Kota Penuh Cahaya

1032 Kata
Perjalanan mereka selanjutnya berjalan mulus sampai tujuan. Untungnya tidak ada hambatan yang berarti. Sampai menemukan sebuah tiang yang berdiri di ujung jalan mereka. Begitu mendekat ternyata itu lampu jalanan, kilau cahaya yang diberikannya itu membuat silau. Padahal mereka sampai siang hari, tetapi lampu jalan menyala? Mala tidak salah lihat, 'kan? Melewati lampu jalanan tersebut, masih berjalan lurus sampai beberapa tiang lampu lainnya di kiri kanan menyambut mereka. Tidak hanya itu, kunang-kunang menghiasi sekitar seolah mengantarkan mereka pada gerbang kota tersebut. Sebenarnya bukan juga gerbang, bisa dibilang itu hanya hanya pagar dengan tinggi sebetis, saling terhubung dengan kawat, bentuknya seperti kayu-kayu yang berjejer agak renggang. Mala rasa mungkin memang negeri ini adalah negeri yang damai, semua penjaganya tidak terlalu ketat. Tidak semua tempat mengharuskan pemeriksaan diri, contohnya di kota ini. Yang menyambut mereka adalah rumah-rumah berbentuk setengah lingkaran, dengan lampu cahaya yang menggantung di setiap depan bangunan itu. Semuanya bercahaya cukup terang, tetapi tidak menyilaukan. Melihat kunang-kunang di siang hari, mungkin di sini tempat yang tepat. Karena makhluk kecil bercahaya itu berkeliaran di mana pun dengan bebas, dan warga sekitar sama sekali tidak terlihat terganggu. "Kota Drabollis ini adalah kota cahaya, jadi wajar saja melihat kunang-kunang dan lampu yang menyala di siang hari. Cahaya adalah energi warganya, kalau tidak ada cahaya berarti tidak ada kehidupan," jelas Sena berinisiatif sendiri akhirnya sebelum dia bertanya. Barulah dia sedikit paham dengan keadaan di sekitar sini, meskipun belum benar-benar mengerti benar. "Jika hujan ataupun gelap bagaimana?" tanya Mala penasaran. Katanya tanpa ada cahaya, berarti tidak ada kehidupan, apakah lelaki itu tak terlalu hiperbola? "Itu jarang terjadi, sih, setahuku di sini jarang turun hujan. Hujan akan terjadi di bulan tertentu saja, dan tentu kunang-kunang akan semakin bersinar saat hujan, bukan berarti makhluk itu hujan-hujanan juga. Namun, mereka akan mencari tempat untuk berdiam diri, biasanya memenuhi halaman depan setiap rumah. Kau lihat yang seperti taman itu? Biasanya mereka akan masuk ke sana," terang Sena sembari menunjuk lampu taman yang berbentuk tabung kerucut di salah satu rumah. "Mereka itu bukan manusia, tetapi peri. Meski bukan jenis peri yang memiliki sayap. Namun, kekuatan mereka itu berasal dari cahaya, asalkan ada cahaya mereka bisa bertahan tanpa makan," tambahnya membuat sang lawan bicara terkesima. Peri? Sungguhan? Mala rasanya ingin berteriak saja, di dunia dongeng yang dia baca, sejak kecil gadis itu mengidolakan sosok seorang peri. Lalu pandangannya mengedar pada sekitar, ternyata benar. Ciri khas mereka masih sama, meskipun tanpa sayap seperti apa yang dikatakan Sena. Ujung telinganya runcing ke atas, hidungnya yang mancung menusuk, dan kulit yang lebih putih, walaupun ada beberapa yang berkulit gelap juga. Usai mereka turun dari kereta, berpisah dengan Pak Kusir di tempat yang bisa dikatakan halte kereta kuda, Sena mengajak Mala berjalan-jalan. Tempat itu indah, dengan lampu yang menggantung indah di setiap sudut jalan, rumah-rumah juga kunang-kunang yang hingga di berbagai tempat. Bebatuan di sana memiliki warna yang unik, jalanannya diisi bebatuan berwarna-warni, seperti pelangi yang berubah-ubah ketika diinjak. Bukan hanya itu setiap orang seperti memegang sebuah bola berwarna senada ke mana pun mereka pergi. Kata Sena itu adalah bola energi, sehingga saat para peri ke tempat gelap sekalipun memiliki cukup cahaya agar mereka bisa baik-baik saja. Itu menjadi hal yang menyenangkan sekaligus perjalanan baru. Mala hampir berteriak kegirangan saat diajak bicara oleh salah satu peri yang ada di sana. Mereka begitu ramah dan punya senyum lebar yang indah, pakaian yang dipakai itu seperti tunik dengan warna-warna cokelat pastel yang lucu. Dia ingin memeluk salah satu dari mereka, tetapi Sena lebih dahulu menariknya sebelum berbuat hal yang aneh-aneh. "Peri itu cantik ya. Aku tidak menyangka akan bisa bertemu para peri akhirnya, bertemu satu saja sudah mustahil apalagi begitu banyak orang," komentar gadis itu dengan mata berbinar melihat ke sekitar. Gadis itu terlihat sangat senang. Sena sendiri tidak tahu kalau Mala begitu menyukai peri. Dia tidak memiliki kesukaan ataupun tidak suka terhadap sesuatu, apalagi para peri. Tentu, lelaki itu bukan pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Dia pernah ke sini sebelumnya, meskipun dengan rute yang berbeda. Peri-peri di sini sama saja seperti para manusia biasanya, jadi Sena tidak pernah menganggapnya spesial. Berbeda dengan Mala yang mungkin dari kota pinggiran sampai tidak tahu apa-apa tentang kota Drabollis ini. Dia sama sekali dengan gadis itu yang begitu excited dengan segala sesuatu tentang peri. Itu malah menjadi hal yang baru karena melihat wajah Mala tidak pernah berhenti tersenyum. Sena kembali mengingatkan tujuan awal mereka bertanya pada warga sekitar, untuk mencari hotel di sekitaran sana. Akhirnya berdasarkan petunjuk arah sang peri, mereka tiba di satu bangunan kecil, terlihat seperti sebuah kantor. "Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya sang resepsionis begitu mereka menginjakkan kaki memasuki kantor tersebut. Mala heran, ini benar sebuah hotel? Bukankah terlalu kecil apalagi terletak di depan pohon raksasa. "Kami ingin memesan dua kamar untuk dua orang secara terpisah," balas Sena dicatat dengan baik oleh orang di depannya. Perempuan peri yang cantik tersebut terlihat sedang membuka-buka halaman tertentu dalam sebuah buku, sebelum beranjak menghadap ke belakang dirinya, di sana ada ratusan macam kunci yang menggantung. "Ini kamar kalian, silakan biar kami antar ke kamar masing-masing." Setelah sang resepsionis tersebut benar-benar memberikan kunci kamar. Mereka berjalan bersama ke belakang, semakin memasuki bangunan kecil tersebut. Yang lebih mengejutkan di ujung bangunan tersebut sebuah pintu besar, begitu didorong muncul pemandangan pohon raksasa tersebut. Mereka berjalan mendekat ke sana, sang resepsionis mengetuk batang pohon tersebut. Tak berselang lama batang tersebut membuka menjadi dua, seperti pintu lift. Seseorang ada di dalam sana menyapa resepsionis, mengantar mereka ke lantai kamar yang dituju. Tenang saja ini bukan berarti harus tinggal di pohon juga. Mala sempat bingung awalnya banyak sebuah bola lingkaran yang bentuknya seperti kuncup bunga yang belum mekar berwarna berbeda-beda, dia sendiri mendapat tempat berwarna lavender. Bunga kuncup yang seperti bola tersebut menggantung di setiap ranting pohon dan memiliki nomor. Dari ranting yang mereka injak ada sebuah tali membentuk tangga kayu yang jatuh tepat di pintu masing-masing bola tersebut. Isinya adalah kamar mereka, menggantung seperti kepompong berbunga, begitu turun dari ranting dengan menuruni tangga tali tersebut tersedia sebuah kasur besar dan pintu lain yang mungkin berisi kamar mandi. Belum puas sedari tadi Mala mengangumi keindahan kota tersebut. Bahkan sekarang hotel bertemakan kepompong di pohon ini juga begitu membuatnya terkesima. Ini benar-benar keren. . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN