Firasatnya benar. Belum lama mereka berjalan untuk sampai ke penginapan, ada beberapa orang yang berdiri di bangunan kecil tersebut. Langkah keduanya terhenti, berputar arah.
Tanpa ada kompromi khusus, mereka tahu kalau harus segera pergi dari tempat itu. Maka setelah balik badan, langkahnya semakin cepat meninggalkan tempat penginapan dengan waswas. Takut-takut ada yang mengejar mereka.
"Kita bertemu di restoran pertama," kata Sena yang melihat ada seseorang di depan tengah mengamati sekitar. Pasti partnernya berpikir mungkin orang itu salah satu bagian dari mereka.
Dia hanya mengangguk, sebelum berjalan dengan arah berlawanan. Restoran pertama, tempat makan yang mereka kunjungi saat baru sampai di tempat ini. Mala tidak lupa, mereka sudah mengelilingi pasar untuk ke sekian kalinya meskipun baru beberapa hari di sini. Tangannya refleks memegang pisau panjang yang tersampir di pinggang kanannya.
Diam-diam menghembuskan nafas lega, senjatanya ada. Dia aman untuk sementara, dilihat sedari tadi tidak ada orang yang seperti mengikuti atau menguntit. Mala sampai dengan mulus ke restoran tersebut, memilih bangku paling pojok dan hanya memesan segelas air. Lagi pula siapa yang bisa makan di keadaan seperti ini?
Tidak ada, gadis itu dengan harap-harap cemas menantikan sang partner datang menemuinya. Entahlah, firasatnya tidak begitu baik. Namun, tentu Mala berdoa yang terbaik agar Sena bisa menemuinya dengan keadaan selamat.
Terkadang dia kesal, tidak cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri. Buktinya Sena harus menjadi umpan setiap ada bahaya agar dia bisa lolos, tetapi bukan itu yang gadis tersebut harapkan. Apanya yang berjuang bersama? Kalau kenyataan malah menampilkan Sena saja yang berjuang.
Tidak adil untuk lelaki itu. Sibuk dengan pikirannya, Mala meneguk gelasnya kuat hingga tak tersisa air di sana. Matanya terkejut saat menemukan seseorang yang tak asing, lelaki yang mencegat mereka saat pulang dari taman, dan orang itu sekarang ada di sini. Sebagian dari dirinya ketakutan, tetapi Mala sudah berjanji untuk tidak selalu membebankan.
Sena mungkin mendapatkan lebih banyak lawan, dia bangkit menuju meja kasir dan membayar pesanan. Rambutnya yang diikat, terlepas dengan sengaja, menutupi sebagian wajah dan mencoba untuk berlalu dari sana, tanpa disadari orang tersebut.
Terus-terusan menunduk sampai keluar dari restoran. Bagaimana caranya dia memberitahu Sena kalau Mala tidak lagi berada di tempat yang sama? Seperti perjanjian awal mereka. Gadis itu memang memikirkan sesuatu, tetapi yang lebih penting sekarang adalah lari dari lelaki yang mengejarnya ini.
"Nona, kau meninggalkan sesuatu!" panggil seseorang yang asing baginya. Meski begitu Mala tidak menoleh, dengan rambut yang menutupi sebagian wajah dia menegakkan kepalanya.
"Tidak ada, Tuan. Anda mungkin salah orang, tidak ada barang saya yang tertinggal. Terima kasih," balas Mala menundukkan sedikit kepala sebelum berjalan cepat pergi dari sana.
Tidak melirik ataupun bersitatap dengan orang tersebut. Gadis itu hanya menjawab sambil memunggungi, tidak ada niatan untuk berbalik. Karena setelah dua dialog tersebut, dia memutuskan pembicaraan dan pergi. Sebelum lelaki gila yang pasti menyimpan senjata dibawanya itu menyadari bahwa mungkin Malalah yang dia cari.
"Semoga Sena tahu maksudku," gumam Mala berbelok memasuki gang, berjalan terus terhimpit rumah dan toko. Sampai kakinya berhenti, memilih duduk di antara permukaan kasar semen yang dipolester.
Tempat ini menjadi sumber kegelisahan awal dia datang ke kota cahaya, dan Sena meyakinkannya banyak hal. Maka dari itu tidak ada alasan untuk Mala tidak percaya dan yakin lelaki tersebut akan mendatanginya.
. . .
Begitu melihat seseoran yang mencurigakan dia segera harus melakukan antispasi. Kepalanya tertoleh sekali lagi, memastikan gadis itu benar-benar pergi. Pandangannya menelisik semua yang ada di sana, menemukan seseorang yang seperti bersembunyi di antara orang yang berlalu lalang.
"Mereka mengincar kami sampai segitunya. Pasti ada alasan di balik semua ini, tidak hanya ketidaksukaan kepada orang yang bukan pribumi saja." Sena berspesikulasi.
Seseorang yang mengamati sekitar itu seolah kehilangan jejak karena dia sendiri memilih untuk menyatu dengan orang yang berlalu lalang lain. "Pak, saya ingin buah apelnya satu keranjang ya," pesan Sena. Lelaki itu berdiri di salah satu stand yang ada di sana.
Sekantung apel merah dia dapatkan. Entahlah membeli untuk apa, tentu yang pertama untuk pengalihan saja. Dia berjalan dengan cepat sambil memeluk buah-buah apel di dalam genggaman. Merasa mungkin tidak hanya dirinya yang merasa waswas. Sena sekarang lebih khawatir bagaimana keadaan Mala, dia meninggalkan gadis itu sendiri ke suatu tempat.
Ini sudah pilihan yang benar. Jika tidak menjadikan dirinya umpan, mungkin saja orang-orang yang mengincar mereka sudah mengepung sedari tadi. Saat langkah tergesa itu menoleh ke belakang, tepat bertabrakan dengan mata tajam lain.
"Gotcha!"
Itu yang Sena dengar sebelum berlari membawa apel di pelukannya. Dia menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya sambil sesekali menggumamkan kata maaf.
"Jangan lari, berhenti di situ b******n kecil!" seru seseorang yang sama sekali tidak Sena gubris.
Enak saja apa tadi panggilannya? b******n kecil? Sepertinya orang tersebut yang bermasalah. Tubuh semampai Sena tidak bisa dibilang kecil, dia terlihat cukup kokoh dan terampil dalam banyak hal.
Begitu jarak di antara mereka semakin menipis. Sena sengaja menabrak seorang pedagang yang sedang mendorong gerobaknya. "Maaf, Pak tidak sengaja!" teriak Sena berlari setelah mengutarakan maaf yang tidak seberapa.
Gerobak yang asalnya berjalan di depan itu menjadi terhenti, ada beberapa barang yang tercecer karena guncangan dari tabrakan tadi. Sang pedagang membereskan barang dagangannya segera. Sampai seseorang yang sedang berlari kembali menyenggolnya dengan tergesa. "Minggir kau, Pak Tua!"
"Cih, orang zaman sekarang tidak tahu caranya menghormati yang lebih tua," gerutu pedagang tersebut bangkit dengan beberapa bahan dagangannya yang sempat terjatuh.
Tadi dia tertabrak remaja yang sedang berlari seperti dikejar setan. Sekarang bertambah pula dengan lagi-lagi ditabrak oleh seseorang yang lebih tua dari sebelumnya, seolah sedang mengejar sesuatu yang penting. Namun, masa bodoh dengan semua itu tidak ada artinya untuk seorang pedagang seperti dia.
"Mungkin dua orang itu sedang main kejar-kejaran." Bahunya menggidik tak acuh sebelum kembali mendorong gerobak tersebut.
Memang benar apa yang dipikirkan pedagang tadi. Mereka sedang kejar-kejaran bukan main, mungkin saja nyawanya yang ditaruhkan di sini. Begitu pandangannya menemukan lelaki sialan yang masih gigih mengejarnya, Sena melemparkan semua buah apel dalam pelukannya ke belakang. Sehingga isinya berhamburan keluar dan tercecer berantakan.
Orang-orang terhenti begitu salah satu buahnya menggelinding di kaki mereka. Sementara orang yang mengejarnya sudah hampir terjatuh menginjak buah apel tersebut saat hendak meraih bahu seseorang yang diincarnya. Dengan sangat kesal, satu sentakan dan gesekan di kaki buah apel dihancurkannya begitu saja.
Berjalan dengan wajah murka. Serasa dipermainkan. Mungkin ke depannya akan lebih sulit bagi Sena. Lelaki itu hanya berharap di tengah pengkaburannya dia bisa menepati janji pada sang partner untuk bertemu.
. . .