Pengendali

1015 Kata
Sesuatu yang sama terulang kembali. Kali ini ada sekitar empat orang bertampang garang dengan pakaiannya yang sesuai untuk disebut bandit, benar mereka lagi-lagi dicegat. Sebelumnya Sena bilang kalau kota yang akan mereka tuju sudah sebentar lagi. "Keluar kalian! Berikan harta benda yang kalian bawa kalau tidak ingin terluka, atau kami akan berbuat kasar!!" Teriakkan lantang tersebut membuat dia sedikit kaget, juga takut. Mala tahu-tahu sudah meremas tangan Sena, seolah berkata pada lelaki itu untuk tidak keluar. Daripada preman-preman sebelumnya, mereka di depan sana kelihatan lebih ahli, tidak langsung menodongkan senjata. Namun, membawa karung-karung yang entah berisi apa, mungkin berniatan akan mengisinya dengan barang bawaan. Enak saja, semua barang yang mereka telah beli dan perbekalan tentu gak akan Mala berikan dengan mudah, meskipun sekarang keadaannya menunjukkan kebalikan. "Aku akan keluar sebentar," kata Sena langsung mendapat gelengan dari gadis itu. Semakin meremat kuat lengan baju pemuda tersebut. Tidak ingin dia pergi ataupun meninggalkannya saat ini. Tak lama dari sana suara keras menghantam badan kereta mereka. Agaknya para bandit itu sudah mulai hilang kesabaran, mereka melemparkan beberapa batu dengan kencang merusak badan kereta. Tentu Sena sudah tak bisa tinggal diam lagi, lelaki itu segera beranjak hendak keluar dari kereta sebelum berpamitan, "Aku akan baik-baik saja sungguh." "Benar, yaa? Tanpa luka?" pinta Mala mengulurkan jadi kelingking meminta lelaki itu berjanji. Sena tersenyum kecil, segera menyambar jari mungil Mala. "Janji." Setelah melihat sosok Sena, para bandit itu berhenti melempari batu. Dilihatnya Pak Kusir juga ketakutan. Benar-benar, Sena hanya ingin perjalanan yang menyenangkan hingga mereka sampai di Drabollis, bukan terus-menerus diganggu seperti ini. Sayangnya lelaki itu sama sekali tidak sabaran. Dia segera menghampiri mereka tanpa rasa lagu sekalipun, membuat Mala semakin cemas menyaksikan hal tersebut. "Aku peringatkan di awal, lebih baik kalian pergi sekarang atau nanti menyesal," tegas Sena malah mendapat respons tertawaan dari mereka yang diajak bicara. Benar-benar, mereka tidak tahu saja siapa Sena. Jika sudah diperingatkan begini jangan salahkan dia kalau tak menahan diri. Mereka sendiri yang melempar umpan padanya, yang senang hati tentu dia tangkap. "Banyak gaya. Lawan dia!!" seru seseorang dari mereka, badannya gempal, tetapi juga penuh otot jika dilihat-lihat. Mereka maju bersamaan secara serempak hendak menghajar Sena. Salah satunya beranting hingga telinganya menjuntai ke bawah, meninggalkan lubang besar dengan lingkaran besi di dalamnya. Sama sekali tidak keren, dia melancarkan pukulan tanpa ragu yang langsung dihindari Sena. Sementara dari arah belakangnya pukulan lain mengarah pada wajah, segera dia tangkis menghajar balik lelaki tersebut hingga jatuh tersungkur. Namun, begitu berbalik sebuah kepalan tangan hanya tinggal berjarak kurang dari 10 cm dari wajah Sena. Lelaki itu menarik mundur wajahnya, sebelum menggenggam erat lengan besar tersebut. Dia bergerak dengan sangat cepat, baginya gerakan seperti ini itu lambat. Saat lengan tersebut dalam cekalannya dia putar hingga sang empu mengaduh, tak hanya itu ketika sebuah pisau melayang menuju samping pinggangnya, Sena otomatis menarik lelaki yang sudah tumbang duluan itu menjadi tameng. Darah mengucur deras, merah ke mana-mana. Mala sempat memekik menyaksikan hal tersebut, meski tahu bukan Sena yang terluka, tetapi tidak bisa menghalau rasa kaget dan ngeri yang datang bersamaan. Dengan tanpa rasa bersalah dia membuang tubuh itu ke samping. Saat orang yang hendak menusuknya masih shock, segera Sena ambil pisau itu dengan menendang lengan si pemiliknya, perkelahian sudah bukan hal yang bisa dihindari lagi. Mereka saling menghajar tanpa kenal lelah, sementara Sena berusaha mati-matian agar tidak terluka sama sekali. Dia masih ingat janjinya kepada seseorang. Saat mereka berempat bangkit, ada yang sedikit terseok karena luka yang dia terima. Sekarang semuanya mengeluarkan senjata, ada yang pisau, rantai, cerulit dan sebagainya. "Sena!!!" teriak Mala begitu melihat kepungan dari lawan yang melayangkan senjatanya dari berbagai arah secara sekaligus. Segera Sena menarik lengan bajunya sampai di atas siku. Baru setelahnya tangannya terkepal itu membentang ke samping, urat-urat tubuh lelaki itu mulai berwarna merah. Hingga semburan api yang merambat satu lengan keluar dari permukaan kulit tersebut. Membuat semua orang terkejut. Lengannya yang dibentangkan itu Sena kibaskan hingga api mengenai pakaian para bandit yang hanya terdiam saja. Bau gosong dan permukaan kulit yang terbakar mulai dapat dicium. Hingga sekarang mereka tersadar dan langsung menepuk-nepuk pakaiannya yang terbakar, bahkan berguling dan saling menempel satu sama lain karena panas yang terasa. "Panas! Sial kulitku terbakar!" "Air-air!!" "Cepat pergi dari sini bodoh. Kalau tidak ingin kita mati!" "Maafkan kami, Tuan. Kami tidak akan menganggu perjalanan kalian lagi." Salah satu dari mereka membungkuk sebelum ikut terbirit bersama teman-temannya yang lain. Sena menyaksikan hal tersebut sampai terpingkal-pingkal dibuatnya. Sangat lucu baginya, seperti sebuah hiburan. Tanpa sadar dia sudah lebih dahulu menginjakkan kaki keluar dari kereta kuda. Langkahnya menghampiri Sena, bergerak memastikan lelaki itu baik-baik saja. Dia periksa kedua lengan Sena, terutama lengan kanannya yang tadi mengeluarkan api, mengamatinya dengan teliti. Dia tidak salah lihat bukan? Tadi kulit ini berubah menjadi kobaran api yang membakar para bandit, tetapi sekarang sama sekali tidak ada jejaknya. Seperti lengan biasa. "Kau benar, kok, Mala. Memang tadi lenganku mengeluarkan api," celetuknya melihat betapa serius gadis itu memeriksa tangannya. Membuat Sena gemas sendiri. Pandangan Mala berubah tajam, seolah menuntut penjelasan lebih. "Baik-baik akan kujelaskan semuanya. Sebelumnya ayo masuk kereta, perjalanan kita sudah tertunda banyak!" ajaknya, mungkin lebih kepaksaan, tanpa Mala mengangguk sekalipun sudah diseret kembali masuk ke dalam kereta kuda. Perjalanan mereka berlanjut. Pak Kusir sempat shock tadi, tetapi Sena menenangkan bahwa semuanya baik-baik saja. Hingga akhirnya kusir mereka yang sudah tenang dapat melanjutkan perjalanan. Di dalam kereta tersebut, Sena menghela napas panjang. Tidak ada yang bisa dia tutup-tutupi memang, apalagi Mala melihatnya secara langsung. Sebenarnya Sena ingin saja sama sekali tidak mengeluarkan kekuatannya, tetapi tanpa sadar dia malah memamerkannya karena sudah tidak tahan lagi. Perjalanan mereka terus tersendat. Dia hanya ingin cepat sampai dan beristirahat layak di penginapan. Namun, para bandit sialan itu mengganggu saja hingga akhirnya kelepasan. Dia sudah tidak tahan lagi untuk membuang waktu lebih lama dari seharusnya. Maka dari itu jalan tercepat adalah menggunakan kekuatannya. "Aku seorang pengendali elemen. Lebih tepatnya elemen api," aku Sena. Mendengar penjelasan tersebut membuat Mala terdiam. Benar-benar rasanya dia memang memasuki dunia fantasi, semua hal yang pernah dia baca di buku, sekarang menamparnya meskipun tidak menjadi kenyataan sebenarnya, tetapi dia mengalami hal tersebut. Ini sungguh mimpi! . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN