Episode 2
Semenjak kejadian itu, dan demi kebaikan bersama untuk sementara Sumira dan selingkuhannya pun sepakat untuk tidak berhubungan dalam waktu yang tidak ditentukan, sampai semuanya benar-benar aman dan terkendali.
Ternyata menahan rindu itu memang berat, seperti kata Dilan "Rindu itu berat, kau tak akan kuat."
Benar-benar menyiksa membuat Sumira uring-uringan, makan tak enak tidurpun tak nyenyak.
Tak kuat berlama-lama menahan rasa rindu akhirnya mereka pun diam-diam menjalin hubungan kembali.
Mereka berdua seolah tak bisa lagi dipisahkan, tak bisa bertemu lewat darat mereka berdua pun melanjutkan hubungan nya melalui sambungan telepon seluler. Seringnya berbalas chat membuat bibit-bibit rindu semakin tumbuh subur dihati keduanya. Karena tak tahan lagi menanggung beban kerinduan, akhirnya mereka pun sesekali bertemu diwarung Sumira. Untuk mengelabui semua orang mas Bob berpura-pura untuk sekedar makan atau ngopi disana.
Sebenarnya hubungan gelap dirinya dengan Mas Bob sudah lama diketahui anak-anaknya, hanya saja kedua putrinya itu tak berdaya karena keadaan. Awalnya memang mereka marah dan sempat mendiamkan ibunya itu selama beberapa hari, tapi keadaan memaksa mereka untuk menutup mata dan telinga dengan semua urusan ibunya, membuat Sumira semakin mudah mengintimidasi keadaan.
"Sayang ... Seandainya anak-anakmu tahu bagaimana?" Tanya Mas Bob saat mereka tengah berdua.
"Ya ... gak masalah loh Mas, hehehe. Kenapa? Mas takut ya?"
"Takutnya sih enggak, cuma gak enak aja. Demi kamu apapun akan aku lakukan sayang." Kata mas Bob sembari mencubit pipi Sumira, membuat pipi wanita itu semakin memerah.
"Apapun akan aku lakukan sayang, jangankan kedua anakku suamiku pun akan kutinggalkan demi dirimu." Kata Sumira.
"Itu yang membuatku semakin mencintaimu, aku mohon teruslah bersamaku." Kata-kata mas Bob membuat Sumira semakin melayang.
Setelah mas Bob pergi Sumira meminta kedua putrinya untuk menemuinya setelah semua pekerjaan selesai.
"Dewi dengerin ibu ya, kamu itukan sudah berumah tangga, sudah mengerti apa yang namanya nafkah lahir dan batin."
"Maksudnya gimana sih Bu? Maunya ibu itu apa?"
Dewi yang sebenarnya mengerti kemana arah pembicaraan Sumira pun sebenarnya sangat kesal dengan basa-basi ibunya yang tak malu itu, tapi karena ancaman Sumira membuatnya bertahan dalam kemelut dosa.
"Kalau kamu Putri, ngerti gak maksud ibu apa?"
"Terserah ibu saja, percuma juga dikasih tau kalau ibunya sendiri gak mau tahu." Kata Putri ketus.
"Ingat ya! Jangan pernah sekali-kali mengkhianati ibu, gak bakal senang hidup kalian nanti." Kata Sumira sembari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan menuju tempat ternyaman dalam rumahnya, apalagi kalau bukan kamarnya.
Sumira sangat puas karena sekali lagi bisa menguasai pikiran serta mengintimidasi keadaan.
"Salah sendiri jadi anak gak bisa dibilangin, sekarang hidup susah repot sendiri kan, huhh ... Dasar anak-anak." Gumam Sumira.
Sebenarnya jika kedua putrinya itu mau bersekolah, mungkin saat ini mereka tak akan bekerja diwarung ibunya.Tetapi karena keduanya memilih untuk menikah muda, Sumira pun tak bisa menolak permintaan keduanya. Dengan berat hati dia terpaksa menikahkan kedua putrinya itu dengan pilihan masing-masing.
Sering pula Sumira menasehati kedua putrinya jika mereka memang telah siap untuk menikah, setidaknya carilah pemuda yang sudah memiliki pekerjaan. Sayangnya kedua putrinya itu terlalu naif, sampai tak bisa lagi membedakan mana yang modus dan mana yang benar-benar serius.
Karena ngeyel kedua putrinya pun terpaksa hidup susah, dan mau tak mau mereka juga harus mencari nafkah untuk diri mereka sendiri. Dikarenakan suami-suami mereka belum mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.
Suami Putri anak pertama Sumira masih berstatus mahasiswa, mereka dinikahkan karena keduanya tertangkap warga tengah berbuat asusila dibelakang rumah warga. Orang tua pemuda itu pun berjanji akan tetap menganggap putri menantunya asalkan Putri bersedia hidup terpisah dari sang suami, sampai pemuda itu lulus kuliah.
Sedangkan suami Dewi hanya kuli serabutan, penghasilannyapun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.
Sebelum mereka berdua menikah, Sumira selalu mengingatkan keduanya tentang kehidupannya yang sangat susah, hingga membuatnya tak bisa mengenyam pendidikan. Sumira bahkan sering mewanti-wanti kedua putrinya untuk tidak menikah muda, tapi keduanya tak pernah mendengarkan nasehatnya. Sering pula dia meminta keduanya untuk menjauhi pria beristri.
Sebenarnya Sumira sangat terbuka dengan kedua putrinya, dia selalu berharap kedua anaknya tidak mengikuti langkahnya untuk dapat hidup enak menjadi seorang pela*or.
Cukuplah dia saja yang merasakan hidup susah karena merebut yang bukan miliknya.
Hidup susah karena himpitan ekonomi membuatnya harus bekerja keras, agar dapat mencukupi semua kebutuhan keluarga.
Demi kelancaran pendidikan kedua putrinya, Sumira tak perduli dengan keadaanya yang bak pepatah" Kaki dikepala kepala dikaki."
Dia tak peduli, dia bahkan rela melakukan apa saja asal anak-anaknya kelak tak seperti mereka orang tuanya.
Keinginannya untuk merubah keadaan keluarga membuatnya rela bekerja siang dan malam, bahkan jadi babu pun dia rela asal kedua putrinya bisa terus sekolah. Namun apalah daya, keduanya malah memilih hidup seperti bapaknya yang sama sekali tidak pernah merasakan indahnya bersekolah, membuat Sumira sedih.
***
Putri anak pertama Sumira memiliki sifat lemah lembut dan juga penyabar, persis seperti ayahnya. Sering kali memergoki Sumira tengah berduaan dengan selingkuhannya.
Saat ada kesempatan Putri mencoba untuk menasehati ibunya, dia berharap ibunya akan berubah jika sering dinasehati. Dia pun mencoba untuk membuat ibunya sadar, sayangnya jawaban Sumira malah menyakiti hati dan perasaannya.
"Kamu kalau masih terus ikut campur urusan ibu, sebaiknya gak usah tinggal dirumah ini, dasar anak tak tahu diri." Kata Sumira.
"Tapi bu, tak selamanya selingkuh itu indah. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga." kata Putri
"Sayangnya aku bukan tupai, aku ibumu yang ngasih kamu makan, ingat itu." Kata Sumira emosi.
"Iya aku tahu Bu, aku sadar diri tapi mau sampai kapan? Aku malu Bu, aku kasihan sama ayah."
"Tutup saja matamu jika kau malu, pergilah jika kau tak ingin melihatku, tahu apa kau tentang kehidupan kami! hah? Ayah mu terlalu tua untuk memenuhi semua kebutuhan kita, tenaganya tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, tahu apa kau hah?"
"Tapi Bu, yang ibu lakukan itu salah dosanya besar."
"Terus yang kau lakukan dibelakang rumah warga itu benar, begitu? Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini, pergi ...!"
Setelah pertengkaran itu Sumira dan putri seolah menjadi orang lain, mereka memang hidup bersama dalam satu rumah tapi hanya beberapa hari saja. Putri memutuskan untuk pindah kembali ke rumah neneknya dipinggiran kota.
Sedangkan Dewi sedari awal menikah sudah duluan pindah ikut dengan suaminya. Keadaan inilah yang membuat Sumira semakin berani bermain api di dalam rumahnya.
Awalnya semua baik-baik saja, lama-kelamaan keluarga besarnya pun mulai mencium aroma perselingkuhannya. Mereka pun mulai ikut campur dan menasehatinya, karena desakan keluarga membuatnya terpaksa harus berpisah dan menjauhi mas Bob, namun semuanya tak semudah yang dikatakan.
Karena kehidupan yang dijalaninya ibarat kata "besar pasak daripada tiang" membuatnya kelimpungan mencari uang. Jika dulu sebagian kebutuhan hidupnya ditanggung mas Bob. Maka sekarang setelah perpisahan itu mau tak mau dia harus mencarinya sendiri.
Penghasilanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makannya saja. Sedangkan uang yang diperolehnya dari mas Aryo, hanya cukup untuk bayar kontrakan dan listrik. Untuk menutupi pengeluaran yang lainnya, seperti arisan, kredit pakaian dan panci, belum lagi kredit sepeda motor dan lainnya dia harus terlibat dengan beberapa rentenir membuatnya pusing tujuh keliling.
Mau tak mau Sumira pun kembali menghubungi selingkuhannya, mas Bob.
Seakan mengerti keadaannya yang kelimpungan karena harus mencari uang lebih, Mas Bob pun datang kembali mengulurkan bantuan tanpa syarat apapun, membuanya semakin jatuh cinta akan kebaikan mas Bob.
"Ternyata selama ini Mas Bob pun menderita karena menahan rasa rindu padaku, kulihat semenjak kami putus hubungan banyak sekali perubahan yang terjadi pada dirinya. Selain berat badannya yang turun drastis kulit wajahnya pun berubah menjadi kusam tak ada lagi binar-binar kebahagiaan yang terpancar dari wajah tampannya, selemah itukah dia tanpaku?" Batin Sumira.
Untuk menumpahkan semua rasa bahagianya sumira pun selalu menuliskan isi hatinya di wall pribadinya di salah satu aplikasi berwarna biru,
"Berkali-kali dia datang padaku dan memintaku untuk kembali padanya, bahkan dia rela untuk jadi yang kedua asalkan kami tetap selalu bersama. Dia juga berjanji tak akan minta yang macam-macam, dan tak akan pernah protes jika aku bersama suamiku dengan syarat aku tetap menjadi kekasihnya."
"Karena dia tahu akupun tak mungkin berpisah dengan suamiku. Walau sebenarnya dihatiku juga sudah tak ada lagi nama Mas Aryo, aku bertahan hanya karena kasihan tak lebih."
"Kamipun akhirnya kembali menjalani hubungan."
**
Hari-hariku seakan kembali seperti saat muda dulu, memiliki kekasih yang setiap hari selalu mengirimkan pesan cinta membuatku semakin melupakan siapa suamiku yang sebenarnya.
Jika Mas Aryo pulang aku akan meminta anak keduaku Dewi untuk mengurusi semua keperluannya. Saat dia meminta haknya akupun selalu memberi alasan yang masuk akal, siapa juga yang mau melayani pria je*ek dan bau seperti dirinya, jangankan memadu kasih melihat giginya yang ompong saja membuatku geli.
Ya, memang usia mas Aryo jauh diatasku dan saat kami menikah status mas Aryo seorang duda cerai hidup, dan memiliki empat orang anak yang semuanya juga sudah menikah.
Sebenarnya kehidupan mas Aryo sebelum menikah denganku sangatlah enak, dia salah satu orang yang disegani di pasar. Selain tajir dari lahir, hampir semua keluarganya bekerja sebagai pemasok barang, dan juga pemilik lapak di pasar. Bahkan dulu lapak pasar mas Aryo ada empat, biarpun dia buta huruf tapi ingatannya sangat kuat untuk menghafal berbagai macam barang berikut harganya.
Kesalahan terbesar Mas Aryo adalah memilih hidup denganku.