Kehancuran Mimpi

1889 Kata

Seminggu sudah sejak kejadian itu, tetapi Sena masih kepikiran. Apakah perkataannya keterlaluan, ya? Apalagi mengingat perkataan terakhir Mala. Sena tidak enak hati, meski terlambat dia berniat untuk meminta maaf. Teringat pesan ibunya, kalau lelaki tidak boleh menyakiti hati seorang perempuan, karena sama saja menyakiti hati seorang ibu. Menyakiti hati ibunya, tentu saja Sena tidak mau. Dia bangkit, berjalan meninggalkan kantin dan teman-temannya yang sedang menongkrong, hendak mencari gadis itu. "Sen, mau ke mana?" tanya Salsa heran dengan Sena yang tiba-tiba pergi. "Cari angin," balas Sena sekenanya. Bisa panjang urusannya kalau dia berterus terang dengan Salsa, gadis itu terlalu kepo. Segera Dev melarikan diri daripada ditanya-tanya lagi. "Ih, Sen kenapa, sih? Dari kemarin sikapn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN