Tidak Aman

1025 Kata
Mala mengernyit bingung, untuk apa Sena memberi dia senjata? Pisau panjang itu tajam, mungkin bisa menembus kulit jika menusuknya dengan tenaga. Gadis itu jadi bergidik sendiri membayangkan semua imajinasinya yang mulai liar. Seolah mengerti raut wajah sang partner yang seolah bertanya 'untuk apa?', Sena berbisik, "Untuk berjaga-jaga, kurasa itu perlu." Tatapannya awas pada sekitar, Mala melirik ke arah yang sama. Mungkin pandangannya mengenai kota ini beberapa hari yang lalu akan terpatahkan dengan cepat. Namun, dia berharap tidak akan ada masalah berarti, seperti kata Sena hanya untuk berjaga-jaga. Dia mengangguk, menyimpan pisau itu di samping sabuk pinggang, dibuat menggantung di sana. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Berniat menuju taman Cahaya, yang terkenal sejuk dan menenangkan. Para peri dan pengunjung lain saat berada di taman itu jarang ada yang berisik, obrolan ringan, dan tawa kecil yang terdengar. Semua seakan mencoba menyesuaikan dengan suasana tenang yang mendominasi, tidak ingin merusaknya. "Mau?" tawar gadis berambut cokelat tersebut, menyodorkan sebuah roti yang tadi sempat dia beli saat di pasar. Tanpa membalas lewat suara, tangan lain mengambil roti tersebut. Memakannya perlahan, mereka sama-sama menatap air mancur di depannya, melihat bagaimana anak kecil yang berlarian, ataupun keluarga-keluarga kecil yang berkumpul. Terlihat begitu bahagia, sedikit memunculkan rasa iri padanya, tidak ... mungkin memang dia juga merindukan apa yang disebut keluarga. Jika saja mereka bisa pergi ke taman bersama. Sekadar berpiknik sederhana, dengan sandwich, beberapa potongan sosis bakar, ataupun daging, terlihat begitu menyenangkan ditambah menggelar tikar di rumput tipis hijau yang menggelitik kaki. "Mala!" Gadis itu tersentak saat merasakan bahunya diguncangkan, menatap si pelaku dengan bingung. "Kau sedang memikirkan apa? Dari tadi aku mengajakmu bicara. Ada sesuatu yang menganggu?" Rentetan pertanyaan Sena, dia jawab dengan gelengan. Memang ada sesuatu yang dia pikirkan, tetapi itu tidak menganggu sama sekali. Hanya saja dia belum siap bercerita kepada siapa pun mengenai keinginan kecilnya ini, dan Sena pun terlihat mengerti. "Cerita saat ingin bercerita saja," pesannya mendapat jawaban anggukan. Satu dari banyak hal yang dia suka dari Sena, lelaki itu tidak pernah memaksanya untuk terlihat baik-baik saja, tak apa sekalipun menangis tersedu-sedu. Tidak pula memaksanya untuk bercerita mengenai berbagai macam masalah yang terjadi, jika diam bisa menjadi ketenangan untuk mereka berdua. Mereka tahu caranya, tidak saling memaksakan. Toh dengan mengalir sendiri pun banyak hal yang mereka bisa bagi. Salah satunya cerita bagaimana Sena menghindari keluarganya, mungkin terkesan hal yang buruk meskipun tidak begitu. Lelaki itu tidak terlalu suka segala macam aturan, harus menjadi ini dan itu, tanpa diri sendirinya ingin. Maka dari itu pilihan dari semua jawaban adalah menjadi seorang pengembara. Berjalan dengan bebas, mengelilingi banyak tempat, bertemu banyak orang, dan pengalaman baru. Sena menularkan itu padanya, bukan karena kekangan dan aturan, tetapi mereka cukup mirip. Keluarganya tidak cukup ramah untuk dia bisa menjadi dirinya sendiri. Maka dari itu jiwa-jiwa yang asing ini mencoba saling memahami dan berjelajah. Berharap dengan pergi, berjalan-jalan jauh menemukan apa yang sebenarnya keduanya cari. "Kalau begitu bagaimana kalau kita pulang lebih cepat? Sepertinya kau sudah lelah." Ajakan itu disetujui dengan cepat, pikiran Mala berseleweran ke sana-kemari, tidak akan bagus jika terus dilanjutkan juga. Kasihan Sena, lelaki itu jadi kurang diperhatikan. . . . "Hei kalian! Berhenti di sana!!" teriak salah satu orang asing, Mala tidak kenal siapa orang yang berteriak kepada mereka. Rautnya terlihat marah, seolah akan murka membuat dia waswas. Sebelum tangannya ditarik kencang oleh Sena, lelaki itu mengajaknya berlari. Entah ke mana, tetapi mereka menyelinap di antara bangunan rumah, pada gang-gang sempit, dan jalanan lebar. Sialnya tempat yang mereka kini sambangi sedang sepi, orang yang berlalu-lalang sama sekali tidak ada. Mala ingin berteriak meminta tolong pada siapa saja, tetapi pacu jantungnya yang berisik membuat bibir kelu. Sama sekali tidak mengeluarkan suara selain deru napas yang memburu. Seseorang masih mengejar mereka di belakang, sebuah senjata berbentuk parang teracung di tangannya. Sumpah dia tidak tahu apa salah mereka. Dia sendiri tidak merasa melakukan kesalahan fatal selama di Drabollis, sampai dikejar-kejar orang seperti ini. Makin tidak bisa dimengerti. Saat persimpangan empat di hadapan mereka terlihat, Sena menarik tangannya ke kanan. Mereka berlari sesaat sebelum kaki lelaki itu menukik tajam memeluknya yang menjatuhkan diri sendiri ke belakang saat mereka baru berbelok berlari beberapa langkah. Mulutnya dibekap agar tidak bersuara, terdengar derap langkah kaki yang makin mendekat. Sama cepatnya, berlari seperti mereka. Namun, berhenti di belokan kanan yang mereka ambil, Mala intip mata elang seseorang berpostur dan berwajah tegas itu sedang menjelajahi sekitar. Tubuhnya bergetar, meringkuk ketakutan pada d**a Sena. Lelaki itu belum menjelaskan apa yang terjadi, dan Mala sendiri tidak dapat menangkap apa maksud kejadian ini. Dia masih menggigil di pelukan partnernya. Mulutnya dibekap tangan kekar Sena, sementara tubuh mereka berdempetan sebuah dinding yang terpisah sedikit di antara rumah-rumah. Mereka bersembunyi di sana saat baru berbelok ke kanan dari persimpangan. Baru setelah beberapa saat suara langkah kaki yang tertahan itu pergi menjauh, cukup jauh sampai terdengar suara orang berlari yang makin mengecil. Lengan kekar itu turun, tetapi tarikan tangan dan posisi merek masih saja sama. "Mereka mungkin akan datang lagi. Tidak hanya satu orang," bisik Sena tepat di telinganya. Dia bergeming cukup lama, mencoba menangkap maksud sang partner. Alarm bahaya berbunyi nyari di dalam kepalanya, mereka dalam bahaya, 'kan?!! Tatapan matanya berubah tajam, meskipun ada ketakutan di sana. Menatap sepasang safir di belakangnya. Setelah benar-benar merasa aman, Sena melonggarkan cekalan tangan dan membenarkan posisi. Di gang sempit itu mereka berdiam diri lebih lama. "Yang kudengar ada beberapa komplotan yang tidak suka kedatangan petualang, dan bisa berbahaya jika berkontak dengan mereka langsung," ungkap Sena berhasil membuat Mala membulatkan matanya terkejut. "Petualang? Bukankah wajar jika kotanya kedatangan pengembara yang singgah," tanya Mala heran sendiri, masih tidak percaya dan tak mengerti hal yang dikatakan Sena. "Berbeda, pengembara mungkin orang yang nomaden atau saudagar yang berdagang ke berbagai tempat. Ada sebutan petualang untuk mereka yang memiliki senjata dan mengembara, tetapi tidak masuk militer negeri seperti kesatria," jawab Sena membuat Mala tertegun cukup lama, mencoba memahami semua yang lelaki itu katakan. "Ya, banyak yang iri, merasa terganggu karena ada orang asing yang datang ke kotanya membawa senjata, dan sebagainya. Mungkin mereka bagian dari orang-orang itu," pungkasnya mendapat anggukan paham. Berarti sekarang mereka tidak aman. Ternyata berlama-lama menetap di satu kota untuk pengembara seperti mereka sangat tidak disarankan. Berbahaya. . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN