“Iya, Pak! Tenang aja. Lagian Bapak seganteng apa sampai saya libatkan Bapak dalam keseluruhan hidup saya.” Bevi kemudian sadar kembali mengibarkan bendera perang. Dia mengangkat kedua jari sambil tersenyum kecil. “Maaf.” Birzy geleng-geleng. Baru saja gadis itu seperti mati kutu di hadapannya, sekarang kembali ke sifat aslinya. “Besok kamu boleh balik.” Bevi tidak bisa membendung lagi perasaan bahagianya. “Makasih, Pak.” Setelah mengucapkan itu dia berjalan keluar dengan senyum cerah. “Pak Risyad!” Dia melambaikan tangan ke Risyad. “Kenapa?” Risyad bingung dengan Bevi. Sebelum masuk ruangan gadis itu terlihat sengan, saat keluar terlihat begitu bahagia. “Kenapa, sih?” “Jangan kangen, ya. Mulai besok gue nggak di sini.” Bevi bertepuk tangan. “Ah, gue nggak lagi ngerasa kedinginan. Eman

