“Hayden awas!” teriakku.
Aku tidak mengira kalau refleks yang dilakukan Hayden bisa secepat itu. Dia menghindar ke kanan. Lolos dari pisau yang diarahkan padanya oleh seorang pria berpakaian serbahitam. Aku belum pernah melihatnya sama sekali. Dan untuk kali pertama, dia memberikanku kesan buruk yang mengerikan. Tak selesai sampai di situ, setelah gagal menyerang Hayden, pria itu kembali menyerangnya. Tapi kali ini Hayden sudah bersiap. Dia tahu bahaya di depannYA.
“Eva, pergi!” teriaknya begitu lantang. “Panggil 911!” perintahnya.
Aku meraih ponsel pemberian Ishirou dari saku celanaku. Menekan 9-1-1 dan menekan tombol panggil. Di saat yang sama, terdengar suara keras. Suara yang berasal dari kaca yang pecah. Aku menoleh cepat, dan mendapati kaca jendela sudah pecah berkeping-kepin sementara pria itu menghilang dari pandanganku. Ke mana dia pergi?
Hayden berdiri di dekat jendela. Melihat ke bawah dan tampak cemas sekaligus kesal. “Sial!” umpatnya. Di saat yang sama, aku melihat telapak tangannya mengeluarkan darah. Aku mendekat untuk memeriksa keadaanya.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku sembari meraih tangannya.
“Hanya luka kecil. Kau sudah memanggil polisi?” Pertanyaan Hayden mengingatkanku pada panggilan yang sebelumnya telah kulakukan. Aku kembali mengecek ponsel, dan rupanya masih tersambung. Buru-buru aku mendengarkannya, kemudian mulai berbicara.
“Kami menemukan mayat.” Aku memberitahu. Detik itu juga, tiba-tiba Hayden merebut ponsel di tanganku, kemudian melanjutkan laporan yang seharusnya kulakukan.
“Sebuah mayat ditemukan di apartemen Union unit 25. Aku memilki janji dengan korban tapi saat datang, korban sudah dibunuh oleh seseorang yang juga menyerang kami. Pelaku kabur saat kami berusaha menelpon polisi.” Hayden menyelesaikan laporannya.
Aku tak bisa mendengar tanggapan dari polisi, tapi aku yakin, kalau mereka akan segera ke sini. Hayden menurunkan ponsel dari telinganya, kemudian mengembalikannya padaku. “Kita harus keluar dari sini. Ini adalah TKP.” Hayden memberitahu.
Aku yakin, dia sudah berpengalaman dengan hal ini. Jadi, aku enggan untuk membantah dan memilih untuk menuruti ucapannya. Aku masih merasa tidak nyaman membiarkan tangan Hayden terus meneteskan darah. Tapi apa yang harus kulakukan? Tak ada kain atau apapun yang bisa digunakan untuk membalut lukanya. Kemungkinan ada banyak kain di dalam, tapi tentu saja, kami tak bisa masuk sembarangan karena akan merusak TKP.
Saat ini kami berada di luar apartemen. Di dekat tiang penyangga bangunan menunggu kedatangan polisi untuk melakukan olah TKP dan menjelaskan semuanya. Aku hanya berharap kalau polisi tidak memiliki kecurigaan terhadap kami atas kematian Daniel. Aku enggan berurusan dengan polisi karena jika polisi sudah menangkapku, Gramps pasti akan dipanggil sebagai keluargaku.
“Tanganmu terus berdarah.” Aku memberitahu Hayden.
Dia mengangkat tangannya, kemudian memperhatikan. “Ini akan segera berhenti.”
“Tak ada luka lainnya, kan?” tanyaku khawatir kalau ternyata ada luka lain di tubuhnya.
“Kurasa tidak,” jawabnya ragu.
“Apa kau mengenal pria itu?”
“Tidak. Aku bahkan baru pertama kali bertmu dengannya.”
“Tapi kurasa doa mengenalmu, Hayden. Itulah sebabnya dia seolah-olah berusaha untuk membunuhmu.” Aku berkomentar padanya.
Hayden tampak memikirkan ucapanku. Dia menatap ke depan, sementara pikirannya melayang entah ke mana. Jika dia tidak mengenal pria itu, lalu bagaimana bisa dia seperti berambisi untuk menghabisi Hayden? Apa karena dia menemukan jasad Daniel tadi? Karena pembunuh itu khawatir identitasnya terungkap?
“Aku akan mencari tahu nanti. Sekarang, kita hanya harus menunggu polisi datang, dan memberikan kesaksian.”
“Apa kau khawatir mereka akan mencurigaimu?” tanyaku spontan.
“Hanya sedikit. Mengingat tadi, ada sidik jariku juga di pisau.”
“Kau menggenggam bagian depannya, jadi kurasa itu bukan masalah besar. Kau mendapatkan luka akibat menahan serangan. Polisi pasti tahu kejadiannya seperti itu.”
Hening selama beberapa saat. Pikiranku berusaha mencerna kejadian ini dan kurasa Hayden juga sama. Dia memanf tampak diam, tapi aku yakin pikirannya menyimpan banyak masalah saat ini. Termasuk kekecewaan yang luar biasa karena satu-satunya informan yang dia miliki tewas dibunuh.
Tak lama berselang, suara sirine polisi terdengar. Beberapa mobil berdatangan. Ada ambulance juga yang nantinya akan membawa jenazah Daniel dari sini. Beberapa polisi naik ke atas, dan dua orang polisi lainnya mendatangi kami.
“Selamat malam,” ujar polisi berjaket hitam. “Saya Detektif Ray, dan rekan saya, Detektif Simon. Apa kalian yang tadi membuat laporan?” tanya sang detektif. Aku dan Hayden memilih untuk mengangguk, alih-alih menjawab ‘ya’
“Apa kalian melihatnya membunuh korban?” tanya Detective Ray.
“Tidak. Kami datang setelah korban dibunuh,” jawab Hayden mantap. Sepertinya dia berusaha percaya diri agar tidak dicurigai.
Detective Simon itu melirik ke arah tangan Hayden, dia juga bahkan tampak mengeamati wajah Hayden setelahnya.
“Tanganmu terluka,” ujar Detective Simon.
“Ya, akibat perkelahian tadi.”
“Apa yang terjadi?” Dia berusaha menggali sedalam mungkin untuk menemukan informasi dari kami berdua.
“Saat dia menemukan mayat korban, tiba-tiba pelaku menyerangnya dari belakang. Untungnya aku masih berada di dekat pontu masuk, dan memperingatannya tentang serangan yang dilayangkan dengan pisau oleh sang pelaku.” Aku memberi detail yang lebih jelas.
“Kalian sempat melihat pelaku?” Kali ini detective Ray yang bertanya.”
“Ya, kami melihatnya. Dia hanya mengenakan topi hitam, tanpa menutupi wajahnya.”
“Kalau begitu, kalian bisa membantu kami membuat sketsa komposit nanti.”
“Tentu saja,” jawab Hayden, kemudian meringis. Kurasa lukanya mulai terasa menyakitkan.
“Aku akan meminta bantuan medis untuk mengobati lukamu. Kalian pergi ke dekat ambulance bersama detektif Simon.” Detective Ray memberi arahan pada kami. “Tolong jaga mereka!” ujarnya memberitahu rekannya.
Kami turun dari lantai dua. Mendekat ke arah ambulans dan Detective Simon memberitahu kalau ada yang harus diobati. Seorang perawat mendekat ke arah Hayden begitu diberi instruksi. Dia mengeluarkan kotak peralatan medis darurat dan membukanya.
Hayden membuka telapak tangannya yang kini penuh dengan darah. Apa lukanya begitu parah? Di saat yang sama, aku melihat luka sayat yang melintang cukup panjang. Melihatnya saja membuatku merasa ngilu. Pasti sangat menyakitkan.
Sang perawat langsung melakukan tindakan medis. Ia membersihkan lukanya kemudian membalutnya dengan perban. “Kita butuh menjahitnya. Karena kami tidak membawa peralatannya, untuk sementara aku hanya membalut lukanya. Kau bisa pergi ke rumah sakit setelah semua prosedur telah dilakukan.” Sang perawat memberi tahu.
“Terima kasih,” ujar Hayden begitu perawat selesai mengobati lukanya. Dia mengamati tangannya yang diperban, dan kelihatannya merasa lebih baik. Meskipun aku tahu, kalau lukanya pasti masih sangat menyakitkan.
Sekitar setengah jam kemudian, mayat Daniel diturunkan dan dibawa ke dalam ambulance. Kami kembali bertemu dengan Detective Ray.
“Setelah ini, kalian akan pergi ke kantor polisi. Kami harus mencatat keterangan saksi dan menanyakan beberapa introgasi resmi pada kalian. Apa kalian tidak keberatan?”
“Tidak,” jawab Hayden. Sementara aku hanya menggeleng.
“Kalau begitu, semoga kalian bisa bekerja sama dengan baik,” katanya seolah berharap kalau kami tidak memiliki keterlibatan apapun dengan kejadian ini. Apa dia mencurigai kami?