8.09 pm
Suasana malam begitu berbeda saat ini. Terasa kelam dan mengerikan. Kejadian beberapa saat lalu, mengubah cara pandangku terhadap Hayden. Menjadi reporter rupanya bukan pekerjaan yang bisa dianggap remeh. Aku yakin betul kalau apa yang menimpanya tadi adalah akibat dari identitasnya sebagai reporter telah diketahui. Semuanya saling berhubungan.
Aku membuat analisis sementara mengenai kejadian beberapa saat lalu.
Pelaku pembunuhan Daniel adalah suruhan seseorang yang berusaha menggagalkan Daniel memberikan informasi kepada Hayden.
Dalang di balik kematian Daniel merupakan seseorang yang menelponnya di malam ketika aku pertama kali bertemu Hayden.
Pelaku berusaha menyerang Hayden karena ketahuan dan khawatir Hayden akan melaporkannya ke polisi.
Semua ini berhubungan dengan Frei Tech
Dan secara tidak langsung berhubungan juga dengan Gramps.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Gramps benar-benar mengetahui hal ini, atau bahkan dia adalah orang di balik ini semua? Pertanyaan itu masih terus berputar di kepalaku dan membuatku frustasi.
Tanpa terasa, mobil yang kami tumpangi berhenti di depan kantor polisi. Kami diminta turun oleh Detective Ray dan mengikutinya. Untuk saat ini, dia masih tampak ramah pada kami. Entah nantinya akan tetap sama atau tidak, itu tergantung dari hasil investigasi yang mereka lakukan.
"Kau tegang?" tanya Hayden tampak meremehkan.
"Tidak."
"Bohong! Wajahmu pucat. Ini pasti kali pertamamu dibawa ke kantor polisi." Dia benar. "Santai saja, posisimu hanya sebagai saksi. Tidak perlu cemas."
Aku mengangguk usai menengok ke arahnya. Wajah Hayden babak belur. Di ujung bibirnya terdapat darah yang sudah mengering dan bagian tulang pipinya lebam akibat pukulan. Dia benar-benar tidak terlalu lihai dalam bertarung. Bisa dibilang, dia bisa mengalahkannya karena dibantu keberuntungan.
Jejak kakiku memang hanya sampai di depan pintu. Lain halnya dengan Hayden yang sampai di depan kamar Daniel. Tempat di mana dia menemukan mayatnya. Sidik jari pasti juga ada di kenop pintu dan menimpa sidik jari sang pelaku.
Tunggu! Bukankah pelaku menggunakan sarung tangan hitam? Jadi sudah pasti jika sidik jarinya tidak akan ditemukan di sana. Aku tidak tahu mengenai senjata yang digunakan pelaku untuk membunuh Daniel sama dengan yang digunakan pria itu untuk menyerang Hayden atau bukan. Tidak banyak informasi yang kumiliki saat ini.
Mereka membawa kami berdua. Kemudian memasukkan Daniel lebih dulu ke sebuah ruangan yang kupikir itu adalah ruang interogasi. Tanganku gemetar saat ini. Mereka tidak memperbolehkanku masuk dan melihat interogasi yang mereka lakukan. Aku dibiarkan terus merasa penasaran dengan apa yang akan mereka tanyakan pada Hayden.
Interogasi berlangsung sekitar satu jam. Ya, cukup lama menurutku. Entah apa yang mereka tanyakan dalam waktu selama itu pada Hayden. Yang jelas, Hayden keluar dengan wajah yang sama dengan saat pertama kali dia masuk. Itu berarti interogasinya berjalan lancar.
Sekarang, giliranku masuk. Keringat dingin membanjiri tubuh. Gemetar bercampur rasa khawatir yang berlebihan menyatu menjadi satu. Saat masuk, aku melihat Detektif Ray yang tengah duduk dengan kepala yang bertumpu pada tangan di atas meja. Wajahnya datar dan dia menatapku penuh selidik. Apa ini wajah yang selalu ditunjukan detektif ketika hendak menginterogasi seseorang?
"Silakan duduk!" ujarnya ketika tatapan kami bertemu.
Aku mengikuti perintahnya. Duduk di kursi yang kosong berhadapan dengannya, dan berusaha untuk tidak terlihat takut atau khawatir. Dia akan semakin menarik curiga jika aku tampak mencurigakan.
Aku berusaha mengingat ucapan Hayden sebelumnya. "Santai saja, posisimu hanya sebagai saksi. Tidak perlu cemas." Kalimat itu bisa menjadi mantra untukku bisa bersikap lebih tenang lagi selama interogasi.
"Nona Eva?"
Aku mengangguk.
"Bisa tunjukan KTP-mu?" Sejak pertanyaan itu terlontar, berbagai skenario muncul di kepalaku secara tak terduga.
"Aku tidak membawanya. Jadi tak bisa memberikannya padamu." Aku jujur kali ini.
"Nomor ID?"
"Tidak hapal."
"Kau membuatku gila. Bagaimana bisa seseorang pergi tanpa membawa kartu identitas.
"Aku bisa," jawabku santai. "Bukankah Anda hanya akan menanyakan terkait kejadian beberapa saat lalu di apartemen itu?"
"Ya. Tapi identitas saksi adalah hal terpenting." Dia memberikan penjelasan atas tindakannya sebelumnya.
"Kau mengenal korban?"
Aku menggeleng dua kali. "Aku bahkan baru kali pertama bertemu dengannya.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
"Menemani Hayden menemui Daniel."
"Mengapa korban membuat janji temu dengan Hayden?" Dia mencondongkan tubuh ke arahku.
"Dia berjanji akan memberikan informasi penting kepada Hayden untuk kepentingan publikasi." Aku masih jujur sampai saat ini.
"Kau tahu apa yang akan dia katakan korban kepada Hayden?"
"Informasi penting. Mengenai isinya aku tidak tahu sama sekali. Karena dia belum sempat bertemu denganku maupun Hayden."
"Kau tahu apa yang saat ini dikerjakan oleh Reporter Hayden?"
"Dia berusaha menggali hal-hal yang tersembunyi dibalik Frei Tech. Dia memiliki ambisi besar untuk mendapat berita itu." Aku mengingat dengan jelas percakapan Hayden di telepon dengan seseorang dan dia terdengar ambisius untuk mengorek informasi mengenai Frei Tech.
"Apa hal yang terjadi pada kalian berdua ada kaitannya dengan kejadian malam ini?"
"Kurasa demikian."
"Kau melihat pelaku?"
"Tidak terlalu jelas. Hayden menghentikan langkahku. Itu adalah saat di mana dia melihat mayat Daniel."
"Apa yang dia lakukan setelah melihat korban?"
"Seorang pria menyerangnya. Aku berhasil membuat Hayden menghindar dan setelahnya mereka berkelahi."
"Luka yang dia dapat?"
"Ya. Akibat perkelahian itu."
"Jendela yang pecah?"
"Pelaku kabur melalui jendela."
Detective Ray mengintrogasiku cukup lama, dia bahkan menanyakan hal-hal mendetail seperti ciri khsuus pelaku dan apakah dia kidal atau tidak. Aku menjawab semua pertanyaanya dengan baik. Setidaknya, itu pendapatku. Aku keluar dari ruangan sekitar setengah sebelas malam, saat aku melihat ponsel.
Saat aku keluar, Hayden tengah duduk di ruang tunggu. Sendirian den terlihat bengong. Aku paham situasinya. Dia pasti masih syok dengan kejadian tadi. Selain itu, dia pasti menyayangkan hal yang terjadi pada Daniel. Mengingat pria itu adalah informan pentingnya.
"Kau sudah selesai?" Dia mendongak menatapku.
"Ya."
"Semuanya berjalan lancar?"
"Kuharap begitu," jawabku mantap.
"Apa … kita boleh pergi setelah ini?" tanya Hayden.
"Ya. Detektif Ray memberitahuku tadi." Aku menjelaskan ucapan Detektif Ray saat mengantarku keluar tadi.
"Baiklah. Kita pergi. Aku terlalu kacau untuk berpikir saat ini. Aku butuh istirahat."
"Kurasa kau harus ke rumah sakit dulu. Lukamu kembali berdarah." Aku menunjuk ke arah telapak tangannya yang kembali mengeluarkan darah.
Dia mengangkatnya kemudian berkata, "aku hanya perlu mengganti perban. Dan semuanya akan baik-baik saja."
"Kukira perawat memberitahumu untuk menjahut lukanya. Karena terlalu dalam."
"Jangan percaya ucapannya."
"Terserah kau saja. Lagi pula, kau yang sakit. Bukan aku." Aku cukup kesal dengan orang yang sulit untuk dinasehati. Biar saja, lukanya infeksi.
Aku keluar meninggalkan Hayden. Kunci mobil ada di tanganku. Aku tak perlu menunggunya dan bisa pergi lebih dulu. Tanpa disangka, pria keras kepala itu mengikutiku. Dia mengekor di belakangku dan masuk mobil duduk di kursi penumpang. Dia tahu diri juga rupanya, tidak memaksa untuk menyetir. Lagi pula, ini mobilku.
Kali ini, aku memegang kendali. Aku bisa membawa mobil ini ke manapun. Termasuk rumah sakit. Memang sudah larut malam. Tapi bukankah rumah sakit buka 24 jam?
Hayden sepertinya tahu kalau aku bukan akan langsung kembali ke Lancaster. Dia melihat-lihat dengan cemas dan menyadari kalau aku hendak pergi ke suatu tempat. Ketika gedung rumah sakit terlihat oleh mata, Hayden menoleh ke arahku.
"Ini tujuanmu?" tanya Hayden penuh selidik.
"Ya. Kau lupa kau juga memiliki luka di lengan? Kita obati sekaligus di sini. Jangan membantah atau akan kutinggal di sini." Pria itu diam memendam kekesalan. Semuanya terlihat di wajahnya yang sedikit memerah dan seolah menahan emosi.
"Aku benci rumah sakit," ujarnya tiba-tiba. Aku menoleh spontan.
"Siapapun juga sama."
"Aku memiliki kenangan buruk di rumah sakit dan masih enggan mengunjunginya." Hayden menatapku lekat saat menjelaskannya. Seolah-olah berharap kalau aku mengurungkan niat membawanya masuk ke rumah sakit. Apa yang sebenarnya terjadi pada pria ini?