What she's going on?

1086 Kata
Jam 1.45 PM Aku sampai di di depan Gereja Santa Maria. Tampak sepi karena ini bukan hari Minggu dan juga bukan hari besar. Bangunan bergaya modern ini kokoh berdiri. Bagian pintunya besar dengan ukiran di seluruh permukaan daun pintu yang dilapisi plitur berwarna coklat. Serat kayu terlihat begitu jelas saat didekati. Pintu kudorong masuk. Deretan kursi-kursi berjejer rapi. Sinar matahari menembus jendela juga lubang udara yang berada di sisi kanan bangunan. Terdapat patung Yesus di depan, menghadap ke arahku berdiri saat ini. Tak ada siapapun di sini. Kosong dan hampa. Padahal aku berharap bisa bertemu seseorang dan menanyakan terkait kedatangan ibu di sini. Aku duduk sejenak. Merenung dan sesekali melihat sekeliling. Ketika perasaan bosan mulai mengusikku, aku berdiri, melangkah keluar dari deretan kursi kemudian berjalan di tengah menuju pintu keluar. Hingga sebuah suara langkah kaki terdengar di telinga, aku pun berbalik. Seorang pastor bertubuh tinggi dan berbaju hitam. Dia berjalan ke arahku. Wajahnya menunjukan kalau usianya saat ini sudah sekitar lima puluhan, rambutnya pirang dengan sorot mata yang teduh. Begitu dia berada sekitar dua meter di depanku, aku memberikan diri bertanya. “Apakah Anda melihat wanita ini di sini?” tanyaku menunjukan sebuah foto yang berhasil ku-print sebelum ke sini. “Ya, sekitar jam tujuh dia kemari.” Rupanya dia ingat dengan cepat. Mungkin karena pengunjung gereja ini tak terlalu banyak hari ini. “Apa yang dia lakukan di sini?” tanyaku tanpa ragu. “Dia bertanya banyak hal padaku dan tentu saja aku tak bisa memberitahukannya. Rahasia.” “Aku putrinya. Apa ada pengecualian?” “Maaf, aku tak bisa membeberkan rahasia pada siapapun tanpa terkecuali.” “Baiklah. Apa ada yang dia lakukan selain berbicang denganmu?” “Dia duduk di sana.” Menunjuk ke arah kursi deretan nomor tiga. “Cukup lama, mungkin setengah jam,” lanjutnya. “Apa yang dia lakukan?” “Tidak tahu, aku pergi untuk hal lain dan meninggalkannya.” “Anda tahu wanita itu pergi ke arah mana setelah kemari?” “Aku bahkan tidak mengetahui saat dia pergi.” “Terima kasih atas waktunya.” Tak ada yang bisa digali darinya . “Tentu,” jawabnya dengan suara lirih. Aku melangkah pergi meninggalkan tempat ini. Pikiranku penuh dengan pertanyaan, aku bahkan ragu untuk menyalakan mesin dan menyetir dengan kondisi yang tidak fokus seperti sekarang ini. Hal yang membuatku penasaran adalah, apa yang dilakukan oleh Mom di sini? Setahuku, dia bukan orang yang religius dan tertarik dengan urusan semecam ini. Atau mungkin, sejak berpisah denganku dia jadi lebih religius? Pada akhirnya, aku menyalakan mesin mobil. Melaju perlahan entah ke mana. Pikiranku tak terlalu fokus saat ini. Apakah Mom kembali ke rumah saat ini? Hanya itu kemungkinan yang dapat kusimpulkan saat ini. Tapi, bukankah itu pilihan yang konyol mengingat Gramps juga mengetahui soal tempat itu? Sebuah mobil suv melaju kencang melewatiku, tak lama setelahnya, sebuah panggilan muncul di ponselku. Sudah pasti dari Ishirou. Bukankah hanya dia yang tahu nomor ponsel ini? Aku mengangkatnya sembari fokus pada jalanan. Mobil suv di depan melambat dan membuatku harus menyelipnya. “Ini aku!” Suara Ishiou terdengar di telinga. “Hey!” Sebuah suara terdengar dari samping. Rupanya Hayden berada di dalam mobil suv itu. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku pada Ishirou melalui ponsel. “Pacarmu khawatir kau pergi sendiri. Dia bersikeras untuk menyusulmu,” ujar pria menyebalkan itu. Harus berapa kali kujelaskan kalau aku bukan pacar Hayden? “Kalian bisa pergi sekarang, aku masih ingin ke suatu tempat,” kataku pada Ishirou. “Kau mau kita pergi?” tanya Ishirou yang sepertinya bukan padaku. “Pacarmu enggan untuk pergi.” “Berhenti menganggap aku dan Hayden berpacaran!” Aku menutup telpon, kemudian menaikkan laju mobilku melewati mereka. Terjadi saling selip antara aku dan Hayden. Tak ada tujuan yang jelas sebenarnya, mengapa aku menghindari mereka. Aku hanya merasa tak perlu untuk diikuti saja. Selain itu, aku tak mau kalau mereka mengetahui rumahku. Tapi, kurasa sudah terlambat, mereka sangat sulit untuk kuhindari, bahkan sampai aku hampir sampai di daerah tempat tinggal lamaku, mereka masih sangat dekat dengan mobilku. Aku mengamati rumahku perlahan, tak ada tanda-tanda seseorang pun di sana. Rumput yang sudah memanjang di halaman rumah mengindikasikan kalau tak ada seorang pun yang tinggal di sini. Di mana Paman Randolf? Bukankah dia seharusnya mengurus rumahnya? Aku berpikir dua kali untuk memutuskan apakah aku akan menghentikan mobil atau tidak. Mengingat, aku tak yakin Mom akan memilih ke tempat ini, yang bisa dibilang tak terlalu lama kami tinggali, hanya sekitar dua tahun kami tinggal di sini. Yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah, mengapa Mom pergi ke gereja? Akhirnya, aku memutuskan untuk putar balik dan menghentikan laju mobil sekitar dua kilometer dari rumah. Mobil SUV yang dikendarai Hayden juga ikut berhenti. Aku keluar dan menemui mereka berdua. “Kenapa kalian mengikutiku?” “Aku hanya ... bosan. Tak ada yang bisa kulakukan saat ini.” “Aku juga,” ujar Ishirou. “Lihatlah, kalian kembali akrab layaknya teman sungguhan. Kalian lupa pernah saling ingin membunuh sebelumnya?” ejekku pada mereka. “Aku hanya ingin membuat hubungan baik dengan client-ku.” “Benarkah?” Ishirou melipat tangan di d**a, dan enggan menanggapi ucapanku. “Apa yang tadi kau lakukan di sekitar rumah tua? Apa kau mengenali tempat itu?” “Tidak,” kataku. Aku hanya terkesan dengan arsitekturnya yang unik.” “Kau berhasil mendapatkan petunjuk?” “Tidak.” *** “Berita yang cukup mencengangkan. Kenapa kau tak mencoba meliput hal ini saja?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Ishirou. “Apa?” “Berita ini.” Dia menunjukkan ponselnya pada Hayden. Aku yang penasaran, memilih untuk memuaskan rasa penasaranku dengan mendekati mereka, dan melihat apa yang ditunjukkan oleh Ishirou. BREAKING NEWS Pertunangan putra kedua CEO Jeff Company dan cucu dari CEO Frei Tech gagal dilaksanakan. Masih belum diketahui identitas keduanya karena masing-masing merahasiakan pewaris mereka. Disinyalir, putra kedua dari JC akan menjadi pewaris perusahaan menggantikan AJ akibat terlalu banyak masalah yang ditimbulkan sang kakak. NJ merupakan putra kedua dari Xavier Jefferson yang selama ini disembunyikan dari awak media. Saat ini, tak ada keterangan pasti dari pihak JC. Media beranggapan kalau ada rahasia dibalik disembunyikannya NJ dari perhatian dunia. AJ sempat berhasil kami temui di bandara San Fransisco. Ketika diwawancara, dia enggan untuk memberikan banyak tanggapan. Kerja sama yang dilakukan oleh Frei Tech dinilai cukup menjanjikan, mengingat Frei Tech merupakan sebuah perusahaan technologi yang sangat mumpuni saat ini, dan Jeff Company disinyalir merupakan perusahaan dengan harga saham tertinggi saat ini. Produk smartphone dan laptop yang dikeluarkannya sangat laku di pasaran. Reporter Ana Watson New Sun-Day
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN