Bab 4—Peringatan Dari Hellena

1865 Kata
*** Kediaman keluarga Olliver mungkin tidak seluas kediaman Darrent di Amerika namun kehangatan yang ditawarkan keluarga kecil itu mampu membuat Margareth dan juga Johan begitu berkesan terhadap mereka. Hidangan yang nikmat, canda tawa yang begitu akrab, hingga obrolan paling panjang yang pernah mereka perbincangkan sepanjang masa membuat Keluarga Darrent menilai positif pada keluarga tersebut. Setelah acara makan malam berlalu dengan segala macam pujian yang diberikan Margareth pada Sarah, mereka melalui malam yang indah itu dengan berkaraoke bersama. Hal yang tak biasa dilakukan oleh keluarga Olliver mengingat kesibukan masing-masing. "Ayo Hellena, mari kita bernyanyi bersama-sama. Kebersamaan ini akan kita kenang selamanya mengingat besok kami harus kembali ke Amerika dan kembali ke rutinitas masing-masing," ajak Margareth pada Sellena yang duduk di sofa ruang tengah sembari memijit dahinya yang berdenyut sakit. Margareth membawa mikropon warna silver itu ke hadapan Sellena, menarik tangan menantunya untuk turut bergabung menyanyikan lagu hits sepanjang masa milik artis terkenal Celina Dion. "Ah Ibu, saya tidak bisa bernyanyi dengan lancar." Sellena mencoba menolak, mengingat ia memang tidak pandai menyanyikan lagu itu terlebih lagu dengan nada yang begitu tinggi. "Ikutlah Sayang, aku dengar kamu les menyanyi beberapa bulan yang lalu. Aku rasa kamu sudah pandai menyanyi sekarang," ucap Darrent turut mendesak Sellena untuk turut bernyanyi. "Ayo Kesayanganku, mari kita bernyanyi." Johan turut menyemangati, bertepuk tangan dan diikuti oleh keluarga Vausteent yang mendukung penuh agar Sellena mau berdiri dan bernyanyi bersama mereka. Wajah Sellena memerah, tak mungkin baginya untuk menolak permintaan Margareth dan juga Johan. Bangkit dari duduknya dengan malas, Sellena mengambil mikropon yang diberikan Margareth kepadanya. Melirik sekilas pada orangtuanya yang terbengong dan kacau, Sellena merasa jika malam ini ia akan tamat di depan orangtua Darrent. "Hmm, bolehkah saya menyanyikan lagu lain? Saya tidak bisa menyanyi dengan nada tinggi," ungkap Sellena dengan wajah gugup. Butiran keringat sebesar biji kedelai kini mulai membasahi dahinya yang yang tertutup anak rambut. Suasana yang ramai dan penuh kehangatan mendadak hening, perhatian Johan, Margareth, dan juga Darrent kini tertuju penuh pada Sellena. Sementara di kursi sofa yang lain Sarah dan William hanya mampu membungkam suara sesekali menggeleng kecil. Johan mematikan musik karaoke, Margareth menatap suaminya sekilas lalu tersenyum manis. "Boleh Sayang, kamu ingin bernyanyi apa?" "Aku rasa anak muda jaman sekarang lebih suka dengan musik-musik energik. Apakah kau menyukai Katy Perry? Sia? Ah, kamu pasti suka dengan manisnya lagu Ariana," sahut Johan menanggapi ucapan Margareth dengan penuh sukacita. "Bu-bukan. Saya ingin menyanyikan lagu anak-anak, apa boleh?" Sellena berkata lirih, wajahnya kini kian memanas dan hanya menunggu saat yang tepat untuk meledak. Johan dan Margareth saling berpandangan tak mengerti namun beberapa detik kemudian mereka tertawa sambil mencubit pipi Sellena. "Kamu manis sekali, lagu anak-anak memang sangat manis. Lihatlah Darrent, istrimu begitu menggemaskan. Sungguh aku sudah tidak sabar melihatnya mendendangkan lagu anak-anak untuk cucu Ibu nanti." Darrent hanya melempar senyum, ia duduk sambil bersedekap. Jauh dari dalam lubuk hatinya, pria dewasa dengan wajah tampan paripurna itu mengagumi sosok manis yang tengah berdiri di hadapannya tersebut. Sejak hari pernikahan, sensasi manis dan menggemaskan tidak luput dari sosok istrinya tersebut. "Sekarang ayo bernyanyi, kami akan mendengarkanmu dan turut bernyanyi denganmu." Margareth lagi-lagi menyemangati, bertepuk tangan agar Sellena segera menyanyikan lagu anak-anak seperti yang ia tawarkan tadi. Sellena mengangguk, namun begitu tubuhnya bergetar luar biasa. Mengusap peluh yang hampir menetes di dahi, Sellena mencoba menyelesaikan cobaan hidup yang kini sedang dideritanya. Mendekatkan mikropon ke bibirnya yang tipis, Sellena mencoba menyanyikan lagu Little-little Star dengan suara lirih. Melalui lagu itu, harga dirinya benar-benar terluka dimana ia yang terkenal sebagai kuut buku kini harus menjadi penyanyi dadakan demi menyenangkan hati sang mertua. Duh apes, semua ini gara-gara Hellena yang harus pingsan dan dirawat di rumah sakit. Sellena terus bernyanyi, tak peduli seperti apa suaranya di mata orang-orang. Gadis berambut panjang itu menyanyikannya dengan sepenuh hati hingga bait terakhir. Suara tepukan tangan membahana di dalam ruangan, Margareth dan juga Johan begitu menghargai dirinya. Meskipun suara yang ia tunjukkan begitu menyakitkan, nyatanya kedua mertuanya itu memilih bertepuk tangan ketika lagu benar-benar habis. "Wah bagus, Hellena. Lagu yang sangat menyentuh dan mendamaikan hati,"puji Margaret seraya meraih tangan Sellena dan menggenggamnya. Sellena yang merasa malu kini tertegun dengan ucapan sang mertua wanita. Jangankan marah atau apa, wanita paruh baya yang cantik ini begitu menerima dirinya apa adanya. Sejenak Sellena terpukau dengan mertua Hellena tersebut. Beliau sangat baik lalu kenapa Hellena sangat takut menunjukkan sisi gelap terhadapnya? "Margareth, kelak kita akan berkumpul kembali di sini. Hanya bedanya mungkin nanti ada cucu yang tampan dan cantik yang akan melihat kita bernyanyi bersama," ucap Johan dengan begitu semringah. "Betul sekali Johan, aku sudah tidak sabar menantikan hal itu." Margareth mengimbuhi, ia tersenyum lebar menandakan jika memang apa yang ia inginkan berasal dari hati dan bukan hanya dari lisan. "Berhubung sudah jam sepuluh malam, kenapa tidak membiarkan sang pengantin beristirahat?! Bukankah mereka sudah seharian ini berdiri untuk menyambut para tamu. Bukankah begitu Hellena, Darrent?" Johan memalingkan wajah ke arah Sellena dan juga Darrent. Pria paruh baya dengan jenggot dicukur rapi itu terlihat begitu kharismatik, ia mengedipkan sebelah mata ke arah Sellena dan juga Darrent. Hmm... Sebuah kode! Ya, selalu saja begitu bukan?! "Ya Ayah, kakiku sedikit terasa pegal karena seharian berdiri. Rasanya begitu melelahkan bahkan rasanya lebih lelah dibandingkan aku berjalan mengelilingi kantor." Darrent tiba-tiba mengeluh dengan mimik wajah dibuat sakit, tak lupa pula ia menggerakkan kakinya untuk meyakinkan jika memang ia pegal sungguhan. "Ya, kalian harus istirahat sekarang. Bukankah begitu, Sarah, William?!" Johan lalu menoleh ke arah Sarah dan William yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah katapun sehabis makan malam. "Oh, ya, kalian harus beristirahat. Momen seperti ini tentunya sangat ditunggu-tunggu oleh pengantin bukan?!" William tergagap, ia menatap ke arah Sellena dengan tatapan waspada. "Hellena, pergi ke kamarmu sendiri Sayang. Jangan sampai salah, pergilah ke kamar Hellena, Oke?!" William memberinya isyarat agar anak gadisnya itu menggunakan kamar saudarinya untuk bermalam dengan Darrent. Sellena menggeleng samar, wajahnya ditekuk penuh kekhawatiran. "Ayo Sayang, apakah kamu memiliki obat oles untuk kakiku yang pegal? Bisakah kamu berbagi denganku malam ini?" Darrent tersenyum lembut, meraih jemari Sellena dan menggenggamnya erat. Meski terkesan menahan diri, Darrent berhasil menyeret tubuh Sellena agar mau menurutinya pergi dari ruang tengah dimana kedua keluarga masih melanjutkan acara mereka menikmati malam dengan berkaraoke ria. "Sayang, dimana kamarmu? Aku ingin buang air kecil," ucap Darrent menghentikan langkah. Ia menoleh ke arah Sellena yang berjalan mengekor di belakangnya. Gadis itu maju melangkah menuju ke kamar Hellena, membukanya perlahan dengan ritme hati berdebar tidak karuan. Belum sempat ia berbicara, Darrent tiba-tiba menggendongnya dengan cepat. Satu hal yang membuatnya memekik panik dan tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher Darrent. "Hei, apa yang kau lakukan?! Berhenti membuatku terkejut." Darrent tertawa lepas, bahagia sekali saat melihat Sellena senam jantung karena ulahnya. "Ayolah, panggil aku dengan sebutan yang romantis. Aku heran, kenapa kau begitu terkejut dengan apa saja yang kulakukan." Ucapan Darrent lagi-lagi mengingatkan gadis itu mengenai posisinya saat ini. Tak bisa berontak, Sellena hanya bisa menarik kembali tangannya dan bersikap penurut. Perlahan Darrent menurunkan tubuhnya diatas ranjang, senyuman itu mengisyaratkan sesuatu yang buruk bagi Sellena. "Aku akan mengunci kamar, sebelumnya aku ingin ke toilet dulu untuk buang air. Hellena Sayang, jangan beranjak. Aku akan segera kembali." **** Hellena membuka mata, obat bius yang mempengaruhi kinerja otaknya membuatnya sedikit berpikir lamban. Mengerjap beberapa kali, Hellena mencoba mengingat apa saja yang terjadi pada dirinya hingga akhirnya ia sampai pada titik dimana ia bisa berada di hotel putih ini. Menarik napas secara perlahan membuatnya harus menahan sakit yang luar biasa. Selang oksigen yang menempel di hidungnya sama sekali tidak ia hiraukan. Saat ini yang terlintas dalam pikirannya adalah pernikahan indah antara dirinya dan juga Darrent yang terlewat begitu saja. Beringsut bangun, Hellena mencoba mengenyahkan rasa sakit yang kian merajam. Tak ada seseorang disampingnya, membuatnya patah hati dan merasa sakit. Hellena sadar bahwa apa yang ia alami ini karena memang ulahnya sendiri. Coba saja dia tidak sakit dan pingsan, mungkin saat ini ia pasti merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia yang banyak dibicarakan banyak orang. Tunggu! Surga dunia? Hellena membulatkan mata, ia teringat akan Sellena. Apakah-apakah pernikahan pura-pura itu berjalan lancar? Apakah mereka akan melakukan malam pertama juga? Ah, jangan! Hellena menggelengkan kepala ketika pemikiran buruk itu mampir ke dalam memori otaknya. Menoleh ke arah meja, Hellena menemukan benda pribadi miliknya. Mengabaikan rasa sakit yang terasa kian sering, Hellena meraih ponsel dan mulai menghubungi Sellena dengan tangan bergetar. Jangan sampai mereka melakukan hal itu, jangan sampai! "Hallo, Hellena? Apakah kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Kapan pulang?" Suara Sellena terdengar tertahan, menandakan bahwa mungkin disekitarnya ada Darrent. Kekecewaan itu mengerjap namun Hellena segera bergegas memeringatkan saudari kembarnya. "Sellena, jangan sampai kamu melayaninya sebagai istri. Kamu harus ingat, Darrent adalah milikku. Selamanya Darrent adalah milikku, kamu hanya sebatas menyelamatkan pernikahanku. Aku tidak ingin dengar alasan apapun, sebentar lagi aku akan sembuh dan meminta kembali posisiku." "Hellena, aku juga tidak ingin posisimu. Sangat sulit bagiku untuk memerankan dirimu, cepatlah sembuh dan ambil Darrent dari sisiku. Sebenarnya dia bukanlah tipeku," sanggah Sellena dengan nada terdengar marah. Hellena menganggukkan kepala, menekan dadanya yang kian terasa sakit. "Aku pasti akan sembuh, aku akan kembali pada posisiku. Sellena, kamu jangan sekali-kali menanggapinya. Ingat, Darrent hanyalah milikku." "Kamu tak perlu khawatir, aku dan dia—hallo?" Sellena mengerutkan dahi ketika panggilan Hellena tiba-tiba terputus. Ia kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan wajah serius. "Hell? Hallo...." "Siapa Sayang?" Darrent baru saja keluar dari kamar mandi, membuat Sellena panik dan segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana pendek yang ia pakai. "Bukan, bukan siapa-siapa. Hanya teman yang mengucapkan selamat," seru Sellena sembari membetulkan letak kacamatanya yang merosot turun ke hidung. Darrent berjalan menghampiri Sellena yang berdiri di samping meja, ia tersenyum manis lalu menangkap pipi gadis tersebut. "Pipimu terlihat chubby Sayang, apa saja yang kau makan sebelum pernikahan?" "Apa? Pipimu?" Sellena membulat, tak mengerti kenapa pria ini begitu detail mengamati pipinya yang tak setirus milik Hellena. "Tak apa, aku lebih suka dengan dirimu yang sekarang. Kau tahu, mencintai diri sendiri itu jauh lebih baik dari apapun," ucap Darrent dengan lembut seraya mengusap-usap pipi gadis itu. Sellena terdiam, ia tertunduk dengan wajah memerah ketika pria berwajah tampan dan sempurna itu terus memperhatikan wajahnya. Darrent mengerutkan dahi, merasa heran dengan sikap kekasihnya yang tiba-tiba saja berubah jadi pemalu. "Hellena, kenapa menunduk seperti itu? Tak biasanya kau bersikap pemalu seperti ini." Wajah Sellena kian memanas, ia melirik Darrent sejenak lalu meringis. "Aku merasa gugup, sepertinya aku butuh teh herbal untuk menenangkan diriku. Apakah aku boleh pergi ke dapur untuk membuat teh?" Darrent menatap Sellena, sayangnya pria itu memilih menggeleng untuk menjawab permintaan Sellena. "Tidak. Aku punya cara ampuh untuk menenangkan rasa gugup yang sedang kamu alami." "Apa?" Sellena mendesis, tak tahu kemana arah bicara Darrent yang sesungguhnya. Mungkinkah pria itu benar-benar memiliki cara ampuh? Menekan titik akupuntur mungkin?! Darrent mengulas senyum untuk kesekian kali, tangannya yang menangkup pipi Sellena kini berpindah ke dagu gadis tersebut. "Adakah rasa permen yang kamu suka? Cokelat? Blueberry? Strawberry atau jeruk?" "Melon," jawab Sellena dengan jujur membuat lengkungan pelangi itu berkembang di bibir Darrent. "Sangat jujur, aku suka." Darrent berkata lirih, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke bibir Sellena tanpa disadari oleh gadis tersebut. "Sayangnya aku tidak memiliki permen dengan rasa itu. Nanti jika aku ke supermarket akan kuusahakan untuk membelikan banyak untukmu. Jadi .... Apakah kita bisa memulainya dengan sebuah ciuman?" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN