****
Entah sihir apa yang memikat hati Sellena hingga ia tidak bisa berkutik sama sekali. Ketika bibir tipis berwarna merah muda itu nyaris menyentuh kulit bibirnya, Sellena tersadar akan ucapan Hellena di dalam telepon. Tidak! Hal buruk ini sama sekali tidak boleh terjadi.
"Maaf, sebenarnya aku sedang—sedang datang bulan," ucap Sellena dengan wajah memanas. Dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan, Darrent berhasil menghentikan aksinya untuk memulai acara yang begitu sakral bagi sepasang pengantin.
Diam beberapa detik, Darrent terpaku di tempat lantas memundurkan wajahnya. Ucapan yang dilontarkan Sellena nyatanya mampu memukul mundur pria tampan itu untuk mencium dirinya. Sedikit menjaga jarak, ada kekecewaan yang timbul dan terlukis di wajahnya yang sempurna. "Bagaimana bisa? Bukankah kamu sudah mendapatkannya minggu lalu?! Kenapa sekarang keluar lagi?"
"Oh?! Darimana kamu bisa tahu?" Mendadak Sellena tertarik untuk menanyakannya, pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari bibirnya yang ranum dan menggoda.
Darrent menatap Sellena dengan tatapan tak percaya, ia berkacak pinggang lalu mengusap dahinya. "Darimana aku bisa tahu? Hellena, kamu lupa ya bahwa kamu beberapa hari yang lalu bilang padaku bahwa kamu sudah berhenti dari datang bulan?! Kamu lupa ya?!"
Seperti terkena ledakan meriam, wajah Sellena mendadak ingin meledak. Dasar Hellena, kenapa bisa-bisanya dia menceritakan hal tabu seperti itu pada pria?! Kenapa ia tidak malu sama sekali pada Darrent? Atau-atau memang urat malu Hellena sudah putus?!
"Hellena, kenapa diam? Kamu sungguh lupa?" Darrent mengerutkan dahi, kini tangan kanannya maju untuk memeriksa dahi Sellena yang kala itu memang sedikit hangat karena emosinya yang naik turun tidak tentu. "Ah, kamu sepertinya demam. Apakah aku perlu mengambilkanmu obat demam?"
Mendadak Darrent panik setelah menyentuh dahi gadis itu, ia berjalan mondar-mandir untuk memastikan tindakan apa yang selanjutnya akan ia lakukan.
"Ah, ya, aku memang sedikit pusing karena datang bulan. Aku tidak tahu kenapa Minggu ini keluar lagi," ucap Sellena lantas bergerak dengan cepat. Gadis berkacamata itu langsung berakting pura-pura memegangi kepalanya dan mengeluh kesakitan.
"Kalau begitu aku panggilkan dokter terdekat ya atau aku panggilkan ibu supaya kamu—"
"Tidak usah Darrent, tidak usah. Aku pasti sembuh dengan tidur lebih awal," ucap Sellena sambil terus memegangi dahinya.
"Baiklah kalau begitu, tidurlah lebih awal. Aku janji tidak akan mengganggumu malam ini," ucap Darrent lantas membimbing tubuh Sellena untuk beranjak menuju ke ranjang mereka yang sudah dihias dengan kelopak bunga mawar merah.
Sellena mengangguk, ia memaksakan diri untuk tersenyum pada Darrent. "Terima kasih untuk pengertiannya Darrent."
"Sama-sama Sayang, kamu terlalu kelelahan. Mungkin kita bisa melakukannya lain kali," ucap Darrent membalas senyum Sellena dengan tulus.
Pria itu lantas mendudukkan tubuh Sellena di tepi ranjang, menatap istrinya yang mencoba membaringkan tubuhnya dengan begitu perlahan. Dengan sigap Darrent lantas menarik selimut dan menyelimuti Sellena dengan penuh perhatian. "Selamat tidur Sayang, aku akan menjagamu sembari meminum kopi."
Sellena mengangguk, ia lantas pura-pura memejamkan mata. Meskipun Darrent berjanji tidak akan mengganggunya malam ini tapi rasa tidak percaya masih menyelimuti hatinya. Malam itu Sellena terus bersikap waspada meskipun harus berpura-pura tidur dan bersikap biasa-biasa saja. Entahlah, perasaan yang kini Sellena rasakan benar-benar diluar dugaan.
****
Kicauan burung hummingbird terdengar begitu syahdu pagi itu, siapa sangka jika malam yang dingin dan rasa lelah yang mendera membuat Sellena yang sebelumnya waspada mendadak tertidur dengan begitu pulas.
Ketika gadis berkaca mata itu bangun, ia merasakan sebuah tangan telah memeluk perutnya dengan erat. Rupanya tadi malam ia kecolongan dan tidak merasakan apapun ketika Darrent naik ke atas ranjang dan tidur di sampingnya. Memang sial Sellena hari ini!
Sellena menahan napas, ia meraba tangan itu dan memastikan jika memang benda kenyal yang memeluk perutnya itu adalah tangan manusia. Merasa yakin jika itu adalah tangan Darrent, Sellena lantas berteriak kencang lantas menepis tangan Darrent ke udara.
Darrent terlonjak, ia kaget bukan main ketika Sellena berteriak histeris dan bangun dari tidurnya. "Hellena, ada apa? Hellena..."
Napas Sellena naik turun, ia bangun dengan keringat mengucur deras. Ketika Darrent menyentuh pundaknya, Sellena dengan sigap menepis lalu memukul kepala Darrent dengan bantal. Darrent cukup kaget dengan sikap kekasihnya yang berbeda, ia mencekal tangan Sellena lalu berteriak untuk menyadarkan. "Hellena sadar! Sadar kamu!"
Sellena terhenyak, ingatannya mulai kembali seratus persen ketika Darrent menyebut nama Hellena kepadanya. Ah, dia kelepasan lagi!
"Hellena, sadar! Apa yang terjadi padamu?" Darrent menggenggam kedua tangan Sellena dengan tatapan penuh cemas.
"Darrent, Hellena, ada apa Nak? Kenapa ada teriakan?" Suara Margareth tengah mengetuk-ngetuk pintu. Sebagai mertua yang siaga, wanita paruh baya itu tidak akan membiarkan anak menantu dan putranya mengalami celaka barang sedikit pun.
Darrent menatap ke arah pintu, ia lantas turun dari ranjang dan membukakan pintu untuk ibunya. Perlahan Margareth masuk ke dalam kamar dan berlari memeluk tubuh Sellena. "Sayang, ada apa? Apakah kamu terluka?"
Sellena terdiam di dalam pelukan Margareth, wanita itu merengkuhnya dengan erat sambil mengusap rambutnya. "Tenang Sayang, ibu ada di sini untukmu. Katakan padaku, apa yang terjadi?! Apakah Darrent menyakitimu?"
Sellena menatap Darrent, pria itu mondar-mandir dengan tatapan bingung. Tak hanya Margareth, Johan, Sarah, dan William pun turut serta berlari ke arah kamar milik Hellena tersebut. Perlahan Sellena bangun dari pelukan Margareth, ia menggeleng kecil. "Tidak Bu, saya hanya—hanya bermimpi buruk. Darrent maafkan aku, aku tidak sengajamemukulmu tadi."
Darrent mengangguk meskipun wajahnya terlihat begitu shock. Bagaimana tidak shock, nyawanya hampir melayang karena dibuat kaget oleh istri kecilnya yang nakal.
Semua orang saling berpandangan, Johan lalu maju mendekati Sellena. "Tidak apa-apa, itu efek dari kelelahan sehingga kamu bisa bermimpi buruk seperti itu. Sekarang bagaimana perasaanmu? Apakah sudah sedikit lega? Mari turun ke bawah, aku akan membuatkanmu teh lemon hangat agar badanmu terasa segar."
Sellena terpaku sesaat, ia tertunduk dengan wajah menyesal. Tak seharusnya ia berbuat seperti ini pada keluarga yang begitu baik padanya. Lihatlah betapa Margareth begitu menyayanginya dan Johan merawat dirinya seperti anaknya sendiri. Sungguh malu rasanya jika meneruskan kebohongan ini terus-menerus.
"Hellena, bagaimana perasaanmu sekarang? Mari turun bersama kami, kebetulan kami sudah menyiapkan sarapan yang lezat untukmu." Margareth tersenyum, mengusap punggung Sellena dengan penuh sayang.
"Hellena, dengarkan kata ibu mertuamu. Beliau sangat menyayangimu maka pertimbangkanlah ajakannya untuk sarapan bersama." Sarah turut bersuara, menatap Sellena dengan tatapan yang berbeda.
"Iya Hellena, mari kita sarapan bersama." William tersenyum, tatapannya melunak dan sedikit kasihan pada putrinya tersebut.
Sellena hanya bisa mengangguk, perlahan ia turun dari ranjang dan mengikuti bimbingan tangan Margareth untuk turun dari ranjang dan berjalan menuju ke dapur untuk sarapan bersama. "Sayang, kamu harus jaga diri baik-baik ya. Selama kamu bersama Darrent, aku yakin dia pasti akan menjagamu dengan baik."
Sellena tersenyum dengan terpaksa, menatap Margareth sekilas lalu mengangguk. "Terima kasih Bu, terima kasih untuk segala perhatiannya. Tentu saja saya tidak akan pernah melupakannya."
****
Sehabis sarapan pagi, Sellena bergegas membawa beberapa piring kotor ke wastafel yang terdapat di dapur. Jarak antara ruang makan dan juga dapur hanya terpisahkan oleh sekat dinding yang cukup tebal, hal ini memungkinkan bagi Sarah untuk pergi mendekati Sellena dengan berdalih ingin membantunya mencuci piring.
"Sellena, bagaimana dengan dirimu? Apakah sesuatu terjadi antara kamu dengan Darrent?" tanya Sarah berbisik lirih sembari sesekali melirik ke arah pintu ruang makan.
Sellena menatap ibunya dengan tatapan kesal, ia belum menjawab dan justru sibuk menuangkan sabun cuci piring pada spon hijau yang tersedia.
"Sellena, Ibu bertanya padamu!" Sarah kembali menekankan ucapannya. Kali ini wanita paruh baya itu menyenggol siku Sellena, berharap anak gadisnya mau menjawab dengan jujur.
"Tidak terjadi apa-apa Bu." Sellena menjawab dengan malas tanpa sekali pun menatap wajah ibunya.
"Lalu kenapa tadi kamu berteriak kencang?" Sarah kembali menekan Sellena dengan tatapan ingin tahu.
Sellena menghentikan aktifitasnya mencuci piring, menatap ibunya dengan tatapan makin kesal. "Aku melihat seekor kecoa merayap di kakiku, Bu. Aku jijik dengan kecoa, Ibu paham kan?!"
Sarah menaikkan alisnya sebelah lalu memonyongkan bibirnya. "Ya, kecoa memang menjijikkan. Syukurlah jika tidak terjadi apapun diantara kalian, huh... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Hellena jika ia tahu bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada kalian."
Anak gadis berambut panjang itu menarik napas, ia melirik ibunya sekilas. Saat ini yang ada dibenak ibunya hanyalah Hellena, Hellena, dan Hellena saja tanpa memperdulikan dirinya. Sungguh menyebalkan, terlebih saat Sellena sadar bahwa dirinya hanya dijadikan alat untuk menyelamatkan harga diri Hellena.
"Bu, kapan sandiwara ini berakhir? Sungguh, aku tidak mau bermain lagi di dalamnya." Sellena mendengkus kesal, mengambil piring bersih yang telah ia cuci lantas menatanya kembali di rak piring.
"Tentu saja sampai Hellena sembuh, Sell. Kamu tahu 'kan saudari kembarmu itu sangat tergila-gila pada Darrent. Ia akan melakukan banyak cara supaya Darrent tidak berpindah hati darinya." Sarah mengungkapkan kenyataan tanpa menatap ke arah Sellena. Wanit paruh baya yang memakai tank top warna hijau itu terus saja mencuci piring kotor yang tersisa.
Sellena menatap ibunya cukup lama, ia terdiam karena merasa kecewa. "Bu, katakan pada Hellena untuk cepat sembuh. Aku tidak mau terlibat makin dalam, Bu keluarga Darrent begitu baik padaku. Aku tidak mungkin mengecewakannya dengan berpura-pura menjadi Hellena."
Wanita paruh baya itu terdiam, ia menatap Sellena cukup lama lantas mencuci tangannya yang penuh dengan busa sabun. "Asal kamu tahu Sellena, Hellena sakit itu bukan karena kemauannya. Kenapa sih kamu tidak bisa berempati kepadanya? Kenapa tidak mau menolongnya hingga ia sembuh sungguhan? Ibu tidak habis pikir, baru dua hari kamu menjalankan tugasmu tapi kamu sudah terlalu banyak mengeluh. Sellena, saudara macam apa kamu?! Kamu memang tidak tahu apa itu berterima kasih."
Sarah terlihat murka, ia lalu berbalik badan meninggalkan Sellena sendirian di depan wastafel dapur. Anak gadis itu termenung, kesal dengan sikap ibunya yang bukannya membantu bebannya justru malah menambahi beban apa yang ia pikul.
"Sayang, apakah kamu sudah selesai mencuci piringnya?" Darrent tiba-tiba muncul dari pintu ruang makan. Pria itu tersenyum lalu menghampiri Sellena yang masih berdiri di depan wastafel.
"Tinggal sedikit lagi, Darrent." Sellena tersadar, ia lalu buru-buru mengambil piring bersih untuk ditempatkan di raknya kembali.
"Kamu terlalu sibuk, Sayang. Setahuku dari dulu kamu memang tidak suka dengan acara mencuci piring, bukankah begitu?" Darrent terlihat heran, ia menggaruk dahinya dengan satu jari.
"Ah, itu aku yang dulu." Sellena menepis, ia pura-pura tersenyum manis. "Aku yang sekarang adalah seorang istri dan juga ibu rumah tangga."
Darrent tersenyum puas, ia lalu mengacak pucuk rambut Sellena dengan gemas. "Hari ini ayah dan ibuku bertolak ke Amerika. Sedih sekali ketika harus berpisah dengannya di hari bahagia kita. Namun kabar baiknya, beliau menghadiahi kita tiket pesawat untuk berbulan madu."
"Bulan madu?" Sellena mengulang ucapan Darrent dengan tatapan heran, ia bahkan berhenti mencuci piring.
"Iya, mereka membelikan kita tiket untuk pergi ke Bali. Kau tahu, pulau yang terdapat di Indonesia itu banyak sekali pantai yang indah dan juga hotel bintang lima yang megah. Apakah kamu suka dengan hadiah mereka?" Darrent berbinar, ia meraih tangan Sellena lalu menggenggamnya dengan erat.
Sellena terdiam cukup lama hingga akhirnya ia tersenyum dengan dipaksakan. Ya, jika ia berbulan madu lalu bagaimana dengan Ivan? Bagaimana dengan kuliah dan kerja paruh waktunya?
"Sayang, kamu tidak suka ya?" Darrent menebak ketika Sellena tidak memiliki reaksi bahagia sama sekali.
"Ah, tentu saja aku bahagia. Itu adalah kado spesial bukan?!" Sellena lalu pura-pura bahagia hingga tanpa sadar Darrent memeluknya dengan begitu erat.
"Syukurlah, aku kira kamu tidak suka. Sayang, di Bali nanti kita bisa berbulan madu sesuka hati. Kita juga bisa menikmati malam pertama tanpa gangguan siapapun. Duh, senangnya." Darrent memeluk Sellena dengan penuh rasa gembira yang meluap.
Alis Sellena mengerut, ia melepas pelukan Darrent dengan susah payah. Pria itu memeluknya hingga nyaris tak bisa mengambil pasokan oksigen di udara. "Apa? Malam pertama?"
Darrent mengangguk, tersenyum manis lalu mengusap pucuk kepala gadis itu. "Tidakkah kau ingin melakukannya denganku, Sayang? Malam pertama kita akan terjadi dengan begitu panas. Aku pastikan kamu akan ketagihan dan menyebut namaku berulang. Hellena, mulai sekarang berkemaslah. Aku sudah tidak sabar untuk segera melewatkannya."
****