dirinya untuk mengikuti obrolan, maka gadis tersebut akan berbicara banyak hal. Menyenangkan sekali, ekspresinya begitu keluar saat bercerita.
Sorot mata dan gerak tubuhnya sama sekali tidak berbohong, dia akan mengungkapkan sedih saat ketika benar-benar sedih. Namun, Sena juga mengerti banyak hal yang Mala sembunyikan, istilahnya gadis itu hanya bercerita bagian atasnya saja, sementara bagian bawahnya rapat-rapat dia tutup.
Jika itu kepilihan gadis tersebut, maka Sena tidak berhak memaksa atau meminta penjelasan lagi. Dia tidak ingin mengulik terlalu jauh. Tidak ingin membuat Mala tidak nyaman, tetapi kondisi saat ini begitu. Ditatapnya mata yang tertutup itu, Mala itu manis memiliki lesung pipi dalam jika tersenyum manis barulah muncul, tetapi jarang sekali.
Dia akan menjaga senyuman itu. Orang di hadapannya, agar bisa kembali seberapa hangat senyuman tulus tersebut. Mungkin bukan sekarang, tetapi dia ingin menjadi salah satu alasan dari senyuman itu.
Dug! Hap!
Batu kerikil yang bergelatukan, satu anjlokan membuat dia kaget. Mala yang sedang tertidur badannya menjadi condong ke depan hendak jatuh, untuk segera dia tangkap mengembalikannya ke posisi semua tak lama dari sana. Benar-benar berbahaya kalau sampai membentur lantai, ataupun kursi lain di depannya.
Beruntung dia cepat tanggap. Dielus surat cokelat itu dengan pelan, Sena entah sejak kapan atensi Mala bukan hanya lagi teman satu perjalanan. Namun, ada sesuatu yang lebih.
. . .
"Mala, bangun kita akan berhenti sejenak di depan sana!" panggilnya mencoba membangunkan gadis itu supaya lebih bersiap saat mereka akan turun.
Terdengar gumaman kecil membalas panggilannya. Setelah beberapa kali memanggil barulah gadis itu benar-benar membuka mata, mencoba terjaga. Sebenarnya Sena juga tidak tega jika harus membangunkan Mala, tetapi mengingat pertengkaran terakhir mereka lebih baik dia membangunkannya.
Dia sudah mengulur waktu dengan tidak beristirahat di tengah hari, sekarang sudah mulai sore. Pak kusir juga pasti kelelahan, begitu juga sang kuda yang sedari tadi ditarik terus tenaganya untuk membawa mereka.
Mereka turun bersama beberapa barang, yang jelas, sih, bahan makanan karena memang perutnya sudah minta diisi, alias keroncongan. Mala tampak terlihat mengeluarkan beberapa alat masak, dengan sigap Sena segera membuat perapian untuk memaksa makanan buatan gadis itu. Setelah menumpuk bebatuan untuk menahan panci yang akan dimasak, Sena selesai.
Mala membuat kaldu cocolan yang kental. Harumnya begitu menggoda, bau kentang dengan tampilan merah apalagi ada gelembung-gelembung merah yang meletup-letup di dalam panci semakin membuat Sena tidak sabar untuk makan.
Tidak lama dari sana makanan itu telah matang, Mala membagi rata semuanya ke dalam mangkuk kecil. Dia juga mengeluarkan beberapa roti, bulat dan padat, tetapi di dalamnya lembut. Sangat pas dicocolkan ke sup tersebut.
Sena melahap habis roti yang diberikan, terjaga seharian membuat dia juga semakin merasa lapar. Tak lupa menyeruput sup kental yang terasa gurih dengan cecapan rasa manis sedikit. Mala mengaku memang tidak bisa memasak banyak, hanya sedikit, dari awal masakannya Sena juga tahu kalau gadis itu tidak terbiasa memasak sendiri. Terlihat kaku, tetapi rasa makanannya oke juga. Layak untuk dimakan.
Sepertinya sekarang Mala berusaha keras untuk belajar memasak. Terlihat dari caranya memasak dan rasa makanannya yang sudah meningkat jauh. "Makanan buatanmu selalu enak," puji Sena membuat orang yang diajak bicara mendongak.
Gadis tersebut masih mencocolkan rotinya ke dalam sup. Mencoba bersikap senormal mungkin meskipun merasa kaget tiba-tiba mendengar suara Sena yang memujinya. Dia senang tentu saja, usahanya berarti berhasil belajar masak mati-matian. Mengintip di malam hari saat semuanya sepi, mencoba mempraktikkan satu per satu video tutorial yang dia lihat.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kau sudah bekerja keras," tambahnya bangkit mengusap sesaat kepala Mala dengan lembut.
Tidak saja lelaki itu melihat wajahnya yang memerah dan terasa begitu panas. Bisa-bisanya setelah diam-diaman seharian Sena dengan santai memuji dan memperlakukannya seperti itu. "Aku akan berkeliling, mungkin bisa menemukan sesuatu."
Mendengar hal tersebut Mala terperanjat, mau izin ataupun memberitahu dia apa yang akan lelaki itu lakukan sebenarnya bukan hal tersebut yang ingin dia dengar. "Aku ikut," sahutnya cepat membuat Sena menoleh kepadanya, satu alisnya terangkat tertanda bingung juga bercampur keraguan.
Dia tidak ingin hanya duduk diam menunggu lelaki tersebut kembali. Tanpa ada di sisinya, menyaksikan bagaimana atau hal apa saja yang terjadi. Mala tidak ingin menjadi orang yang tidak tahu apa-apa tentang partnernya. Maka dari itu dia akan ikut ke mana pun Sena berjalan-jalan, mengembara.
"Maafkan aku–"
"Maaf–"
Ucapan keduanya saling bertubrukan. Lalu setelahnya mereka saling lirik, canggung mengisi, Sena hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Akhirnya mereka mengucapkan maaf untuk pertengkaran sebelumnya. Mulai perlahan berkomunikasi apa sebenarnya yang mereka inginkan dari partnernya.
Mala mengerti Sena ingin dia selalu terlindungi dan aman. Namun, dia juga mengingatkan bahwa Mala tidak hanya ingin dia yang merasa aman, tetapi juga lelaki itu harus selalu baik-baik saja. Lain halnya dengan yang Sena tangkap.
Dia baru tahu kalau gadis itu tidak suka sendirian, ditinggalkan makanya waktu kemarin begitu marah sebab hal tersebut. Sena berjanji akan mengajak gadis itu bagaimanapun keadaannya, selama memungkinkan. Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan obrolan yang kembali mengisi keheningan. Suasana kereta sekarang lebih hangat daripada sebelumnya.
. . .