Where is my mom?

1071 Kata
Hayden menggenggam handgrip  dengan sangat erat. Wajahnya tampak tidak tenang. Cenderung khawatir. Aku tidak menduga Hayden bisa setakut itu saat aku memakai menyetir mobil. Apa dia berpikir aku mau membunuhnya? Bukankah kita berada di mobil yang sama? Jika sesuatu terjadi padanya, bukankah itu juga terjadi padaku? Aneh! Aku mulai melepaskan kopling dan menginjak gas perlahan. Kembali ke jalanan dan kali ini menuju ke lokasi yang ditunjukan oleh Ishirou. Kebetulan, ini adalah lokasi makan. Sebuah restoran seafood yang cukup populer dilihat dari ratingnya. "Kau yakin ibumu ada di sana?" "Ada dua kemungkinan yang kupercayai. Pertama, ibuku ada di sana, dan kedua, Stacy yang ada di sana." Aku memberitahu Hayden. "Stacy?" "Seseorang yang bersama dengan ibu. Aku tidak tahu siapa dia. Hanya tahu namanya saja." Aku menjelaskan yang kutahu padanya. Tatapan Hayden berubah menjadi kecut. Dia tampak sedikit kesal dan melepaskan genggamannya dari handgrip di atas pintu. "Kau gila. Bagaimana kita menemukan orang itu kalau kau tidak pernah bertemu dengannya?" "Aku punya insting yang kuat, kau tahu? Aku bisa langsung tahu di mana orang yang akan kucari hanya sekali lihat." "Mengada-ada," gumamnya. "Sekarang, kau mau turun di sini?" "Aku? Kenapa?" Hayden tampak bingung dengan perintahku. "Kupikir kau tidak mau pergi denganku menemui pemilik ponsel itu." "Aku tidak bilang apapun." Dia menjelaskan sementara aku hanya mengabaikan dan fokus pada jalanan saja. Jarak yang ditempuh dengan kecepatan tinggi membuatku bisa sampai di tujuan dengan waktu yang lebih pendek. Begitu sampai, aku mengamati restoran yang kutuju. "Kau yakin ini tempatnya?" Hayden tampak ragu. "Ini adalah tempat yang ditunjukan peta. Jadi kurasa tidak perlu ragu lagi." Aku mrmbuka pintu.  Keluar dari dalam mobil, dan berjalan masuk ke dalam restoran. Hayden mengekor di belakangku tanpa diminta. Padahal dia bisa saja menunggu di dalam mobil tanpa harus mengikutiku. Kubiarkan dia mengikutiku. Lagi pula dia mengganggu. Begitu membuka pintu masuk, secara otomatis mataku memondao seisi ruangan yang dapat terlihat oleh mata. Melihatnya dengan seksama untuk menemukan Ibu ataupun Stacy. Aku berjalan masuk. Melihat-lihat dan tak menemukan siapapun. Apa mereka sudah tak ada di sini? Tapi menurut Ishirou lokasi ponsel mereka masih ada di sini. Jadi besar kemungkinan kalau mereka masih ada di sini. Seorang wanita dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru tampak mencurigakan. Dia meninggalkan tempat duduk dan pergi ke arah toilet dengan tergesa. Aku yang merasa curiga padanya, mengikuti wanita itu ke kamar mandi, dan begitu sampai di kamar mandi, aku menghentikan usaha Hayden untuk mengikutiku. Apa dia tidak lihat kalau aku hendak masuk ke kamar mandi wanita? “Kau tunggu sini, aku akan masuk dan memastikan,” ujarku padanya. Hayden diam, dan mengangguk paham dengan ucapaku. Sementara aku masuk ke kamar mandi dan melihat ke dalam. Wanita itu tidak ada di sini. Aku mencarinya dan ada dua bilik yang tertutup rapat. Kemungkinan besar dia ada di salah satu bilik yang ada. Aku mengetuk keduanya, dan hanya satu yang menyahut. Bagaimana bisa? Apa salah satu bilik memang rusak atau bahkan merupakan tempat persembunyian wanita itu? Aku menunggu bilik itu terbuka sendiri karena seseorang yang menggunakan toilet pasti akan keluar jika jurusannya sudah selesai  kecuali orang yang menggunakannya untuk sembunyi akan memakan waktu lebih lama di dalam toilet karena takut ketahuan. Buruh waktu lama sampai keduanya terbuka. Dua wanita keluar dari bilik hanya berselang waktu beberapa detik. Aku masih berpura-pura mencuci tangan dan mengamati keduanya. Salah satu dari mereka menggunakan rok berwarna kuning pucat. Rambutnya pendek sebahu dan dibiarkan terurai tanpa hiasan apapun. Sepertinya bukan dia. Wanita yang satunya memilih menggunakan jeans dan kemeja kotak-kotak dia adalah wanita yang tadi kuikuti dari luar. Apa benar-benar dia orangnya. Sebuah ide muncul begitu saja di kepalaku. Menelpon nomor yang kumiliki. Aku mengeluarkan ponsel jadul Ishiro dan langsung menelpon nomor Stacy. Tak berselang lama kemudian suara telepon terdengar nyaring. Bagus. Dia di sini. Aku mematikan sambungan. Dan kembali menelponnya lagi. Si wanita berbaju kuning tak menunjukan reaksi yang berarti. Lain halnya dengan wanita berbaju kotak-kotak yang tampak tidak nyaman. Sudah pasti, Stacy adalah wanita berbaju kotak-kotak. Ketika wanita kuning keluar dari kamar mandi, wanita kital-kotak mengekor di belakangnya. Aku memblok pintu keluar dan tidak membiarkan dia keluar begitu saja. Wanita itu menatap sinis. Mungkin merasa aneh dengan tindakanku barusan. "Apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu kesal. "Stacy?" Aku langsung memanggil namanya tanöa basa-basi seolah tidak peduli dia berusaha menyingkirkanku untuk keluar. Tapi sia-sia saja  aku tidak akan pernah menyingkir sebelum memastikan identitasnya. "Di mana ibuku?" tanyaku pada wanita itu kemudian mengunci pintu keluar. "Apa yang kau tanyakan? Kita bahkan baru ketemu." Dia mengelak. Dan itu terlihat jelas dari ekspresinya. Aku menelpon wanita itu lagi dan suara kembali terdengar di ponselnya yang tersembunyi di dalam tas. Aku merebutnya dan berhasil. Meskipun terlihat seperti kekerasan, tapi yang kuinginkan hanyalah ponselnya saja untuk memastikan ada nomorku di panggilan masuk terakhir. Dan benar saja. Saat dicek ada nomorku. Dia adalah pemilik nomor yang mengirimiku pesan misterius itu. Jadi, sudah bisa dipastikan kalau dia tahu keberadaan ibu sekarang. "Di mana ibu?" Aku hampir berteriak untuk menanyakan hal itu padanya. "Aku tidak tahu apa maksudmu." Dia terus saja mengelak. Sampai akhirnya karena kesabaranku habis, aku memojokkannya di dinding kamar mandi. Membuatnya tak lagi dapat berkutik dan memaksanya untuk bicara. "Katakan sebelum aku membuatmu pingsan di sini!" Aku mengancamnya karena kesal. Tanpa sedikit kekerasan, kurasa dia tidak akan pernah mau buka mulut. "Aku tidak tahu," ujarnya terdengar tidak meyakinkan. "Bohong! Kau, kan yang mengirimiku pesan itu?" "Aku hanya mengirimnya dan tidak tahu ibumu di mana. Aku hanya menyampaikan pesan." Dia berusaha membela diri dan sepertinya juga melindungi ibu. "Katakan atau aku akan membuatmu menyesal!" Aku semakin menekankan tanganku ke lehernya dan dia menjadi kesulitan bernapas. "Dia …." Sebuah panggilan muncul dan aku langsung menerimanya. Kukira yang menelponku adalah Ishirou. Tapi orang lain. Aku mendengar keheningan selama beberapa detik. Lalu disusul oleh suara napas seseorang di balik telepon. Siapa sebenarnya si penelpon? "Halo?" Aku memberanikan diri untuk bersuara. "Alessia?" Aku mengenal suara ini. Tapi di mana? "Kau kah ini?" Suara itu kembali terdengar. "Kau siapa?" Hening. Kemudian terdengar isakan tangis. Siapa sebenarnya si penelpon? "Kau siapa?" Aku mengulangi pertanyaan yang sama. "Aku Marrie. Ibumu." Sejak kalimat itu terucap, aku terdiam dan tak lagi mampu berkata apapun. Wanita kotak-kotak terdiam di depanku, menatap lekat dan seolah tahu siapa yang menelponku, dia menyunggingkan senyuman. Apa maksudnya? Apa dia benar-benar ibuku? Jika ya, apa yang akan kukatakan padanya setelah ini? Aku menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut si penelpon, tapi untuk beberapa saat, tak ada sepath kata pun keluar. "Apa kau serius?" tanyaku polos.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN