Ishirou pulang saat fajar menyingsing. Aku terus terjaga semalaman karena pikiranlku masih dipenuhi mengenai kejadian kemarin. Padahal aku tak sempat melihat mayatnya, tapi tetap saja aku merasa sedikit takut dan khawatir. Bukan terhadap si korban tentu saja, tapi pelaku. Angan-anganku masih saja beroikir kalau pelaku yang saat ini bebas, bisa kapan saja datang ke sini, dan menghabisiku karena aku salah satu saksi di sana. Pria itu jelas bukan pria biasa, dia tampak begitu mudah menghabisi nyawa orang.
Ishirou melirik ketika berjalan melewatiku, dan berhenti. “Kau tidur di sini?” tanya pria itu penasaran. Aku hanya mengangguk untuk menanggapi.
“Di mana pacarmu?”
“Sudah berapa kali kubilang, kalau dia bukan pacarku.”
“Terserah. Di mana Hayden?” Dia mengulang pertanyaanya.
“Di kamar. Kubiarkan dia tidur di sana karena sepertinya dia lebih membutuhkan kasur itu dariku.”
“Ada apa?” Ishirou tampak tertarik dengan apa yang baru saja terjadi pada kita. Dia terlihat penasaran dan siap mendengarkanya dengan duduk di sampingku.
“Rencana Hayden gagal total. Informannya mati dan kami bertemu dengan pembunuhnya.”
Ishirou tampak terkejut. Beringsut dari sofa, dan melangkah cepat ke kamar yang dihuni Hayden. Dia membukanya dengan gesit dan meongok melihat Hayden yang saat ini sedang tertidur. Tanpa disangka, Ishirou masuk. Meloiihat Hayden dengan seksama, dan seperti memastikan keadaanya baik-baik saja. Apa pria itu khawatir dengan Hayden?
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Ishirou. Wajahnya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran sama sekali. Dia peduli terhadap Hayden, dan dia tak bisa memungkiri itu.
Aku menganagguk. “Hanya saja telapak tangan kanannya tersayat pisau saat berusaha menghalau pisau yang diarahkan padanya. Dia hampir mati semalam.” Aku menjelaskan pada Ishirou.
“Tak ada luka lain?”
“Sepertinya tidak,” jawabku spontan.
“Apa maksudmu sepertinya tidak? Kau belum mengeceknya menyeluruh?”
“Aku hanya bertanya padanya. Dan Hayden hanya mengatakan kalau dia terluka hanya di bagian telapak tangan. Tak ada luka lain.” Aku membela diri dari kemungkinan disalahkan. “Kau khawatir?”
Ishirou menggaruk bagian belakang kepalanya. Sebuah gesture yang menunjukkan seseorang tengah canggung dan bingung harus menjawab apa. Dia keluar, dan aku mengikutinya dari belakang. Pria itu duduk di kursi yang biasa dia gunakan seperti singgasananya.
“Kurasa, meskipun kau membencinya, kau masih memiliki rasa empati padanya. Itu bagus. Itu membuktikan kalau kau manusia dan bukan robot.” Aku berbicara padanya, meskipun Ishirou tampak mengabaikan.
“Aku hanya merasa bertanggung jawab pada orang yang tinggal di wilayahku. Bagaimana kalau dia mati? Aku tak mau rumah ini jadi seram setelah seseorang mati di sini."
"Baiklah. Anggap kau tidak peduli padanya. Tapi yang jelas, kau tampak begitu khawatir dengan keadaanya. Kau berharap kalau dia baik-baik saja."
"Terserah!" Dia kembali berkutat dengan program di komputernya. Kembali masuk di zona nyamannya sendiri.
Aku tahu dia hanya mengelak. Dan berusaha tampak tidak peduli pada kondisi Hayden. Tapi sebenarnya dia memiliki sisi baik yang khawatir terhadap Hayden.
Aku bangkit dari sofa, dan baru ingat kalau semua belanjaan kemarin masih ada di bagasi mobil. Aku benar-benar lupa kalau aku menyimpan belanjaan di sana. Mungkin karena semalam aku terlalu kacau sehingga aku melupakannya.
Kuambil belanjaan itu dan membawanya ke apartemen Ishirou. Mengisi kulkas sampai penuh dan menutupnya kembali.
"Sekarang, kau bisa mulai masak dengan bahan-bahan yang ada." Dia berkata padaku.
"Maaf, aku tidak bisa memasak. Jadi, kurasa percuma kau membelikan kami bahan makanan. Aku hanya bisa memasak air dan mie." Aku menjawab jujur kali ini. Aku terbiasa makan di luar atau terkadang, sahabatku Jessica yang memasakanku saat aku masih tinggal di Florida. Masakanannya sangat enak. Katanya dia memiliki keahlian memasak dari ibunya. Saat kecil, Jessica selalu membantu ibunya di dapur dan karena sering melihat ibunya masak dia jadi bisa belajar darinya.
Bisa dibilang, aku anak manja yang kehidupannya disokong penuh oleh Gramps. Meskipun membencinya, aku tak memiliki alasan untuk menolak uang yang dia berikan padaku. Lagi pula aku membutuhkannya. Aku butuh untuk menunjang gaya hidupku, biaya akomodasi dan makan. Aku membutuhkan itu semua dari Gramps. Aku memang memiliki sambilan sebagai seorang fotografer, tapi bayarannya tidak seberapa dan sangat jauh untuk bisa mencukupi kebutuhanku yang cenderubg begitu besar. Ini adalah kali pertamaku hidup tanpa uang Gramps.
"Ah … kau tak bisa diandalkan." Dia mengeluh.
Kubiarkan pria itu mengeluh sementara aku masuk ke kamar Hayden.
"Mau apa ke sana?"
"Bukan urusanmu!" Jelasku.
Hayden sudah bangkit dari ranjangnya. Duduk di pinggiran kasur dan mendapatiku masuk, dia menatapku lekat.
"Kenapa?" Dia bertanya karena mungkin merasa aneh aku tiba-tiba masuk ke sini.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku.
"Tentu. Aku hanya luka sedikit. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Semalam kau demam sangat tinggi. Aku bahkan bingung seperti apa menanganinya."
Aku melirik ke arah wadah berisi air dan handuk kecil yang semalam kugunakan untuk mengompres Hayden guna menurunkan panasnya. Dia mengikuti tatapanku dan melihat ke arah yang sama.
"Kau mengompresku semalam?" tanya Hayden.
"Hanya itu yang bisa kulalukan semalam. Aku khawatir terjadi sesuatu jika kau terus dibiarkan demamnya terlalu tinggi." Aku mendekat ke arahnya. Meletakkan telapak tangan di keningnya dan menatapnya. Demamnya sudah membaik. Wajahnya tampak lebih baik dari sebelumnya. Maksudku, tidak sepucat semalam. Lebih merah dari sebelumnya dan itu membuatku merasa sedikit lega. Itu berarti apa yang kulakukan semalam tidak sia-sia.
Aku mengalihkan tangan dari keningnya saat Ishirou tiba-tiba masuk. Dia menatap kami heran dan diakhiri dengan senyuman penuh selidik. Wajahnya benar-benar tampak menyebalkan saat ini.
"Kalian … oh ya ampun. Eva benar-benar perhatian sekali padamu. Bagaimana bisa kau terus mengelak kalau Hayden bukan pacarmu, Eva?"
"Kami tidak pacaran." Aku dan Hayden menjawab serentak.
"Kalian bahkan begitu kompak."
"Lupakan! Tidak penting menjelaskan padamu. Kau bisa berspekulasi apapun sesuai keinginanmu," ujar Hayden pada Ishirou. Dia terlihat kesal dan tidak peduli. Aku hanya terseyum menanggapi ucapan Hayden.
"Oh, aku hampir lupa. Apa yang dikatakan Eva benar? Kalau kau kehilangan informanmu?" Ishirou bertanya penuh selidik. "Apa itu artinya aku tidak akan dibayar?"
"Sesuai perjanjian aku akan tetap membayarmu setelah aku mendapatkan berita yang kuinginkan. Jadi itu tidak hanya mengacu pada Daniel. Aku masih bisa mencari informan lain jika ada."
"Syukurlah. Apa yang terjadi semalam?"
"Seseorang membunuh Daniel. Kurasa dia adalah seorang kaki tangan yang diperintah untuk membunuh pria itu." Hayden menjelaskan.
"Kau tahu kira-kira siapa yang ada di balik kejadian ini?"
"Tidak terlalu yakin. Tapi kurasa orang yang memegang kekuasaan paling tinggi."
Gramps. Aku juga berpikir sama. Meskipun berusaha tidak percaya karena aku masih ragu Gramps akan melakukan hal sejauh itu. Aku bahkan tidak paham betul apa motifnya.