****
"Tidak," jawab Sellena singkat sambil menggeleng. Ia tidak memiliki keputusan untuk mengikuti hal konyol yang disarankan oleh Darrent. Dirinya sendiri tidak mungkin memiliki nyali untuk melakukan hal konyol seperti itu. Jelas saja Sellena malu, mana ada harus berdiri di depan freezer tiga puluh menit lamanya hanya untuk memilih es krim mana yang harus dibeli. Sungguh, Sellena tidak akan sekonyol itu. "Sebaiknya kita pulang saja."
"Bilang saja kamu tidak berani bukan?" Darrent menebak dengan tatapan menyindir membuat Sellena harus membulatkan mata ke hadapan Darrent.
"Bukannya tidak berani, kita memiliki pekerjaan lain yang lebih penting ketimbang harus berdiri di depan Freezer, Darrent." Sellena nyaris berteriak, merasa kesal karena Darrent mengatakan demikian tanpa berperasaan.
"Kita butuh hiburan Hellena, sejak kemarin aku melihatmu begitu tegang. Sebaiknya kita coba dulu, aku rasa itu begitu menghibur." Darrent masih bersikeras, ia bahkan mulai membelokkan mobilnya ke sebuah swalayan besar yang terdapat di kota Inggris tersebut.
"Jangan aneh-aneh, Darrent." Sellena memperingatkan, merasa tidak suka karena Darrent terkesan memaksa.
Pria itu kembali tertawa setelah memarkir mobil di parkiran yang terlah tersedia. "Coba saja, ayolah. Jika tidak bisa tiga puluh menit, lima belas menit juga tidak apa-apa."
Darrent lalu melepas sabuk pengaman, membuka pintu mobil lalu berlari menuju ke pintu dimana Sellena tengah duduk dengan malas dan kesal. Pria itu membuka pintu mobil, menarik tangan Sellena dengan lembut. "Ayo keluar Sayang, setidaknya temani aku bersenang-senang hari ini."
Darrent memang pandai mengambil hati, setidaknya hal itulah yang perlu digarisbawahi oleh Sellena mulai sekarang. Tak enak hati karena Darrent terus saja menarik tangannya, gadis berambut panjang serta memakai kaca mata itu akhirnya turun dari mobil dan mengikuti keinginan Darrent dengan berat hati. "Kamu saja yang berdiri di sana, aku lebih baik memantaumu dari jauh."
Darrent tergelak, ia lalu merangkul Sellena memasuki swalayan. "Bagaimana bisa? Kita harus melakukannya berdua dengan begitu aku akan menghadiahimu beberapa es krim yang lezat."
Sellena tak menjawab, ia memilih menurut dengan apa yang dikatakan Darrent. Hanya lima belas menit, toh itu tidak terlalu lama bukan?!
Pada awalnya Sellena merasa biasa saja namun lama-kelamaan juga merasa risih karena setiap orang mulai memperhatikannya. Darrent merangkulnya, tak membiarkan gadis itu melihat bagaimana orang mulai menatapnya dengan tatapan menyakitkan. Ia bahkan mengajak Sellena mengobrol banyak hal sambil menunggu waktu yang tepat untuk segera pergi dari sana.
Lima belas menit itu begitu menyiksa rupanya namun Darrent selalu mengajaknya mengobrol hingga tanpa terasa lima belas menit sudah berlalu. Pria itu lalu memborong beberapa es krim berukuran besar untuk Sellena.
"Sungguh, aku tidak mau melakukannya lagi bersamamu." Sellena merasa kesal, ia berjalan duluan meninggalkan Darrent dengan wajah menahan kesal.
Darrent hanya menggeleng, ia mengikuti langkah Sellena masuk ke dalam mobil sambil menenteng kantong yang berisi beberapa potong es krim.
Sesampainya di dalam mobil Darrent sempat memperhatikan Sellena yang berwajah cemberut, ia tersenyum lalu membelai rambut Sellena yang sedari tadi terus membuang muka darinya. "Kamu marah ya?"
"Tentu saja aku marah, kau membuatku merasa malu di depan orang-orang. Aku tidak pernah melakukan hal konyol seperti itu jadi jangan bandingkan aku dengan dirimu," ungkap Sellena seraya menepis tangan Darrent dari rambutnya.
"Dulu aku juga merasakannya seperti itu. Orang akan tersenyum ketika mendengar ceritaku tapi setelah mengalaminya sendiri mereka akan marah dan merasa buruk. Sellena, begitulah kehidupan. Banyak sekali orang yang merasa bersimpati pada kisah seseorang tapi lupa caranya berempati. Menurut mereka kesedihan seseorang hanya perlu didengar ataupun dilihat namun kenyataannya mereka lupa bahwa apa yang mereka lakukan jauh lebih buruk dari apa yang dirasakan orang tersebut. Memahami kehidupan seseorang tidaklah mudah, berusaha berempati pun tetap tidak akan cukup untuk menolong luka yang diderita seseorang. Bersikaplah baik, setidaknya itu akan membuatmu merasa lebih baik." Darrent mulai berkata pelan, ia tertunduk dan kembali mengenang masa kecilnya yang penuh depresi tanpa seseorang di sampingnya.
Sellena terdiam, perlahan ia memperhatikan wajah Darrent yang terlihat sedih. Entah kenapa ia melihat pria itu buruk sekali ketika sedang dilanda rasa sedih. Tanpa sadar Sellena mengulurkan tangan, menepuk bahunya dengan lembut lalu mengusapnya. "Maaf Darrent, aku tidak tahu jika ucapanku begitu melukaimu. Aku tidak tahu jika perbuatanku membuatmu merasa lebih buruk."
Darrent menarik napas lalu tersenyum, ia menggeleng pelan. "Tidak masalah, itu hanyalah masa lalu yang bisa aku lalui saat ini. Sekarang, maukah kamu menemaniku makan es krim ini? Aku membeli beberapa potong, aku rasa aku tidak sanggup untuk menghabiskannya sendiri."
Sellena mengangguk, merasa tidak enak hati karena telah membuat pria yang selama ini riang menjadi sedih. Darrent lalu mengambil sepotong es krim rasa coklat lalu membuka bungkus es krim tersebut. Ia terlihat lebih bahagia dari sebelumnya, menyodorkan es krim Darrent kembali mengulas senyum. "Untuk istriku tercinta."
Gadis itu mencoba tersenyum walau kaku, ia menerimanya dengan perlahan lalu mulai menikmati es krim di parkiran mobil. Tak hanya Sellena, Darrent pun menikmatinya tanpa banyak bicara.
"Setelah ini kita mau apa? Aku rasa kita harus berkemas karena besok kita harus pergi berlibur, bukankah begitu Hellena?!" Darrent lalu menoleh ke arah Sellena. Gadis itu balas menatapnya dengan tanpa bersuara, sebuah es krim berhasil mengotori pipinya tanpa sadar membuat Darrent tersenyum manis lalu mengusap pipi Sellena. "Sayang, kamu imut sekali sih?! Seperti anak kecil, kamu menggodaku es krim."
Pujian yang dilayangkan Darrent kepadanya membuat wajah Sellena memerah, ia tertunduk malu dengan pujian yang jarang ia dengar meskipun dari bibir Ivan sekalipun. Darrent semakin gemas, ia memajukan tubuhnya lalu tanpa babibu ia lantas mengecup pipi Sellena.
Keduanya lalu bersitatap, meskipun pipi Sellena memerah dan ingin meledak sekarang ia dengan begitu berani memandang Darrent. Pria itu mengulas senyum dan mengusap pipi Sellena sekali lagi. "Besok kita akan melakukan perjalanan jauh maka siapkan dirimu baik-baik ya. Aku tidak ingin kamu sakit atau apa, mengerti Sayang?"
Sellena lalu memalingkan wajah, jantungnya berdebar tidak karuan. Es krim yang ia makan tanpa sadar meleleh di tangan membuat Darrent dengan siap segera meraih tangan itu lalu menjilatinya. Gadis itu menahan diri, wajahnya kini telah memerah sempurna. Darrent kembali tersenyum. "Es krimnya manis, semanis wajah dan senyumanmu Hellena. I love you."
Gadis itu lalu menarik kembali tangannya, memalingkan wajah dari hadapan Darrent. Sungguh malu rasanya mendengar Darrent mengatakan hal semanis itu. Darrent kembali memposisikan dirinya, menikmati es krim yang mungkin akan terus mencair karena cuaca panas siang itu. "Kenapa tidak balas ungkapanku? Apakah kamu tidak menyukaiku Hellena?"
"A-apa maksudnya?" Sellena berbisik lirih, ia masih tertunduk karena panas wajahnya yang membuat ia merasa terbakar.
Darrent tersenyum tipis, melirik Sellena sekilas. "Katakan I love you juga padaku sekarang. Sungguh, aku ingin mendengarkannya darimu. Apa bisa Hellena?"
****