The beginning of my story

1353 Kata
Ini adalah penerbangan paling menyebalkan seumur hidupku. Aku benar-benar membenci Gramps! Sesaat setelah pesawat mendarat, aku berjalan terburu-buru sambil mendorong troli berisi barang-barangku. Rasanya ingin sekali segera bertemu sopir yang diutus Gramps, dan menyerahkan semua barang-barang ini padanya. Aku sudah tak tahan lagi dengan bau muntahan di bajuku. Dari sini terlihat jelas sebuah kertas karton bertuliskan namaku yang diangkat oleh seorang pria tua berkumis tebal. Sudah jelas, dialah orangnya. Sopir pribadiku selama di sini. Dengan cepat aku mendatanginya. Matanya terpaku pada bagian perutku, tempat muntahan itu berada. Hal terburuknya adalah, ini bukan muntahanku, tapi pria yang duduk di sampingku. Pria dengan wajah oriental dan rambut yang dicukur cepak serta kacamata minus tebal yang tersemat di wajahnya. Dia tertidur sepanjang perjalanan, dan setelah pesawat mengalami turbulensi selama beberapa menit, dia langsung muntah ke arahku. Oh astaga, am I looks like a toilet? “Apa yang terjadi padamu?” Pria itu bertanya, suaranya lebih halus dari tampangnya. “Hal buruk, dan aku harus segera menyelesaikannya. Aku tak mau pingsan di mobil jika masih mengenakan ini,” jawabku. “Yeah, ide bagus.” “Aku tak meminta pendapatmu,” ujarku kemudian mengeluarkan sebuah dress secara acak di dalam koper dan berlari menuju toilet. Aku benar-benar tak paham kenapa dia menempatkanku di kabin ekonomi padahal seumur hidup aku belum pernah berada di kabin itu dan berdesakan dengan banyak orang. Itu benar-benar menyebalkan. Aku masuk ke dalam toilet lalu melihat ke arah cermin. Benar-benar buruk. Yeah, seharusnya tadi langsung masuk saja ke bilik, tanpa melihat cermin. Setelah akhirnya memutuskan mandi, aku keluar dengan baju sedikit basah karena lupa membawa handuk. Aku juga tak mau menghabiskan tisu di dalam hanya untuk mengeringkan tubuh. Berjalan ke luar bandara dan menemukan Ford Mustang dengan sopir yang tengah berdiri di depan pintu. Begitu mendekat, dia langsung membukakan pintu penumpang. Aku masuk dan duduk di belakang. Sang sopir melirik ke arahku dari spion mobil, tampak ragu untuk bertanya karena tahu mood-ku saat ini benar-benar sedang kacau. Pilihan bagus jika dia tak bertanya, karena aku tak mau menumpahkan kekesalanku padanya. Sekitar dua puluh menit kemudian, kami sampai di mansion bergaya klasik milik Gramps. Aku melenggang masuk meninggalkan barang-barangku di dalam mobil. Tepat ketika aku baru melangkah dua meter dari pintu depan, Gramps muncul. Aku menatapnya, seraya melihat ke orang-orang yang berlalu lalang di sini. Mereka tengah menyiapkan pesta nanti malam. Dan dari yang kulihat, persiapannya sudah 90%. “Alessia!” Gramps memanggil namaku dengan antusias. “Bagaimana perjalananmu?” Dia berada di depanku saat ini. Memakai kaos Polo berwarna biru dan celana pendek hitam. Usianya saat ini sekitar enam puluhan puluhan, dan masih tampak begitu bugar, lihatlah perutnya! Sama sekali tak ada lemak berlebihan di sana. “Buruk!” ketusku kemudian berjalan melewatinya. Namun, tiba-tiba tanganku diraih olehnya dan membuat langkahku terhenti. “Ada apa?” “Apa alasan Gramps menempatkanku di kabin ekonomi?” “No reason,” jawabnya santai sembari melepaskan tangannya dari lenganku. “Sudah kuduga,” tukasku kemudian melenggang pergi. Gramps berteriak, mengingatkanku mengenai pesta nanti malam. Semoga saja kali ini dia tak akan mengecewakanku. Karena kalau sampai dia menikahkanku dengan pria tua, aku lebih baik mati. *** Jam delapan malam aku baru selesai memoles lipstik merah merona di bibir. Terlihat cantik dengan half-up hair style yang dibuat oleh penata rambutku. Dress berwarna hijau emerad panjang yang memiliki belahan samping tampak begitu elegan dipandang, dan membuatku bisa bergerak bebas. Sungguh, aku benar-benar menyukai dress ini. Suara ketukan pintu terdengar. “Masuk!” Gramps melanggkah melewati pintu. Dia sudah siap dengan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya. Matanya berbinar ketika menatapku. “Kau benar-benar cantik, sama seperti nenekmu,” pujinya. Terdengar memaksakan karena sebenarnya aku sangat mirip dengan Mom. Gramps sangat membenci Mom sehingga dia tak mau menyebut-nyebut namanya di depanku. “Aku bahkan tak pernah melihat nenek seumur hidupku,” jawabku jujur. “Yeah, dia lebih dulu meninggalkan dunia ini bahkan sebelum bertemu dengan cucunya.” “Apa aku terlihat sepertinya?”  “Kau mau lihat fotonya?” Aku mengangguk antusias karena sejak dulu, tak pernah sekalipun diperlihatkan fotonya. Gramps menunjukan fotonya. Di dalam foto, nenek memakai dress merah dengan rambut yang ditata rapi dan wajah yang begitu cantik. Dari sini aku tahu alasan kenapa sampai saat ini, Gramps tak juga mau menikah lagi. “Bibirnya mirip denganmu.” Dia berkomentar. “Hanya bibir, selain itu, aku lebih mirip Mom dan mataku mirip Dad. Aku bersyukur tak ada bagian diriku yang mirip denganmu,” ujarku melirik ke arahnya. “Sifatmu.” Dia tersenyum puas. “Dan kau tak menyadari itu,” lanjutnya. “Kenapa kau tak pernah menunjukkan fotonya padaku? Apa ada yang kau sembunyikan?” “Nothing. Aku hanya menyimpan foto Viona di kamar, dan ruangan itu tak pernah kau kunjungi.” “Kau tak memperbolehkanku,” “Kau benar. Dan … daripada kita berbincang di sini, lebih baik kita keluar. Keluarga Jefferson sudah datang. Aku tak mau mereka menunggu.” “Kau mau menikahkanku dengan Ashton Jefferson si pembuat onar itu? Pria gila pesta dan pecandu alkohol?” Aku cukup kesal mendengar nama keluarga Jefferson disebut oleh Gramps. Apa dia gila akan menikahkanku dengan pria semacam itu? “Bukan Ashton, tapi Nick Jefferson.” “Sejak kapan Xavier Jefferson memiliki anak kedua?” tanyaku penasaran. “Ya, dia menyembunyikannya karena berniat menjadikan Ashton sebagai pewaris Jeff Company, tapi ... kau tahu sendiri bagaimana tingkahnya.” “Apa Nick ... semacam anak dari wanita lain?” Aku menebak. “Jaga bicaramu!” Tegasnya. “Dalam suatu kerajaan pasti hanya terdapat satu raja, begitu juga dalam hal bisnis. Selalu hanya ada satu yang dominan, dan yang lain terkadang hanya bayangan. Nick adalah bayangan dari Ashton, dan lewat pertunangan ini, mereka akan memperkenalkan Nick pada khalayak sebagai pewaris Jeff Company. Jadi, kuharap jangan rusak malam ini dengan ulahmu!” Dia mengancam. Tahu kalau aku adalah tipe gadis yang sulit ditebak. “Ya, akan kuusahakan. Setidaknya kalau Nick masuk dalam kriteriaku.” “Semua persyaratan yang kau ajukan ada dalam diri Nick, jadi tak perlu khawatir.” “Bagus,” jawabku kemudian berjalan bersama Gramps keluar kamar. Hampir separuh ruang tengah dipenuhi oleh orang-orang berpakaian glamor dan elegan. Mereka adalah kolega bisnis Gramps dan Xavier Jefferson. Aku sedikit gugup saat menuruni tangga, karena semua mata menatap ke arahku. Tatapan kagum tersemat di raut wajah mereka. Gramps berada di samping, dengan tanganku tertarut di lengannya. Xavier Jefferson tengah mengobrol dengan seorang pria, dia menoleh ke belakang begitu pria di depannya melirik ke arahku. Terlihat senyuman di mulut Xavier begitu tatapan kami secara tak sengaja bertemu. Dia lebih muda dari yang kuingat. Wajahnya sering wara-wiri di televisi karena dia juga salah satu pemilik perusahaan teknologi ternama. Bisa dibilang, acara pertunangan malam ini adalah ajang peresmian kolaborasi antara Jeff Company dengan Frei Tech milik Gramps. “Selamat malam, Nona,” Xavier menyambutku. “Selamat malam, Sir,” jawabku canggung. “Kau tampak begitu cantik malam ini,” pujinya dan itu membutku makin grogi. “Andai Nick ada di sini sekarang,” lanjutnya. “Memangnya dia belum sampai?” tanya Gramps. Xavier menggeleng. “Mungkin ada sedikit masalah di jalan. Tapi akan kupastikan dia datang sebelum jam sembilan. Untuk saat ini, kita nikmati saja pestanya,” ujarnya terdengar antusias. Sialnya, aku benar-benar tak menikmati acara ini sama sekali. Tak ada Jessica, dan aku juga tidak terlalu tertarik dengan orang-orang di sini. Mereka tampak membosankan. Aku beranjak dari tempat duduk dan berpamitan pada Gramps untuk pergi ke toilet. Aku tak tahan lagi, dan tak mau mati kebosanan di sini. Gramps akhirnya mengizinkan. Aku berjalan menuju toilet, tepatnya pintu yang tak jauh dari toilet, pintu belakang. Aku butuh udara segar saat ini. Netraku menatap bintang yang tampak begitu banyak di atas sana, kemudian duduk di kursi taman dan bersantai sebelum pada akhirnya harus kembali ke pesta membosankan itu. Sebuah pesan tiba-tiba saja masuk ke ponselku dari orang tak dikenal. Buru-buru aku membukanya. Ibumu pergi dari persembunyian untuk menemuimu sekaligus membatalkan pertunanganmu. Aku khawatir sesuatu terjadi padanya jika dia gegabah. Temui dia di stasiun Embarcaden sebelum jam sembilan. Hoodie merah dengan bordiran  mawar di punggung. Stacy010 Mom? Dia benar-benar kabur malam ini? Tapi kenapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN