Saudara

1030 Kata

Kemeja putih dengan balutan rompi berwarna cokelat cerah, beberapa perhiasan menjadi pemanis yang mencolok. Sama seperti warna rambutnya yang tidak jauh berbeda, begitu visual tampan itu berkaca, terlihat pas. Namun, sesuatu telah hilang di sana. Kehangatan, meski senyum itu masih berlanjut. Itu hanya berlaku jika dia sedang berhadapan dengan orang lain, tidak di saat-saat sendirian. Setelah selesai bersiap, segera melangkah untuk menghadap seseorang. "Maaf, tunggu aku sebentar lagi." Gumanan pelan itu mungkin tak terdengar oleh orang lain, lelaki tersebut terus berjalan cepat menuju sebuah pintu besar. Kedua penjaga yang berada di kiri kanan pintu kemudian mengumumkan kehadirannya. "Masuk!" Sebuah suara menjawab juga bertepatan dengan pintu yang terbuka di waktu yang sama. "Saya meng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN