I hate Reporter

1420 Kata
Jarum pada spidometer terus bergeser ke kanan. Stabil dan berusaha untuk tak kukurangi kecepatannya. Sesekali aku melirik ke spion hanya untuk mengecek apakah posisi mereka sudah terlalu dekat atau bahkan aku berhasil menjauh. Adrenalin di dalam tubuh meningkat, membuatku semakin bersemangat dan merasa mampu menambah kecepatan lagi untuk meloloskan diri dari mereka. “Kau buronan?” teriak seseorang. Menikmati kecepatan mobil membuatku hampir lupa kalau ada seseorang yang duduk di sampingku saat ini. Tangan kanannya memegang erat hand grip dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran. “Bukan, aku hanya ....” Aku menikung tajam untuk mengubah arah ke jalur lainnya. “Aku hanya punya sedikit masalah,” lanjutku. “Ku bohong! Kau pasti buronan yang kabur. Dan mobil-mobil di belakang kita adalah polisi!” Suaranya dipenuhi kepanikan, dia bahkan terengah-engah. “Sebaiknya kau diam, Sir! Jangan ganggu konsentrasiku kalau tidak mau kita berdua mati.” Dia mengatupkan mulutnya. Mungkin sadar kalau ucapanku benar. Saat ini aku memiliki keuntungan, karena jarak mereka rupanya cukup jauh, dan aku bisa menaikkan kecepatan lagi untuk semakin menjauh dari mereka. Aku membelokkan mobil di perempatan dan melihat ke arah GPS. Untung saja saat ini dini hari, dan jalanan tak seramai siang atau pada jam sibuk. Bayangkan jika aku berkendara seperti tadi di jam sibuk, mungkin dalam waktu beberapa menit saja aku sudah tertangkap. Saat aku melihat spion, mereka benar-benar menghilang. Akhirnya kami lolos dari mereka. Tanpa terasa aku menggembuskan napas lega dan menurunkan kecepatan sebelum polisi memergoki mobilku dalam kecepatan di atas kewajaran. “Mereka pergi?” “Mungkin,” jawabku santai kemudian mengambil ponsel dari dalam dashboard untuk dimatikan. Setelah ini, aku harus mengganti nomor telepon agar Gramps tak bisa menemukanku. Meskipun itu berarti aku tak bisa menghubungi Mom lagi. Meskipun begitu, kabar baiknya aku mengingat dengan jelas nomor telpon Stacy. “Sebenarnya, kau siapa sampai-sampai mereka mengejarmu?” Pria itu menengok ke arahku. “Yang jelas, aku bukan orang jahat. Bisa kau lihat, aku bahkan masih memakai baju pesta saat ini.” “Aku tak bisa menilai buku hanya dari covernya,” sahutnya sembari mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. “Oke, biarkan aku menjelaskannya sedikit. Mereka mengejar untuk memaksaku pulang. Aku kabur dari rumah dan enggan untuk kembali,” jelasku. Detik selanjutnya aku merasa heran, kenapa aku harus menjelaskan hal yang sebenarnya tak perlu dia ketahui? “Ahh ... remaja labil yang kabur dari rumah.” Aku menoleh spontan begitu mendengar ucapannya. Bibirnya menyeringai, dan aku mulai kesal dibuatnya. “Aku bukan remaja, asal kau tahu saja! Dari yang kulihat,” aku memindai dari atas ke bawah dalam satu kali tangkapan, “sepertinya kita seumuran,” lanjutku. “Terserah, kau punya tujuan saat ini?” “Tentu,” jawabku sambil menyelipkan anak rambut ke telinga. “Baiklah, karena kita mungkin punya tujuan yang berbeda kau bisa menurunkanku di halte depan. Aku akan mencari taksi.” “Kau mau ke mana?” “Apa aku harus memberitahukan semuanya kepadamu, miss?” “Terserah.” “Aku mau ke Lancaster untuk menemui temanku.” “Kita searah, kau mau menumpang atau kuturunkan di sini?” Jujur saja, aku terlalu mempercayai pria ini. Bagaimana kalau dia orang jahat? Atau bahkan Psychopath? Ahh ... wajahnya terlalu tampan untuk disebut Psychopath. Bukankah Psychopath tak memandang rupa? Sial! Aku terlalu jauh berpikir. “Jarak ke sana sangat jauh dan membutuhkan waktu sekitar setengah hari. Kita bisa bergantian menyetir. Jadi, oke.” Dia mengiyakan tawaranku “Lumayan untuk menghemat pengeluaran,” gumamnya. “Siapa namamu?” “Hayden,” dia merogoh saku kemeja, mengeluarkan sebuah ID Card. “Reporter Hayden Smith dari kantor berita FORS.” “Ahh ... sudah terlambat untuk menarik ucapanku.” Gumamku menyesali ucapanku beberapa saat yang lalu. Di sisi lain, aku merasa sedikit lega karena pikiranku salah. Meskipun tak bisa dipungkiri kalau salah satu profesi yang paling kubenci adalah reporter. Parahnya, saat ini aku bersama dengan reporter dari FORS. Jika dia tahu mengenaiku, bisa dipastikan aku dalam masalah besar, terlebih lagi kejadian semalam pasti berada di jajaran teratas berita esok hari –setidaknya jika Gramps dan Xavier tidak melakukan embargo terhadap pers. Dan keputusanku untuk pergi dengannya adalah hal terburuk. Aku seperti memasuki perangkap dengan senang hati. “Ucapan yang mana?” “Lupakan!” kataku sambil mengusap rambut ke belakang. Aku yakin, saat ini rambutku sangat berantakan. “Dan kau?”  “Eva.” Sebuah nama terlintas di kepalaku. Aku tersenyum. “Yeah ... Eva. Aku tak bisa menunjukkan identitasku, karena dompet dan semuanya kutinggal di rumah. Aku hanya membawa ponsel.” Berbicara soal ponsel, aku baru ingat kalau tadi melakukan transaksi dengan M-banking. Pasti itu yang membuat mereka bisa melacak keberadaanku. Bodoh! Kenapa tak terpikirkan sebelumnya? “Kau tahu, kejadian tadi bisa kumasukan dalam artikelku. ‘Seorang gadis berbaju pesta terlibat pengejaran dengan orang-orang aneh ....” “Shut up! Berhenti berandai-andai untuk menulis tentangku. Atau kuturunkan kau di sini.” Aku bersikap tegas saat ini. Kami melewati area yang sangat sepi dan tentu saja pria ini tak akan mau seandainya kupaksa turun. “Oke ... oke ....” “Aku akan mengantarmu ke Lancaster dengan dua syarat.” “Apa?” “Pertama, jangan ikut campur urusanku, dan yang kedua, jangan pernah berpikiran untuk menulis tentangku di artikel sampahmu.” “Artikel sampah?” Dia tampak tak senang dengan ucapanku. “Jika kau tahu kasus apa yang saat ini kukejar, kau akan berpikir dua tiga kali untuk menganggap artikelku sampah.” Aku menaikkan alis saat menoleh ke arahnya. “Kau tahu perusahaan Frei Tech?” Punggungku terasa panas begitu dia menyebutkan perusahaan Gramps. “Aku tengah menggali mengenai perusahaan itu. Ada banyak hal yang terasa janggal dari Frei Tech. Termasuk kerjasama yang dilakukan dengan Jeff Company.” “Semoga beruntung dengan itu semua. Tapi asal kau tahu saja, kurasa terlalu sulit untuk mengusik perusahaan sebesar itu.” “Itulah mengapa aku butuh waktu lama hingga akhirnya menemukan seorang informan yang akan memberikan pernyataan penting. Tapi ... entah mengapa dia tak datang tadi.” “Di stasiun?” “Ya. Memangnya untuk apa aku ke stasiun semalam itu?” Oke, bisa dibilang dia terlalu terbuka terhadap masalahnya. Tapi satu hal yang kuharapkan, dia tak mengenaliku sebagai calon pewaris Frei Tech. Pria itu menyalakan musik setelah meminta izin dariku. Tepat sekitar pukul tiga lebih, dia menawariku untuk bergantian menyetir. Awalnya aku ragu untuk memberikan kesempatan padanya untuk menyetir, tapi di sisi lain, aku juga enggan mengambil resiko mengantuk saat menyetir. Aku menghentikan laju mobil di jalanan yang sepi. Udara begitu dingin saat aku membuka pintu mobil. Turun kemudian membiarkan pria bernama Hayden mengambil alih kemudi. Aku berjalan memutar untuk duduk di sisi penumpang, tapi saat hendak membuka pintu, tiba-tiba mobil melaju pergi. Aku khawatir bukan main dan berteriak ke arahnya tapi bukannya terus melaju, mobilku tiba-tiba berhenti di jarak lima puluh meter di depan. Aku berlari ke arahnya, Memukul kap depan kemudian membuka pintu kemudi. Hayden tertawa terbahak selagi aku mengomel karena kesal. “Kau kira aku akan membawa kabur mobilmu?” tanya pria gila itu. “Sial, kau!” “Kurasa, kau sudah tak mengantuk lagi, miss.” Dia menoleh dengan wajahnya yang menyebalkan itu. “Berhenti bersikap menyebalkan dan memanggilku miss.” “Maaf ... maaf ....” Mobil dinyalakan, kemudian kami meluncur kembali di jalanan. Aku tak ingat sejak kapan aku tertidur, atau berapa lama aku tidur. Namun yang jelas, ketika bangun matahari sudah terlihat terik Hayden menghilang dari kursi kemudi. Aku mengintip dari jendela. Sebuah pom bensin. Lalu, di mana pria itu? Saat aku mengucek mata, sosok yang kukenal baru saja keluar dari sebuah toserba berjarak sekitar dua puluh meter dari mobil. Di tangannya, dia membawa dua satu kantong plastik besar penuh. Entah apa isinya, tapi sepertinya makanan. Hayden membuka pintu kemudian meletakkan tas plastik di pangkuannya. Mengeluarkan sekaleng Mojito lalu membukanya. Pria itu meminum beberapa tegukan. Saat menyadari kalau aku memperhatikan, pria itu kembali mengambil minuman dari dalam kantong plastik dan menyerahkannya padaku. “Ambil!” “Kau minum saat menyetir?” “Kita hampir sampai. Jangan khawatir, aku tak akan mabuk jika hanya minum satu kaleng.” Aku mengabaikannya, kemudian membuka kaleng. Meminum beberapa tegukan dan merasakan hawa dingin masuk ke dalam tenggorokanku dan perlahan masuk ke dalam perut. “Apa kau tahu betul jalan ke umah temanmu?” tanyaku penasaran. “Tentu. Aku pernah tinggal di sana untuk waktu yang lama.” “Temanmu itu ... dia juga seorang reporter?” “Hacker,” jawabnya sambil memakan roti lapis yang tadi dibelinya. “Aku membutuhkan keahliannya untuk melacak seseorang.” Apa dia bisa juga melecak keberadaan ibu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN