Episode 3
Saat itu usiaku baru tujuh belas tahun, aku bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan yang ada di pasar. Karena tak kuat hidup dalam himpitan ekonomi membuatku nekat bekerja diusia muda, ditambah dengan kondisi keluarga ku yang sangat memprihatinkan membuatku bosan tinggal bersama ibu dan adik perempuanku.
Ibuku seorang janda dan memiliki fisik yang tidak sempurna, membuatku harus ikut banting tulang diusia belia, karena Ayahku tak pernah sekalipun memberi nafkah untuk aku dan ibuku dari dulu semenjak mereka menikah hingga berpisah.
Bahkan sejak aku dikandungan pria bren*sek itu tak pernah sekalipun mengakuiku dan ibuku sebagai anak dan istrinya, dia menikahi ibuku secara siri alasannya karena ibuku bukanlah perempuan sempurna dan keluarganya pun tak pernah merestui hubungan mereka, aku pikir itu hanyalah alasannya saja karena sesungguhnya dia menikahi Ibuku atas dasar nafsu belaka, ibuku yang polos pun luluh dengan rayuan gombalnya.
Saat mengetahui ibuku hamil diapun kabur entah kemana. Lucunya saat pria breng*ek itu sekarat dia malah memintaku untuk merawatnya, alasannya karena hanya akulah ahli warisnya dan akulah yang berhak atas semua hutang-hutangnya, menjij*kkan bukan?
Aku dan ibuku tentu saja menolak mengakui bahwa dirinya orang tuaku, enak saja dia yang berhutang kenapa aku pula yang harus membayar, sungguh permintaan yang kony*l, hahaha.
Setelah lama menjanda Ibuku yang polos pun akhirnya membuka hati untuk yang kedua kalinya, sayangnya pria beruntung itu seorang pemalas, membuat hidup kami semakin menderita padahal kata ibu sebelum mereka menikah pria itu tipe lelaki penyayang dan pekerja keras, entah dapat cerita dari mana Ibuku itu.
Dasar bucin ibuku tak bisa membedakan mana modus dan mana yang serius, hanya karena fisiknya yang lumayan dia menolak pria yang benar-benar tulus mencintainya. Ya, sebelum Ibuku menikahi laki-laki itu tetangga depan rumah yang juga duda sempat melamar Ibuku tapi karena wajahnya yang pas-pasan membuat ibuku menolaknya, padahal secara ekonomi pria itu sangat mapan dan juga baik hati, dulu sebelum ibu menikah lagi beliau lah yang selalu membantu keluarga kami.
Dari pernikahan kedua ibuku yang dilakukan juga secara siri itu lahirlah adikku Sukesih, membuat beban hidupku bertambah berat karena pria itu hanya memanfaatkan kepolosan ibuku saja, sama seperti pernikahan pertamanya saat ibuku mengatakan bahwa dia tengah hamil, pria itu malah tidak mau mengakui bahwa anak yang dikandung ibuku itu adalah darah dagingnya dan diapun memfitnah ibuku, mengatakan pada semua orang bahwa ibuku telah berselingkuh.
Mendengar itu ibuku yang biasanya santun dalam bertutur kata langsung mencaci maki suami barunya, dan hari itu juga mereka pun berpisah. Sungguh perjalanan hidup yang sangat dramatis.
Seakan kebahagiaan tak ingin menghampiri ibuku, mungkin karena fisiknya yang tidak sempurna membuatnya terjebak dalam kehidupan yang sangat memprihatikan. Dua kali menikah dua kali pula dicampakkan dan ditelantarkan. Habis manis sepah dibuang, ibuku yang malang.
Tak ingin seperti ibu, aku yang tak makan bangku sekolahan bertekad merubah nasib. Belajar dari pengalaman ibuku, aku ingin suatu hari nanti saat ada laki-laki yang ingin menikahi ku maka akan kubuat dia tunduk dan bertekuk lutut di hadapanku, aku tak ingin seperti ibu yang hanya bisa pasrah jika disakiti laki-laki.
Itulah sebabnya ketika umurku memasuki usia aqil baligh, akupun meminta bantuan pada seorang paranormal untuk mengajariku cara menundukkan hati laki-laki sejenis ilmu pelet gitulah. Syukurnya beliau paham maksudku, kelak ilmu itulah yang aku pakai untuk memikat hati lawan jenis, termasuk mas Aryo.
Diumurku yang belum genap lima belas tahun aku sudah pandai dalam hal memasak dan berdagang, semua itu karena ibuku yang memang bekerja sambilan sebagai juru masak saat ada tetangga yang hajatan, aku yang tak pernah mengenal rasa malu membuatku mampu melakukan pekerjaan apa saja. Karena tak tega melihat ibu yang selalu bekerja siang dan malam, akupun berinisiatif untuk berjualan makanan ringan disekitar sekolahan dan hasilnya lumayan cukuplah untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sehari-harinya.
Suatu hari saat ibuku pulang dari nguli sawah tetangga yang letaknya di seberang jalan raya, beliau mengalami kecelakaan saat hendak menyeberang jalan, kata orang salah Ibuku karena menyebrang jalan tanpa menoleh ke kiri dan kanan terlebih dahulu membuatnya terserempet sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Untungnya ibuku tak mengalami luka parah hanya mengalami memar dan lecet akibat sempat terjatuh.
Semenjak ibu sakit beban hidupku rasanya semakin bertambah.
Bayangkan di usiaku yang masih belia harus rela menjadi tulang punggung keluarga sekaligus menjaga adikku yang baru berumur lima tahun. Aku dipaksa dewasa sebelum waktunya karena ibuku tak bisa lagi berjalan dengan normal, akibat luka lecet sewaktu kecelakaan tempo hari yang kami kira sepele menyebabkan kelumpuhan pada salah satu kakinya. Ibuku yang malang.
Karena capek bekerja dan hasilnya tak seberapa aku meminta izin pada ibu untuk bekerja di salah satu rumah makan yang ada dipasar, kebetulan tetanggaku juga bekerja disana. Karena kasihan dengan kehidupan kami diapun mengajakku untuk mengisi lowongan kerja yang memang ada.
Awalnya ibu keberatan karena usiaku yang baru genap lima belas tahun pasti tak akan sanggup jika bekerja di shift malam, karena tak tahan dengan rengekanku dan biaya hidup yang semakin banyak akhirnya ibu pun memberikan izinya padaku untuk bekerja di pasar dengan syarat aku harus bekerja di shift siang saja.
Dipasar apapun bisa kita peroleh asal kita mau bekerja dan berusaha. Aku yang seumur hidup hampir tak pernah membeli baju baru mendadak malu dengan penampilanku sendiri yang kucel dan kumuh. Dengan niat dan tekad untuk merubah nasib akupun berjanji akan bekerja dengan giat agar bisa membahagiakan ibu dan adikku serta membeli apapun yang aku suka.
Namun kenyataannya tak seindah khayalanku, dengan gaji yang tak seberapa manalah mungkin aku bisa membahagiakan ibu dan juga adikku jika untuk kebutuhan ku sendiri masih pas-pasan.
Terkadang akupun ingin seperti mereka yang setiap hari bisa dengan mudah membeli barang-barang baru, hal yang wajar sebenarnya untuk anak seusiaku yang memiliki rasa iri pada mereka yang hidupnya serba ada dan berkecukupan, sedangkan aku hanya bisa bermimpi dan berkhayal,ingin meraih bintang tapi apalah daya tangan tak sampai, khayalan hanya tinggal khayalan saja.
**
Suatu hari temanku Yeni di shift malam mengajakku bertemu dengan pacarnya, tanpa curiga akupun dengan senang hati menemaninya. Kamipun pergi ketempat mereka biasa janjian di sebuah cafe sekaligus tempat karaoke diarea dekat pasar.
Aku yang baru mengenal dunia luar pun merasa sangat senang, ibarat burung yang lepas dari sangkarnya, membuatku merasa menemukan sesuatu yang sangat menarik untuk kucoba.
Akupun penasaran dengan apa yang temanku itu kerjakan, awalnya aku sempat terkejut melihatnya dengan santai dan tanpa rasa malu bergelayut manja dilengan seorang pria dewasa yang umurnya kira-kira lebih tua dari ibuku. Bukan hanya berpelukan mereka pun sempat berc"uman, entah apa yang mereka bicarakan tiba-tiba pria itu memberi uang yang begitu banyak pada Yeni membuatku melongo semakin penasaran.
Setelah kembali aku yang masih penasaran dengan pria tua tadi pun bertanya pada Yeni tentang status dia dan pria tua itu, kata Yeni dipasar ini banyak cara menghasilkan uang tanpa harus capek-capek bekerja salah satunya ya jadi sugar baby seperti yang dia lakukan, sedangkan bekerja di rumah makan ini hanyalah kedoknya untuk mengelabui orang tuanya. Awalnya Aku tak tertarik, namun melihat penampilan Yeni yang semakin hari semakin glowing membuatku tergiur dengan pekerjaan sampingan Yeni. Karena permintaanku akhirnya Yeni pun mengenalkanku dengan seorang pria tampan dan juga kaya seperti pacarnya Yeni, Mas Aryo namanya pemilik empat lapak dipasar tempat kami bekerja.
Sosoknya yang kebapakan membuatku nyaman untuk selalu berada didekatnya. Aku tahu dia sudah berkeluarga dan mempunyai banyak anak tapi aku tak perduli.
Seakan menemukan oase di tengah gurun, aku yang sedari kecil tak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah membuatku ingin memiliki Mas Aryo seutuhnya. Aku jatuh cinta untuk yang pertamakalinya pada pria yang usianya jauh lebih tua dariku, saat itu aku merasa dialah jodohku untuk selamanya aku tak perduli dia tua bagiku sifatnya yang lembut dan mengayomi sudah lebih dari cukup, selain itu dia juga sangat royal.
Mas Aryo cinta pertamaku walau usia kami terpaut jauh aku tak perduli. Ambisi ku ingin hidup kaya akhirnya terkabul juga tanpa harus capek-capek bekerja, Aku tak perduli perkataan orang tentangku karena bagiku hidup itu tak harus memikirkan perkataan orang. Karena apapun yang kita alami tak semua orang akan mengerti dan perduli.
Dengan alasan capek pulang pergi dari rumah ke pasar aku memutuskan untuk tinggal di kos-kosan, yang semua biaya dan fasilitasnya ditanggung oleh Mas Aryo, awalnya Ibuku melarang tapi tak kuhiraukan.
Karena hidup enak, aku pun seakan melupakan ibu dan adikku, semenjak tinggal di kos-kosan aku tak pernah lagi perduli dengan mereka.
Aku hanya akan memberi uang jika ibu datang memintanya, selebihnya aku tak pernah lagi mau tahu tentang kehidupan mereka.
Mas Aryo tipe pria yang sangat penurut, apapun yang ku minta pasti dengan cepat dia berikan, dengannya hidupku bak ratu benar-benar enak dan nyaman.
Seakan tak perduli dengan apapun aku menjadi sosok yang materialistis, jika mas Aryo tak bisa memenuhi permintaanku tak jarang aku mengancamnya akan mencari pria lain yang lebih kaya dari dirinya membutnya lemah dan berusaha untuk selalu menyenangkanku.
Tak ingin kehilanganku mas Aryo pun akhirnya melamarku, tak berpikir dua kali akupun langsung menerima lamarannya walau menikah siri dan statusku hanya istri kedua aku sangat bahagia.
Tadinya aku pikir setelah menikah aku yang akan memiliki semua kekayaan yang dimiliki Mas Aryo, ternyata aku salah. Jadi istri kedua ternyata sama halnya dengan wanita simpanan yang tak memiliki hak apapun atas harta istri sah suaminya.
"Dibalik kesuksesan suami ada doa istri didalamnya." aku tak pernah tahu akan hal itu sehingga membuatku terjerumus dalam cinta terlarang dan merusak rumah tangga orang lain.
**
Mas Aryo kehilangan satu persatu lapaknya di pasar, bak kata pepatah" Ibarat membuang piring, demi sebuah batok kelapa." itulah yang dialami Mas Aryo setelah menikah denganku, membutnya harus bekerja keras untuk mendapatkan sedikit rezeki.
Kehidupan Mas Aryo yang berubah seratus delapan puluh derajat, membuatku kembali menjalani kehidupan yang serba kekurangan.
Karena bingung mencari pekerjaan Mas Aryo membawaku pindah ke ibukota, dan memulai kehidupan baru dipasar induk.
Saat anak-anakku lahir aku memutuskan untuk kembali bekerja di rumah makan tempatku bekerja dahulu, sementara aku kerja kedua anakku kutitipkan pada ibuku.
Kamipun sekeluarga akhirnya menjalani kehidupan terpisah satu sama lain. Sungguh keadaan yang sangat memprihatikan. Karena silaunya harta membuatku hidup penuh dengan drama dan air mata.