I think that matter

1136 Kata
9.06 AM Aku yakin, seandainya Hayden tahu kalau aku adalah cucu dari seorang Jonathan Fredrick, CEO Frei Tech, dia juga tidak akan melepaskanku begitu saja. Dia pasti akan mencari tahu semua yang kutahu soal Gramps dan membuatnya menjadi berita yang akan ditayangkan oleh FORS. Sebaiknya aku harus berhati-hati padanya. Bagaimanapun juga, identitasku rawan untuk diketahui. Untung saja polisi yang menangani kasus kemarin tidak mencecarku soal identitas. Entah kenapa, aku merasa kalau Hayden memiliki masalah pribadi berkaitan dengan kasus Frei Tech, entah itu ada urusannya dengan orang tuanya, orang yang dia kenal, atau bahkan dirinya sendiri. Hayden melirikku dari sepion begitu. Aku langsung tahu dan merasa tidak nyaman karena dia melakukannya beberapa kali. “Apa yang kau lakukan?” “Kau bengong?” Hayden malah balik bertanya padaku. “Hanya …” Aku berusaha keras untuk berpikir. “Hanya apa?” “Apa kau pernah bertemu detective Phillip sebelumnya?” Pertanyaan random yang muncul di kepalaku langsung kugunakan untuk mengisi kalimat yang menggantung. “Belum sama sekali. Memangnya kenapa?” “Tidak apa-apa.” Aku pasti terlihat aneh saat ini. Bagaimana bisa aku bersikap konyol seperti sekarang ini? Kami sampai di depan sebuah kantor polisi. Masuk ke dalam dan langsung disambut oleh Detektif Ray dan seorang pria berambut pirang. Wajahnya oval dengan hidung mancung dan rahang yang tampak 8begitu tegas. Apa dia adalah Detektif Phillip? Apa pria ini adalah putra Daniel? Aku yang sejak tadi berdiri di belakang Hayden, akhirnya mendapat lirikan pria itu. Mungkin dia menyadari kalau aku adalah salah satu saksi mata pembunuhan yang terjadi pada ayahnya. Setidaknya, dia tidak berpikir kalau aku dan Hayden adalah pembunuhnya. Detective Phillip memperkenalkan diri.  “Detective Phillip, dari unit kejahatan berat.” Hayden menyambut uluran tangannya kemudian memperkenalkan diri. “Hayden Smith, reporter dari kantor berita FORS.” Seperti biasa, dia memperkenalkan diri dengan percaya dirinya yang tinggi. Dia benar-benar merasa bangga dengan pekerjaan yang digelutinya. “Semoga kita bisa bekerja sama untuk segera menemukan pelakunya,” ujarnya pada Hayden kemudian melirik ke arahku. “Rekan Anda?” tanya Detektif Phillip. Apa dia benar-benar tidak tahu mengenaiku? “Salah satu saksi mata pada kejadian malam itu." Hayden yang menjawab pertanyaan Detektif Phillip. Saat aku melihat wajahnya, matanya tampak sembab dan dia juga terlihat pucat. Wajar saja, karena bagaimanapun juga dia baru saja kehilangan ayahnya. Dia masih dalam keadaan berkabung dan seharusnya tidak mengurus kasus ini. Mengapa dia tidak membiarkan kasus ini ditangani rekannya yang lain saja? "Aku meminta kalian datang untuk membantu kami menyusun sketsa komposit. Apa kalian bersedia membantu?" "Tentu saja." Kali ini aku yang menjawab. Kami berdua dibawa ke sebuah ruangan. Di sana ada seorang pria yang tengh berkutatbdebgab komputer. Begitu masuk, dia menoleh ke arah kami. Seolah-olah kami membuat kegiatan yang dilakukannya terganggu. "Ini adalah Detektif Alan dan dia yang akan menggambar sketss komposit sesuai deskripsi yang kalian berikan." Oh, rupanya pria ini yang akan menggambarnya. Setelah berbasa basi, kami bekerja sama untuk membuat sketsa yang akan digunakan untuk mencari pelaku. Kami menyelesaikannya dalal waktu satu jam lebih. Meninggalkan ruangan dan bertemu dengan Detektif Phillip di meja kerjanya. Hayden mendekat. Aku mengekor di belakangnya. "Detektif, bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin kutanyakan padamu." Hayden berbicara tanpa ragu. Detektif Phillip mengangguk dan mereka pergi keluar. Mereka berhenti di taman. Duduk di sebuah kursi di bawah pohon rindang. Sementara aku memperhatikan tak jauh dari mereka. Masih bisa mendengar meskipun lirih peebincangan mereka. "Apa ayah Anda memiliki musuh atau semacamnya?" "Saya rasa begitu. Dad adalah tipe orang yang tertutup. Dia cenderung lebih suka menyembunyikan perasaanya dari orang lain." "Anda dekat dengan ayah Anda?" "Tidak terlalu dekat, tapi saya sangat menghormatinya. Apa Anda akan menulis artikel terkait saya?" "Tidak. Saya hanya ingin mencari tahu lebih dalam soal ayah Anda. Karena sebelumnya dia berjanji pada saya akan memberikan banyak keterangan yang dia tahu soal Frei Tech." "Bagaimana bisa sampai sana? Ayah saya sudah sangat lama tidak bekerja di sana." "Saya tahu. Tapi tak banyak yang saya tahu. Yang jelas, dia keluar dari Frei Tech setelah insiden kebakaran pada tahun 2015." Hayden membahas mengenai kebakaran itu? Kenapa? Apa ada hubungannya dengan kematian Daniel saat ini? Dia selamat dari insiden kebakaran itu, dan di saat yang sama Dad menghilang tanpa jejak. Padahal hal yang dia lakukan malam itu adalah berada di laboratorium. Tunggu, apa Daniel tahu soal Dad? Apa dia berada di ruangan yang sama saat itu? Sayangnya, yang ada di sini adalah putranya dan bukan Daniel sendiri. Tentu saja aku tak bisa bertanya pada mayat dan aku harus memendam rasa penasaranku pada kejadian itu. Membayangkan soal Dad membuatku ingat masa kecilku saat bersama dengannya. Dad memiliki wajah yang tampan. Dia pintar dan sayang keluarga. Meskipun dia jarang di rumah karena pekerjaanya yang sangat menyita waktu, tapi tiap kali di rumah dia selalu dekat dengan aku dan Mom.  Dad tidak terlalu tahu apa yang saat itu dikerjakan Dad. Yang jelas, dia berusaha keras untuk mengerjakan proyek itu sampai akhirnya insiden kebakaran terjadi dan dia menghilang dari laboratorium. Aku tidak bisa berharap kalau dia masih hidup, karena kejadiannya tujuh belas tahun yang lalu dan sampai saat ini belum ada satupun informasi atau bahkan petunjuk yang kudapat mengenai keberadaan Dad. Tanpa sadar, aku melewatkan kegiatanku menguping pembicaraan mereka. Baru sekilas aku memperhatikan, mereka malah berpamitan satu sama lain. Detektif Phillip berjalan melewatiku. Sementara Hayden mendekat ke arahku. "Sudah selesai?" tanyaku pada Hayden. Dia mengangguk. "Kurasa tak banyak informasi yang kudapat darinya. Dia tidak terlalu dekat degan aang ayah." "Begitu, ya? Kurasa kira akan menemui jalan buntu setelah ini." "Tidak jika aku menemukan informan lainnya." "Siapa?" "Pekerja lain yang selamat dari insiden kebakaran di tahun dua ribu lima belas." "Apa yang membuatmu tertarik pada kasus itu?" "Ada hal yang sulit untuk dikatakan. Nanti kujelaskan di rumah Ishirou. Kau mau makan?" tanya Hayden. Aku melirik ke jam tangan yang dipakainya. Jam tangan Cassio dengan warna hitam melingkar di pergelangan tangannya. Rupanya sudah jam sebelas siang. "Boleh. Di mana?" "Di mana saja, asal bisa memuaskan rasa laparku." Aku baru ingat kalau tadi pagi, Hayden belum sempat sarapan karena terlalu sibuk dengan urusannya. Kami meninggalkan kantor polisi dan pergi mencari makan siang. Tepat di tikungan, ponsel di sakuku berbunyi. Sudah pasti itu adalah Ishirou. Karena hanya dia yang punya nomor ini. Aku memgangkatnya dan mendengarkan. "Aku berhasil melacak keberadaan nomor itu lagi. Aku akan mengirimlan lokasinya saat ini pada Hayden. Kau bisa mengikutinya." "Kau serius?" "Minta Hayden untuk mengecek pesan masuk!" Aku melirik ke arah Hayden. "Berhenti sebentar!" pintaku padanya. "Ada apa?" Hayden tampak bingung tapi langsung menepi. "Tolong cek pesan masuk di ponselmu!" Aku meminta. Hayden melakukan persis apa yang kuminta. Dan aku berhasil mendapatkan lokasi ponsel itu saat ini. Sebuah restoran di wilayah Memphis. "Kita ikuti mereka! Kau keluar, dan biar aku yang menyetir." "Kau yakin tidak akan ugal-ugalan lagi?" Aku diam dan memaksanya dengan tatapanku agar dia segera keluar dan kita berganti tempat duduk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN