Bab 8—Kabar Buruk

1361 Kata
***** Sarah berjalan lunglai menuju ke ruang kamar dimana Hellena dirawat, wanita paruh baya itu terlihat begitu pucat dan tidak bisa berkata-kata. Di belakangnya terdapat William dengan ekspresi sama, rasa bingung serta cemas membeludak dalam hati masing-masing. Hellena yang mulai menenangkan diri, kembali beringsut bangun ketika melihat ibu serta ayahnya masuk k dalam ruangan. Rasa penuh harapan terlihat di wajah Hellena, tidak hanya Sarah saja ia pun menaruh harapan pada dokter yang menanganinya agar memberinya ijin untuk rawat jalan di rumah. "Bu, bagaimana? Apa kata dokter?" Hellena langsung memberondong ibunya yang baru saja datang dari kantor dokter. Sarah terdiam, ia justru menoleh ke arah William seolah meminta solusi bagaimana caranya menyampaikan hal buruk ini pada Hellena namun tidak melukai hati dan perasaan gadis tersebut. Melihat ibunya tidak kunjung menjawab dan justru saling berpandangan dengan ayahnya membuat naluri Hellena berkata bahwa mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi. "Bu, ada apa? Kenapa malah diam?" Sarah menarik napas, sebuah awalan dimana ia harus mengambil langkah berat dalam hidup Hellena. "Nak, apapun yang Ibu katakan nanti semoga bisa kamu terima dengan lapang ya." "Kenapa Bu? Apa kata dokter? Apakah ia tidak memperbolehkanku pulang?" Hellena menebak-nebak, emosinya yang semula stabil kini kembali bergejolak menjadi amarah yang tak bisa padam. Bibir Sarah bergetar, ia mengusap rambut anaknya dengan penuh sayang. Berat rasanya mengatakan hal ini pada Hellena namun mau apa dikata memang seperti itulah keputusan Dokter David, dokter yang telah merawat Hellena saat ini. "Kamu belum bisa pulang, Hellena. Sakit yang kau derita itu tergolong parah, dua kantong paru-parumu mengalami infeksi berat karena sebuah virus. Dokter belum bisa mengijinkanmu pulang karena mereka takut dengan keselamatanmu serta kesehatanmu." William yang akhirnya mengambil inisiatif untuk menjelaskan segala hal yang diderita Hellena saat ini. Infeksi paru-paru? Pantas saja Hellena merasa paru-parunya akhir-akhir ini terasa panas dan sesak. Ia juga mengalami batuk kering meskipun frekuensinya tidak terlalu sering. Rupanya ia telah terkena virus tersebut. Hellena termangu untuk sesaat, tak ada ucapan yang keluar dari bibir tipisnya. Melihat hal itu Sarah tak punya keberanian lagi untuk menatap putrinya. Hellena terlihat begitu shock dengan apa yang ia dengar dan tengah terjadi pada dirinya. "Dokter dan kami semua menyayangimu, Hellena. Dokter menyarankan agar kamu dirawat inap beberapa hari lagi disini, dengan begitu kamu bisa sembuh total dan bisa pulang lagi dengan sehat," ucap William mengimbuhkan. Pria itu terlihat tegar meskipun pada kenyataannya ia sama sedihnya dengan apa yang dirasakan Sarah. "Kenapa bisa seperti itu Ayah? Apakah kalian tidak membujuk dokter supaya aku boleh pulang?" Hellena masih tak percaya, ia menatap kedua orangtuanya secara bergantian. "Lihatlah, sekarang aku baik-baik saja. Aku sudah merasa sembuh dan bisa berjalan layaknya orang biasa. Lalu apa yang kurang padaku? Kenapa dokter begitu mempersulit keadaanku, kenapa?" Tak ada yang mampu menjawab pertanyaan Hellena, semuanya terdiam dengan gejolak emosi masing-masing. Hingga akhirnya Hellena mulai bertindak gegabah, gadis itu mencabut selang infus yang menancap di tangannya. Darah berhamburan kemana-mana membuat Sarah berteriak sejadi-jadinya. "Aku akan menemui dokter dan mengajukan diri untuk bisa pulang. Memang dia kira apa?! Aku sehat, kenapa aku tidak boleh pulang?!" Hellena bersikeras, setelah mencabut selang infus yang menancap ia pun bergegas membuang selang oksigen yang menghalangi lubang hidungnya. Beranjak bangun dari ranjang, Hellena melawan rasa sakit yang menganga di dadanya saat ini. "Hellena, jangan nekat Nak! Kamu masih sakit, Hellena. Masih sakit," tangis Sarah pecah saat Hellena berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari ruangan itu sambil terhuyung-huyung. Melihat Hellena bersikap mengkhawatirkan, William lantas berlari keluar untuk memanggil perawat wanita yang kebetulan lewat di sekitar area tersebut. Dengan bantuan beberapa suster, Hellena ditahan untuk tidak melarikan diri lagi ruangan itu. Hellena berteriak seperti pasien gila, ia memberontak dan menginginkan pulang. Melihat hal tersebut hari seorang ibu tidak tahan untuk merasakannya, Sarah mendekati suaminya dengan hati hancur. Anak gadis itu terus saja meraung membuat suster terpaksa mengeluarkan obat bius untuk menenangkan tubuh Hellena yang kian lama kian kuat dalam memberontak. Dalam sekali suntikan, tubuh Hellena yang kuat kian melemah. Perlahan-lahan tubuh Hellena merosot ke lantai, membuat sang suster bertindak sigap dengan memegangi tubuhnya dan mulai mendudukkannya di pinggir ranjang. Hellena mulai tertidur dengan obat bius yang baru saja tertanam di dalam tubuhnya. Setelah berhasil merebahkan tubuh Hellena, sang suster membalikkan badan dan menatap William serta Sarah bergantian. "Pasien butuh istirahat, Tuan dan Nyonya. Nona Hellena sudah tertidur, sebaiknya Anda kelaur dari ruangan ini atau pulang sejenak untuk mengistirahatkan diri." Sarah menghapus air matanya sambil mengangguk. "Saya titip Hellena, Suster. Beri perawatan yang terbaik untuk kesembuhannya" Suster berbaju putih itu tersenyum manis, mengangguk perlahan ia mencoba memahami perasaan Sarah. "Tentu Nyonya, itu sudah menjadi kewajiban kami. Kalau begitu silakan Anda keluar, pasien harus menenangkan diri dalam tidurnya." **** Selama perjalanan pulang tak ada percakapan yang berarti antara Sellena dan juga Darrent. Menikmati cuaca panas dan teriknya matahari yang menyinari kota Inggris siang itu, keduanya berada dalam satu mobil dengan laju kecepatan sedang. Beberapa kali ponsel Sellena berdering, Ivan mungkin khawatir padanya karena seharusnya hari ini Sellena harus kembali ke kota dan mulai menjalani hari-harinya sebagai seorang mahasiswi dan juga tukang bunga di Smart Florist. Melihat Sellena terus saja mematikan panggilan, kening Darrent sejenak berkerut. Pria dengan pahatan wajah sempurna bak dewa Yunani itu tak tahan untuk menanyakan kenapa Sellena melakukan hal itu. "Sayang, kenapa tidak angkat teleponnya? Mungkin itu penting." Sellena menoleh sekilas pada Darrent lalu menggeleng. "Tidak penting, hanya teman yang hobi sekali melakukan panggilan telepon." "Apakah itu mengganggumu? Jika ya maka aku bisa membantumu untuk memperingatkannya." Darrent menawarkan bantuan, ia terlihat serius dengan apa yang ia ucapkan. "Tidak usah, ini hanya kenakalan yang bisa aku tolerir sendiri. Aku rasa jika dia bosan maka dia akan menghentikan kebiasaan ini." Sellena lalu membuang muka ke arah luar jendela mobil. Ada perasaan tegang yang kini bersarang di hatinya, bagaimana bisa ia mengabaikan Ivan seperti itu?! Demi menjaga perasaan Darrent dan juga menjaga privasi Hellena, Sellena terpaksa melakukan kebohongan satu demi satu. Melupakan privasinya sendiri, Sellena mulai merasa hidupnya dihantui oleh ketakutan dan juga penyesalan. Apakah semua ini bisa berakhir dengan baik-baik saja? Atau haruskah ia menukarnya dengan sesuatu agar kehidupannya yang lama bisa ia nikmati kembali tanpa perasaan takut dan juga ragu?! "Cuaca sangat panas, apakah kamu mau menemaniku menikmati es krim?" Darrent membuka kembali percakapan, tahu jika saat ini kekasih hatinya tengah galau karena sikap teman-temannya yang gemar sekali mengganggunya. Sellena menoleh ke arah Darrent, tak ada jawaban dari bibir merah jambu milih Sellena. Darrent tersenyum manis lalu mengangguk. "Aku melihatmu begitu tertekan, dulu sewaktu aku kecil jika aku merasa diriku tidak nyaman maka pelampiasan pertama yang aku tuju adalah tukang es krim. Aku akan berjalan menuju ke sebuah swalayan, berdiri di depan freezer dan menatap puluhan es krim yang tertata di sana. Apa kamu percaya jika aku membutuhkan kurang lebih tiga puluh menit untuk memilih satu varian rasa es krim untuk kumakan?!" Sellena terus memperhatikan Darrent, memerhatikan pria itu yang kini tengah terkekeh-kekeh karena menertawakan dirinya semasa kecil. "Aku bahkan sempat diusir karena kekonyolan yang kulakukan. Selain makan es krim, aku akan merendam tubuhku di bak mandi penuh dengan air. Ibuku harus berteriak-teriak dulu supaya aku keluar dari bak mandi dan pindah dari bak yang penuh dengan busa sabun yang hampir menenggelamkan wajah serta rambutku." Melihat pria itu terus bercerita tentang masa kecilnya, Sellena tanpa sadar tersenyum geli. Rupanya kenakalan-kenakalan seperti itu juga dilakukan oleh seorang Darrent, pria sempurna yang begitu digilai Hellena. Darrent menoleh ke arah Sellena sekilas, melihat gadis itu begitu tertarik dengan ceritanya sang pria sempurna kembali melanjutkan ceritanya. "Banyak hal yang bisa aku ceritakan padamu tentang hidupku. Tapi tidak mungkin 'kan jika aku mendongeng padamu dalam keadaan haus seperti ini?! Jadi, mari kita pergi ke swalayan dan berdiri di depan freezer tiga puluh menit lamanya. Aku siap bercerita panjang lebar untukmu." Sellena tersenyum geli lalu kembali membuang muka keluar jendela mobil. "Aku tidak akan melakukan hal sekonyol itu, Darrent. Aku masih punya otak waras." Darrent tertawa, ada perasaan lepas yang coba ia tawarkan pada Sellena. Gadis itu kembali menoleh, menatap Darrent dengan heran. Pria itu mengakhiri tawanya, ia menatap Sellena dengan tatapan lembut yang ia punya. "Terkadang kita perlu konyol agar terlihat waras Sayang. Hanya tinggal kita bisa bersikap masa bodoh atau tidak. Jadi, apakah kamu siap berdiri tiga puluh menit di depan freezer bersamaku?" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN