Pagi berikutnya, mereka memulai hari seolah sudah menjadi bagian dari warga kota ini. Mala akui sendiri, mereka diterima dengan baik, dan Drabollis tempat yang nyaman.
Mungkin untuk beberapa waktu ke depan, seperti kata Sena mereka akan menetap di sini sementara. Perjalanan penuh hambatan dan segala hal lainnya, cukup menguras energi, apalagi berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Gadis itu setuju untuk menunda lebih dahulu keberangkatan mereka ke kota berikutnya.
Hangatnya mentari juga dia rasakan bersamaan kelap-kelip cahaya dari kunang-kunang yang beterbangan. Seolah sayap kecil itu tidak pernah lelah mau pagi ataupun malam tetap berkeliaran. "Sarapan?" tanya Sena berjalan mendahuluinya, memasuki lift yang langsung disusul Mala.
Mereka turun dari pohon raksasa yang menjelma menjadi penginapan itu, memilih salah satu restoran terdekat. Menu di sini biasanya makanan berkuah kental, memiliki cita rasa gurih dan manis di saat bersamaan. Tampaknya Sena sangat menikmati kari yang disajikan.
Mereka sebelumnya makan di sekitaran pasar, setelah puas berkeliling memilih salah satu restoran yang ada di sana. Namun, kini keduanya hanya berjalan sebentar, masuk ke restoran terdekat sebelum memulai kegiatan lainnya. "Har-rusnya ki-ta dari kemarin ke sin-i." Racauan tidak jelas entah apa yang lelaki itu ucapkan, tetapi Mala bisa menangkap dengan benar apa yang diucapkan partnernya.
Memang benar makanan di sini tidak kalah enak, apalagi yang paling Mala suka adalah salah satu lapisan roti tipis mirip kebab yang berisi jagung dan kentang. Potongan kentangnya besar-besar, mereka dikukus sebelum dipanggang, dalamnya lembut juga saus krim putih yang berasal dari s**u. Itu bisa menjadi salah satu makanan favoritnya.
"Ya, kurasa kita tidak perlu jauh-jauh mencari restoran ke pasar. Kalau ada yang dekat dan enak," balas Mala disetujui dengan semangat oleh Sena yang mengangguk-angguk dengan mulut penuh suapan nasi dan kari.
Telur dadar tebal, yang mungkin beberapa lapisan dibalur dengan saus kari cokelat kental, sedikit masam dan asin, diletakkan di atas nasi. Porsinya besar, satu mangkuk penuh, kalau dia yang memakannya sudah pasti tidak akan pernah habis sendiri.
Beruntung Sena memang memiliki tenaga dan nafsu makan yang sama-sama besar. Lelaki itu bisa makan beberapa porsi seolah hanya makan satu kali. Namun, gadis itu juga diam-diam senang karena hanya dengan menatapnya, melihat dia makan lahap itu juga melebarkan senyum tanpa sadar.
Mereka kembali memasuki pasar, kata Sena ada sebuah barang yang ingin dia beli atau lebih tepatnya dia ambil. Lelaki jangkung itu mengatakan akan mengambil barang pesanannya, entah kapan dia memesan. Mungkin saat mereka sempat terpisah di sini, padahal tidak lama. Namun, mau bagaimanapun dia tetap menuruti ke mana langkah Sena membawanya.
Sebuah pintu kayu yang berdempetan satu sama lain, jarak antarbangunannya tidak lebih dari tiga meter. Bangunan kecil dan padat, sepanjang jalan yang Mala ketahui berisi jajaran toko-toko, Sena masuk ke salah satunya. Sebuah papan dengan nama yang sudah luntur, entah terbaca apa yang jelas ada sebuah simbol pedang dan perisai.
Begitu memasuki tempat tersebut Mala bisa tahu itu toko apa. Toko peralatan senjata, ada macam-macam di sini bagian kiri terisi berbagai jenis pedang yang digantung, juga di bawahnya pada etalase bening berisi senjata serupa. Dia sempat kagum, bukan berarti Mala tidak pernah melihat pedang.
Waktu kecil dia ingat benar pernah mengunjungi salah satu museum di mana pedang tersebut dipisahkan oleh etalase dan meja khusus yang cantik berwarna emas. Bentuknya juga tidak kalah rupawan, meskipun berbeda jauh dengan yang ada di sini. Terkesan simpel, ada beberapa yang berpakaian menarik, juga gagang pedang yang bentuknya berupa-berupa.
Setahunya Sena menyimpan sebuah pedang, lelaki itu selalu membawa tas serut yang isinya tidak banyak. Salah satunya pedang berwarna hitam kelam, memangnya lelaki itu mau membeli pedang lagi? Meskipun belum pasti, sih, karena toko ini berisi berbagai macam senjata lain dari mulai panas, ada juga perisai dan jirah, gada, semacamnya.
Mala tidak terlalu mengerti, lagi pula di dunia aslinya senjata seperti ini hanya ada di game. "Yo, Kawan! Kau mau mengambil pesanan?" Sapaan dari seorang lelaki berambut panjang hingga pinggang, tetapi dia mengikat rambutnya asal ke bawah. Terlihat cukup ramah dan akrab dengan Sena.
"Tentu, apakah pesananku sudah jadi?" Sena berbalik bertanya, nadanya terdengar antusias membuat Mala bertanya-tanya memang barang apa yang dipesan? Jarang sekali lelaki itu begitu antusias akan barang-barang.
"Nah, lihatlah sendiri!" tunjuk sang penjaga toko mengeluarkan sebuah bungkusan, tidak besar dan panjang jika untuk ukuran pedang. Dia tidak tahu itu apa, tetapi Sena langsung mengacungkan jempol tanda puas melihat barang tersebut.
"Oh, halo Nona Manis! Apakah dia temanmu Sena?" Disapa penjaga toko tersebut membuat dia agak terkejut, gadis itu hanya mampu melambaikan tangan kaku. Yang malah mendapat respons kekehan dari sang partner.
"Ya, dia partner perjalananku. Namanya Mala. Mala kenalkan ini Jofvli," kata Sena balas mengenalkan mereka.
Keduanya bersalaman sesaat, Mala ikut berbicara sesaat sebelum pembicaraan dua orang itu semakin tidak dia mengerti. Dia hanya melihat-lihat toko yang terlihat begitu menarik dengan banyak barang di dalamnya, padahal kalau dilihat dari luar ukurannya begitu sempit dan tidak muat banyak.
Siapa sangka dalamnya rapi dan tertata dengan banyak barang. Selesai pembicaraan dan pembayaran mereka keluar dari toko tersebut, Sena mengajaknya ke bank untuk menukarkan uang. Lelaki itu berkata memiliki beberapa permata yang bisa dijual. Mala bahkan sampai dibuat terkejut mendengarnya. Permata? Berlian? Yang benar saja!
Dia memang sering melihat keluarganya memesan emas, dan permata, tetapi melihat benda tersebut yang masih utuh belum dipoles itu berbeda. Beberapa permata berwarna biru dan ungu cerah, bentuknya bermacam-macam dari mulai seperti kerucut ataupun bulatan.
Mala tidak tahu pasti berapa harga yang permata tersebut. Hanya saja dia tahu cukup mahal sampai kantung uang yang diberikan pelayan bank terlihat berisi. "Apa tidak apa-apa menjual permata tersebut? Bukankah itu barang berharga?" Mala ragu-ragu, takutnya selama ini dia terlalu membebani Sena, sampai lelaki itu menjual harta berharganya.
"Aku banyak mendapat permata seperti ini saat perjalanan. Memang untuk dijual karena aku sama sekali tidak memakainya," jawabnya enteng.
Padahal gadis itu sudah berburuk sangka duluan. Mungkin karena adanya dia pengeluaran mereka menjadi begitu besar. "Oh, ya Mala aku ada sesuatu untukmu," celetuk Sena. Lelaki itu memberikan bungkusan yang tadi dia beli di toko senjata.
Dengan persetujuannya, Mala membuka bungkusan tersebut. Terlihat sebuah pisau yang cukup panjang sekitar 30 cm, berwarna putih, ujung gagangnya terdapat permata berwarna biru yang cantik. "Untukmu. Untuk berjaga-jaga."
. . .