bc

Berbagi hati

book_age18+
26
IKUTI
1K
BACA
drama
like
intro-logo
Uraian

Rumah tangga yang harmonis selalu menjadi impian bagi setiap wanita, namun jika salah memilih pasangan bukan kenyamanan yang akan kita rasakan melainkan rasa bosan dan jenuh.

Apa jadinya jika itu terjadi ketika usia suami tak mampu lagi mengimbangi keinginan istri.perselingkuhanpun dilakukan karena alasan yang sangat sepele.

chap-preview
Pratinjau gratis
Hampir ketahuan.
Episode 1 Braaak .... Suara gebrakan pintu yang dibuka secara paksa mengagetkan Sumira yang tertidur pulas di kursi ruang tamu, karena terkejut wajahnya langsung memucat seketika wanita itupun berdecak kesal. "Ck ... A-apaan sih ...? Gang ...."belum sempat Sumira melanjutkan ucapannya Aryo yang tengah emosi sontak membuatnya terdiam. "Kurang ajar, ternyata begini kelakuanmu! dasar perempuan tak berguna suami capek kerja bukannya bersyukur malah bermain gila dengan pria lain, dimana kau sembunyikan pria itu ?hah!" Dengan nafas memburu, Aryo seorang pria paruh baya pulang kerumahnya, entah apa yang terjadi hingga membuat pria itu begitu emosi. "Apa-apaan kamu mas, pulang-pulang bukannya salam malah ngagetin orang, kamu kenapa sih?" Kata Sumira yang terpaksa bangun dari mimpi indahnya. "Dasar sialan, masih berani menyangkal kamu ya?mau saya tunjukin bukti hah?" Tangan Aryo mulai mengepal, sekuat tenaga ditahannya emosi yang tengah membuncah agar dia tak melukai istrinya. "Bukti apaan sih mas? Ya ampun. Bukti apaan?" Kembali Sumira berkata. "Mana dia? Hah ... Mana pria itu?" Aryo pun segera menyisir setiap senti rumahnya, dia berjalan sembari menendang apa saja yang menghalangi jalannya. Netranya tajam mengawasi setiap sudut-sudut ruangan, namun sayang tak ada sesuatu apapun disana yang dapat memuaskan amarahnya. Dengan emosi yang masih meledak-ledak diapun menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tanpa dia sadari, Sumira yang ketakutan secepat kilat menyembunyikan gawainya dibawah bantal. Dia masih saja berpura-pura bersikap tenang dan duduk ditempatnya semula, perlahan-lahan diapun menghirup udara sebanyak yang dia mampu agar degup jantungnya kembali normal seperti sedia kala, setelah hampir melompat karena rasa kalut dan terkejut. "Huhhh ... hampir saja!" desisnya yang hampir tak terdengar. Sebenarnya rasa cintanya pada sang suami tak lagi sekuat dulu, saat dia belum mengenal sosial media. Perlahan rasa bosan itupun datang karena sikap dan sifat sang suami yang mulai berubah membosankan, menurutnya. Tetapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur mau tak mau dia harus bersandiwara, entah sampai kapan dia mampu bertahan. Terkadang dirinya merasa bersalah karena sudah bermain api namun segera di tepisnya. " Jika dia tidak bangkrut, aku pun tak akan menduakannya! Salah sendiri milih istri daun muda, harusnya dia bersyukur karena aku masih mau tinggal dengannya!" Ditengah kebisuan mereka batin Sumira terus saja bergumam. Perlahan Sumira pun bangkit dari duduknya, berjalan kearah dapur, mengambil satu buah gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Entah apa yang dibacanya, sambil komat-kamit diapun meniup-niup air itu setelahnya dia pun tersenyum manis kembali ke ruang tamu dan menyuguhkan air itu kehadapan Aryo suaminya. " Minum dulu Yang ... Biar lebih tenang." Aryo yang masih menahan amarahnya hanya melirik gelas yang disodorkan istrinya itu, karena tak enak hati diapun akhirnya mengabil gelas yang masih terulur dari tangan istrinya, dan menenggak habis isinya hingga tak bersisa setetes pun. Sumira sangat senang melihatnya, akhirnya usahanya tak sia-sia, membuat pria itu tenang dalam sekejap. "Bukan Sumira namaku jika tak bisa meluluhkan hatinya dalam sekejap, hahaha." Kata Sumira. Senyumnya pun terkembang saat melihat suaminya langsung tertidur setelah meminum air yang dia berikan, setelah itu dia pun bergegas kedapur untuk menyiapkan makan malam mereka berdua. Setelah semuanya selesai diapun kembali ke ruang tamu untuk membangunkan suaminya, sayangnya sang suami tertidur sangat pulas. "Yang ... Bangun yuk, mandi dulu gih badannya bau banget ini ... Yaang!" Katanya sembari menepuk-nepuk pelan pipi suaminya. Aryo pun menggeliatkan tubuhnya, merenggangkan otot-otot tuanya sembari menguap, hal yang paling dibenci Sumira. "Ihh ... Sayang, mandi dulu gih, bau banget" katanya sembari menutup hidung. Bukannya bangkit Aryo malah diam sembari memandangi wajah istrinya yang dalam pandangannya sangat luar biasa cantik. Sumira bingung dengan sikap suaminya itu, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Biasanya setelah Aryo meminum air putih yang telah dijampi-jampinya pria itu akan selalu menuruti semua ucapannya. Tapi kali ini berbeda, bukannya segera bangun Aryo malah terdiam sembari tersenyum memandangi wajah istrinya. Sumira yang salah tingkah karena terus-terusan dipandangi tak mampu berkata-kata, diapun jadi semakin salah tingkah dan kikuk. Karena terus saja dipandangi seperti itu membuat Sumira jengah, diapun hendak pergi dari ruangan itu, sayangnya belum sempat dia bangkit tangan kekar Aryo dengan sigap menariknya, membawanya jatuh kedalam pelukan pria tua itu. Sumira hampir saja memuntahkan semua isi perutnya saat suaminya berhasil menyatukan bibir mereka, dengan sekali gigitan pagutan Aryo pun terlepas. "Hueeek ... Mandi gih, hueeek." Berkali-kali Sumira mencoba mengeluarkan isi perutnya namun tak sekalipun berhasil, wajahnya seketika berubah kemerahan membuat Aryo semakin b*******h. "Yang ... Kamu cantik banget sih, aku kangen Yang." Kata Aryo semakin mengeratkan pelukannya. Sumira yang duduk dipangkuan suaminya pun tak kuasa menolak sambil terus menutup hidungnya dia tak menghiraukan rayuan suaminya, dia terus saja berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan sang suami, usahanya itu hanya berbuah sia-sia, Aryo dengan beringas berhasil melucuti satu-persatu kain yang menempel di tubuh istrinya, tak dipedulikannya rengekan sang istri. "Hahhh ... mandi dulu Yang, ntar kita sambung lagi" katanya sembari mendorong tubuh Aryo, namun sia-sia. Karena sang suami telah berhasil masuk lebih dalam keinti tubuhnya. Sumira pun perlahan ikut larut dalam irama, dia tak lagi mampu melakukan penolakan, seiring berjalannya waktu dia pun semakin hanyut mengikuti irama percintaan yang sebenarnya sangat diinginkannya beberapa hari terakhir, merekapun larut dalam buaian asmara yang semakin panas. ** Selesai mandi seperti biasa Sumira pun membuatkan kopi untuk suaminya, dia yakin pikiran Aryo suaminya itu pasti semakin tenang jika dibuatkan kopi pahit kesukaannya. "Yang ... Ini kopinya, spesial untuk suamiku yang ganteng, makasih ya untuk yang tadi." Kata Sumira sembari mengeringkan sebelah matanya, membuat senyum Aryo terkembang. "Yang, kamu jangan marah ya." Kata Aryo sembari menatap wajah istrinya. . "Kenapa mesti marah Yang, memangnya ada apa?" "Tadi itu aku benar-benar cemburu, aku takut kehilangan kamu Yang. Soalnya tadi pas aku kerja ada yang nelpon, dia bilang kamu lagi berduaan sama mandor yang sering makan diwarung kita." Deg .... Seketika wajah Sumira memerah, tak ingin terlihat gugup diapun berpura-pura tertawa untuk meredam debaran jantungnya yang mendadak terasa ingin melompat. "Astaga Yang ... Aku sampai kaget, hahaha. Jadi karena itu kamu marah-marah gak jelas kayak tadi, kamu kan sudah sering denger yang begituan kok masih percaya sih. Memangnya kamu punya bukti? Lagian omongan orang dipercaya, hehehe." "Sebenarnya aku gak punya bukti, tapi aku bosan Yang ditelpon terus-terusan." Kata Aryo. "Kamu ada nomernya? Biar aku cek siapa tahu orang iseng, atau jangan-jangan sebenarnya orang itu naksir sama kamu Yang, hihihi." Kata Sumira menggoda Aryo. "Nomornya disembunyikan Yang, apasih namanya? Mangkanya aku gak tahu siapa yang nelpon." "Yah susah dong kalau begitu. Jangan-jangan sebenarnya dia memang suka sama kamu Yang, hahaha." Kata Sumira sembari tertawa. "Gak mungkinlah, hehehe." ** Entah berapa lama kujalani hidup seperti ini, mencintai dua lelaki sekaligus. Walaupun usiaku tak lagi muda, tetapi gejolak cinta pada lawan jenis dan bukan suamiku sangatlah kuat. Dan ini entah yang keberapa kalinya aku terjerat godaan setan yang terk*tuk, bermain hati dan menghianati cinta suamiku. Sebenarnya suamiku bukanlah pria yang membosankan, justru dia tipe pria yang sangat penyayang dan perhatian pada keluarga, walau tak romantis seperti pria lainnya. Setidaknya dia memiliki paras yang lumayan dengan kulit yang putih bersih, hanya saja saat ini tubuhnya sudah tak menarik lagi dan yang paling lucu giginya itu loh, sudah banyak berkurang. Walau tak romantis bukan berarti aku tak pernah diajaknya menikmati waktu berdua, sering malah. Namun semenjak aku mengenal dunia maya tiba-tiba ada rasa malu yang menggangguku saat jalan berdua dengannya, itulah sebabnya akhir-akhir ini aku selalu menolak ajakannya, awalnya dia bersikeras tapi lama-kelamaan dia pun mengerti dengan alasanku yang harus mengutamakan usaha karena baru kurintis. Jika dia tahu aku berbohong, bisa kacau dunia persilatan. Ku akui secara fisik diriku bukanlah wanita yang tergolong cantik, wajahku pun biasa saja dengan hidung yang sedikit mancung khas wanita Indonesia serta kulit eksotis membuatku terlihat sangat menggoda dan se*y ... ehm. Itu kata mantan-mantanku loh, jangan baper ya! Aku merasa bahagia walau flek hitam diwajahku yang tergolong bandel ini selalu saja menguji kesabaranku untuk terus mencoba dan mencoba lagi berbagai jenis merek skincare murah meriah dan hasilnya membuatku muntah. Bahkan teman-temanku pun sering mengatakan wajahku tambah jelek. Mungkin efek kosmetik abal-abal yang kupakai. Huh ... Bayangkan saja saat pertama kali memakainya wajahku terasa panas seperti terbakar dan mengelupas yang lebih mengerikan, wajahku pernah bengkak tapi tetap saja aku tak pernah menyerah walau kutahu hasilnya tetap sama plek hitamnya akan datang dan datang lagi. Maklumlah aku awam merek skincare yang bagus, pernah memang ditawari skincare yang bagus tapi aku tak pernah tertarik untuk membelinya. Menurutku pruduk skincare yang aman hanya buang-buang uang saja, disamping mahal isinya juga sedikit mendingan beli yang abal-abal walau menderita setidaknya dompetku aman dan hasilnya juga cepat dan memuaskan. Resikonya wajahku tetap akan berplek hitam saat aku tak lagi memakainya ... sedih? kecewa? tentu tidak, demi tampil cantik walau sakit tetap kulakoni juga, seperti kisah cintaku saat ini walau sakit tapi tak pernah membuatku terluka. Seperti memakai skincare murah itu, tak puas dengan hasil yang lamban aku akan mencoba memakai merek lain yang proses pemutihanya lebih cepat, seperti itu pula rasa cintaku akan cepat beralih jika ada yang sering memberikan sedikit perhatian dan uang padaku, bodoh? Bukan, aku hanya senang dipuji, walau terkadang terlihat bodoh dan konyol aku tak perduli yang penting hatiku senang dan dompetku tebal. Jual diri dong? Tentu tidak! Karena aku bukanlah tipe wanita yang haus belaian kasih sayang, aku hanya haus pujian dan uang. Bu*sit kalau tidak jual diri, pasti itu tanggapan orang yang melihatku dari luar. Terserah, yang pasti tubuh ini hanya milik suamiku seorang. Tetapi itu dulu ... saat aku belum mengenal pria lain selain suamiku, saat ini bukan hanya hatiku bahkan peluhku pun sudah kubagi dengan pria lain. ** Perkenalkan namaku Sumira, umurku sebentar lagi memasuki angka kepala empat tapi karena fisikku yang imut dan bodiku yang bohay, ditambah pembawaanku yang manja membuatku tak nampak menua sesuai umur. Aku ibu dari dua orang putri yang keduanya juga sudah menikah, sama seperti bapaknya kedua anakku juga memiliki paras yang lumayan cantik, serta kulit yang putih bersih juga menurun dari bapaknya, aku sangat bersyukur walau kadang banyak yang tak percaya kalau mereka berdua anak-anakku, aku tak peduli. Suamiku mas Aryo, kuli dipasar induk membuatnya harus bekerja dari sore hingga pagi. Tak jarang jika lelah bekerja beliau memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, karena kasihan kusarankan untuk mencari tempat kost dekat pasar saja, selain menghemat ongkos juga memudahkannya untuk beristirahat dan dia setuju. Karena seringnya dia tak pulang aku yang kesepian dan kekurangan uang pun inisiatif untuk memulai usaha. Awalnya aku bekerja sebagai tukang cuci pakaian lama kelamaan akupun bosan juga, beruntung punya modal sedikit kucoba usaha dagang makanan ringan didepan kontrakan hasilnya lumayan untuk keperluan sehari-hari. Kerena kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin lama semakin banyak serta saingan yang makin hari makin banyak pula, membuatku putar haluan berjualan nasi uduk, hasilnya lumayanlah bisa untuk makan sekeluarga. Walaupun sudah menikah kedua anakku masih tetap membantuku dalam hal menghabiskan hasil usahaku. Sifat ku yang supel dan asyik diajak ngobrol serta masakanku yang enak, membuat daganganku banyak disukai para pembeli termasuk beberapa pria g*nit. Aku yang memang suka bercanda membuat pria-pria itu betah berlama-lama di warungku, bahkan kebanyakan dari mereka sangat royal kepadaku. Lama kelamaan warungkupun berkembang isi dagangannya bukan hanya nasi uduk dan kopi, bahkan r*kok sampai minuman dingin pun ada diwarungku, modal dari mana? Ada deh, ngutang? ya nggak lah, terus dari mana? Tentu saja dari beberapa pria yang berhasil kuporotin duitnya. Salah siapa godain aku? tapi itu dulu beberapa bulan yang lalu. Seringnya dipuji dan diberi perhatian, membuatku merasa sok kecantikan. Sekuat apapun aku menahannya malah semakin membuatku tersiksa. Aku jatuh cinta padanya dan rasa ini sungguh sangat menyiksa, mungkin inilah yang disebut puber kedua. "Mas Bob!" begtulah orang-orang memanggilnya. Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai salah satu pria gen*t nan me*um seperti kebanyakan pria lain diwarungku, tapi lama kelamaan ada rasa rindu kala dia tak datang. Karena penasaran akupun mencoba mencari tahu nomor teleponnya, beruntung teman kerjanya dengan senang hati memberikan semua informasi tentang dirinya padaku, siapa namanya bahkan alamat lengkap kantor dan rumahnya pun aku tahu. Aku sempat ragu-ragu, tapi entah keberanian dari mana akhirnya dengan malu-malu kuberanikan diri untuk menelponnya, nasib baik berpihak padaku "Pucuk dicinta ulam pun tiba" begitu kata pepatah, tak menunggu waktu lama teleponku pun langsung diangkatnya. Ah ... rasanya seperti ada diatas awan tatkala mendengar suaranya dari seberang sana. Gayung bersambut cintaku ternyata tak bertepuk sebelah tangan, selama ini diapun ternyata ada hati padaku. Entah siapa yang memulai kamipun akhirnya diam-diam menjalin kasih tanpa seorangpun yang tahu. Tak jarang pula kami diam-diam bermesraan tatkala rumahku tengah sepi atau warungku telah tutup. ** "Sayang ini hp siapa dibawah bantal?" tanya mas Aryo saat aku dikamar mandi, dengan gugup kujawab asal agar beliau tak curiga. "Oh ... itu punya pelanggan yang ketinggalan Mas! jangan dibuka!" teriakku khawatir. "Tapi kok ada gambar kamu disitu?" teriaknya lagi sambil berusaha membuka kunci layar, gegas aku keluar dari kamar mandi untungnya batre ponsel itu keburu habis. "Masa sih?" tanyaku pura-pura bingung. "Iya loh sayang, tapi gak tahu juga mungkin cuma mirip, kan hpnya mati gak jelas juga sih hehehe."jawabnya membuatku sedikit lega. Ya Tuhan sampai kapan aku harus sport jantung begini.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook