Aku benar-benar mengira kalau mereka berdua pergi dan meninggalkanku sendirian di sini. Namun, anggapanku terpatahkan ketika aku mencari di bengkel. Rupanya mereka berdua tengah berada di bengkel bersama seorang pria berambut hitam sama seperti Ishirou, meskipun wajahnya jelas menunjukan kalau dia bukan berasal dari Asia. Aku menebak, kalau kemunginan besar dia berasal dari timur tengah.
Aku mendekati mereka, dan melihat-lihat apa sebenarnya yang tengah mereka lakukan dengan mobil tua yang tampak berkarat ini.
“Aku benar-benar berpikir kalau kalian pergi tanpa memberitahuku.”
“Kenapa aku harus pergi? Itu apartemenku,” sahut Ishirou dengan aksennya yang unik. Aku bisa menebak kalau dia berasal dari Jepang hanya dari namanya. Tak banyak yang kuketahui tentanng pria itu. Namun yang jelas, dia meminjamiku sebuah kaos oblong putih bertuliskan huruf kanji. Aku tak tahu sama sekali apa artinya, tapi ... siapa peduli, lagipula seandainya arti dari tulisan ini cukup konyol, tak banyak orang di sini yang paham cara membaca huruf kanji. Selain kaos, Ishirou juga meminjamiku sebuah celana hitam yang lumayan longgar. Ini jauh lebih baik daripada menggunakan gaunku.
“Entahlah, aku hanya berasumsi,” jawabku. Aku lupa kalau ada seseorang lagi yang saat ini bersama kita. Dia tengah sibuk mengelas, dan begitu menurunkan pelindung wajah, dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya, kemudian dia kembali melanjutkan kegiatannya mengelas.
“Kau sudah menemukan apa yang kau mau?” tanyaku pada Hayden.
“Ya, aku mendapatkan sebuah alamat sekaligus nomor telpon tempat kerjanya. Lusa aku akan ke sana.” Terdengar bagus, itu berarti sekarang giliranku untuk meminta bantuan Ishirou.
Sekitar pertengahan hari, ketika kami memutuskan untuk meninggalkan bengkel dan kembali ke apartemen Ishirou, aku mulai menyusun kalimat yang tepat untuk meminta bantuannya, sekaligus tawaran apa yang akan kuberikan padanya.
Saat ini Ishirou tengah duduk di depan layar komputernya. Fokus dan tampak enggan untuk diganggu oleh siapapun, sementara Hayden, aku tak yakin kalau dia mau membantuku menanyakan permintaanku pada Ishirou. Dia sedang sibuk menelpon saat ini. Kurasa dia tengah dikejar deadline untuk segera mendapatkan berita. Wajar saja, itu adalah pekerjaan seorang reporter.
“Aku berinfestasi banyak untuk berita ini! Jangan pernah remehkan aku!” Suara Hayden terdengar lantang. Wajahnya tampak kesal dengan tangan yang diletakkan di keningnya. “Percayakan padaku, aku yakin dengan berita yang kudapatkan, FORS akan mendapatkan sorotan lebih.” Kurasa ini ada hubungannya dengan informasi yang ia cari mengenai Frei Tech dan Jeff Company. Aku penasaran, sebenarnya apa alasan yang meatarbelakanginya sampai-sampai terobsesi untuk mengulik dua perusahaan besar itu?
“Beri aku waktu satu minggu lagi.” Hayden mengusap wajahnya dengan geram. “Ya, aku janji akan selesaikan dalam waktu satu minggu.”
Aku mengalihkan pandangan begitu Hayden menoleh. Kurasa sejak tadi dia tahu kalau aku mengamati, sekaligus mendengarkan pembicaraanya di telepon.
Aku memberanikan diri mendekat ke arah Ishirou untuk meminta bantuannya. Berdiri di belakangnya, dan melihatnya tengah mengerjakan sesuatu. Wajahnya tampak begitu serius.
“Kau sudah selesai dengan Hayden?” tanyaku membuang rasa raguku untuk memulai percakapan dengannya.
“Ya, bukankah Hayden sudah memberitahumu?”
“Aku butuh bantuanmu untuk mencari seseorang.”
“Kau juga?” Isirou menghentikan jemarinya di atas keyboard, dan menengok ke arahku. Aku mengangguk sembari sedikit tersenyum.
“Berapa yang kau tawarkan?”
“Aku akan memberikanmu gelangku jika kau membuatku bertemu ibuku. Hanya setelah aku bertemu ibuku.”
“Bagaiman jika setelah kau bertemu ibumu, kau kabur?”
“Kita buat perjanjian dan jika khawatir aku kabur, bukankah kau selalu bisa melacakku?”
“Benar juga,” katanya. “Oke. Kia buat surat perjanjian.”
Aku tersenyum girang padanya, yakin kalau setelah ini, aku pasti bisa menemukan ibu. Ishirou mengetik surat perjanjian kita, beberapa saat kemudian, giliran aku yang membuatnya. Tak kurang dari lima menit setelahnya, kami menandatangani surat itu sebagai bentuk kerja sama.
Aku masih belum menerima kabar dari Gramps sama sekali, semoga saja dia belum menemukan Mom seandainya dia sudah tahu kalau Mom telah pergi dari tempat tinggalnya. Awalnya, aku benar-benar tak tahu kalau Gramps, melakukan itu pada Mom. Menjauhkannya dariku kemudian membawanya ke tempat terpencil jauh dari kota. Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh Mom melalui sebuah surat yang berhasil lolos dari penjagaan.
“Oke, kita mulai. Apa yang bisa membantuku menemukan ibumu?”
“Ibu?” sebuah suara terdengar di belakangku.
“Dia mencari ibunya.”
“Orang yang hendak kau temui di stasiun?” Aku mengangguk. Kemudian menyebutkan nomor telpon stacy pada Ishirou.
“Hanya ini?”
“Dan coba cari di sekitar peron stasiun yang sama dengan tadi, perkiraan waktu jam delapan sampai tengah malam.”
“Lama sekali.”
“Aku tak yakin dia datang jam berapa, karena dia memintaku datang sebelum jam sembilan.
“Baiklah, mari kita lihat,” kata ishirou, kemudian kembali beraksi dengan keyboard dan mouse miliknya.
“Kau tak menceritakan soal ini padaku,” bisikan Hayden terdengar di telingaku.
“Untuk apa? Lagipula kau tidak tanya.”
Hayden menjauh, kemudian kembali melihat kelihaian Ishirou berkutat dengan komputernya.
Di sekitaran jam sembilan, aku melihat sosok wanita dengan hoodie merah sesuai deskripsi yang ditunjukan pesan teks yang kuterima, aku mengamatinya dengan seksama, kemudian begitu menoleh, akhirnya aku bisa memastikan kalau itu benar-benar mom. Dia datang. Tapi, kenapa dia enggan untuk menemuiku?
“Kau bisa mengikuti wanita itu pergi?” tanyaku menunbjuk ke arah monitor.
“Baiklah.”
Beberapa kali Ishirou berpindah kamera dan akhirnya, mom menghilang di parkiran. Aku yakin dia pergi ke suatu tempat. Aku berhasil mengingat nomor mobilnya meskipun tak tahu, apakah itu plat nomor palsu atau bukan.
“Okey, sekarang, aku minta tolong lacak nomonya telpon yang tadi kuberikan.”
“Nomornya tidak aktif, tapi terakhir aktif di sebuah gereja tak jauh dari sini.”
“Apa? Kapan?”
“Kemarin.”
“Aku berada di kota yang tepat rupanya. Aku harus pergi ke rumah. Barangkali bisa menemukannya di sana.”
“Kau yakin?”
“Tentu.”
“Aku akan pergi, kabari aku setelah kau temukan kalau nomornya kembali aktif.” Ishirou mengangguk saat aku menepuk bahunya.
“Aku pinjam ponselmu yang kemarin, kabari aku menggunakan nomor ponsel itu.”
“Oke.”
“Butuh bantuanku?”
“Kurasa aku akan pergi sendiri saja. Terima kasih.”
“Kau yakin?” Aku mengangguk, kemudian berjalan keluar melewati pintu masuk, dan pergi menuju mobil yang terparkir tak jauh dari bengkel.
Aku punya petunjuk sekarang, Dan aku semakin yakin kalau Mom kemari untuk mengunjungi rumah lamanya, rumah paman Harold yang sudah seperti rumah kami. Begitu membuka pintu mobil, aku langsung duduk di depan kemudi. Menatap lekat ke depan dengan perasaan bersemangat, dan menginjak pedal gas. Melaju dengan kencang meninggalkan tempat tadi. Pikiranku saat ini dipenuhi oleh ekspektasi, kalau nanti, aku akan bertemu dengan mom di sana.