Tak banyak yang bisa kulakukan saat ini. Sulit untuk membujuknya dengan alasan yang dia berikan. Aku khawatir kalau Hayden memiliki phobia terhadap rumah sakit. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya setelah aku memaksanya masuk?
Aku memilih untuk mengurungkan niat membawanya ke rumah sakit. Memutar arah setelahnya, dan berniat kembali ke apartemen Ishirou. Aku tak memiliki tujuan ke manapun saat ini, dan satu-satunya tempat tujuan hanya tempat Ishirou.
"Terima kasih." Hayden berucap. Aku menoleh sekilas dan dia tampak lebih pucat dari sebelumnya. Apa dia terluka di bagian tubuh lain?
"Kau baik-baik saja?" Aku menunjukkan rasa khawatir padanya. Dan Hayden hanya mengangguk untuk untuk menanggapi.
Aku memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Melirik ke kanan dan mendapati Hayden menutup matanya. Rasa cemasku kembali muncul. Apa dia pingsan atau hanya tertidur saja?
Aku menyentuh tangannya. Terasa dingin. "Hayden! Hey!" Aku memanggil sambil menggoyangkan tangannya. Gak ada respon sedikitpun.
"Hayden! Kau baik-baik saja?" Tetap tak ada respon. Apa dia benar-benar pingsan?
"Hay …."
"Kenapa kau tidak membiarkanku istirahat sejenak?" ujarnya dengan suara lemah.
"Kau tertidur?"
"Menurutmu?"
"Kukira kau pingsan. Kau tidak memiliki luklain, kan?"
"Aku baik-baik saja. Jadi biarkan aku istirahat sebentar. Bangunkan aku saat sudah sampai," pesannya.
Aku mengembuskan napas lega begitu tahu kalau dia baik-baik saja. Bukannya terlalu mencemaskan orang ini, hanya berusaha untuk tidak merepotkan diri saja. Karena jika dia pingsan, akan merepotkan. Aku harus membawanya ke mana jika dia enggan untuk ke rumah sakit?
Ketika melihat Hayden tertidur, entah kenapa aku seolah melihat sisi lainnya yang beberapa hari ini disembunyikan. Wajahnya tampak begitu tenang seolah-olah beban berat telah benar-benar terangkat dari hidupnya.
Sekarang, aku benar-benar sendirian. Menatap ke depan dengan fokus dan memberikan konsentrasi tertinggi untuk menyetir. Aku membiarkan Hayden tidur. Sepertinya dia benar-benar kelelahan saat ini dan butuh istirahat.
Begitu sampai di depan apartemen Ishirou, aku keluar lebih dulu. Berniat memanggil pria itu, tapi urung kulakukan karena tidak yakin kalau dia sudah pulang karena katanya, dia akan pulang terlambat. Bukan tak mungkin kalau dia belum pulang saat ini.
Aku membuka pintu samping. Hayden masih tertidur pulas. Tidurnya benar-benar seperti bayi. Aku merasa tidak tega untuk membangunkannya, tapi jika meninggalkannya di dalam mobil juga kasihan. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membangunkannya. Menepuk-nepuk bahunya dan dia membuka mata setelahnya.
“Kau harus keluar dari mobilku. Lanjutkan tidurmu di dalam. Jangan di sini.” Aku memberi saran padanya. Hayden hanya melirik lemah, dan seperti enggan untuk mendengarkan ucapanku, dia kembali menutup mata. Dia hampir seperti orang mabuk yang tidak sadar. Sangat sulit untuk membangunkannya sampai akhirnya, aku berusaha mengangkat tubuhnya dan dia membantuku dengan berdiri.
Aku memapahnya keluar dari mobil, dan berjalan ke apartemen ishirou di lantai dua. Untung saja pria itu tidak memilih apartemen di lantai yang lebih tinggi. Membawa pria teler seperti Hayden pasti akan lebih sulit dilakukan.
Begitu sampai di depan apartemen Ishirou, aku membuka sandi pintu. Memaksa Hayden untuk berdiri dan begitu pintu terbuka, aku kembali memapahnya masuk. Kulemparkan Hayden ke sofa. Dia meringis kesakitan setelahnya. Sedikit kasihan, tapi aku juga cukup kesal karena dia hanya mengantuk, tapi tingkahnya seperti orang mabuk yang kehilangan kesadaran.
Aku mengangkat kakinya ke sofa. Dan pergi meninggalkannya. Namun, begitu hendak melangkah pergi, tiba-tiba tangannya menarikku dan membuatku berhenti melangkah.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku bingung.
"Terima kasih," ujarnya kemudian kembali tak sadarkan diri.
Sebenarnya dia pingsan atau benar-benar tertidur, sih? Jika tertidur, seharusnya mudah untuk dibangunkan. Selain itu harusnya dia juga bisa berjalan sendiri.
Kubiarkan dia tidur di sofa. Sementara aku memilih untuk ke toilet lebih dulu. Membersihkan diri kemudian beristirahat di kamar usai ganti baju dengan baju Ishirou.
***
Begitu pagi menjelang, aku membuka mata. Dan pemandangan yang pertama kulihat adalah lukisan bergambar bunga matahari di depanku. Apa itu buatannya atau hanya membelinya saja? Entahlah, lagi pula itu bukan urusanku.
Aku bangkit kemudian keluar dari kamar. Di sofa tempatku membaringkan Hayden, dia tidak ada di sana. Sebenarnya ke mana dia? Aku mencarinya ke segala arah dan menemukannya di balkon tengah menelpon seseorang. Aku tidak sempat mendengar percakapannya. Karena aku datang terlambat dan begitu dia sadar mengenai keberadaanku, Hayden mematikan sambungan telepon dan mengalihkan pandangan padaku.
"Kau sudah bangun?" Dia malah bertanya. Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?
"Ya. Kau sudah baikan?" tanyaku spontan.
"Ya. Lebih baik. Aku juga sudah mengganti perbannya."
"Sendiri?"
"Ishirou membantuku sebelum dia pergi." Hayden memberitahuku.
“Ke mana lagi dia?”
“Aku tidak bertanya tujuannya. Lagi pula, dia tidak memiliki kewajiban untuk memberitahu kita apapun yang akan dia lakukan.”
“Kau benar.”
“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Ibumu rupanya sulit ditemukan.”
“Ya, lebih sulit ditemukan dari yang kukira. Dan saat ini aku hanya bisa mengandalkan Ishirou untuk membantuku menemukannya.”
“Dia berguna juga, kan?”
“Ya.”
“Sebenarnya, apa yang terjadi pada kalian sebelumnya? Melihat awal pertemuan kalian, Ishirou tampak bergitu berambisi untuk membunuhmu, sepertinya Ishirou memiliki ingatan buruk mengenaimu.” Aku memberikan pendapatku.
“Dulu, saat masih SMA, aku memang memiliki masalah dengannya. Aku meninggalkannya saat ditahan di kantor polisi. Pamanku berhaasil mengeluarkanku dari penjara, tapi dia enggan melakukannya untuk Ishirou. Dia bahkan membawaku pergi lebih dulu dan meinggalkan Ishirou di sana sendirian.”
“Dia tidak punya keluarga untuk membebaskannya?”
“Dia hanya punya ayah, tapi ayahnya memiliki kecanduan terhadap alkohol. Dia tak bisa diandalkan sama sekali untuk Ishirou. Aku merasa menyesal saat meninggalkannya. Tapi karena saat itu aku bergitu bergantung pada pamanku, tak ada yang bisa kulakukan. Aku meninggalkannya dan kehilangan kontak setelahnya. Sejak saat itu, aku sadar kalau aku sudah memutuskan tali persahabatan dengannya. Dan yakin seratus persen, kalau dia akan sangat membenciku setelahnya.” Hayden mengakhiri ceritanya kemudian mengembuskan napas,
“Kalau kau tahu dia membencimu, kenapa kau percaya kalau dia akan membantumu?” tanyaku.
“Dia tak akan bisa tahan dengan tawaran uang. Dia akan melakukan apa saja demi mendapatkannya. Dari sanalah aku mempercayainya. Kalau Ishirou akan membantuku dengan baik selama aku memberinya uang.”
“Sama-sama saling diuntungkan.”
“Ya. Dan saat ini, aku merasa percuma mengeluarkan uang banyak karena Daniel sudah mati.”
“Apa hanya dia yang bisa kau jadikan sebagai informanmu.”
“Sementara ini, hanya dia karena aku belum menemukan informan lainnya lagi.”
“Sayang sekali,” ujarku menanggapinya. Dia hanya diam dan menatap ke depan sana. Entah kenapa aku jadi penasaran dengan kehidupannya. Dia pasti memiliki segudang cerita hidup. Mengingat pekerjaannya sebagai jurnalis.