New information

1430 Kata
Episode 11 3.11 pm Gramps gagal membendung berita itu. Entah sudah berapa lama berita itu menyebar. Aku tak menggunakan ponsel, dan juga tidak membaca berita di internet. Seolah-olah, aku berada di antah brantah dan buta terhadap informasi terbaru. Hayden tampak terkejut. Ekspresinya tampak ganjil. Apa dia merasa menyesal karena tidak menulis berita itu? Atau ada hal lain yang saat ini dia pikirkan? Tunggu, untuk apa aku memikirkannya? “Kapan berita itu pertama kali tayang?” “New Sun-day menerbitkan artikel kemarin sore, tapi FORS –tempatmu bekerja—lebih dulu mengunggah berita tersebut,” ujar Ishirou. Wajah Hayden tampak serius. Ishirou bahkan memasukkan kata kunci di pencarian dan membuka artikel yang ditulis kantor berita FORS. Menggulir cursor dan secara tak langsung aku membaca beberapa potong kalimat. “Siapa reporter yang bertanggung jawab?” Ishirou menggulir halaman sampai di paling bawah. Di pojok kiri bawah tertulis sebuah nama. “Naja Howard,” ujar Ishirou. “Sialan!” “Kenapa?” tanyaku. “Bukan apa-apa.” Hayden kemudian berjalan menjauh dan masuk ke dalam kamar Ishirou. Menutup pintu dan menghilang dari pandangan. Sebenarnya, apa yang terjadi padanya? “Apa kau tahu apa yang menyebabkan dia kesal?” “Keterlambatan informasi. Aku yakin kalau dia kesal karena gagal mendapatkan berita besar ini.” Ishirou berkomentar. Dan kurasa ada benarnya juga. Ini hal biasa dalam dunia jurnalisme. “Ngomong-ngomong, aku belum tahu siapa namamu,” ujar Ishirou tiba-tiba. Mengingatkanku kalau aku belum pernah sekalipun memperkenalkan diri padanya. Tapi, bukankah dia melihat namaku di surat perjanjian? “Kurasa kau sudah tahu namaku.” “Benarkah?” “Kupikir kita belum pernah berkenalan secara resmi.” Dia menoleh ke arahku. “Ishirou.” Dia menyebutkan nama sambil mngulurkan tangan. Mau tak mau aku menjabat tangannya. “Eva.” Aku mulai terbiasa dengan nama ini. Entah sampai kapan aku menggunakannya, tapi sebelum identitasku terungkap, aku akan terus menggunakan nama ini. “Boleh kutanya sesuatu?” Aku menaikan alis, memintanya secara tidak langsung untuk melanjutkan kalimat tanpa perli bertanya pendapatku. “Apa yang membuatmu harus mencari ibumu?” “Kurasa, aku tak bisa menjelaskannya. Ini terlalu privasi.” “Oh ... baiklah.” “Kau menemukan hal lain lagi berkaitan dengan ibuku?” “Tidak, nomornya masih mati dan plat mobil yang kutemukan di stasiun adalah palsu. Sulit untuk bisa melacaknya.” Mendengar pernyataan Isirou membuatku merasakan tembok yang menghalangiku menmeui ibu semakin tinggi dan tebal saja. Tak bisa kugapai dan tak bisa kuhancurkan. Setelah ini, apa yang akan kulakukan? Aku tak bisa kembali pada Gramps. Dia mungkin akan membunuhku jika aku kembali, mengingat aku menghancurkan pestanya malam itu di depan semua koleganya. Masalah itu tak bisa diremehkan sedikitpun. Bahkan cenderung fatal. Satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini hanya satu, terus mencari Mom dan menemukannya sebelum Gramps. “Apa yang akan kau lakukukan setelah ini? Kudengar kau kabur dari rumah?” “Tetap pada rencana awal. Mencari Mom. Soal kabur dari rumah, kurasa itu urusan pribadiku, lagipula aku bukan remaja.” Ishrou tak memberi tanggapan sedikitpun. Fokus pada layar monitor di depannya. Hayden keluar begitu aku duduk di sofa. Telinga dan wajahnya memerah. Aku yakin dia baru saja bertengkar melalui telepon. Dia berkacak pinggang sambil memasukan ponselnya ke saku jeans. “Hayden!” Pria itu menoleh spontan. “Kau lupa dengan janjimu?” “Janji?” Berusaha mengingat-ingat sambil membuka kulkas, dan mengeluarkan sebotol air mineral dan menenggaknya. “Kulkas.” Hayden menutup kembali botol, kemudian memasukannya ke dalam kulkas. “Aku ingat sekarang.” “Lantas?” “Bisa pinjami aku mobil?” “Aku juga akan pergi. Ada janji, kemungkinan besar pulang malam.” Hayden diam, melipat tangan di d**a, dan menatap Ishirou. Ishirou menatap ke arahku dan berkata, “bisa kau pinjamkan mobilmu sebentar, miss?” “Oke, aku ikut. Aku masih belum bisa melepas mobilku di tangan orang asing.” Tak ada pilihan lain. Lagi pula, hanya belanja, kan? “Bagus. Kalian bisa pergi berdua.” Sekitar pukul empat lebih, kami berdua pergi ke swalayan. Hayden memaksa untuk menyetir. Aku yang enggan untuk berdebat dengannya memilih untuk mengalah, dan membiarkan pria keras kepala itu menyetir. Tepat di parkiran, aku turun lebih dulu. Meminta kunci pada Hayden dan berkata, “aku yang membawa mobilnya saat pulang.” “Terserah kau saja,” katanya kemudian meninggalkanku lebih dulu. Masuk ke adalan gedung. Hayden rupanya sudah mendapat list daftar belanjaan dari Ishirou. Dia memintaku memegang ponselnya dan menyebutkan barang yang akan kita beli. Aku mendorong troli, sementara Hayden yang mencari barang. Dia tampak kagok. Bahkan tidak tahu mana letak garam dan mana letak penyedap rasa. Sepertinya dia jarang berbelanja. Aku menghentikan langkah. Menyerahkan ponsel pada Hayden. “Kau dorong trolinya, biar aku yang mengambil barang. Jika kau tetap keras kepala, kurasa kita akan lama di sini,” jelasku secara singkat. “Baiklah.” Dia menerima ponselnya dan aku beraksi. Ketika aku melepar beberapa barang terakhir, Hayden tak ada di tempat yang seharusnya. Dia masih berhenti di tempat aku mengambil tisu. Apa dia bengong? Aku mendekat dan mendapati Hayden yang tengah menelpon seseorang. Wajahnya tampak sumringah dan begitu sampai di depannya, hanya kalimat, “aku akan ke sana sekarang,” yang bisa kudengar, disusun kata, “ya.” Kemudian Hayden mematikan sambungan telepon. “Ada apa?” “Daniel memintaku bertemu. Aku tak percaya dia melakukannya.” “Kau akan ke sana?” tanyaku. “Tentu saja. Kau bisa pulang lebih dulu, aku akan naik bus ke Edina.” “Bukankah berjarak hampir satu jam?” tanyaku. Hayden mengangguk. “Kalau begitu, aku ikut. Aku juga penasaran dengan informanmu.” “Kau yakin?” Aku menjawab ‘ya’ kemudian memintanya menyelesaikan daftar belanjaan yang mungkin tinggal dua barang lagi. Setelah membayar di kasir, kami mendorong troli ke pakiran. Aku melemparkan kunci pada Hayden, membiarkan dia saja yang menyetir. Kami memasukkan belanjaan ke dalam bagasi dan pergi ke tujuan baru kita. Edina. Hayden memasukkan tujuan ke GPS kemudian mulai melaju mengikuti arah yang ditunjukkan oleh GPS. Kami melewati Washington street, kemudian masuk ke jalan tol dan di saat yang sama perutku merasa lapar. Aku menyesal, memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi. Harusnya tadi menyisakan beberapa untuk kumakan. “Kau kenapa?” tanya Hayden yang menyadari keanehanku. “Aku baik-baik saja. Kau bisa fokus ke jalanan,” kataku. “Kurasa aku dengar sesuatu tadi.” Hayden membuatku menebak-nebak. “Dengar apa?” “Suara perutmu yang lapar.” Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah makanan –sereal bar—dan memberikannya padaku. “Makan ini! Aku tak mau terganggu dengan suara perutmu.” Dasar menyebalkan! Meskipun menyebalkan, tapi pada akhirnya aku menerima pemberiannya karena sudaj terlalu lapar. Aku menghabiskannya dalam waktu singkat. Ketika sampai di kilometer 136 aku membuka percakapan dengan Hayden. “Bagaimana kau bisa begitu percaya padanya? Bukankah dia sempat menghilang saat hendak bertemu denganmu?” tanyaku. “Apa kau tidak curiga kalau dia menjebakmu atas suruhan orang-orang yang waktu itu menelponnya. Hayden terdiam. Mungkin memikirkan apa yang tadi kukatakan. “Aku hanya mencoba mempercayainya. Berhenti berandai-andai! Dan biarkan aku menyetir dengan tenang.” “Kau tidak takut?” Hayden menyeringai. Hal yang sangat kubenci dari kebiasaanya. “Aku mengalami banyak hal yang lebih mengerikan, jadi kurasa rasa takutku sudah terkikis cukup banyak,” jawabnya santai. Itu adalah kalimat terakhir kami sebelum akhirnya, di sisa perjalanan sampai akhirnya kami sampai di tujuan, tak ada percakapan apapun di antara kami. Mobilku berhenti di depan sebuah kompleks apartemen. Aku turun bersama dengan Hayden, melihat-lihat sekeliling dan mendapati kalau bangunan ini berlantai empat dan memiliki cukup banyak unit. “Unit berapa?” tanyaku mengenai Daniel. “25. Kau tunggu di sini, aku yang masuk.” “Oke,” kataku kemudian mengikutinya. “Kata oke untukmu itu berlawanan arti, ya?” Aku hanya tersenyum menanggapi kemudan mengekor di belakang. Kami naik satu lantai, dan menemukan unit 25. Gedung ini benar-benar sepi, meskipun tampak berpenghuni banyak. Hayden mengetuk pintu. Beberapa kali dan tak ada jawaban apapun dari si pemilik apartemen. Apa dia tak ada di dalam? Hayden mencoba membukanya dan tidak terkunci. Perasaan tidak enak langsung menyerbu. Rasanya janggal. Kenapa dia membiarkan pintunya tidak terkunci? Hayden membuka perlahan. “Kau yakin akan masuk?” bisikku. “Jangan buat aku ragu-ragu!” katanya. Kubiarkan dia masuk, dan kuikuti di belakangnya. Sepi. Sepertinya memang tak ada orang di sini. Hayden melihat-lihat sekeliling dan wajahnya berubah aneh ketika melihat ke kamar. Dia tampak begitu terkejut. “Berhenti di sana!” ujarnya. Dia mengamati sesaat, kemudian mengambil ponsel dari dalam jaketnya. Tepat di saat yang sama, aku melihat seseorang mendekat ke arah Hayden dengan sangat cepat dan mencoba menyerangnya dari belakang. “Hayden awas!” teriakku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN