Same Case?

1089 Kata
7.13 AM Aku duduk menatap televisi yang menampilkan berita pembunuhan tadi malam. Sudah kuduga kalau beritanya akan tayang secepat ini. Dan Hayden sejak tadi pagi terus saja sibuk dengan ponselnya. Dari kantor. Mereka menyalahkan Hayden karena dia tidak melaporkan masalah itu pada FORS dan membiarkan mereka mendapatkan berita itu dengan cepat. Sebenarnya, ini adalah kesepakatan yang dibuat oleh Hayden dan Detective Ray. Aku mendengarnya saat dia dibawa keluar dan aku mendengar percakapan mereka. Detective Ray enggan untuk membiarkan media ikut campur masalah ini. Entah apa alasannya, tapi yang jelas, Hayden menyetujuinya. Dan inilah imbasnya. Aku tidak yakin dia masih akan menyandang status sebagai reporter lagi setelah ini. Menyia-nyiakan berita bagus adalah hal terbodoh yang dilakukan oleh seorang reporter. Ishirou datang dengan membawa mangkuk berbahan plastik, s**u cair, dan sekotak sereal. Menaruhnya tepat di meja dan mengambil satu mangkok untuk dituang sereal dan s**u. “Kau baik sekali,” kataku. “Aku merasa kasihan pada wanita kurus sepertimu,” ujarnya seperti biasa, menjengkelkan. Sayangnya, dia pintar dan dapat diandalkan. Jadi aku tak bisa selalu marah padanya. Dia juga membiarkanku tinggadi sini untuk sementara. “Apa yang kau tonton?” tanya Ishirou. “Berita mengenai kejadian semalam.” “Pantas saja, Hayden sibuk sejak tadi. Aku yakin berita ini lebih dulu ditayangkan oleh kantor berita lain.” Ishirou menyendok seral dan memakannya. Terdengar bunyi saatdia mengunyahnya, dan membuatku jadi sedikit lapar. “Aku tidak menyangka kalau pria itu akan mati semudah itu. Dan makin penasaran, apa yang dia sembunyikan sampai-sampai seseorang datang untuk membunuhnya.” Aku masih diam. Ingatan mengenai Gramps kembali melintas di kepalaku, dan sampai sekarang aku masih belum memiliki motif yang kuat mengapa Gramps melakukan hal sekeji ini seandainya benar dia yanag melakukannya. “Kau baik-baik saja?” tanya Ishirou tiba-tiba. “Ya, tentu saja.” Aku langsung menyambar mangkuk yang masih kosong dan mengisinya denga sereal dan s**u. Begitu menyendok dan memasukkannya ke dalam mulut, Hayden masuk. Di tangannya menggenggam sebuah koran yang sepertinya baru saja ia dapatkan. “Aku heran, bagaimana bisa seorang jenius komputer masih suka berlangganan koran harian padahal kau bisa membaca berita melalui internet dan tidak perlu membayarnya.” “Aku hanya merasa enggan untuk meninggalkan kebiasaan lama,” ujarnya sambil mengamati Hayden yang tampak serius membaca koran di tangannya. Apa yang membuat pria itu tertarik hanya dengan membaca halaman depan? Apa ada berita besar hari ini? “Kau baca apa?” Pertanyaan Ishirou mewakili pertanyaanku. Dia melemparkan koran ke meja, dan membiarkan kami membaca sebuah headline yang terpajang di halaman depan dengan tulisan besar dan tebal. “Peresmian Kerja Sama Antara Frei Tech Dengan Jeff Company Dilakukan Di Hotel Green Lake. Amerika tengah bersiap menuju Era Digital Baru.” Sebuah judul yang sangat menarik. Aku membaca isinya. Terdapat sekitar lima alenia dalam artikel ini. Dan intinya adalah, Frei Tech dan Jeff Company terlibat kerja sama dalam proyek smart phone bernama HOLOPHONE. Sebuah teknologi yang menjadikan ponsel jauh lebih ringan dan fleksibel dari sebelumnya. Jika sebelumnya ponsel yang kami gunakan memiliki bentuk fisik, HOLOPHONE tidak. Hanya mengandalkan hologram dan bisa digunakan di manapun karena ditanam di tangan. Aku tidak tahu seperti apa bentuknya karena koran ini tidak menyertakan gambaran mengenai Holophone. Kemungkinan besar, jika proyek ini berjalan lancar, prototype akan segera dirilis sebagai promosi untuk menggaet konsumen. Ishirou menatapku begitu selesai membaca artikel. Sepertinya dia memiliki pikiran yang hampir sama denganku terkait proyek ini. Holophone bisa sangat berbahaya, apalagi isu yang menyertai Frei Tech. Aku tidak pernah tahu kenapa Gramps selalu memiliki ambisi gila. Kuingat dulu Gramps pernah gagal dalam projek AMC-001 yang sempat menuai pro dan kontra. Dan aku yakin, dia juga akan mendapatkannya kali ini. “Apa ini turunan dari proyek AMC-001?” Ishirou bertanya pada Hayden. “Entahlah. Tapi sepertinya, ya. Teknologinya sama hanya saja ini menggunakan ponsel.” “Aku memiliki firasat buruk soal proyek ini. Terlebih lagi kematian Daniel yang merupakan informanku soal kasus tujuh belas tahun yang lalu. Apa ini saling berhubungan?” “Kerahkan kemampuanmu, Reporter Hayden Smith. Bukankah seorang reporter harus pandai menganalisa kasus?” “Tapi aku tak sebaik detektif dalam menganalisa kasus.” “Tentu saja, itu adalah pekerjaan deterktif,” ujarku ikut dalam pembicaraan mereka. Merasa bosan hanya menjadi pendengar perbincangan mereka berdua saja. “Kau bisa meminta informasi pada Detektif Ray. Karena kita dibebaskan, bukankah kita sudah terbukti tidak bersalah?” ujarku mengingatkannya. “Kurasa benar juga. Jadi, kita harus ke Edena lagi?” “Kau yakin kasus itu ada hubungannya dengan Holophone? Bukankah terlalu random jika kau menghubungkannya dengan kasus lama?” Ishirpu bertanya. “Entahlah, tapi bukankah tidak ada salahnya mencoba?” Hayden benar. Aku juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi saat ini. Apa ada hal besar yang selama ini disembunyikan Gramps. Dan apakah ada hubungannya juga mengenai Gramps yang memisahkanku dengan Mom? Gramps melakukannya dua tahun sejak ayah menghilang secara misterius. Mungkin saja, setelah aku terlibat dalam hal ini, aku bisa menemukan jawaban yang selama ini kucari. Ponsel Hayden berbunyi cukup nyaring begitu aku kembali memakan serealku yang sudah mulai lembek. Wajahnya tampak serius. “Baik, aku akan segera ke sana. Ya, kami bisa menjelaskan semuanya.” Kemudian Hayden mematikan sambungan telepon. “Ada apa?” tanyaku penasaran. “Kita akan ke Edena lagi. Detective Phillip menanyakan soal kita dan menginginkan kesaksian kita secara langsung. Selain itu, mereka juga membutuhkan kita untuk membuat sketsa komposit.” “Siapa itu?” “Putra tunggal Daniel. Aku bahkan tidak tahu kalau dia sudah menikah,” ujarnya. “Kapan?” “Sekarang,” sahutnya. Aku dan Hayden bergegas pergi setelah berganti baju. Aku memakai lebih banyak pakaian Ishirou dari yang seharusnya. Kurasa setelah ini aku harus membawanya ke loundry. Aku tidak menyangka kalau kasus itu masih melibatkan kami berdua. Sebenarnya, wajar saja karena kami adalah saksi mata kasus itu, selain itu kami juga satu-satunya yang melihat wajah pelaku. Apa nantinya masalah ini akan semakin besar? Entahlah, aku hanya bisa menduga dan di sini menunggu informasi mengenai ibuku dari Ishirou. “Aku boleh bertanya?” “Tanya saja,” katanya tanpa menoleh sedikitpun. “Apa yang membuatmu sangat berambisi mengangkat kasus yang melibatkan Frei Tech? Apa kau memiliki masalah dengan pemiliknya?” “Aku tidak tahu pastio, yang jelas, aku adalah tipe orang yang ketika sudah mengejar sesuatu tidak akan pernah berhenti sampai mendapatkan apa yang kuinginkan. Jadi, sebelum aku mdnapatkan apa yang kuinginkan berkaitan dengan Frei Tech, aku tidak akan berhenti mencari.” “Menarik,” ujarku. “Jangan tertarik padaku, karena jika kau sudah tergila-gila padaku, tidak ada obatnya.” Aku memutar bola mata merasa sebal dengan ucapannya barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN