Dari luar kelopak bunga yang kini ditidurinya, mungkin bisa saja dia patah tulang jika berniat untuk melompat dari sini. Setinggi itu, saat pertama kali membuka pintu kamar dari kelopak bunga. Tenang, bukan serpihan bunga yang akan begitu mudah lepas dan hancur karena disentuh.
Kelopak tersebut sama berukuran raksasa dan semakin tebal pula permukaannya. Yang dia rasakan selama menginap di hotel ini adalah pengalaman luar biasa yang mungkin hanya terjadi sekali. Kamar itu berisi sebuah kasur ukuran sedang yang cukup luas untuk sendiri, lalu ditambah lemari dan nakas. Memenuhi ruangan kecil dan nyaman tersebut.
Dia mungkin tidak bisa melihat keluar kamar seperti apa, tetapi dari bayangan dinding tebal tersebut titik-titik cahaya kekuningan seolah mengerubunginya, lebih tepatnya sang kamar. Bisa dipastikan itu pasti kunang-kunang yang sedang bercahaya, bergerombol membuat sinar yang dihasilkan semakin terang dan ramai. Ingin saja dia melihat semua itu, tetapi tubuhnya kemarin menolak karena langsung pulas tertidur begitu menyentuh kasur.
Namun, cahaya hangat di luar sana membentuk ruang penuh kekilauan yang tidak kalah cantik. Dilihat dari luar saja sudah bisa dia bayangkan bagaimana pemandangan di luar dinding tersebut. Apalagi aslinya, pasti lebih cantik. Mungkin dia bisa mengajak Sena lain kali untuk menikmati malam di kota ini dengan penuh kunang-kunang.
"Itu pasti menyenangkan," gumamnya mengusak mata dan membereskan kamar, sebelum membuka kelopak-kelopak bunga yang menjadi dinding serta pintu masuk.
Bukan cahaya kunang-kunang yang menyambutnya, melainkan sang surya yang langsung menyorot menerpa kulit sawo matang milik gadis itu. Begitu Mala menapaki kaki jenjangnya pada tangga bertali, tangannya melirik kamar lain yang seharusnya menjadi kamar tidur lelaki itu. Namun, belum ada tanda-tanda kehidupan dari sana.
Oleh karena itu, Mala menghabiskan waktunya dengan terduduk di atas ranting kamarnya, menikmati hangatnya mentari pagi yang menyambut serta pemandangan kota dari atas sana. Jauh di bawah sana bangunan kotak yang memanjang ke belakang itu terlihat begitu kecil dari atas sini. Dia juga melihat bagaimana pemukiman warna yang menjadi seperti kue dibalik, orang-orang selayaknya semut mulai keluar dari sarang dan melakukan aktivitasnya.
"Selamat pagi, Mala," sapa seseorang yang otomatis membuat kepalanya menoleh. Sena dengan senyum lebar menyapa lengkap dengan wajah khas orang bangun tidur.
Bukan hanya itu, lelaki itu ikut mendudukkan diri di sampingnya. Mereka menikmati kehangatan pagi tanpa ada pembicaraan lebih lanjut. Saling diam, tetapi merasa nyaman satu sama lain. Seolah dengan begitu, mereka tidak butuh tempat tinggal yang mewah, harta berlian, ataupun makanan yang super enak. Tidak untuk semua itu, karena yang utama adalah orang di sampingnya.
Ke mana pun, di mana, dan bagaimana keadaannya jika itu bersama Sena, dia mau-mau saja. Karena lelaki itu benar-benar akan menemani perjalanannya tanpa rasa bosan, selalu saja ada hal yang membuatnya tertawa, tersenyum. Semua ketegangan mencari dengan perlahan.
Saat menoleh mata lain ikut menatap. Membiarkan pertemuan itu berlangsung lebih lama dengan kurva bibir yang terangkat, menular. Kehangatan itu tidak hanya terasa menerpa kulit, tetapi Mala rasakan sesuatu menggumpal hangat di dadanya.
"Ayo kita berkeliling," ajak Sena mulai beranjak kala matahari sudah mulai meninggi juga. Mereka tanpa terasa menghabiskan banyak waktu dengan hanya duduk-duduk saja.
Dia mengangguk itu berdiri menerima uluran tangan dari sang lawan bicara dengan senang hati. Mereka menuju lift pada batang pohon, seperti sebelumnya ada yang berjaga di dalamnya, mengantarkan mereka ke lantai bawah dan mulai menikmati hari baru di kota baru.
. . .
Sapaan lain mereka terima begitu berbaur dengan sekitar. Selain bola-bola cahaya yang akan ditemukan selalu menyala kapan pun. Jajaran para penjual menjajakan barang dagangannya.
Sena berkata mereka juga butuh amunisi, tetapi tidak sekarang. Karena lelaki itu telah menetapkan untuk sementara waktu lebih lama bersama Drabollis. Tidak disangka-sangka perjalanannya ini menjadi hal yang paling dia suka, kini keduanya tengah menonton pertunjukkan yang menampilkan sebuah drama kecil.
Orang-orang berkumpul, terduduk di jalanan yang bersih itu. Kilau cahayanya, perlahan membuat Mala terbiasa, tetapi bukan itu intinya. Seekor domba terpisah dari teman-temannya, karena asyik makan rumput sampai sore menjelang. Begitu melihat sekitar dia tidak menemukan siapa pun di sana, kecuali dirinya seorang diri.
Sang domba mulai ketakutan, dia berlari ke sana-kemari, bukannya bertemu dengan keluarga dan temannya, tetapi dia semakin melangkah jauh. Dimulailah perjalanan putus asa dari si anak domba, semuanya terasa membosankan. Sampai dia bertemu seorang domba lainnya, domba kecil sangat senang.
Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, hingga sang domba kecil sampai di kawanannya kembali. Domba kecil itu mengajak temannya untuk ikut bergabung, tetapi ditolak. Domba kecil yang sedih dihibur para temannya, dalam malam yang larut itu sang makhluk berbulu putih tersebut tidak tahu sesuatu yang mengerikan terjadi.
Kelopak matanya membuka dengan bercak darah, begitu melihat sekitar sabana hijau yang menjadi tempat mereka kemarin bertemu dan bercanda tawa kini penuh dengan lautan merah. Seseorang datang dari kejauhan, domba kecil senang karena temannya datang. Dia pikir dia tidak sendirian lagi.
Namun, domba di hadapannya melepas topeng, berwujud makhluk berburu lainnya. Seekor serigala, dengan ujung bibir penuh darah. Sang domba kecil tidak tahu ternyata selama ini dia dijadikan pancingan agar si serigala bisa menyantap begitu banyak makhluk selembut kapas itu.
Seseorang yang dia anggap teman, ternyata berkhianat. Domba kecil merasa bersalah karena dirinya yang membawa domba berbulu serigala itu masuk bertemu dengan kawanannya.
"Selesai," pungkas sang pencerita di depan sana. Riuh tepuk tangan menyambut, dan Mala menjadi salah seorang yang ikut melakukan hal serupa.
Kisah itu mungkin hanya sepele hanya berisi seekor domba yang hilang dan bertemu dengan hewan sejenisnya yang menyamar. Namun, isi pesannya dapat Mala tangkap dengan baik, ekor mata cokelat tersebut melirik ke samping.
Benar, Sena. Dia bukan domba yang akan berubah menjadi serigala. "Tidak usah dipikirkan. Itu hanya hiburan, bagaimana dengan makan gulali?" tawar lelaki itu tiba-tiba menyahuti pikirannya yang sedang berisik.
Tanpa bicara mungkin sedikit banyak mereka sudah saling mengerti. Perjalanan membawakan mereka untuk saling belajar memahami tanpa diminta. Karena partner yang selalu ada perlu paham seperti apa orang di sebelahnya, begitu istilah keren yang terlintas di benak Mala.
Mereka menghabiskan banyak waktu dengan mencicipi makanan pasar dan berkeliling kota tersebut. Setidaknya sekitaran pasar itu karena dekat dengan penginapan. Dia tidak akan kesasar jika pergi sendirian, Mala ingat bagian-bagian yang dilewatinya hari ini.
Termasuk bagian bagaimana tawa merekah orang di sampingnya saat menanggapi salah satu peri paruh baya hingga mereka menghabiskan banyak waktu. Mala selalu suka dan akan mengingat baik-baik bagian yang tidak pernah terlewatinya itu.
. . .