“Jangan macem-macem.” Bevi melihat Birzy menunjuknya. Gadis itu mengernyit bingung, tidak mengerti maksudnya apa. Dia mendengus lalu membuka pintu pantry. Saat hendak mengambil cangkir, dia tersadar Birzy telah pergi dari ruangan Raka. Dia mengambil satu cangkir lalu membuatkan kopi. Beberapa menit kemudian, Bevi kembali ke ruangan Raka. Dia mendapati atasannya itu masih duduk di sofa single sambil bermain ponsel. “Ini kopinya, Pak.” Raka mendongak. “Lo cuma buat satu?” Bevi meletakkan cangkir di atas meja. Dia memegang nampan sambil mengangguk. “Saya lihat Pak Birzy keluar. Jadi, saya cuma buat satu. Apa Pak Birzy akan kembali?” “Ck! Nggak usah serius gitu kalau ngomong sama gue.” Raka menyesap kopi buatan Bevi. Dia manggut-manggut merasakan kopi itu tidak terlalu manis, sesuai seler

