First Mission : Escape!

1613 Kata
Dengan langkah tergesa aku kembali ke pesta. Tepat ketika  berjalan ke ruang tengah, hampir saja aku menabrak Gramps yang saat ini kelihatan panik. Mungkin mengira aku akan kabur, meskipun nyatanya tidak. Maksudku belum. Karena tak lama lagi, aku akan meninggalkan tempat ini bagaimanapun caranya.“Dari mana saja?” “Mencari udara segar di taman. Pesta sangat membosankan,” jawabku berusaha tampak tenang. “Ada hal buruk terjadi.” Suaranya terdengar panik. Jangan-jangan Nick mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke sini? Atau bahkan dia memutuskan untuk membatalkan pertunangan denganku?  “Nick kabur usai pesawat mendarat.” Semua pertanyaan di kepalaku terjawan sudah. “Bagaimana bisa?” “Aku tak tahu jelasnya, Xavier saat ini sedang panik sama sepertiku. Bagaimana caraku menjelaskan pada tamu, kalau acara pertunangan malam ini batal?” “Seperti ini,” ujarku kemudian berjalan cepat ke arah kerumunan orang. Menyuruh mereka semua miggir selagi aku terus berjalan lurus mendekati pintu masuk. Gramps yang tahu apa yang akan kulakukan saat ini, berteriak agar penjaga pintu menghalangi supaya aku tak bisa keluar. Sia-sia saja, karena aku akan tetap keluar bagaimanapun caranya. Untuk saat ini, sepertinya Gramps tidak tahu kalau Mom kabur dari tempat pengasingan. Ini adalah celah untukku kabur bersama Mom. Menjauh dari kehidupan Gramps dan menjalani hidup baru hanya berdua bersama Mom. Begitu sampai di depan pintu, para penjaga langsung membuat barisan. Jumlah mereka ada lima. Kebanyakan bertubuh tinggi dan tentu saja berotot. Mereka menghalangiku keluar dan secara tak sabar, aku langsung menyerang mereka satu persatu secara tak diduga. Dalam hati, aku sedikit bersyukur Gramps memberikanku gaun ini. Dengan belahan samping yang cukup panjang membuatku bisa bergerak bebas tanpa harus kesulitan. Beberapa dari mereka berusaha membalas seranganku. Sebagian besar berhasil kutangkis, meskipun akhirnya sebuah pukulan mengenai pipi dan membuatku merasakan sakit yang luar biasa di wajah. Aku bahkan bisa merasakan darah di ujung bibir. Aku melirik tajam pada penjaga yang tadi memukul dan dengan gerakan tak terduga, aku membalasnya. Dia tumbang dengan satu kali pukulan. Tak butuh waktu lama untukku bisa mengalahkan semuanya. Mereka terkapar di depan pintu dan kesakitan. Aku berjalan melewatinya dengan langkah mantap. Yakin, jika saat ini menoleh ke belakang, pasti akan mendapati tatapan heran sekaligus takut dari para tamu. Aku berlari menuju mobil Gramps di garasi. Satu hal yang cukup menyenangkan di sini adalah, Gramps memiliki kebiasaan menyimpan kunci cadangan mobil koleksinya di sebuah kotak, dan kabar baiknya, aku tahu tempatnya. Tak butuh waktu lama, aku sudah bisa menemukan kotak itu dan mengambil salah satu kunci mobil di dalamnya. Pilihanku jatuh kepada mobil yang tadi sore kunaiki saat kembali ke sini. Sebuah Ford Mustang yang memiliki kecepatan sangat tinggi. Aku suka bagian dalamnya yang sudah dimodifikasi. Gramps berdiri di depan mobilku saat ini, sekitar tiga meter dari posisi mobil yang kutumpangi. Dia cukup percaya diri kalau aku tak akan menabraknya. Padahal aku pernah berencana membunuhnya di waktu yang tepat. So, apakah ini waktunya? Kita lihat saja. Apa dia akan menyingkir atau tidak. Kecepatan mobil ini jauh lebih cepat dari mobil kesayangannya, dan hanya butuh satu injakan pada pedal gas, hingga Pak Tua itu akan terpental jauh dan mengalami cidera parah. Aku menatap lurus ke depan, melihat Gramps yang masih saja berdiri di sana dengan santainya. Aku memainkan gas dan rem. Membuat roda berputar kecang sementara aku terus menginjak rem. Satu ... Sepertinya ini saatnya. Dua ... Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Tiga ... Sudah terlambat. Aku melepaskan rem perlahan dan meluncur. Hanya berjarak sepersekian detik, Gamps menyingkir dari depan mobilku dengan melompat ke samping. Aku melaju meninggalkan mansion, menjauhinya dan tak memiliki niat kembali seadainya bisa. Tujuanku saat ini adalah stasiun, dan hanya butuh waktu singkat untuk ke sana, apa lagi dengan mobil ini *** Peron dipenuhi orang-orang yang tengah menunggu kereta. Aku berdesakan masuk ke dalam kerumunan hanya untuk mencari keberadaan Mom. Hanya ada satu clue yang kumiliki. Hoodie merah dengan bordiran bunga mawar di punggung. Merah adalah warna yang menonjol. Cukup mudah ditemukan. Kecuali –aku melihat ke segala arah— banyak yang mengenakan pakaian merah saat ini. Aku perlu mendekatinya satu-persatu, memastikan di mana Mom berada. Dia pasti menunggu di sekitar sini dan tak akan pergi sampai aku menemukannya. Benar, ‘kan? Langkahku kupercepat mencari keberadaannya. Mencoba menilik beberapa orang dan tak juga kutemukan. Apa dia sudah pergi dari sini? Aku duduk di bangku peron. Mengamati ke segala arah untuk mencari keberadaanya. Menunggu dan terus menunggu, sampai tak sadar kalau manusia di sini jumlahnya mulai menyusut. Kutilik jam tangan. Sudah jam sebelas lebih dua puluh menit. Hampir tengah malam. Pantas saja sudah sepi, sementara aku masih saja duduk di sini menunggunya yang tak juga muncul. Apa dia sudah pergi? Aku bangkit dari kursi. Melenggang lemah meninggalkan peron karena sepertinya sia-sia saja aku menunggu. Dia tak akan datang. Mungkin saja pergi ke suatu tempat dan mengubah tempat pertemuan kita. Aku menilik ponsel, berpikir mungkin saja nomor itu kembali mengirimiku pesan untuk memberitahu mengenai perubahan tempat. Tapi nihil. Ketika jam menunjukan pukul dua belas, aku memutuskan keluar dari area stasiun. Berjalan menuju parkiran dengan pikiran yang melayang. Banyak spekulasi berdatangan di otakku dan hampir semuanya berisi spekulasi negatif yang jika kudengarkan, akan membuatku jauh lebih kecewa dibanding saat ini. Malam semakin larut, dan sepi menylimuti perjalananku menuju parkiran. Terdengar suara langkah kaki di belakang. Perasaan gelisah mulai muncul. Aku sendirian di sini dan bukan tak mungkin kalau yang tengah berjalan di belakangku adalah seorang perampok yang menginginkan hartaku –meskipun aku tak membawa apapun saat ini kecuali ponsel. Aku melangkah lebih cepat, suara langkah kaki di belakangku juga mengikuti langkah cepatku. Sudah pasti, sosok di belakangku memang sengaja mengikuti. Aku menoleh dan seorang pria berkumis tebal dengan topi kupluk langsung menatapku. Karena khawatir aku berlari. Sesuai dugaanku, dia mengejar. Sialnya, karena memakai heels akhirnya aku tertangkap juga. Dia menggenggam tanganku. Aku menonjoknya dengan tangan yang bebas, dan membuat hidungnya mengeluarkan darah. Merasa tak terima, dia balik menyerangku. Tenaganya kuat juga dan serangannya juga banyak yang efektif mengenaiku. Aku terjungkal ke belakang saat pria itu menendang perutku. “Serahkan kalungmu! Atau aku menggunakan cara kasar!” Dia memaksa dan mengeluarkan pisau dari saku. “Bukankah kau sudah kasar sejak tadi?” Aku bangkit dan melihat sesosok pria menghampiri pencuri itu dari belakang. Mataku berusaha tak memperhatikannya agar pencuri itu tak curiga. “Itu karena kau menyerangku lebih dulu, bodoh!” jawabnya. Tiba-tiba pria di belakangnya menendang pencuri itu sampai dia jatuh terjerembab di dekatku. Aku cukup terkejut melihat kejadian tadi dan tiba-tiba saja, sang pria menarik tanganku untuk kabur dari pencuri itu. Kami berlari cukup kencang. Menoleh ke belakang, rupanya pencuri itu mengejar kami berdua. Sangat dekat hingga akhirnya aku berhasil ditariknya. Pria yang menolongku langsung berhenti dan menyerang pria itu. Terjadi perkelahian yang cukup sengit di antara mereka, dan yang membuatku sedikit khawatir adalah, dia bersenjata. Dia bisa saja melukai pria itu. Baru saja berpikir demikian, aku melihat pisau sang pencuri mengenai lengan pria itu. Dia tak mempedulikan lukanya, dan terus melawan. Aku tak sabar hanya menunggu, akhirnya memutuskan untuk membantu pria itu melawan pencuri, meskipun tak adil dua lawan satu. Dia berhasil dilumpuhkan. Tergeletak tak berdaya dengan wajah lebam dengan mulut dan hidung berdarah. Pria itu kembali menarik tanganku untuk kabur, karena bisa saja sang pencuri kembali bangkit dan menyerang. Kami bersembunyi di antara mobil-mobil yang terparkir, berhenti dan mengatur napas sejenak. “Terima kasih. Kau ... sudah membantuku,” ucapku terbata. “Sama-sama. Kau ... baik-baik saja?” tanya pria itu. “Ya. Kau?” “Ya.” “Kurasa tidak.” Aku melirik ke arah jemarinya yang meneteskan darah. Dia menyentuh bagian lengan atas dan aku baru sadar kalau darah itu berasal dari sana. “Sepertinya buruk,” komentarku. Dia melepaskan jaket hitamnya dan jelas terlihat sebuah luka sayatan sepanjang empat sentimeter melintang di sana. Sepertinya dalam dan pendarahannya harus segera dihentikan. Dia meringis kesakitan sambil menutup lukanya dengan tangan. “Kita harus mengobatinya.” Aku memberikan saran. “Aku akan menelpon temanku, kau bisa pergi sekarang juga.” “Butuh berapa lama?” “Mungkin lima belas menit.” “Aku tak yakin kau masih sadar dalam waktu selama itu. Naik! Kita obati dan kita impas.” Dia terlihat ragu dengan tawaranku, meskipun begitu pada akhirnya dia naik juga ke dalam mobilku. Setelah sekitar lima kilometer dari parkiran, akhirnya aku menemukan sebuah toko obat. Aku turun dari mobil, dan memasuki toko itu untuk membeli beberapa obat yang kubutuhkan. Membayar menggunakan m-banking, dan keluar begitu mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku masuk ke dalam mobil, mengobati pria itu perlahan, meskipun kenyataannya dia meringis kesakitan. “Setelah ini, lebih baik kau pergi ke rumah sakit. Lukamu cukup dalam dan membutuhkan jahitan.” Dia melirik. Tatapan kami bertemu. Detik ini juga, aku baru menyadari kalau dia memiliki mata sebiru lautan. “Aku baik-baik saja. Setelah ini kau bisa pergi. Aku akan naik taksi untuk pulang.” Baiklah, kurasa dia benar. Lagi pula aku sudah mengobatinya, dan bisa dibilang ini sudah impas, ‘kan? Setelah selesai mengobati, dia berterima kasih. Kukira dia tak akan pernah mengucapkan kalimat itu karena mengangap kalau yang kulakukan adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Saat pria itu hendak keluar dari dalam mobilku, sebuah mobil di belakang mencuri perhatianku. Aku yakin kalau aku mengenal mobil itu. Berusaha berpikir keras dalam waktu singkat, hingga akhirnya aku mendapat kesimpulan buruk. Itu adalah mobil Gramps. Sial! Aku menutup degan buru-buru pintu yang tadinya hendak dibuka oleh pria di sampingku. Di saat yang sama, mobil berwarna merah menghentikan laju tepat di depan sana dan seorang pria yang kukenali turun dari dalam mobil. “Apa yang kau lakukan?” “Maaf ...,” aku langsung menginjak pedal gas usai melepaskan kopling. Melaju kencang dan melewati mobil merah, “tapi sepertinya kau harus ikut untuk sementara waktu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN